22. Musim Semiku

Hari Keenam (6/18)

Di saat anak-anak lainnya sudah tertidur lelap di kasur mereka yang empuk, dibuai mimpi indah tentang istana para raja atau mimpi buruk dikejar setan hidung panjang, saya masih stand by di depan televisi, menonton sambil berbaring di atas sofa yang sudah kuanggap tempat tidur paling nyaman sedunia, jam 12 malam lewat sekian menit. Kalau anak SD begadang karena menyaksikan kartun favoritnya mungkin masih bisa dibenarkan (walau pastinya orang tua tidak akan mengizinkan, dan rasanya tidak ada stasiun TV yang cukup gila untuk memutar kartun di tengah malam), tapi tontonan favoritku justru Discovery Channel / National Geography, tetang keajaiban alam, kolam-kolam alami tanpa dasar, sungai penuh ikan dan buaya, dan yang paling kusuka malam ini adalah dokumentasi mengenai bunga-bunga di seluruh dunia.

Ayah, ibu, dan kakak perempuanku sudah terlelap di kasur samping sofa tempatku berbaring, jadinya kusengaja menurunkan volume suara hingga yang paling rendah. Bukan agar tidak mengganggu tidur mereka, tapi justru saya takut salah satu orang tuaku terjaga dan menyadari anak lelakinya yang belum mengerjakan PR dan harus sekolah pagi besok belum juga tidur, sehingga saya akan dipaksa menutup mata. Saya tidak rela tontonan semenarik ini harus diakhiri. Mataku masih semangat untuk dipakai menonton hingga beberapa jam ke depan.

Continue reading

2. Menuju Kegilaan

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya pernah baca di beberapa artikel berita daring bahwa tingkah wisatawan Tiongkok itu kampungan. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah melihat kelakuan mereka dalam penerbangan ini secara tidak langsung mengaminkan pemberitaan tersebut. Kami telah mendarat dengan mulus di bandara internasional Attatürk, dan saat pilot masih menyetir pesawat menuju parkiran, sebuah rombongan turis asal negeri tirai bambu sudah berdiri sambil mengeluarkan tas mereka dari kabin. Jujur di Indonesia juga ada manusia kampungan kayak begini; Continue reading

1. Hei, Aku Datang!

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya selalu memiliki dua perasaan yang saling berkontradiksi tiap kali pesawat hendak mendarat: Senang dan jengkel. Agak aneh memang, tapi memang itu lah yang selalu terjadi. Perasaan pertama, tentu saja, muncul karena tujuan sudah di depan mata. Tidak ada yang lebih menggembirakan seorang penumpang pesawat daripada Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter. Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (bagian 1)

Bukisi1Di saat sebagian besar masyarakat Jayapura masih terbuai dalam mimpi yang indah, saya malah berdiri sendirian di samping jalan raya, jam 5 pagi buta! Tindakan penuh tanya, bukan? Beberapa kendaraan berlewatan, meninggalkan aroma polusi sebagai ucapan selamat pagi (-_-“). Begini lah kalau berurusan dengan orang Filipin; saya sebagai orang Indonesia sejati masih ga habis pikir, mau ke pantai saja harus start sepagi ini. Demi tuhan, yang benar saja! Continue reading