13. Mau—Tak Mau

Hari Ketiga Menuju Hari Keempat (3-4/18)

Bunyi bel tram yang nyaring bergema di dalam gerbong, menandakan bahwa stasiun berikutnya hampir dicapai. Saat badan kereta berhenti total dan pintu bergeser terbuka, saya langsung melompat dan berlari ke arah pintu keluar. Terus berjalan mengitari blok hingga bertemu dengan jalan raya yang lumayan lebar. Saya pastikan dulu lajur kiri-kanannya lengang, lalu segera melangkah cepat menyeberanginya. Ranselku yang berat terpental-pental di punggung, membuat pundakku nyeri. Tapi saya tak bisa memperlambat langkah biar satu pun karena jarum pendek sudah hampir melewati angka 9. Harus segera tiba di otogar kalau tidak mau ketinggalan bus.

Sesampainya di seberang, saya langsung mencari gerbang Metro. “Terus saja ke sana” jawab seorang pria yang kutanya, tangannya menunjuk pada sebuah bangunan tak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Perhitunganku benar kali ini, jarak

stasiun Yusufpasha–Metro tidak sejauh dari arah stasiun Aksaray. Tak sampai semenit kemudian, saya sudah melewati pintu masuk stasiun, berlari menuruni eskalator, dan berdiri tak sabar di peron. Kalau di Singapura, kereta yang mau datang sudah diketahui pasti waktunya, terpampang jelas hingga ke detik-detiknya di monitor yang terpasang di dinding. Tapi di sini tidak ada yang begituan. Saya cuma bisa memandang jam tangan berkali-kali, berharap hal tersebut dapat membuat kereta datang lebih cepat.

Bunyi desingan terdengar dari kejauhan—pekikan khas roda kereta menggesek rel—diikuti oleh jejeran gerbong yang muncul bergandengan satu-persatu. Saya langsung mengangkat ransel dan menuju pintu masuk terdekat. Setelah memastikan berada di jalur yang benar ke arah otogar, saya langsung melompat masuk dan mencari bangku kosong. Saya sengaja mengambil tempat di dekat pintu masuk agar bisa lihat peta stasiun yang tertera di atasnya. Dan lagi biar tak perlu desak-desakan dengan penumpang lain kala kami berlomba keluar. Tak lama kemudian kereta pun bergerak menuju stasiun berikutnya.

Setelah 5 pemberhentian terlewati, akhirnya kami sampai di otogar. Saya tidak berhenti berlari sejak keluar dari kereta hingga berada di luar gerbang stasiun. Napasku ngos-ngosan, tampak mengembun di tengah keringnya udara. Tenggorokanku juga agak tercekat karena kering gerontang. Tapi semua itu tidak penting hingga saya sampai di kantor Metro Bus. Harus tiba di sana dulu baru pikir yang lain. Kala memandang barisan kantor agen bus yang berjejer mengelilingi stasiun, saya agak kebingungan karena mereka tampak sedikit berbeda. Mungkin salah posisi, pikirku, kemudian bergegas putar arah kembali ke dalam stasiun menuju sisi sebelah. Itu dia! Sahutku gembira, melihat plang METRO yang berpendar di atas pintu masuk dan dinding kaca.

“Bus menuju Kapadokya keberangkatan jam 10 apakah telah datang?” tanyaku pada petugas pria di balik meja. Ekspresi wajahnya tampak aneh menatapku. Mungkin karena napasku seperti kuda dan dadaku kembang kempis akibat lari nonstop. “Belum datang” jawabnya singkat, lalu kembali tenggelam dalam aktivitasnya di depan komputer. Sikapnya yang tak acuh menyebalkan memang, tapi saya lega tak terkira karena tidak ketinggalan bus. Sambil menenangkan napas, saya melangkah santai ke bangku terdekat untuk istirahat. Ransel kusandarkan di dinding, lalu meraih botol dari kantong samping. Rasanya seluruh lelahku hilang saat air membasahi tenggorokan.

