23. An Original Play

Hari Keenam (6/18)

Nihil sinar lampu, layar lebar bermandikan cahaya terang, serta suara yang membahana dari berbagai sisi: semua hal ini membuat pengalaman pertamaku menonton film di bioskop begitu mengesankan. Terdengar konyol sebenarnya, bukan? Masa nonton di bioskop saja mengesankan? Tapi ini kenyataan. Bayangkan saja, saya  baru memasuki ruang teater film di pertengahan tahun 2007, di salah satu gedung bioskop legendaris kota Bogor: Galaxy. Sebenarnya bioskop bukan tidak pernah ada di kampung halaman, Jayapura. Seingatku dulu ada beberapa. Tapi karena krismon yang sangat mencekik perekonomian melanda Indonesia, gedung bioskop terpaksa tutup, dan baru muncul lagi tahun 2013.

Perjumpaanku pada film layar lebar sebelum itu hanya berupa layar tancap di lapangan sepak bola belakang rumah. Itu pun sudah bertahun-tahun yang lalu, mungkin saat masih SD. Film yang ditampilkan adalah perjalanan Yesus dan sahabatnya kala menyebarkan agama Kristen. Walaupun berbeda agama, saya dan teman-teman santai saja nonton sampai tengah malam. Biasanya film ini diputar pas mau Natal. Tentu saja pengalaman nonton ini penuh dengan gigitan nyamuk dan gatal-gatal kena rumput, berbeda dengan gedung bioskop yang berpendingin udara dan bisa makan jagung tembak asin favoritku.

Ngomong-ngomong soal bioskop, saya punya pengalaman menarik yang sangat membekas di ingatan. Saat itu saya sedang menonton film bersama sepupu-sepupu saya. Gedung bioskop yang lumayan sepi membuatku tergerak untuk melanggar aturan dengan mengangkat kaki ke atas sandaran kursi deretan depan. Lagi asyik-asiknya nonton, tiba-tiba di sela-sela jari kakiku terasa rambut tebal halus yang menggelitik. Saya otomatis langsung menarik kedua kakiku saking kagetnya. Mampus! Saya baru saja menginjak kepala orang! pikirku bergidik, pasti dimaki abis-abisan nih! Saya tunggu beberapa saat, harap-harap cemas, semoga dia orang baik-baik dan pemaaf. Tapi tidak satu wajah pun muncul sambil mencak-mencak, mungkinkah kepalanya mati rasa? Diliputi keheranan, saya pun memberanikan diri mencondongkan tubuh untuk melihat siapa gerangan yang sudah jadi korban jari-jari kakiku. Dan ternyata, tidak ada orang!! Di bangku kanan dan kiri sampai ke dinding pun tidak ada!  Oh Tuhan! Makhluk apa yang tadi kuinjak???

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya berjanji tidak akan lagi menaikkan kaki ke sandaran bangku depan. Bukan hanya untuk mengikuti aturan, tapi juga agar terhindar dari pengalaman penuh bulu-bulu misterius itu. Tapi, siapa coba yang tidak pernah melakukan hal yang sama? Saya yakin sebagian besar penonton lain kalau mendapati kursi depannya tidak ditempati, pasti akan mengangkat kaki. Alasannya? Ya karena nyaman. Pertanyaan berikutnya, kenapa bisa nyaman? Bayangkan kalau tempat duduk bioskop di set mendatar dari bangku belakang ke depan. Apakah mengangkat kaki ke atas sandaran kursi di depan masih terasa nyaman? Adanya malah pandangan terhalang kaki sendiri. Jadi, untuk pertanyaan terakhir, darimana, atau, sejak kapan set bangku seperti ini tercipta dan diadopsi untuk mendapatkan pengalaman menonton yang menyenangkan?

Mungkin duduk di sini, di permukaan bangku batu yang keras dan dingin, yang dipahat dan diatur sedemikian rupa, dapat memberiku sebuah jawaban. Saya sedang duduk-duduk santai di sebuah reruntuhan bangunan kuno megah, yang secara tidak langsung menunjukkan betapa cerdasnya orang-orang zaman dahulu menciptakan sebuah konsep menonton yang baik dan futuristik. Bangunan raksasa bergaya amfiteater ini berfisik setengah lingkaran, dengan deretan bangku yang disusun berundak-undak dari bawah ke atas dengan kisaran lebih dari 20 deretan bangku dan dapat menampung hingga 500an lebih orang. Tentu reruntuhan ini bukanlah pioner arsitektur amfiteater, tapi setidaknya mengingatkan manusia masa kini bahwa bahkan di waktu lampau pun faktor kenyamanan dalam menonton sebuah pertunjukan adalah suatu hal yang serius, yang membutuhkan pemikiran hebat dan perhitungan handal, dan akhirnya bahkan menjelma menjadi salah satu warisan dunia yang diadopsi hingga saat ini, yang tentu saja menjawab pertanyaan tentang tata ruang bioskop modern tadi, begitu pula ruang teater/opera, stadion bola kaki, hingga ruang kuliah.

