Talassa: Pantai Tak Terencana

Pantai Talassa“Rp 800.000??!” seru saya kaget, mendapat jawaban yang sangat tak disangka. Bagaimana mungkin pantai yang jaraknya hanya 150 meter dari Harlem harganya bisa dua kali lipat. Yang benar saja, pikirku kesal, curiga sang pembawa perahu (selanjutnya disebut “Kakak Timo”) tersebut sedang memainkan harga. Saya memandang tak percaya pada Mba Filipin, yang juga memberikan tatapan itu. Cukup sudah kami habis-habisan perjalanan kemarin ke Pantai Maramai—karena jarak semakin jauh, Bapak P minta dibayar lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya. Oke lah tak apa kami bayar ekstra untuk perjalanan tersebut, setidaknya kami ke tiga pantai sekaligus. Lah ini! Cuma selemparan batu dari dermaga Depapre, harganya kok malah bikin pagi indah ini seketika jadi mengecewakan.
Continue reading

Beach Skouw: A Place for a Special Dreamer

Pantai Pasir 6 dan Skouw1Serene; Alone; Distant; Words which reflect a dream for those who love to enjoy loneliness. Well, perhaps loneliness is a strong word for people who are alone are not automatically lonely. Maybe one likes to stay in his room and does whatever he loves to do. Maybe two people, alone, feel like being together and don’t mind others’ business. Or maybe five people who, at that time, wanted to be an outcast just for once in their lives, trying to find a serene and distant place where some of them finally found that one of their precious dreams had come true. Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter. Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 2)

BukisiBon-bon dan saya sekamar di ujung kiri, Nyonya K dan mba Filipin di tengah, sementara bos besar Mas AG eksklusif dapat yang kanan untuk dirinya sendiri. Kami tak mau berlama-lama di penginapan karena hendak langsung menuju pertunjukan sesungguhnya dari wisata kali ini. Segera setelah menaruh barang, kami kembali ke dermaga dimana Karel sudah menunggu. Asal tau saja, kamar kami tidak bisa dikunci. Tapi kami tidak khawatir ada barang yang hilang, soalnya penduduk setempat sangat menjaga kepercayaan pengunjung. Tahun lalu saja, dompet teman yang tertinggal di kursi depan kamar tidak disentuh sama sekali. Dimana lagi coba bisa berwisata dengan tingkat keamanan setinggi ini? Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (bagian 1)

Bukisi1Di saat sebagian besar masyarakat Jayapura masih terbuai dalam mimpi yang indah, saya malah berdiri sendirian di samping jalan raya, jam 5 pagi buta! Tindakan penuh tanya, bukan? Beberapa kendaraan berlewatan, meninggalkan aroma polusi sebagai ucapan selamat pagi (-_-“). Begini lah kalau berurusan dengan orang Filipin; saya sebagai orang Indonesia sejati masih ga habis pikir, mau ke pantai saja harus start sepagi ini. Demi tuhan, yang benar saja! Continue reading

Pantai Harlem (tanpa ‘shake’) :D 

Mulai dari pos ini, dan untuk setiap artikel mengenai Jayapura, saya akan menyertakan logo "Kunjungi Jayapura 2015" sebagai bentuk kampanye pariwisata saya terhadap Jayapura. Perlu diketahui, saya sendiri yang merancang dan membuat logo tersebut, dan saya tidak mengadakan kerja sama dengan pihak manapun dalam upaya ini. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Jayapura. Mohon dukungannya ;)

Mulai dari pos ini, dan untuk setiap artikel mengenai Jayapura, saya akan menyertakan logo “Kunjungi Jayapura 2015” sebagai bentuk kampanye pariwisata saya terhadap Jayapura. Perlu diketahui, saya sendiri yang merancang dan membuat logo tersebut, dan saya tidak mengadakan kerja sama dengan pihak manapun dalam upaya ini. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Jayapura. Mohon dukungannya 😉

Halo semua, apa kabar? Saya kabur dari dunia perblogan karena, ditarik 3 bulan ke belakang, saya dipadati oleh jadwal berlibur ke pantai 😀 . Kedengarannya songong, tapi memang begitu lah kenyatannya :). Saya tunda dulu jurnal perjalanan saya sebelumnya yang sudah sampai jurnal 4, karena mau fokus menceritakan pantai-pantai yang saya kunjungi belakangan ini. Continue reading

Jurnal 4: Korban Promosi

Penginapanku terletak di antara jejeran ruko, bahkan tampilan luarnya hanya pintu masuk dengan kunci otomatis dan papan nama. Di balik pintu menjulang tangga menuju lantai dua dan tiga. Suasananya agak temaram, dipucati lagi oleh warna dinding yang kehijauan. Suara obrolan menyelinap dari ambang bawah pintu ruang resepsionis, berbisik di dinding dan menjalari udara hingga sampai di  gendang telingaku. Saya sendiri sedang melangkah perlahan menaiki anak tangga, namun ke dua mataku tertuju pada gambar-gambar di salah satu dinding; bukan foto pemilik penginapan maupun displai isi kamar, melainkan hal kecil yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata negeri ini—Malaysia.
Continue reading

Jurnal 3: Pelajaran di Antara Anak Tangga

Tepat di tengah jejeran ratusan anak tangga yang cukup terjal, berbagai manusia dari bermacam negara silih berganti melewatiku, menaiki maupun menuruni tiap undakan. Monyet-monyet ekor panjang pun berlarian, memekik, meloncat lincah di antara pepohonan rendah. Saya sendiri berdiri diam, termangu menatap seorang pria berkulit kelam dengan goresan putih melintang di dahinya. Dia berdiri di salah satu anak tangga, matanya terpejam damai, mulutnya bergerak-gerak, melepaskan kata-kata dalam bisikan.

Dia berbeda, tampak tenang di antara arus pengunjung yang mengalir penuh semangat, layaknya kapal yang berarung senyap di tengah derasnya sungai. Saya tak tahu persis kapan dia memulai langkah dari bawah, yang pastinya sejak terakhir memperhatikannya, tiap anak tangga yang dia ambil, sekiranya 20 detik dihabiskan untuk
Continue reading

Tablanusu, Si Idola Baru

 (Cerita ini seharusnya udah saya pos dari bulan Februari kemarin, tapi karena saat itu sibuk mengurusi dokumen-dokumen kelulusan di universitas, jadinya molor sampai detik ini saya dapat kesempatan untuk mengeposnya. Hehe)

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Di hari Minggu yang cerah, tepatnya tanggal 19 Februari lalu, saya dan sahabat-sahabat sedang dalam perjalanan menuju salah satu tempat wisata idola baru Jayapura, yaitu Pantai Tablanusu. Kami menyewa mobil dengan duit hasil patungan bersama (RP 500.000) karena Penasaran 🙂 ?? Ayo Klik di Sini