Talassa: Pantai Tak Terencana

Pantai Talassa“Rp 800.000??!” seru saya kaget, mendapat jawaban yang sangat tak disangka. Bagaimana mungkin pantai yang jaraknya hanya 150 meter dari Harlem harganya bisa dua kali lipat. Yang benar saja, pikirku kesal, curiga sang pembawa perahu (selanjutnya disebut “Kakak Timo”) tersebut sedang memainkan harga. Saya memandang tak percaya pada Mba Filipin, yang juga memberikan tatapan itu. Cukup sudah kami habis-habisan perjalanan kemarin ke Pantai Maramai—karena jarak semakin jauh, Bapak P minta dibayar lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya. Oke lah tak apa kami bayar ekstra untuk perjalanan tersebut, setidaknya kami ke tiga pantai sekaligus. Lah ini! Cuma selemparan batu dari dermaga Depapre, harganya kok malah bikin pagi indah ini seketika jadi mengecewakan.
Continue reading

Jurnal 4: Korban Promosi

Penginapanku terletak di antara jejeran ruko, bahkan tampilan luarnya hanya pintu masuk dengan kunci otomatis dan papan nama. Di balik pintu menjulang tangga menuju lantai dua dan tiga. Suasananya agak temaram, dipucati lagi oleh warna dinding yang kehijauan. Suara obrolan menyelinap dari ambang bawah pintu ruang resepsionis, berbisik di dinding dan menjalari udara hingga sampai diĀ  gendang telingaku. Saya sendiri sedang melangkah perlahan menaiki anak tangga, namun ke dua mataku tertuju pada gambar-gambar di salah satu dinding; bukan foto pemilik penginapan maupun displai isi kamar, melainkan hal kecil yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata negeri ini—Malaysia.
Continue reading