Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter. Continue reading

Cari Penginapan di Little India

     Saat berjalan memasuki bandara, mata saya jelalatan cari orang Indo, siapa tahu bisa dijadikan teman jalan. Tapi kok ya banyaknya pada bergerombol, saya kan jadinya malas gabung. Saya pun terus berjalan sambil mengikuti petunjuk dari plang yang digantung dilangit-langit, menuju pintu keluar. Dari hasil pencarian saya di inet, katanya kita bisa naik MRT dari bandara. Tapi dimana transportasi ini saya ga tahu. Jadilah saat melewati ruang pengambilan bagasi, saya bertanya pada petugas bandara. Penginapan apa sih yang murah di Little India?