19. Lorong Gereja

Hari Kelima (5/18)

“Kas sampah kemari. Bakar lagi. kas banyak asap”1 kata temanku sambil terbatuk-batuk. Tangannya gesit mengais kertas dan plastik bekas di sekitar kakinya. “Aeee, stop sudah! Asap su banyak nih!”2 protesku sambil mengucek-ngucek mata yang perih terkena kepulan asap yang membumbung di udara—itu pun kalau memang masih ada udara di sini. Entah setan apa yang merasuki saya dan teman-temanku; kami nekad jongkok-jongkokkan di dalam goa kecil tepat di bawah ruang kelas sambil bakar sampah. Tujuannya? Biar kodok yang mendiami goa tersebut pada kabur keluar demi mendapat udara segar. Dan bodohnya, kami masih kuat-kuatan hirup asap, dan berusaha tetap bertahan walau mata sudah merah macam suanggi3. Saya yang sudah tidak kuat langsung merangkak keluar, meninggalkan teman-teman lain yang sepertinya dirasuki siluman anti asap. Baju putih merahku langsung kotor penuh lumpur, begitu pun telapak tangan dan lutut.

Ini lah realita kehidupan sekolah anak SD Inpres Tasangka Pura tercinta; tempat belajar paling ajaib yang pernah kusinggahi. Mulai dari kelas satu hingga lulus, tempat bermainku kalau tidak di bukit, ya, di goa. Belum lagi berlari menuruni jurang. Lapangan serbaguna yang disediakan sama sekali tidak laku karena murid-murid lebih memilih bermain kasti—olahraga paling populer di sekolah—di sisi tebing. Belum lagi kami biasanya berlomba menangkap kumbang berwarna hijau berkilauan yang kami sebut ‘kumbang mas’: siapa pun yang berhasil mendapatkannya, seperti memenangkan lotere senilai ratusan juta. Tak ada gawai, tak ada swafoto, yang ada hanya lah bermain dengan alam.

Ada beberapa goa di sekolahku, baik yang sudah terjelajahi, maupun belum. Yang dangkal, hingga luas. Yang tidak penting, sampai yang penuh misteri. Saya dan teman-teman biasanya menjelajahi goa sambil bermimpi mendapatkan fosil dinosaurus secara tidak sengaja, walaupun seringnya dapat tulang ayam bekas makan anjing entah hasil rampokan darimana. Sering juga salah satu dari goa itu berfungsi sebagai tempat ganti baju dadakan setelah kelas olahraga, terutama saat kamar mandi penuh. Pokoknya masa SDku penuh dengan penjelajahan goa.

Bertahun-tahun sejak itu interaksiku dengan goa nyaris nihil. Baru ketemu lagi saat berkunjung ke Batu Cave di Malaysia; sebuah kuil Hindu yang terletak dalam goa super besar yang pernah disaksikan kedua bola mataku. Walaupun lantainya sudah disemen rata layaknya lapangan futsal, langit-langitnya masih penuh ukiran batu stalaktit yang menggantung di segala sisi. Saat itu saya berpikir, mungkin ini adalah goa terbaik yang pernah saya singgahi. Tapi takdir rupanya berkata lain kala saya tiba di Kappadokya, tepatnya saat berdiri di kaki bukit batu cokelat yang menjulang kokoh ke arah langit biru: Katedral Selime, sang gereja tua.

Awalnya saya berpikir, penginapan bertema goa, begitu pun rumah-rumah batu lainnya, adalah sesuatu yang sudah terhitung keren dan eksotis. Tapi ide mengenai tempat ibadah yang diciptakan dalam lorong-lorong goa buatan di tubuh bukit batu tampaknya lebih dari sekedar luar biasa. Apalagi ukurannya seraksasa ini. “Terdapat banyak ruangan yang bisa kalian jelajahi di dalam gereja, tapi dengan tetap mengikuti petunjuk yang ada”, jelas sang pemandu tur, tangan kirinya menunjuk semacam anak panah yang dipaku di salah satu dinding batu “tiap jalur terdapat anak panah sebagai petunjuk. Yang berwarna merah berarti memasuki, sedang yang hijau mengarah keluar”. Dia menutup penjelasan dengan menginfo bahwa kami diberi kesempatan selama 30 menit untuk berjelajah, dan harus kembali tepat waktu ke mobil penjemputan.

Tanpa menunggu lama saya langsung berlari ke arah jalur masuk. Sebuah batu runcing besar menyambutku di tengah pendakian. Seperempat tubuhnya telah runtuh dimakan zaman, memperlihatkan sebuah ruangan cukup besar di dalamnya yang diukir sedemikian rupa. Mungkin bukan batu itu saja yang sudah runtuh, karena sebagian besar bangunan terdepan juga mengalami nasib yang sama. Terlihat dari gradasi warna permukaan yang berbeda serta onggokan bebatuan raksasa yang berkumpul kaki bukit.

