22. Musim Semiku

Hari Keenam (6/18)

Di saat anak-anak lainnya sudah tertidur lelap di kasur mereka yang empuk, dibuai mimpi indah tentang istana para raja atau mimpi buruk dikejar setan hidung panjang, saya masih stand by di depan televisi, menonton sambil berbaring di atas sofa yang sudah kuanggap tempat tidur paling nyaman sedunia, jam 12 malam lewat sekian menit. Kalau anak SD begadang karena menyaksikan kartun favoritnya mungkin masih bisa dibenarkan (walau pastinya orang tua tidak akan mengizinkan, dan rasanya tidak ada stasiun TV yang cukup gila untuk memutar kartun di tengah malam), tapi tontonan favoritku justru Discovery Channel / National Geography, tetang keajaiban alam, kolam-kolam alami tanpa dasar, sungai penuh ikan dan buaya, dan yang paling kusuka malam ini adalah dokumentasi mengenai bunga-bunga di seluruh dunia.

Ayah, ibu, dan kakak perempuanku sudah terlelap di kasur samping sofa tempatku berbaring, jadinya kusengaja menurunkan volume suara hingga yang paling rendah. Bukan agar tidak mengganggu tidur mereka, tapi justru saya takut salah satu orang tuaku terjaga dan menyadari anak lelakinya yang belum mengerjakan PR dan harus sekolah pagi besok belum juga tidur, sehingga saya akan dipaksa menutup mata. Saya tidak rela tontonan semenarik ini harus diakhiri. Mataku masih semangat untuk dipakai menonton hingga beberapa jam ke depan.

Bunga-bunga yang muncul di televisi tampak luar biasa indahnya. Dari bunga kuning mungil di tepi sungai, sampai yang memiliki kelopak berbagai macam rupa dan warna yang diselimuti lapisan es kala musim dingin tiba. Adegan paling dramatis adalah saat bunga-bunga es itu mencair meninggalkan kelopak beku yang kian lama makin merekah seiring hangatnya musim semi merayapi udara. Ingin rasanya tangan menembus layar kaca dan mengambil bunga-bunga itu untuk ditanam di halaman depan rumah. Biar tetanggaku yang hobi memelihara tanaman itu iri melihat koleksi bungaku yang keren dan ajaib.

Adegan-adegan dalam video dokumentasi tersebut masih terpampang jelas dalam ingatan, hingga bertahun-tahun setelahnya. Saya jadi sangat terkesima dengan musim semi yang identik dengan bunga bermekaran, karena itu lah kusenang sekali bisa menyaksikan musim ini saat memutuskan untuk melancong ke Turki. Well, mahkota-mahkota tulip yang bertebaran di taman-taman kecil di Istambul, serta kelopak merah jambu bunga aprikot yang mirip sakura itu telah membuktikan kehebatan musim semi, tapi entah kenapa bagiku itu masih belum cukup. Tak satupun dari mereka yang benar-benar memuaskan rasa penasaranku, atau setidaknya sebanding dengan apa yang kulihat di video dokumentasi bertahun-tahun yang lalu.

Hingga saat kumemandang keluar melalui jendela mobil sedan yang sedang melaju kencang di jalur mendaki, tampak sebuah bukit kecil berhias rerumputan hijau cerah serta bongkahan batu besar yang bertebaran di berbagai sisi. Bunga-bunga kuning kecil pun tumbuh berkelompok menciptakan gradasi warna yang indah dan sangat menyatu. Saat itu lah saya tahu bahwa rasa penasaranku akan segera terbayar. “Kita harus berhenti di sini. Ikuti saja jalan ini menuju bangunan itu”, kata wanita seumuran ibuku yang mengantarku dengan mobil hotel, tangannya mengarah ke sebuah bangunan yang tampak tidak begitu jelas dari balik kaca depan mobil, “Saat pulang nanti, jangan kembali ke arah sini, tapi ikuti lah alur peta yang akan kamu dapat saat membeli tiket masuk”.

Setelah saya turun dari mobil, sang supir dengan gesit langsung memutar dan tancap gas menuruni jalan. Saya sendiri berdiri tepat di tengah jalan luas yang disusun dari jutaan paving, memandang mobil hotel hingga berbelok di tikungan jauh di bawah sana. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, mataku kemudian terpaku pada jejeran bukit hijau cerah—sedikit lahannya berwarna cokelat bekas dikeruk untuk dijadikan area bertani—dengan latar belakang punggung gunung yang memanjang bagai tembok rakasasa di kejauhan. Di kiriku tampak bukit kecil lainnya yang dibubuhi banyak sekali bebatuan kotak kelabu berbagai ukuran. Sedangkan bukit yang tadi kulihat dari dalam mobil—sekarang di sisi kananku—tampak makin jelas dengan semacam reruntuhan bangunan di tepi paling bawah dekat jalan.

Saya pun melangkah santai menuju bangunan yang tadi ditunjuk oleh supir. Setelah dilihat lebih seksama, bangunan tersebut terlihat unik dari segi rancangan; keseluruhan bangunan terbentuk dari rangkaian batang baja, dimana tiga tiang penopangnya memiliki bentuk menyerupai piramid terbalik, sedang atapnya berupa plat-plat baja berbentuk prisma segitiga yang disusun berjajar dan teratur menyerupai segitiga datar dengan bagian runcing di belakang. Struktur seperti ini biasanya paling sering kulihat di bandara, buktinya saat pertama kali kulihat bangunan ini, saya jadi teringat bandara Changi dan KLIA 1.

