21. 100 atau 20?

Hari Keenam (6/18)

“Pamukkale! Pamukkale!!” teriakan pramugara bus membuatku kaget bangun. Kakiku terasa sakit karena berada di satu posisi, tak bergerak sama sekali, selama berjam-jam. Agak kaku saat digerakkan, apalagi ruang duduk yang sempit tidak memungkinkan untuk meluruskan kaki. Mataku yang masih terlampau berat untuk dibuka lebar-lebar melirik jam tangan. Sudah pukul 6 pagi. Tak terasa 11 jam penuh tidur telah berlalu. “Pamukkale?” tanyaku pada sang pramugara yang kebetulan melintas. Kepalanya mengangguk beberapa kali, kemudian berkata hal-hal lain yang mungkin artinya “tolong segera bersiap-siap, bus sedikit lagi berhenti”.

Benar dugaanku, tak berapa lama kemudian kendaraan menepi dan berhenti total. Seluruh penumpang langsung berdiri serentak dan mengambil barang yang ditaruh di loker kabin di atas kepala. Karena tidak mau berdesak-desakkan menuju pintu keluar, kutunggu sampai semua penumpang turun, baru saya bergerak. Belum juga beradaptasi dengan sergapan udara pagi yang dinginnya bikin kuping mati rasa, seorang pria entah dari mana langsung saja mengkomando kami untuk memasuki minibus. Saya memilih duduk di depan biar bisa lihat pemandangan, walau harus merasa tidak nyaman dengan ransel dijepit di antara kedua kaki.

Jarak dari jalan raya antarprovinsi menuju ottogar tidak begitu jauh, hanya sekitar 15 menit. Setelah melewati jalan besar yang sepi, kami pun memasuki kawasan perumahan yang tak kalah sunyi senyap. Sepertinya musim semi yang hangatnya belum klimaks ini membuat warga enggan untuk beraktivitas di pagi buta. Hingga akhirnya kami pun berhenti di depan bangunan berukuran sedang yang langsung kukenali sebagai ottogar berkat dekorasi khasnya berupa tulisan-tulisan nama daerah wisata, poster, nomor telepon, dan peta.

Untuk menghindari hawa dingin, saya berinisiatif bergerak cepat menuju ottogar, tapi pemandangan ajaib di langit pagi yang kebiruan seketika menghentikan langkahku. Sebuah siluet hitam besar berbentuk nyaris bulat dengan bagian lancip di bawahnya melayang perlahan di udara, muncul bagai noda besar di angkasa dari balik bukit. Tampak sedikit cahaya oranye kemerahan yang kadang muncul di antara kegelapan itu, memunculkan gerakan-gerakan kecil yang nyaris tak terlihat: balon udara, terbang ke angkasa menyambut matahari terbit. Ternyata ada juga di kota ini, pikirku. Saya menghela napas, sedikit tersenyum, bisa kubayangkan perasaan tiap orang yang ada di keranjang kotak besar itu. Pasti setakjub yang kurasakan kemarin pagi.

Memasuki ruangan ottogar setara sensasinya seperti membuka pintu kulkas setelah melewati hari yang membara, yang membedakan hanya lah ruangan ini terasa sangat hangat dan menyenangkan setelah menghadapi udara dingin di luar. Walau semua terlihat berantakan dengan meja dan kertas-kertas yang tidak beraturan, dinding penuh gambar dan tulisan, serta orang-orang yang mondar-mandir tak hentinya, setidaknya toiletnya lumayan bersih dan ada dispenser untuk bikin teh/kopi gratis.

Dari semua manusia yang ada di ruangan ini, mungkin hanya orang Korea lah yang paling mencolok. Entah bagaimana, muka mereka itu sangat khas. Bisa dibedakan dari orang Asia Timur lainnya. Dan saking khasnya sampai-sampai tanpa mandi pun mereka santai pasang make-up¸tempel ini dan itu di wajah, macamnya parno sekali dibilang jelek. Ya, itu sebenarnya hak personal, tapi tidak sampai gosok gigi sambil jalan-jalan keliling ruangan juga macam pria Korea yang pernah kutemui di Istambul ini. Apa salahnya berdiri diam depan wastafel sambil memastikan seluruh inci gigi terbersihkan.