Karena tidak membekali diri dengan pengetahuan tentang Hierapolis, saya jadinya tidak tahu-menahu apapun akan sejarah di balik bangunan ini. Namun, bisa kuperkirakan tempat ini dulunya digunakan untuk menonton drama, atau mungkin konser amal yang dilakukan oleh penyanyi-penyanyi tenar tempo dulu. Di ujung bawah, tepat di akhir deretan bangku terakhir, terdapat ruang lapang kecil berbentuk setengah lingkaran yang memberi jarak antara bangku penonton dan panggung utama. Panggungnya sendiri berupa lantai batu, dilatari oleh dinding berhias pilar-pilar yang menjulang tinggi. Di antara beberapa pilar tersebut berdiri patung-patung khas Eropa yang nasibnya mirip saudara sesamanya di belahan dunia lain: yang berkepala buntung lah, yang hilang kaki dan tangan lah, atau bahkan hilang semuanya hingga tinggal badan semata.

Selain pilar, terdapat juga lima pintu dengan ukuran bervariasi, mulai dari yang terbesar di bagian tengah, hingga yang terkecil di sisi kiri dan kanannya. Tiap pintu dibatasi dua pilar, dimana ruang antarpintu diisi oleh ukiran-ukiran indah miniatur manusia dengan berbagai gaya layaknya sedang mementaskan drama. Dua pintu lainnya berdiri di kedua ujung panggung, saling berhadapan satu dengan lainnya dalam jarak yang cukup jauh, mungkin berfungsi sebagai pintu masuk-keluar pelakon drama. Di tepi sisi terdepan panggung terdapat beberapa pintu setinggi dua meter yang mengarah pada ruang di bawah panggung. Mungkin ruang kostum dan berhias para pemain. Di sisi teratas dinding panggung juga terlihat sisa-sisa pilar lainnya yang masih berdiri; jika perkiraanku benar, pasti dinding tersebut lebih tinggi dari yang tampak sekarang.

Matahari yang bersinar cerah siang ini sedikit menghangatkan suasana, tapi bangku batu yang sedang kududuki ini tak berkurang sedikitpun dinginnya. Saya berada tepat di sisi paling tengah, mengambil tempat di deretan ke sembilan dari pintu masuk di puncak bangunan. Dari sini, terlihat jelas panggung beserta seluruh ornamennya. Saya pun beranjak menuruni tangga hingga ke jalan kecil yang membagi dua kelompok deretan bangku atas dan bawah. Sebuah pagar kayu buatan turut mempertegas pengelompokkan tersebut, selain juga berfungsi sebagai penghalang agar pengunjung tidak meneruskan eksplorasi hingga ke dasar bangunan. Teori asal-asalanku mengatakan bahwa, di masa-masa jayanya, tiket yang dijual untuk menonton drama di sini pasti diberi harga berbeda antara kelompok bangku atas dan bawah; deretan bangku dekat panggung pasti kelas VIP karena bisa dengan jelas melihat dan mendengar suara para pelakon, mempertimbangkan ketiadaan pengeras suara di masa itu. Sedang yang duduk di atas harus puas dapat sisanya.

Saya kembali duduk di permukaan bangku batu yang dingin, sambil menatap dalam panggung di bawah sana. Kira-kira drama seperti apa yang dulu pernah dimainkan di sini. Lakon percintaan? Perang antarkerajaan? Cerita komedi? dunia sihir….

Emersus! Oh, Emersus!”

Pikiranku mulai menciptakan dialog-dialog imajiner, membayangkan seorang wanita berjalan tertatih di atas lantai panggung yang kering membeku. Lambaian sinar kuning kemerahan dari jejeran obor yang ditancap di sisi pilar menjilat-jilat kegelapan malam yang menggerayangi udara.

“Emersus! Oh, Emersus! Tidakkah rembulan yang bersinar redup malam ini cukup tuk menunjukkan kesedihanku?

