19. Lorong Gereja

Hari Kelima (5/18)

“Kas sampah kemari. Bakar lagi. kas banyak asap”1 kata temanku sambil terbatuk-batuk. Tangannya gesit mengais kertas dan plastik bekas di sekitar kakinya. “Aeee, stop sudah! Asap su banyak nih!”2 protesku sambil mengucek-ngucek mata yang perih terkena kepulan asap yang membumbung di udara—itu pun kalau memang masih ada udara di sini. Entah setan apa yang merasuki saya dan teman-temanku; kami nekad jongkok-jongkokkan di dalam goa kecil tepat di bawah ruang kelas sambil bakar sampah. Tujuannya? Biar kodok yang mendiami goa tersebut pada kabur keluar demi mendapat udara segar. Dan bodohnya, kami masih kuat-kuatan hirup asap, dan berusaha tetap bertahan walau mata sudah merah macam suanggi3. Saya yang sudah tidak kuat langsung merangkak keluar, meninggalkan teman-teman lain yang sepertinya dirasuki siluman anti asap. Baju putih merahku langsung kotor penuh lumpur, begitu pun telapak tangan dan lutut.

Ini lah realita kehidupan sekolah anak SD Inpres Tasangka Pura tercinta; tempat belajar paling ajaib yang pernah Continue reading

18. No Pain No Lunch

Hari kelima (5/18)

“Jangan bilang sudah ke Papua kalau belum pernah menginjakkan kaki di Wamena”, begitu kata muridku, entah satu atau dua tahun yang lalu. Tak tahu darimana dia mendapatkan kalimat yang terasa mengejek itu, terutama untukku yang memang belum pernah menghirup segarnya udara pegunungan di Wamena. Saya punya beberapa alasan tersendiri kenapa sampai saat ini paling ogah naik ke daerah eksotik itu: 1. Penerbangan ke Wamena selalu menggunakan pesawat yang tidak terlalu besar, dan itu cukup menakutkan bagi seorang penderita akrofobia; 2. Buat apa juga jauh-jauh ke Wamena hanya untuk membuktikan saya sudah pernah ke Papua, toh saya asli kelahiran Jayapura.

Sebenarnya kenyataan ini cukup menyebalkan juga, karena 90% kenalanku, baik kelahiran Jayapura maupun Continue reading

17. Tetap Tersembunyi

Hari Kelima (5/18)

Berada di ketinggian memang tidak pernah menyenangkan. Selain menakutkan, udara yang super duper menggigilkan juga sangat menyiksa. Apalagi tur balon udara tadi mulainya pas pagi buta, saat hawa dingin masih dalam kondisi prima. Jadi lah saat tiba kembali di penginapan, saya langsung menghambur ke kamar mandi dan berada selama mungkin di bawah pancuran air hangat. Saya menyesal tidak melapis baju banyak-banyak tadi, padahal menurut pengakuan salah satu pelancong yang ikut dalam tur, dia pakai 10 lapis kaos plus jaket! Pantas saja selama penerbangan dia tampak baik-baik saja, tanpa harus susah-payah menyembunyikan tangan yang gemetaran.

Uap yang tercipta dari hangatnya air memenuhi kamar mandi, yang kemudian Continue reading

16. Medaliku

Hari Kelima (5/18)

Tok…tok…tok…bunyi ketukan sayup-sayup menggema. Tok…tok…tok…terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. “Pagi!” seseorang berteriak di luar sana, membuatku seketika terjaga. “Pagi! Penjemputan sudah siap!!” pekik pria itu lagi. “Oke!” balasku, seketika melompat dari tempat tidur. Sial! Sial! Sial! Saya lupa pasang alaram. Kulirik jam tangan, jarum pendek menunjuk angka 5. SIALLLL!!! Saya langsung berlari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, lalu berpakaian secepat yang kubisa. Padahal semalam saya sempat terbangun, tapi kenapa bisa lupa?! Saya menggerutu sendiri. Tak terbayangkan wajah-wajah maut di mobil jemputan akan menyambutku dengan amarah. Aaah! Ini benar-benar memalukan.

Setelah yakin semua yang kubutuhkan sudah siap, saya langsung mengunci pintu kamar, dan berlari menuju mobil yang diparkir tepat di depan gerbang. Pria yang tadi memanggil-manggil entah ada di mana, mungkin Continue reading

15. Mari Tidur

Hari Keempat (4/18)

Sakura, bunga indah penuh pesona yang begitu melekat di hati tiap masyarakat Jepang. Saking berartinya sampai-sampai dikukuhkan sebagai bunga nasional. Ritual makan-makan sambil menikmati ratusan kuncupnya yang bermekaran juga sudah sangat membudaya di sana. Seakan-akan kembang ini hanya mau tumbuh di Jepang, tidak di tempat lain. Saya pribadi belum pernah mengunjungi negeri berjuluk matahari terbit tersebut, dan mungkin tidak dalam waktu dekat. Apalagi mengkhususkan diri untuk menikmati mahkota sakura yang berterbangan tertiup angin. Cukup lihat versi palsunya saja yang dipajang di salah satu rumah karaoke di Jayapura.

Tapi memang alam itu selalu penuh dengan kejutan, yang mungkin tidak akan pernah habis walaupun seluruh Bumi telah dipijak. Belum cukup dibuat ternganga-nganga oleh bentang alam Gӧreme yang
Continue reading

14. ‘The Flintstones’

Hari Keempat (4/18)

Sepertinya memang cuaca hari ini sangat tidak bersahabat; bahkan untuk orang Turki sekalipun. Dari balik jendela, tak tampak satu manusia pun berkeliaran di luar, walau itu hanya sekedar jalan kaki ke warung samping rumah. Mobil juga tidak banyak yang lalu lalang, hanya sesekali melaju kencang menghantam angin. Persis sepeti setting seri televisi ‘The Walking Dead’. Yang kurang hanya mayat hidupnya saja. Atau jangan-jangan tayangan mengerikan itu memang syutingnya di sini. Dasar konyol, pikirku sambil tertawa-tawa kecil.

Saya sedang duduk sempit-sempitan dengan pelancong lain di bangku paling belakang, dalam bus yang ukurannya 2 kali lebih kecil dan lebih jelek daripada bus sebelumnya. Bisa dibilang kami turun ke kelas Continue reading

13. Mau—Tak Mau

Hari Ketiga Menuju Hari Keempat (3-4/18)

Bunyi bel tram yang nyaring bergema di dalam gerbong, menandakan bahwa stasiun berikutnya hampir dicapai. Saat badan kereta berhenti total dan pintu bergeser terbuka, saya langsung melompat dan berlari ke arah pintu keluar. Terus berjalan mengitari blok hingga bertemu dengan jalan raya yang lumayan lebar. Saya pastikan dulu lajur kiri-kanannya lengang, lalu segera melangkah cepat menyeberanginya. Ranselku yang berat terpental-pental di punggung, membuat pundakku nyeri. Tapi saya tak bisa memperlambat langkah biar satu pun karena jarum pendek sudah hampir melewati angka 9. Harus segera tiba di otogar kalau tidak mau ketinggalan bus.

Sesampainya di seberang, saya langsung mencari gerbang Metro. “Terus saja ke sana” jawab seorang pria yang kutanya, tangannya menunjuk pada sebuah bangunan tak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Perhitunganku benar kali ini, jarak
Continue reading