14. ‘The Flintstones’

Hari Keempat (4/18)

Sepertinya memang cuaca hari ini sangat tidak bersahabat; bahkan untuk orang Turki sekalipun. Dari balik jendela, tak tampak satu manusia pun berkeliaran di luar, walau itu hanya sekedar jalan kaki ke warung samping rumah. Mobil juga tidak banyak yang lalu lalang, hanya sesekali melaju kencang menghantam angin. Persis sepeti setting seri televisi ‘The Walking Dead’. Yang kurang hanya mayat hidupnya saja. Atau jangan-jangan tayangan mengerikan itu memang syutingnya di sini. Dasar konyol, pikirku sambil tertawa-tawa kecil.

Saya sedang duduk sempit-sempitan dengan pelancong lain di bangku paling belakang, dalam bus yang ukurannya 2 kali lebih kecil dan lebih jelek daripada bus sebelumnya. Bisa dibilang kami turun ke kelas ‘ekonomi menengah ke bawah’. Semua tas dan koper ditumpuk di dekat pintu keluar dan koridor antarbangku. Ranselku sendiri saya jepit dengan kedua kaki, biar tidak lari kemana-mana kalau sopir tiba-tiba banting setir—masih trauma tragedi ‘ransel berguling’ di Kabataş soalnya. Mesin penghangat juga tidak bekerja sebagaimana mestinya, walau suasana sudah tidak sedingin di luar. Ya, ada untungnya juga kami duduk dempet-dempetan, biar bisa berbagi kehangatan.

Setelah melewati kawasan perumahan, makin lama jarak antargedung kian melebar satu sama lain, hingga akhirnya yang tersisa cuma dataran berbatu berhias pepohonan setinggi kira-kira 3 meter dengan bunga berwarna merah jambu. Selebihnya hanya kumpulan batang meranggas dan semak belukar. Dari kejauhan mulai tampak bebatuan dengan formasi unik, saling bersisian dan bersusun. Seperti tumpukan bukit kecil berselimut rerumputan. Terkadang bahkan ukurannya raksasa, layaknya menara silinder dengan ujung lancip yang menyembul dari tanah.

Setelah melalui beberapa belokan tajam yang sisi-sisinya dipagari dinding batu, kami pun disambut pemandangan paling aneh yang pernah kusaksikan di muka bumi; sebuah ceruk luas penuh dengan bebatuan raksasa yang ujungnya meruncing, bergradasi putih kekuningan, serta berjejer mengelilingi ratusan bangunan yang berdiri di dasar lembah. Rasanya seperti melihat potongan planet lain karena bentang alam seperti ini terlampau aneh untuk menjadi bagian dari Bumi. Bus terus menyusuri jalan yang menurun hingga akhirnya berhenti di sebuah halte, tepat di samping persimpangan jalan utama.

Udara dingin yang menggigit kembali menyambut seraya kami keluar dari kendaraan. Saya cepat-cepat memanggul ransel, kemudian berlari menyeberangi jalan menuju kantor pusat informasi penginapan. “Selamat siang”, sambut sang petugas. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya, tapi dia tampak ramah. “Siang”, balasku, sambil menaruh ransel di lantai dan mengambil tempat di salah satu bangku, “saya menginap di hotel Kayataş. Bisa tolong dihubungi untuk menjemput saya di sini?”. Pria brewokan tersebut manggut-manggut, kemudian membuka buku khusus berisi daftar penginapan di Gӧreme beserta nomor telepon.

Satu persatu turis lainnya berdatangan mememuhi kantor yang tak terlalu luas ini. Selain untuk mendapatkan informasi penginapan, tentu saja untuk menghangatkan badan. Sang petugas masih sibuk dengan hapenya, dan dari wajahnya yang terlihat sedikit kesal, sepertinya nomor yang dipanggil tidak dijawab. “Tunggu sebentar. Nanti saya hubungi mereka lagi” terangnya, kemudian melayani dua pelancong bermata sipit yang duduk di sampingku. Saya manfaatkan waktu dengan memandangi foto-foto serta peta yang terpampang di dinding. Hitung-hitung memberi kesempatan orang lain untuk duduk. “Saya telah menelepon mereka berkali-kali, tapi tidak diangkat” sahut sang petugas tiba-tiba, membuatku segera kembali ke bangku, “saya akan panggilkan taksi untuk mengantarmu ke Kayataş”, tambahnya. “Terima kasih”. Tak semenit kemudian, taksi sudah muncul di depan kantor. Saya langsung menaruh ransel di dalam bagasi dan menaiki kendaraan.

Supir segera memutar taksi dan mengikuti jalan ke arah bukit. Awalnya kami melewati beberapa restoran dan kafe, juga supermarket dan masjid dengan menara tunggal yang menjulang tinggi. Kian ke atas, kami pun memasuki kawasan perhotelan yang makin membuat Gӧreme eksotis; semuanya bertema batu, dengan konsep yang nyaris sama. Mulai dari model bangunan, bentuk jendela, serta warnanya yang alami. Rasanya seperti memasuki perumahan alien yang terang-terangan membangun koloni di Turki. Bahkan hotel yang baru dibangun di pertengahan jalan menanjak tampilannya nyaris sama dengan penginapan lain yang tadi dilalui. Yang membedakan hanya dekorasi taman serta ukiran-ukiran di dinding. Ah, semoga saja hotelku wujudnya lain daripada yang lain.

