12. Harta Karunku

Hari Ketiga (3/18)

Baik itu baik, tapi terlalu baik itu tidak baik, begitu kata dosenku dulu padaku. Perkataan itu, entah bijak entah menghina, meluncur hanya karena saya membantu mengangkat kertasnya yang berceceran di lantai. Mungkin itu sebuah “nasehat” terselubung. Tentu saja menjadi manusia baik adalah hal yang baik. Tak ada yang salah dengan itu. Memberi makan kucing yang kelaparan itu baik, apalagi makanannya Whiskas. Tapi apakah sekedar berkeinginan untuk mengumpulkan bercarik-carik dokumennya yang terjatuh ke lantai terhitung sebagai sesuatu yang “terlalu baik”? Sampai-sampai malah menjadi perlakuan “tidak baik”. Mungkin pak dosen mencium gelagat “seorang penjilat” yang ditampakkan olehku. Saya akui, sebagai seorang mahasiswa yang ingin sukses di jagad perkuliahan, tentu saja resep ampuhnya adalah mendekati dosen. Namun, di balik itu, saya kan juga punya niat baik. Masa iya beliau tidak mempertimbangkan hal itu.

Bertahun-tahun setelah tragedi memalukan itu, saya masih merasa jengkel kala tiba-tiba teringat. Ingin rasanya mengembalikan kata-kata itu kembali padanya, walaupun kesempatan untuk bertemu kembali sangat lah kecil. Namun, sebelum niat busuk itu tercapai, situasi di hadapanku saat ini telah membolak-balik hati. Sang kepala pelayan—seorang pria paru baya dengan senyum lebar tersungging di wajahnya—tengah menyambutku dengan ramah, terlampau ramah malah, di restorannya yang berkonsep Turki pedesaan. Sejak masuk, saya tak pernah lepas dari sandingannya. Oke, mungkin dosenku saat itu tidak salah. Sesuatu yang “terlalu” memang agak aneh jadinya, sebaik apapun niat itu. Jadi sebisa mungkin ya normal-normal saja.

Konsep Turki pedesaan yang diterapkan di sini adalah dua ibu-ibu gemuk duduk berhadap-hadapan sambil gulung-gulung adonan roti. Keduanya berada di atas semacam panggung kayu berdekorasi alat-alat tradisional pembuatan roti gepeng khas Turki. Mereka tampak seperti iklan resmi restoran, terpampang jelas dari balik jendela kaca besar di samping pintu masuk. Sesekali dua wanita tua itu tersenyum kala bertemu pandang dengan calon pengunjung yang lewat. Entah sudah berapa lembar roti yang dihasilkan, karena mereka tampak sedikit kelelahan. Semoga saja mereka punya pemeran pengganti. Biar pas capek, tinggal tepuk tangan, langsung turun ring.

Makanan yang didisplai di balik etalase tampak bermacam-macam dan penuh warna. Kebanyakan berupa daging berbumbu yang ditusuk batang besi panjang mirip sate jumbo. Ada juga jejeran nampan di etalase terpisah yang berisi sayur-saruyan dan salad, serta beberapa menu eksotis lainnya yang siap disantap. Saya sempat tertarik dengan barbekyu daging-bawang merah yang berwarna ungu cerah. Tapi siapa tahu makan bawang sebanyak itu bisa bikin mabuk. Jadi lah pilihanku jatuh pada sate sayap ayam, sekitar 8 potong penuh protein. Sang koki langsung memegang gagang tangkai besi, mengangkat dan memasukkannya dalam tungku. Ayam bakar ternyata, pikirku, sambil berlalu ke tempat duduk—masih ditemani sang kepala pelayan. Dan memang judulnya tidak bohong: di hadapanku, seorang pelayan kemudian meletakkan piring besar berisi nasi goreng segenggam, roti, daun mentah, cabe dan tomat panggang, salad bawang merah, serta ayam bakar yang rasanya lebih banyak BAKAR daripada AYAM.