Suasana ruangan yang terang ini cukup ramai oleh calon penumpang, walau sepertinya jumlah wisatawan tak begitu signifikan. Lebih banyak lokal. Kulirik jam tangan, masih 20 menit lagi menuju jam keberangkatan. Saya pun memutuskan untuk keluar cari makan. Sebenarnya kami akan diberi minum dan makanan ringan di atas bus nanti, tapi saya yakin itu tidak akan cukup, secara judulnya ‘cemilan’. Jadi lah setelah menitip ransel di salah seorang petugas, saya langsung melewati pintu keluar kembali menuju stasiun. Ada beberapa kedai makanan yang masih buka, tapi pilihanku jatuh pada kebab—satu-satunya kudapan di Turki yang bisa kuhabiskan. Selain porsinya yang pas bikin lambung jinak, aromanya juga mampu membuat mulutku kebanjiran.

Sambil melangkah perlahan meninggalkan stasiun, saya kunyah dan nikmati kebabku hampir di tiap gigitan. Setelah ayam bakar pahit sore tadi, daging berbumbu berbalut roti ini terasa berkali lipat lebih enak. Mungkin saking laparnya, tidak sampai 5 menit sudah kulahap habis seluruhnya. Saya kemudian terus melangkah ke arah sudut deretan bangunan, menuruni tangga tempat nongkrong seorang pengemis yang masih belia, lalu masuk ke kamar kecil. Layaknya toilet umum terminal lainnya, sepertinya mereka ditakdirkan untuk jadi kusam dan bau, serta nyaris tidak bisa dikinclongkan lagi oleh pembersih paling mahal sekalipun. Aroma samar-samar urin dan asap rokok melayang-terbang di udara, membuatku tak berniat tarik napas panjang-panjang. Tapi untungnya air dari wastafel mengalir lancar, jadi bisa cuci tangan dan basuh wajah sepuas-puasnya, walaupun sambil menggigil kedinginan.

Saat kembali ke kantor Metro Bus, tampak pintu belakang di antara meja petugas telah dibuka. Saya segera mengambil ransel dan menunjukkan tiketku pada petugas yang berjaga di ambang pintu, yang kemudian mengarahkanku pada bus tujuan Kapadokya di antara jejeran bus lainnya. Sambil dibantu petugas, ranselku diletakkan di bagasi khusus di badan bus. Saya pun menaiki kendaraan setelah memastikan barang-barangku tidak tertindih koper-koper raksasa lainnya. Hawa hangat segera menyambutku saat melangkah di koridor antarbangku yang disusun 2-2. Ternyata ada mesin penghangat. Mantap lah!

Satu persatu penumpang mulai mengambil tempat sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Saya sendiri duduk di bangku 32, satu deret di belakang tangga keluar bagian tengah. Setelah semua bangku terisi, bus pun meninggalkan terminal. Sang pramugara, yang berpakaian rapi ala pelayan restoran, mulai mempersiapkan cemilan dan minuman. Dia punya loker khusus di langit-langit bus, serta satu di samping tangga. Semua makanan ringan serta termos air panas disimpan di sana. Lelaki tersebut mulai menyusuri koridor dari depan sambil mendorong troli. Sudah kayak naik pesawat saja, pikirku sambil senyam-senyum melihatnya melayani penumpang.

“!@#$%^&*&^%$#@” kata sang pramugara setelah menyodorkan sebuah gelas serta makanan ringan padaku. Ini orang ngomong apa coba, pikirku sambil bertatapan aneh dengannya. “Saya mau teh” kataku. Semoga saja dia mengerti bahasa Inggris. Dan sepertinya kata tea memang sudah familiar di telinganya; dia kemudian memberiku sesaset gula, menaruh kantong teh dalam gelas, lalu menyeduhnya dengan air panas dari termos. “Teşekkür ederim”, sahutku—satu-satunya frase bahasa Turki yang kuhafal, yang berarti ‘terima kasih’. Pria itu hanya menganggukkan kepala, kemudian lanjut melayani penumpang lainnya di belakang.

Fasilitas bus ini memang sudah menyamai pesawat: selain pramugara dan makanan-minuman, ada juga layar monitor, meja makan, serta wifi. Yang kurang hanya kamar kecilnya saja. Seusai menyambungkan hape dengan jaringan nirkabel, saya pun mencari beberapa artikel mengenai Kapadokya serta berbagai aktivitas yang dapat dilakukan di sana, kemudian menyimpan lamannya untuk dibaca nanti. Setelah itu saya lanjut tonton film di monitor kecil yang terpasang di bagian belakang bangku depan. Layarnya terasa kasar saat dipencet-pencet, mungkin saking seringnya dipakai. Sialnya lagi hetset yang disediakan tidak terlalu kencang suaranya, jadinya saya gunakan milik pribadi.