Taksi akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gerbang kecil yang bagian atasnya tertulis nama hotel: Kayataş. Setelah meraih ransel dari bagasi, saya pun disambut oleh seorang wanita berusia sekitar 50an, yang kemudian mengantarku ke sebuah ruangan khusus berbentuk persegi panjang yang kuidentifikasi sebagai lobi. Sebagian dindingnya berupa kaca jendela, dengan sofa sederhana bermotif tradisional merekat di salah satu sudut. Sebuah tungku perapian besi di tengah ruangan mampu menghangatkan seisi ruangan, sambil menyebarkan aroma unik dari kayu yang dibakar. Wanita penuh senyum itu menyuruhku duduk dan kemudian datang dengan segelas teh hangat beserta sepiring kecil penuh gula balok—minuman selamat datang.

Saat lagi enak-enaknya ngeteh, seorang pria yang kurang lebih seumuran denganku muncul dari balik pintu dan langsung menghampiri. “Selamat siang, selamat datang di hotel kami” katanya, warna matanya yang hijau cerah menatapku lurus, “saya pemilik penginapan ini” tambahnya lagi. Saya agak kurang nyaman dengan gaya bicaranya yang terkesan sok berwibawa, tapi kemudian kualihkan dengan menyerahkan kertas bukti pemesanan kamar. “Tadi ke sini pakai taksi, kan?” tanyanya. “Benar. Saya meminta bagian pusat informasi turis untuk menghubungi Anda, tapi karena tidak ada jawaban, akhirnya saya dipanggilkan taksi”, jawabku. Dia kemudian menjelaskan bahwa ongkos taksi harus dibayar olehku, kecuali saya mengambil paket wisata yang dia tawarkan. “Tapi tadi dari bagian informasi berkata bahwa Anda lah yang akan membayar” sahutku. Namun pria ini tetap dengan penawarannya. Saya pun minta dijelaskan lagi soal paket wisata tersebut, yang menurut pengakuannya sudah cukup terjangkau dan saya dikasih potongan harga. Oh, coba lah! Saya berusaha keras menyembunyikan ekspresi tidak percaya di wajahku. Bisa saja kan kata-kata itu juga diucapkan pada pelancong sebelumnya.

Saya kemudian meminta waktu sebentar untuk menghitung seluruh pengeluaran, lalu melihat laman-laman Internet yang tersimpan di hape untuk membandingkan harganya. Oke, dia memang tidak berbohong soal harga yang terjangkau itu. Jadinya saya tak akan rugi-rugi amat kalau mengambil penawarannya. Dan lagi ini berarti saya tidak perlu keluar masuk agen tur di luar sana. “Baik, saya ambil paket wisatanya”, sahutku. Setelah menyelesaikan pembayaran, pria tersebut kemudian menjelaskan waktu makan pagi dan menunjukkan tempatnya, lalu menyuruh salah satu karyawannya mengantarku ke kamar, tak jauh dari lobi.

Sebelum mencapai pintu nomor 3 tempatku menginap, terdapat teras beralaskan permadani yang berisi beberapa bangku, peti kayu, serta sebuah mesin jahit tua yang mirip punya keluargaku di Jayapura. Tak tahu apa fungsi benda itu di sini, selain untuk menghias dan memberi kesan antik. Setelah pintu dibuka, dan saya dipersilakan memasuki ruangan, rasanya bagai kembali ke masa lalu, atau tepatnya, kembali pada masa-masanya dulu hobi tonton film kartun The Flinstones. Kamarnya bertema goa, dengan dinding batu yang dikikis secara kasar tapi terlihat keren. Warna dingin yang dipakai untuk funitur serta pajangan-pajangan di sekeliling ruangan saling berpadan membangkitkan suasana nyaman. Pas saya cek kamar mandinya juga tidak kalah unik; bagaikan anak goa yang lebih kecil dengan peralatan toilet moderen—paduan yang cukup bertolak belakang namun tampak serasi.

“Oke?” teriak sang karyawan. Pria tinggi kurus itu sedang berdiri di ambang pintu, menunggu responku. “Oke!” sahutku, “Terima kasih”. Dia pun berlalu kembali ke lobi. Saya segera menutup pintu biar udara dingin tidak bebas melenggang masuk, kemudian mengotak-atik mesin penghangat. Ternyata tinggal putar kerannya saja, dan hawa hangat pun keluar. Ada jendela kecil tepat di depan pintu kamar mandi, yang di baliknya tampak tanah hampir sama tinggi dengan kaki jendela. Terlihat perbukitan batu berhias rerumputan hijau di kejauhan, serta tanaman berbunga yang turut memperindah pemandangan, tepat di depan kaca. Dan yang lebih luar biasa lagi adalah butiran salju yang jatuh perlahan dari langit. Oh tidak! Kepalaku geleng-geleng seraya melihat benda putih kecil itu melayang turun. Udara di luar sudah terlalu dingin, jangan ditambah salju lagi. Kali ini saya benar-benar tidak menginginkannya.

Saya pun memutuskan untuk berdiam dulu di kamar, sambil beristirahat dan menunggu hujan saljunya berhenti—itu pun kalau memang berhenti.

Semoga saja.

4 responses to “14. ‘The Flintstones’

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s