Tentu pada akhirnya saya tidak menghabiskan semuanya. Yang bisa diterima lidah saja yang kemudian bisa lanjut perjalanan ke perut. Apalagi ayamnya yang sepertinya tidak bisa lagi disebut ayam—saya tinggalkan beberapa potong tak tersentuh. Setelah membayar, saya ke toilet sebentar, lalu melenggang keluar. Walaupun di luar cuaca makin dingin, angin bertiup lumayan kencang, ditambah guyuran hujan yang tampak awet, saya memutuskan untuk jalan kaki ke arah stasiun Sirkeci. Tidak terlalu jauh. Hanya berjarak 2 stasiun tram. Lagipula jalannya menurun hingga bertemu laut nanti. Jadi tidak akan terlalu melelahkan.

Saya melangkah mengikuti ruang pejalan kaki di sisi dinding tua, restoran, serta pertokoan di sepanjang jalan. Terkadang trotoarnya sempit sekali karena bagian bangunan yang menjorok ke jalan merupakan situs bersejarah dan tidak bisa diapa-apakan. Jadinya trotoar tak dapat dibuat lebar. Apalagi jalan utama harus luas karena tidak hanya dilalui mobil dan motor, ada juga rel khusus tram yang lumayan makan ruang. Tiap kali kereta lewat, rasanya seperti mau ditabrak saja. Bunyi klaksonnya yang mirip bel gereja terdengar menggelegar kala hendak melewati tingkungan serta saat memasuki stasiun. Saya pun memilih berjalan agak ke dalam trotoar biar tidak kena senggol.

Makin ke bawah, trotoar makin melebar, walau saya masih saling sepak dengan pejalan kaki lain. Apalagi saat telah sampai di stasiun Sirkeci, jalan langsung melebar drastis karena ada stasiun Metro yang membutuhkan lahan luas. Saya memasuki pelataran parkir di depan gerbang masuk Metro, kemudian berdiri di tengah-tengahnya sambil memandang sekitar. Sesuai informasi dari peta Google yang kulihat pagi tadi, hotel Sayeban Gold terletak di sekitaran area ini. Sebenarnya saya akan menginap di sana beberapa hari ke depan saat kembali lagi ke Istambul. Tapi mending ditemukan dulu sekarang biar tidak perlu susah-susah cari lagi nantinya.

Mengikuti naluri, saya kemudian mengambil arah melewati sebuah tangga di ujung stasiun, tepatnya di sisi kiri jalan raya, lalu mengikuti jalan kecil yang lebarnya masih bisa dilalui kendaraan. Sepanjang jalur banyak restoran dan kafe berdiri, juga ada masjid kecil yang berdempetan dengan dinding stasiun. Sambil melangkah hati-hati karena jalan licin, saya perhatikan tiap plang yang menempel di atas pintu masuk gedung. Terdapat beberapa hotel, tapi tidak ada yang menunjukkan nama yang dicari. Saya melewati beberapa persimpangan, berkali-kali kembali ke jalan yang telah dilalui, hingga bertemu lagi dengan jalan raya, tapi masih saja belum ketemu.

Ini mungkin terasa seperti buang-buang waktu, mengingat saya harus mengejar bus jam 10 malam nanti di Otogar. Berjalan tak tentu arah, dan main tebak-tebakan. Tapi entah kenapa, saya menyukainya. Berdasarkan rekam jejak pelanconganku selama ini, saya hampir tidak pernah bertanya pada orang lain akan letak hotel yang bakal saya inapi. Yang kulakukan adalah berjalan keliling dengan modal ‘nama jalan’ dan peta di tangan. Walau membutuhkan waktu tak relatif sebentar untuk menemukan yang disasar, saya sangat menikmatinya. Rasanya seperti berburu harta karun.

Ada terlalu banyak hal yang dapat terlewati begitu saja kala terlalu fokus pada satu arah. Saat tujuan sudah dipetakan, mata akan tertuju ke depan sembari kaki melangkah cepat, hingga akhirnya target ditemukan, misi pun berhasil dilaksanakan, tamat——ini sama sekali bukan gayaku. Saya selalu memilih untuk melihat ke arah yang lebih luas, lebih jauh, dan lebih rumit, agar semua hal yang ada disekelilingku dapat jelas terlihat, hingga ke detil-detilnya. Saya jadi tahu ada masjid di samping stasiun, ada tempat makan enak di ujung blok, ada tempat jual gelang kulit keren di samping sebuah minimarket, bahkan sepenggal tanah lapang serta tempat sampah di jalan sepi di belakang sana. Semua itu takkan kudapatkan kalau hanya menyusuri satu jalan lurus, tanpa mencoba menikmati yang ada di sekitar, walau itu hanya secarik sampah kertas yang tertiup angin.