“Tiket untuk satu orang”, kataku pada petugas di balik kaca pembatas. Setelah menerima beberapa lembar Lira, dia pun menyerahkan lembaran tiket yang desainnya lagi-lagi sama persis seperti tiket-tiket di belahan bumi Turki lainnya. Yang berbeda tentu saja nominal serta nama tempat wisatanya. “Hierapolis” ucapku sambil menyapu kata yang tercetak rapi di tiket dengan ibu jari. Jujur saja, saya tidak baca banyak tentang Hierapolis. Yang kutahu hanya terdapat mata air panas tempat mandi keluarga kerajaan. Lebih dari itu, saya tidak tahu-menahu. Jadinya, apa pun yang ada di dalam sana nantinya akan menjadi sebuah kejutan bagiku.

Setelah melewati pemeriksaan karcis, petugas pria yang berjaga menunjuk ke arah sebuah tembok besar yang disusun dari beberapa lapis bebatuan berbentuk balok—sepertinya dia menyuruhku ke sana—, dilanjutkan dengan penjelasan akan peta wisata Hierapolis yang tercetak di kertas lipat. Sama seperti yang dikatakan supir tadi, sang petugas juga menginfokan kalau saat pulang nanti jangan kembali lagi ke sini, melainkan berjalan menuruni kolam-kolam air panas yang melandai hingga mencapai gerbang keluar. “Terima kasih”, ucapku, kemudian melangkah mengikuti arahan sang petugas.

Di ujung jalan berpagar ini terlihat sebuah lorong di kaki tembok yang ternyata berfungsi sebagai gerbang masuk, ditandai dengan bentuk melengkung tepat di atas lorong tersebut. Saya bukan lah pakar sejarah, maupun ahli batu-batuan, tapi gerbang ini sepertinya masih terhitung asli sejak diselesaikan tempo dulu—tanpa ada perbaikan berarti oleh manusia moderen. Sebuah kenyataan yang memberi dua sensasi sekaligus: takjub dan takut. Takjub, tentu saja, mengetahui bangunan ini didirikan tanpa menggunakan teknologi masa kini, pasti memakan waktu lama dan sangat melelahkan. Takut, sudah pasti, melihat batu-batu ini sepertinya disusun begitu saja tanpa bahan perekat apapun, walaupun tampak gagah perkasa, macamnya tembok ini dapat runtuh kapanpun dia mau.

Selepas melewati lorong gerbang, entah kenapa dunia langsung terasa lebih luas dan lapang; di sisi kiriku tampak tembok yang memanjang dari gerbang hingga menyentuh ujung lahan yang dipagari pohon-pohon cemara dan semacam palem-paleman, dimana di belakang jejeran pepohonan tersebut hanya tampak lembah nun jauh di mata; di hadapanku tampak jalan penuh kerikil yang di salah satu sisinya berdiri tiang-tiang bekas reruntuhan, begitupun yang terlihat di ujung jalan di depan sana penuh dengan sisa-sisa bangunan zaman dahulu; sedang di kananku terbentang padang rumput luas berwarna hijau-kekuningan yang menanjak hingga menyentuh perbukitan di belakangnya.

Saya punya tiga pilihan untuk dijelajahi, tapi desisan rumput yang tertiup angin terdengar memanggil, melambai-lambai mengajak. Kakiku pun seperti terhipnotis, melangkah menyusuri jalan setapak mengikuti ajakan yang datang tak henti-hentinya. Jalan berbatu yang kulalui makin menanjak dan makin menyempit, meliuk-liuk di antara bebatuan dan rumput setinggi mata kaki. Terus melangkah hingga akhirnya saya berhenti dan duduk di sebuah batu datar dengan nafas sedikit terengah-engah. Dari sini, semua yang di bawah sana tampak lebih jelas: mulai dari bangunan beratap segitiga tempatku beli tiket, tembok gerbang, lembah dan pegunungan berpuncak salju, serta reruntuhan bangunan. Hijaunya padang rumput yang indah kontras dengan birunya pegunungan dan langit; keduanya secara ajaib disatukan oleh garis tepi perbukitan yang terbingkai bagai cakrawala. Jalan setapak yang tadi kulewati tampak berkelok-kelok layaknya punggung ular yang berkilauan diterpa sinar matahari. Bunga-bunga kuning kecil tersebar luas sejauh mata memandang, ditemani kelopak-kelopak kembang berwarna merah tua, putih, dan ungu yang muncul tak beraturan bagai jamur di musim hujan. Sesekali angin sejuk menyapa, menggoyang-goyang tangkai bunga yang rapuh, serta ujung daun rerumputan yang lembut, membuat padang rumput luas ini tampak bernapas layaknya makhluk bernyawa.

Tiba-tiba kusadar… keinginanku telah terkabul… bukan karena menyaksikan keindahan padang rumput dan bunga-bunga cantiknya itu, atau karena cerahnya sinar mentari dan angin yang berhembus lembut. Melainkan duduk di sini membuat pikiranku menerawang, di suatu tempat di suatu masa, ada seorang anak lelaki, berbaring di atas sofa yang sudah dianggap tempat tidur paling nyaman sedunia, takut bergerak karena tidak ingin membangunkan kedua orang tuanya, sedang menonton video dokumentasi akan alam musim semi…

di Hierapolis…

Menyadari dirinya sendiri telah menjadi bagian dari apa yang ditontonnya dahulu.

Advertisements

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s