22. Musim Semiku

Hari Keenam (6/18)

Di saat anak-anak lainnya sudah tertidur lelap di kasur mereka yang empuk, dibuai mimpi indah tentang istana para raja atau mimpi buruk dikejar setan hidung panjang, saya masih stand by di depan televisi, menonton sambil berbaring di atas sofa yang sudah kuanggap tempat tidur paling nyaman sedunia, jam 12 malam lewat sekian menit. Kalau anak SD begadang karena menyaksikan kartun favoritnya mungkin masih bisa dibenarkan (walau pastinya orang tua tidak akan mengizinkan, dan rasanya tidak ada stasiun TV yang cukup gila untuk memutar kartun di tengah malam), tapi tontonan favoritku justru Discovery Channel / National Geography, tetang keajaiban alam, kolam-kolam alami tanpa dasar, sungai penuh ikan dan buaya, dan yang paling kusuka malam ini adalah dokumentasi mengenai bunga-bunga di seluruh dunia.

Ayah, ibu, dan kakak perempuanku sudah terlelap di kasur samping sofa tempatku berbaring, jadinya kusengaja menurunkan volume suara hingga yang paling rendah. Bukan agar tidak mengganggu tidur mereka, tapi justru saya takut salah satu orang tuaku terjaga dan menyadari anak lelakinya yang belum mengerjakan PR dan harus sekolah pagi besok belum juga tidur, sehingga saya akan dipaksa menutup mata. Saya tidak rela tontonan semenarik ini harus diakhiri. Mataku masih semangat untuk dipakai menonton hingga beberapa jam ke depan.

Continue reading

Advertisements

21. 100 atau 20?

Hari Keenam (6/18)

“Pamukkale! Pamukkale!!” teriakan pramugara bus membuatku kaget bangun. Kakiku terasa sakit karena berada di satu posisi, tak bergerak sama sekali, selama berjam-jam. Agak kaku saat digerakkan, apalagi ruang duduk yang sempit tidak memungkinkan untuk meluruskan kaki. Mataku yang masih terlampau berat untuk dibuka lebar-lebar melirik jam tangan. Sudah pukul 6 pagi. Tak terasa 11 jam penuh tidur telah berlalu. “Pamukkale?” tanyaku pada sang pramugara yang kebetulan melintas. Kepalanya mengangguk beberapa kali, kemudian berkata hal-hal lain yang mungkin artinya “tolong segera bersiap-siap, bus sedikit lagi berhenti”.

Benar dugaanku, tak berapa lama kemudian kendaraan menepi dan berhenti total. Seluruh penumpang langsung berdiri serentak dan mengambil barang yang ditaruh di loker kabin di atas kepala. Karena tidak mau berdesak-desakkan menuju pintu keluar, kutunggu sampai semua penumpang turun, baru saya bergerak. Belum juga beradaptasi dengan sergapan udara pagi yang dinginnya bikin kuping mati rasa, seorang pria entah dari mana langsung saja mengkomando kami untuk memasuki minibus. Saya memilih duduk di depan biar bisa lihat pemandangan, walau harus merasa tidak nyaman dengan ransel dijepit di antara kedua kaki. Continue reading

20. Sang Oportunis

Hari Kelima (5/18)

Oportunis, sebuah istilah yang entah mengandung makna negatif atau sebaliknya. Saya pernah kelaparan di kosan, tabungan habis, uang receh yang terkumpul pun tak mencapai angka 1000, jadinya saya beralasan main ke rumah kenalan, kemudian pulang dengan perut kenyang karena disuruh makan di sana. Apakah itu sikap oportunis? Mungkin. Pernah juga saat jalan-jalan di Bandung, mampir di salah satu pusat oleh-oleh, lalu dengan hati berbunga-bunga mencoba semua penganan tradisional yang tersedia, toh sang pemilik toko cuek-cuek saja. Apakah itu juga sebuah perilaku oportunis? Kemungkinan besar iya.