Mungkin gayaku ini terkesan sok tahu. Pokoknya jalan dulu, mau tujuannya ketemu jam berapa, itu urusan belakang. Yang penting menjelajah di antara blok-blok gedung ini. Namun pada akhirnya sesuatu yang ‘terlalu’ itu memang tidak selalu baik. Petualanganku sudah terlalu sok tahu, terlalu luas, terlalu jauh, dan terlalu rumit. Tak ada yang salah dengan hal itu sebenarnya, dan saya sama sekali tidak menyesal walaupun harus dingin-dinginan serta kelelahan melangkah. Tapi, setelah mencapai titik ini, semuanya harus kembali ke sekedar ‘sok tahu’, pada kadar yang normal, yaitu berjalan dengan arah dan tujuan yang diketahui pasti.

Saya pun kembali ke titik pertama pencarian—sesuatu yang saya yakini sebagai “selalu ada jawaban di awal, jika segalanya telah kehilangan arah“. Dan, BUM!!! Layaknya pertolongan dari langit jatuh menghantam bumi Istambul, mataku menangkap plang kantor Pusat Informasi Turis, masih satu gedung dengan stasiun Metro. “Bisa carikan letak hotel ini?” tanyaku pada petugas pria tua yang tersibukkan oleh ramainya wisatawan yang tersesat. “Dari sini, lewati tangga di ujung stasiun, kemudian belok kiri. Ikuti saja jalan itu, dan Anda akan temukan Sayeban Gold di sana”. Tuh kan, saya memang terlalu sok tahu, tapi jalur yang kuambil tadi sudah benar.

Di bawah terjangan hujan dan dinginnya udara, saya berlari mengikuti arah yang ditunjukkannya tadi, tepatnya mengulangi jejak yang sama. Kembali melalui hotel, restoran, serta kafe yang sudah dilewati tadi. Di dekat tanah lapang, saya bertanya pada seorang pelayan kafe. Tapi dia malah geleng-geleng kepala. Seorang pria tua yang sedang berjalan tiba-tiba menghampiri, bertanya kemana tujuanku, lalu memberikan arah menuju jalan yang berbatasan langsung dengan laut. Setelah mengikuti, masih juga belum ketemu. Saya pun masuk ke dalam sebuah hotel mewah, lalu bertanya pada sang resepsionis. “Oh, hotel Sayeban ada di seberang sana. Lewati saja jalan itu” katanya sambil menunjuk sebuah persimpangan, tepat di samping gedung ini.

Hujan yang makin deras tidak bisa membuatku berhenti saat ini. Sudah jam 8 dan saya masih harus ambil ransel yang dititipkan di Royal Suite Besiktaş, sebelum kemudian naik tram dan Metro ke Ottogar. Saya pun berlari melewati belokan di ujung blok, sambil mata tetap menatap ke badan gedung. Dan di sana lah dia, berdiri tegak dalam diam, di bawah langit kelabu serta rintik hujan yang membasahi tiap inci tubuhnya, layaknya diriku: Sayeban Gold.

Harta karunku.

8 responses to “12. Harta Karunku

  1. Masakannya didominasi daging, kayaknya saya bakalan suka nih Mas :hehe. Apalagi citarasanya segar dan banyak bawangnya, hmm saya mengharapkan nuansa pedas di sana dan akan langsung jadi makanan favorit :hehe (tahunya cuma kebab doang sih :haha).
    Perjuangan mencari hotel yang mengesankan. Lari-lari di bawah hujan dan itu pastinya tidak sama dengan hujan di Indonesia, beberapa kali lebih dingin pastinya :hehe. Syukurlah hotel itu bisa ditemukan, sekarang bagaimana pengalaman di Otogar?

    • hahhahahahha, dagingnya memang enak, dan memang khas Turki. Tapi ya itu lidah saya ga mampu untuk beradaptasi. Jadinya makan ya untuk kebutuhan saja, bukan untuk dinikmati😀 . bahahahaha, jangan ditanya deh perjuangannya kayak gimana, hanya untuk mencari hotel saja harus basah2an.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s