Karena tujuannya dibuat tersembunyi, jalan menuju ruang utama gereja pun dibuat sempit dan terhalangi oleh bongkahan batu. Kami harus mengantri, jalan satu persatu, sambil melangkah hati-hati karena debu di atas permukaan batu yang keras bisa bikin terpeleset. Tedapat semacam tempat istirahat (shelter) di tengah jalan, berupa lorong dengan tinggi yang bervariasi, yang berlanjut pada jalur karavan yang telah diberi tambahan berupa pagar besi. Ujung lorong kemudian membawaku pada teras yang telah diberi pagar kayu. Bagian ini lah yang telah kehilangan sebagian dinding batunya karena runtuh. Namun, agakinya memang seharusnya seperti ini karena pemandangan yang tersajikan sungguh mempesona, tanpa halangan.

Semakin ke atas, jalur mendaki pun kian sempit. Hanya cukup untuk satu kaki saja tiap kali melangkah. Siapa pun yang mengukirnya di zaman dulu pasti adalah seseorang yang sangat praktis dan efisien. Hamparan bongkahan batu menyambutku di ujung jalan, semacam teras berundak-undak yang terasa halus saat dipijak. Entah ini sudah lantai ke berapa, yang pasti betangan padang rumput, pepohonan, perumahan, serta jalan dan sungai yang berkelok-kelok terlihat sangat jelas dari atas sini. Tampak kuburan Sultan Selime yang berbentuk persegi delapan dengan atap runcing berdiri dalam diam di bawah sana. Saya harus ekstra hati-hati mengambil gambar di sini karena tidak ada pagar pengaman di tiap tepi.

Dari lantai ini terdapat akses menuju beberapa ruangan yang telah dilabeli sesuai fungsinya dulu. Saya memutuskan untuk memulai tur gereja dengan mengunjungi ruang terluar, yang terletak tepat di ujung teras. Entah apa fungsi ruangan ini, karena dari judulnya cuma tertulis ‘kamar’. Kalau memang tempat ini dipakai untuk kamar tidur, WOW, mungkin ini ruang rehat paling bagus yang pernah ada. Dapat kubayangkan tidur siang sambil dibelai udara musim semi, suara gemericik air sungai yang mengalir penuh irama, desisan dedaunan yang tertiup angin, serta jejeran bukit di kejauhan yang kian detik kian merayu mata untuk menutup—khayalan yang membuatku tiba-tiba menguap.

Ruang berikut yang kutuju adalah dapur; salah satu ruangan yang patut dikunjungi menurut papan informasi di samping pintu masuk. Dan sesuai penjelasan yang tertera, langit-langit dapur diukir membentuk piramida. Mungkin dulu pas masak-masak, asap yang keluar lumayan bikin sesak. Jadi lah langit-langit dibentuk seperti ini agar asap yang membumbung memusat di tengah dan ke luar melalui lubang sebesar kepala orang dewasa tepat di titik tertinggi. Selain pintu utama, terdapat juga beberapa pintu yang setelah kutelusuri, terhubung dengan ruangan lain. Tampak ceruk-ceruk kecil di dinding mengelilingi seluruh ruangan, tempat menaruh lilin kala malam menjelang. Ada juga ceruk lainnya yang lebih besar, kemungkinan untuk menaruh peralatan dapur.

Puas mengamati dapur, saya kemudian mampir sebentar di ruang penyimpanan pangan, lalu menuju atraksi utama dari gereja tua Selime: ruang biara. Ruangannya cukup luas, berbentuk persegi, dengan beberapa pilar beratap melengkung sambung-menyambung, baik di lantai pertama, maupun kedua. Ruang kosong di balik pilar-pilar tersebut berupa tempat duduk, lorong menuju ruangan lain, hingga satu di bagian paling depan yang hanya berupa dinding, dengan corak-corak bulat bagaikan lukisan masa lampau. Saya mencoba menaiki salah satu tangga, yang makin ke atas kian menyempit. Bahkan saat sampai di ujung tangga harus bersusah payah melewati lubang kecil, hingga akhirnya tiba di lantai dua biara.

Walau sudah mengamati isi biara dengan seksama, saya sama sekali tidak punya gambaran bagaimana peribadatan dilaksanakan di ruangan ini. Atau untuk lebih luasnya, tentang bagaimana kehidupan dijalani di balik lorong-lorong gelap penuh bayang; kala mereka berjalan, berdoa, beristirahat, hingga berlindung dari dunia luar. Saat tadi berdiri di bawah sana, yang kulihat hanya lah bukit batu raksasa yang gersang dan sunyi. Tapi setelah menelusuri tiap ruangan, dapat kurasakan jejak-jejak manusia dari masa lalu, yang langkahnya masih bergema hingga hari ini melalui jalan-jalan kecil yang diukir rapi serta goresan di dinding.

Kehidupan masih terasa di sini. Bahkan setelah mereka mati.

___________________________________________________

1 ”Berikan saya lebih banyak sampah untuk dibakar, biar banyak asap”

2 ”Hentikan saja! Asap sudah terlalu banyak”

3 Makhluk jadi-jadian.

One response to “19. Lorong Gereja

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s