5. Melenceng Melancong

(Hari Kedua: 2/18)

Jika diperhatikan dengan seksama, film kartun Disney hampir selalu menampilkan cerita dengan latar belakang musim semi—musim yang sepertinya diindetikan dengan kebahagiaan. Kalaupun di awal cerita tumpukan salju memenuhi layar TV, pasti pada akhirnya akan mencair, tergantikan oleh rumput hijau nan segar berhias bunga warna warni yang tumbuh hanya dalam beberapa detik. Hewan-hewan pun keluar dari sarang, bermain ceria menyambut hangatnya sinar mentari. Semua gembira. Tulisan “Happily Ever After” pun melengkapi kebahagiaan tersebut. Tamat.

Kalau memang musim semi semenyenangkan itu, ingin rasanya Continue reading

4. keDINGINan

Prapemberitahuan:

Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya sedang berada di atas bus, di tempat yang sama tepat di belakang supir. Orang-orang yang duduk di bangku lainnya pun entah kenapa juga orang yang sama. Muka mereka seperti berbayang, tapi jelas saya masih mengenali wajah-wajah itu. Déjà vu? Sang supir tiba-tiba membanting setir memasui jalan raya, dan di sana lah ranselku, masih tertinggal di samping kursi pengemudi, mulai bergoyang tak seimbang. Tak mau kejadian memalukan itu Continue reading

3. Sambutan (Terlampau) Hangat

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

 (Hari Pertama: 1/18)

Saya bukan lah pelancong ulung yang sudah keliling di lebih dari 100 negara, juga bukan petualang handal yang keluar masuk hutan berbekal parang panjang. Saya hanya lah seorang penikmat jalan-jalan tanpa peduli mengusung embel-embel backpacker, hitchpacker, apapun itu istilahnya. Saya adalah seorang pelancong. Tak lebih. Karena bagiku melancong bukan hanya wadah untuk membuktikan siapa Continue reading

2. Menuju Kegilaan

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya pernah baca di beberapa artikel berita daring bahwa tingkah wisatawan Tiongkok itu kampungan. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah melihat kelakuan mereka dalam penerbangan ini secara tidak langsung mengaminkan pemberitaan tersebut. Kami telah mendarat dengan mulus di bandara internasional Attatürk, dan saat pilot masih menyetir pesawat menuju parkiran, sebuah rombongan turis asal negeri tirai bambu sudah berdiri sambil mengeluarkan tas mereka dari kabin. Jujur di Indonesia juga ada manusia kampungan kayak begini; Continue reading