Lama-kelamaan jadi ngantuk juga terbuai suara deru angin yang teredam di luar. Dan lagi maraton jalan-jalan area Masjid Biru – Aya Sofya – Sirkeci (Hotel Sayeban Gold) membuatku dengan segera terlelap dalam mimpi. Di sela-sela tidur, bisa kurasakan bus sesekali mampir di beberapa pemberhentian. Tapi saya terlalu lelah untuk membuka mata dan berjalan-jalan di luar. Hingga akhirnya saya benar-benar terjaga karena merasa…kedinginan? Ya, saya kedinginan. Kupikir ini cuma mimpi, tapi memang suasana dalam bus jadi agak dingin. Ada bunyi mesin, tapi kayak yang tidak sedang bergerak. Saya perhatikan kiri kanan untuk memastikan, sepertinya memang kami sedang mampir lagi. Bagus lah, saya juga ingin ke kamar kecil.

Setelah meregangkan badan, saya pun berjalan menuju pintu keluar. Udara jadi benar-benar dingin kala mendekati tangga turun. Saya lirik sekilas monitor suhu di atas dasbor, angka yang tertera adalah 0oC. APA???!! Pantas saja dingin. Dan saat memandang keluar melewati ambang pintu yang terbuka, tampak tanah di luar berwarna putih serta berbukit-bukit kecil. Saya langsung berlari turun dan melompat. Seketika dinginnya malam langsung menembus tiap helai kain yang menutupi tubuh, hingga merasuk ke tulang. Ruas-ruas jariku mulai kesakitan—jauh lebih sakit daripada saat ambil wudhu di Masjid Biru. Bahkan serasa mau beku. Tapi saya tetap berdiri mematung, memandang langit hitam tak berbintang. Satu persatu kepingan putih kecil menyentuh wajahku, membawa sensasi dingin yang menggigit, yang kemudian menghilang secepat datangnya.

Salju. Tak kupercayai ini. Saya berada di tengah hujan salju! Rasanya pengen teriak-teriak dan guling-guling. Hawa dinginnya memang menyiksa, namun saya terlampau terpesona dengan situasi ini. Tangan dan telingaku sudah total mati rasa. Begitu pun telapak kakiku. Pokoknya pengen lama-lama berdiri dihujani salju yang jatuh perlahan dari langit. Tapi tiba-tiba teringat saya harus ke kamar kecil. Kalau saya nekad salju-saljuan terus, takutnya bus sudah harus bertolak, dan saya nantinya harus tahan kencing sepanjang jalan. Jadi lah saya langsung berlari ke dalam gedung menuju toilet.

Sekeluarnya dari kamar kecil, saya langsung mempersiapkan kamera. Pokoknya pengen foto sebanyak-banyaknya, terus bikin bola salju, dan kalau bisa buat manusia salju kayak Olaf—saya sampai senyum-senyum kegirangan saking senangnya. Tanganku yang gemetaran berusaha memegang kamera erat-erat. Tapi pas geser tombol untuk menyalakan, kamera tidak respon. Coba dan coba lagi. masih tidak mau. Sial! Saya baru ingat baterainya habis. Keasyikan foto-foto di Aya Sofya kemarin sore membuat dayanya langsung drop. Dan tidak sempat mengecas. Sambil mengumpat, saya masukkan lagi kamera ke dalam tas, kemudian mengeluarkan hape. Kali ini lebih sulit lagi mengendalikan tangan yang bergetar—tombol jepret yang ada di layar menyulitkan proses pengambilan gambar. Apalagi hasil foto sering kabur karena tidak bisa fokus. Tak apa lah, yang penting ada bukti saya pernah menikmati salju.

Lagi asyik foto-foto, sang supir tiba-tiba menginjak pedal gas berkali-kali, tanda bus harus bertolak sekarang. Dengan berat hati saya masukkan hape kembali dalam kantong lalu berjalan menuju kendaraan. Sebelum masuk, saya raih segenggam salju lalu mengusap-ngusapnya perlahan. Walau bentuknya kayak es parut, bobotnya lebih ringan, lebih halus dan rapuh. Seperti memegang udara yang membeku. Saya pengen mencicip sebenarnya, sedikit saja. Tak ada salahnya kan makan salju. Namun mendapati kenyataan bahwa sudah banyak orang yang menjejak di sini, berarti melahap partikel-partikel es ini sama saja dengan makan kotoran sepatu orang lain. Yaiks! Buru-buru saya kebaskan tangan, lalu menaiki bus.