Sambil menunggu jemputan, saya mendekati seorang petugas yang tampangnya kunilai cukup ramah. Kuceritakan perihal kedatanganku di Pamukkale sambil menanyakan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan di sini dalam satu hari—karena memang saya hanya akan tinggal semalam di kota ini. Saat mengetahui Selҫuk adalah tujuanku berikutnya, dia pun menawarkan paket tur menarik mengunjungi beberapa tempat wisata yang tidak mungkin dicapai dengan kendaraan umum di kota tersebut. Tentunya dengan harga khusus yang sudah didiskon. Well, saya sudah tidak pernah percaya omongan semacam ini yang memang hampir selalu keluar dari mulut agen travel manapun, jadinya kuminta waktu untuk mengiyakan, setidaknya sampai saya mampir lagi setelah balik dari Hierapolis siang nanti.

“Jemputan ke Hotel Venus sudah datang!” teriak seorang pria dari ambang pintu. Saya langsung bergerak cepat mengikuti pria tersebut ke sebuah van yang diparkir di dekat tangga. Lagi-lagi saya sengaja mengambil tempat di bangku samping supir biar bisa hafal jalan ottogar-hotel. Walau pakai jemputan segala, saya yakin jaraknya tidak terlalu jauh untuk ukuran jalan kaki. Kendaraan kembali melewati jalan yang kami susuri sebelumnya, kemudian belok kanan memasuki jalan kecil sekitar 100 meter ke depan, lalu berhenti di depan sebuah rumah besar yang pekarangannya ditumbuhi banyak tanaman hias.

“Terima kasih” ucapku pada supir, lalu berjalan memasuki halaman penginapan yang diteduhi sebuah kanopi. “Selamat pagi” sapa seseorang saatku membuka pintu, suara yang ternyata datang dari pria berambut nyaris putih sempurna yang berdiri di balik meja penerima tamu. Entah kenapa, saya langsung merasa bahwa dia lah pemilik hotel ini. Setelah menyapa balik, saya pun memberikannya kertas bukti reservasi kamar. “Hanya satu malam?” tanyanya, melirikku tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer. “Iya, besok pagi saya akan naik bus menuju Selҫuk” jawabku sekenanya. “Jam?” tanyanya lagi. “Jam 6”, tanganku bergerak meraih tiket dari tas pinggang dan menunjukkannya pada pria itu. “Pilihan yang kurang tepat”, katanya sambil mengernyitkan dahi, membuat kedua pangkal alisnya nyaris menyatu, “Keberangkatannya terlalu dini. Bus tidak akan mampir di ottogar, melainkan jalan besar yang tadi pagi kamu singgahi. Ada taksi yang bisa mengantarmu ke sana, tapi ongkosnya bisa sampai 100 Lira. Lumayan mahal untuk jarak yang tidak terlalu jauh”. Saya tidak tahu harus berkata apa saking terkejutnya. Kenyataan yang cukup pahit, tapi saya senang telah mengetahuinya. Melihat wajahku yang kebingungan, beliau pun menyarankanku mengganti armada untuk waktu keberangkatan jam 8. “Boleh”, sahutku cepat, tangannya kemudian meraih telepon, lalu mulai bercakap-cakap dalam bahasanya. “Sebaiknya kamu berbicara langsung dengannya”, saya tidak tahu siapa yang lelaki paruh baya ini maksud dengan ‘dengannya’, tapi kulangsung mengambil gagang telepon yang disodorkan.

“Halo” sapa pria di seberang, “saya yang tadi berdiskusi denganmu di ottogar, soal tur di Selҫuk”. Tanpa menungguku merespon, dia langsung lanjut berbicara, “Sebaiknya kamu mengganti bus dengan waktu keberangkatan jam 8. Setidaknya kamu tidak harus pergi terlalu pagi dan ada jemputan dari ottogar ke jalan besar”, jelasnya, “kamu hanya perlu menambah 20 Lira. Bagaimana?”. Saya bergumam lama, daripada harus membayar taksi 100 Lira, setidaknya saya bisa hemat 80 perak, “oke”, jawabku. “Bagus. Saya akan cetak tiket dan kamu bisa mengambilnya di ottogar siang nanti”, katanya, lalu mengakhiri sambungan.