Rambut panjangnya kusut masai. Wajahnya dihiasi kilauan air mata yang mengalir di pipi tiada henti. Baju khas kaum ningrat yang dikenakannya tampak berantakan hingga kehilangan keanggunannya. Tapi, tidak dari semua itu mampu menyembunyikan kecantikan di wajahnya.

“Emersus! Oh, Emersus, kekasihku! Tidakkah awan hitam yang bergelung di gelapnya langit cukup tuk turut menangisi ratapanku?

Kedua kaki jenjangnya yang indah tak mampu lagi menahan beban kehidupan romansa. Tubuhnya yang bergetar hebat menahan isak tangis terkulai tak berdaya. Dengan sisa tenaga, disandarkannya tubuhnya di sisi pilar yang dingin. Tangannya, jari-jari lentiknya yang kini penuh dengan debu mengusap perlahan wajahnya, meninggalkan jejak-jejak kelabu di kulitnya yang halus. Tapi, tidak dari semua itu mampu menyembunyikan kecantikan di wajahnya.

“Wahai Emersus, kekasihku, cintaku, hidupku, siang dan malamku! Tidakkah kaumenyadari betapa setiap bagian dari tubuh ini—tangan, mata, jemari, hingga helaian rambutku  ingin selalu berada di dekatmu? Tidakkah kaurasakan kesyukuranku atas tiap  desahan nafas yang memberiku hidup hanya agar kubisa memandangmu? Tidakkah kaulihat betapa besar rasa iriku pada bayanganmu yang dengan rakusnya merekatkan diri padamu bagaikan benalu di batang pepohonan?”

Sungai air mata tiada henti mengalir deras di pipinya yang kotor namun merah merona. Berlinang-linang membasahi kulitnya yang lembab namun halus selembut sutera. Menciptakan aliran kesedihan hingga menyentuh baju kebangsawanannya, menodai tiap helai benang yang susah payah dirangkai indah. Tapi, tidak dari semua itu mampu menyembunyikan kecantikan di wajahnya.

“Tidakkah kautahu betapa kuyakini hidupku telah sempurna—suami yang berjanji mencinta hingga mati khayat, harta kekayaan berlimpah tiada berkesudahan, kehidupan aristokrat tak bercacat—semua itu sebelum kubertemu denganmu, oh Emersus, sang pujaan hati…

“Permisi!”, sapa suara perempuan yang (demi Emersus!) sungguh mengagetkanku. Hanya dalam sekejap menarikku secara paksa dari dunia imajinasi, “maaf” katanya lagi, tersirat di wajahnya rasa bersalah karena telah membuatku terkesiap. Saya hanya bengong menatapnya, tak tahu harus bereaksi bagaimana. “Bisa tolong memotret kami?” kata wanita muda berambut pirang tersebut. Di sampingnya berdiri perempuan lainnya, dengan  perawakan hampir sama, tapi dengan warna rambut berbeda. Walau meminta tolong, saya tidak melihat ada kamera ataupun hape yang disodorkan padaku, membuatku tambah tak tahu harus berbuat apa. Wanita pirang tersebut sepertinya menyadari kebingunganku, “kamera kami entah kenapa rusak, sedang baterai hape kami sudah habis. Bisa kah kamu memotret kami dengan kameramu, lalu mengirimnya lewat surel?” jelasnya dengan penuh harap. Telingaku bisa menangkap aksen Rusia dari nada bicaranya. “Tentu saja”, kataku akhirnya, sepenuhnya mengerti. Kami pun beranjak ke puncak bangunan karena mereka minta difoto dari atas sana. Puas dengan jepretanku, kedua wanita tersebut pun melangkah pergi setelah sebelumnya memberikanku alamat surel.

Huh! Masih agak jengkel sebenarnya, dikagetkan begitu saja, seperti dipaksa bangun dari mimpi yang indah. Padahal saya sudah sangat tenggelam dalam drama orisinalku sendiri. Tapi, dipertimbangkan dari sisi lain, sepertinya jelek juga kalau saya terlalu larut dalam lamunan, bisa-bisa kesambet setan pemain drama zaman kerajaan. Lagipula, kisah Emersus dan wanita yang memujanya sebaiknya tetap menjadi misteri, setidaknya untuk diriku sendiri.

Layaknya reruntuhan bangunan ini.

Yang terasa dingin nan membeku. Yang bertabur debu dan hancur.

Tapi, tidak dari semua itu mampu menyembunyikan kecantikan di wajahnya.

Advertisements

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s