Sepanjang perjalanan, salju masih setia menghujani bumi. Tampak butirannya yang melayang turun melesat cepat diterpa angin yang tercipta oleh kecepatan bus. Sisi kiri kanan jalan yang membukit tertutupi salju seluruhnya. Pepohonan cemara pun tampak putih di tengah gelapnya malam. Semua persis seperti adegan-adegan film natal yang banyak diputar di bulan Desember; kurang Senterklasnya saja. Saya berharap sekali masih ada pemberhentian selanjutnya di dekat-dekat sini biar ada kesempatan main dengan jutaan kepingan es itu lagi. Tapi di sisi lain, saya tidak ingin Gӧreme diselimuti salju—tak terbayangkan harus berurusan dengan hawa sedingin dan semenyakitkan ini untuk 2 hari ke depan. Rasanya seperti mau tak mau. Tiap kali ketiduran, dan kemudian terjaga, saya selalu menengok keluar memastikan. Di bibir berucap sial, masih ada salju, di hati horee, masih ada salju.

Saya kembali terlelap, cukup lama, hingga pas buka mata lagi, langit di luar sudah lumayan terang. Di balik jendela tampak danau luas bermandikan warna langit. Airnya tenang, nyaris nirgelombang. Perbukitan yang membiru di kejauhan menjadi pagar alam yang indah. Namun, di balik pemandangan keren di luar sana, muncul satu hal yang membimbangkan: saljunya telah lenyap. Saya mendesah, entah kecewa, entah lega. Tak apa lah, pasti suatu saat nanti, di Kashmir mungkin, pikirku sambil mengaminkan. Kira-kira 200 meter berikutnya bus memasuki tempat istirahat; sebuah gedung memanjang dengan jejeran jendela yang memantulkan silaunya cahaya mentari.

Setelah kendaraan diparkir, saya pun turun. Di luar masih dingin, memaksaku mempercepat langkah ke arah gedung. Tampak seorang pria memegang selang besar sambil mengarahkan semprotannya ke muka bus. Airnya yang kencang menghantam lapisan es yang terbentuk akibat cuaca semalam. Serpihannya cukup tebal, berjatuhan di atas lantai semen. Sesampainya di dalam gedung, saya langsung menuju toilet di lantai bawah. Setelah itu saya memesan segelas teh panas di salah satu kedai. Sambil menyesap, saya lihat-lihat berbagai pernak-pernik yang ditata di sebagian ruangan. Semuanya diperuntukkan sebagai oleh-oleh khas Turki. Mulai dari sabun berbahan dasar minyak zaitun, gantungan kunci, hingga turkish delight.

10 menit kemudian bus kembali berangkat. Total sudah 8 jam kami mengarungi jalan raya. Sama sekali tidak terasa membosankan, karena memang saya lebih banyak tidur. Lagipula di sisa 4 jam terakhir perjalanan ini kami disuguhi pemandangan alam yang spektakuler; bukit-bukit batu serta padang rumput hijau yang luas. Langit memang tidak cerah, bahkan cenderung mendung, tapi tidak sampai turun hujan. Lama-kelamaan bentang alam terganti oleh jejeran bangunan rumah, masjid, dan pertokoan. Lingkungannya terlihat kering, layaknya kota-kota kecil para koboi. Bahkan nyaris seperti tidak berpenghuni karena tak tampak satu orang pun. Mungkin masih terlalu pagi dan terlalu dingin untuk beraktivitas di luar.

Bus akhirnya memasuki lahan parkir sebuah gedung besar. Seluruh penumpang diturunkan di sana beserta barang bawaan. “Gӧreme?” tanyaku pada sang pramugara yang sedang menarik ransel dan koper besar dari dalam bagasi. “Ya” jawabnya singkat. Ternyata kami semua disuruh tunggu bus jemputan di sini, yang akan membawa kami ke tempat tujuan akhir. Berita ini memang terdengar menyenangkan, tapi masa harus menunggu di luar sini?! Padahal suhu di monitor menunjukkan angka -3oC. Minus, bung! Saya cuma bisa berdiri gemetaran dengan gigi bergemeletuk, tangan erat memeluk diri sendiri, berharap bus penyelamat jiwa cepat datang.

cepaaattttt!!!!!!

===

===

4 responses to “13. Mau—Tak Mau

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s