Entah dari sudut mana kita memandang oportunisme, terkadang sikap ini benar-benar bisa menyelamatkan hidupmu. Atau dalam kasusku, mengenyangkan perut kosong! Kedengarannya memang seperti ‘sang pengambil untung tak tahu malu’, tapi saya dan kenalanku ini sudah seperti keluarga, dan beliau selalu menyuruhku makan tiap kali main ke rumahnya, bahkan saat dompetku lagi tebal-tebalnya. Kejadian di Bandung itu juga berakhir manis: saya membeli keripik tempe, walaupun hanya setengah kilo—itupun masih patungan sama teman. Haha. Continue reading

19. Lorong Gereja

Hari Kelima (5/18)

“Kas sampah kemari. Bakar lagi. kas banyak asap”1 kata temanku sambil terbatuk-batuk. Tangannya gesit mengais kertas dan plastik bekas di sekitar kakinya. “Aeee, stop sudah! Asap su banyak nih!”2 protesku sambil mengucek-ngucek mata yang perih terkena kepulan asap yang membumbung di udara—itu pun kalau memang masih ada udara di sini. Entah setan apa yang merasuki saya dan teman-temanku; kami nekad jongkok-jongkokkan di dalam goa kecil tepat di bawah ruang kelas sambil bakar sampah. Tujuannya? Biar kodok yang mendiami goa tersebut pada kabur keluar demi mendapat udara segar. Dan bodohnya, kami masih kuat-kuatan hirup asap, dan berusaha tetap bertahan walau mata sudah merah macam suanggi3. Saya yang sudah tidak kuat langsung merangkak keluar, meninggalkan teman-teman lain yang sepertinya dirasuki siluman anti asap. Baju putih merahku langsung kotor penuh lumpur, begitu pun telapak tangan dan lutut.

Ini lah realita kehidupan sekolah anak SD Inpres Tasangka Pura tercinta; tempat belajar paling ajaib yang pernah Continue reading

18. No Pain No Lunch

Hari kelima (5/18)

“Jangan bilang sudah ke Papua kalau belum pernah menginjakkan kaki di Wamena”, begitu kata muridku, entah satu atau dua tahun yang lalu. Tak tahu darimana dia mendapatkan kalimat yang terasa mengejek itu, terutama untukku yang memang belum pernah menghirup segarnya udara pegunungan di Wamena. Saya punya beberapa alasan tersendiri kenapa sampai saat ini paling ogah naik ke daerah eksotik itu: 1. Penerbangan ke Wamena selalu menggunakan pesawat yang tidak terlalu besar, dan itu cukup menakutkan bagi seorang penderita akrofobia; 2. Buat apa juga jauh-jauh ke Wamena hanya untuk membuktikan saya sudah pernah ke Papua, toh saya asli kelahiran Jayapura.

Sebenarnya kenyataan ini cukup menyebalkan juga, karena 90% kenalanku, baik kelahiran Jayapura maupun Continue reading

17. Tetap Tersembunyi

Hari Kelima (5/18)

Berada di ketinggian memang tidak pernah menyenangkan. Selain menakutkan, udara yang super duper menggigilkan juga sangat menyiksa. Apalagi tur balon udara tadi mulainya pas pagi buta, saat hawa dingin masih dalam kondisi prima. Jadi lah saat tiba kembali di penginapan, saya langsung menghambur ke kamar mandi dan berada selama mungkin di bawah pancuran air hangat. Saya menyesal tidak melapis baju banyak-banyak tadi, padahal menurut pengakuan salah satu pelancong yang ikut dalam tur, dia pakai 10 lapis kaos plus jaket! Pantas saja selama penerbangan dia tampak baik-baik saja, tanpa harus susah-payah menyembunyikan tangan yang gemetaran.

Uap yang tercipta dari hangatnya air memenuhi kamar mandi, yang kemudian Continue reading

16. Medaliku

Hari Kelima (5/18)

Tok…tok…tok…bunyi ketukan sayup-sayup menggema. Tok…tok…tok…terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. “Pagi!” seseorang berteriak di luar sana, membuatku seketika terjaga. “Pagi! Penjemputan sudah siap!!” pekik pria itu lagi. “Oke!” balasku, seketika melompat dari tempat tidur. Sial! Sial! Sial! Saya lupa pasang alaram. Kulirik jam tangan, jarum pendek menunjuk angka 5. SIALLLL!!! Saya langsung berlari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, lalu berpakaian secepat yang kubisa. Padahal semalam saya sempat terbangun, tapi kenapa bisa lupa?! Saya menggerutu sendiri. Tak terbayangkan wajah-wajah maut di mobil jemputan akan menyambutku dengan amarah. Aaah! Ini benar-benar memalukan.

Setelah yakin semua yang kubutuhkan sudah siap, saya langsung mengunci pintu kamar, dan berlari menuju mobil yang diparkir tepat di depan gerbang. Pria yang tadi memanggil-manggil entah ada di mana, mungkin Continue reading