“Masalah teratasi” kata sang pemilik penginapan sambil tersenyum, “dan sekarang kamu hanya tinggal menunggu hingga kamar kosong dan dirapikan”. Beliau pun mempersilakan saya duduk di ruang tunggu di sudut ruangan. Mungkin karena terlalu sibuk pikirkan soal bus sejak tadi, saya baru menyadari keindahan ruangan ini. Dekorasinya total khas Turki, dengan warna dominan merah. Permadani indah dengan motif rumit menghias tiap dinding, tak ketinggalan karpet empuk yang menyelimuti lantai. Saya sampai merasa bersalah karena masih memakai alas kaki. Sofa yang sedang kududuki juga tak luput dari sentuhan budaya; sederhana tapi unik dengan motif yang tak kalah keren dengan ornamen lainnya. Belum lagi figur-figur aneh di atas meja kecil dan bufet.

“Ruang makan sudah dibuka untuk sarapan. Kamu bisa makan sepuasnya dengan 10 Lira” sahut sang pria tua sambil mengelus-ngelus makhluk berbulu putih dengan mulut berlendir dan tampang menyebalkan: ANJING (entah jenis apa, tapi dia besar sekali!). Sial! Kenapa ada hewan itu di sini?! Belum selesai saya mengumpat dalam hati, anjing ini langsung saja mendekatiku sambil menggoyang-goyang manja ekornya. Saya sampai bediri ketakutan di atas bangku karena hewan ini tidak mau diusir. Sang pemilik penginapan hanya tertawa, lalu memanggil peliharaannya itu. “Oke. 10 Lira, kan?” tanyaku sambil berjalan cepat ke arah ruang makan. Lebih baik saya sarapan dengan damai daripada diganggu hewan sialan itu.

Ruang makan ternyata sangat luas dan bergaya moderen. Beberapa meja dan kursi diatur di tengah ruangan, sedang meja-meja persegi lainnya diletakkan menempel ke dinding dengan berbagai wadah penuh makanan dan minuman beraneka ragam ditaruh di atasnya. Pokoknya 4 sehat 5 sempurna! Saya tidak mau kalap makan banyak sekaligus, tapi mencoba sebanyak mungkin dalam porsi kecil. Biar tidak rugi. Yang paling menggembirakan adalah selai rotinya bermacam-macam dan tidak terlalu manis, serta teh seduhnya yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku bisa dibuat teh. Dan, entah kenapa, saya jadi doyan sekali makan asinan buah zaitun, terutama yang warna hijau dengan potongan cabe di dalamnya.

Saat sedang menikmati potongan-potongan terakhir makananku, pemilik penginapan tiba-tiba muncul dan memberitahu kalau kamarku sudah bisa ditempati. Mantap lah! Terima kasih untuk siapa pun yang menginap di sana sebelumnya karena telah bersedia check out pagi. Saya segera menghabiskan teh pir berwarna hijau alienku, lalu sambil mata terus awas mencari keberadaan si anjing putih besar, saya melangkah menuju meja penerima tamu. “Kalau ingin ke Hierapolis, kami bisa mengantarmu ke sana”, jelas sang pria tua, tangannya kemudian menunjuk pada seorang pelayan yang sudah berdiri di pintu menuju koridor kamar, “ikuti saja pelayan itu”, tambahnya. “Terima kasih”, ucapku, kemudian mengikuti sang pelayan yang sudah berjalan duluan.

Hierapolis bisa menunggu. Supir yang akan mengantarku nanti juga bisa menunggu. Yang ingin kulakukan sekarang hanya lah tidur.

Tidur dengan posisi tidur yang sebenar-benarnya.

Advertisements

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s