Weekly Photo Challenge: Converge

I was a bit confused to define converge in my own perspective, but yeah, here they are:

This photo was taken in Amsterdam Fort in Hila, Ambon.

This photo was taken in Amsterdam Fort in Hila, Ambon.

Continue reading

Jurnal 4: Korban Promosi

Penginapanku terletak di antara jejeran ruko, bahkan tampilan luarnya hanya pintu masuk dengan kunci otomatis dan papan nama. Di balik pintu menjulang tangga menuju lantai dua dan tiga. Suasananya agak temaram, dipucati lagi oleh warna dinding yang kehijauan. Suara obrolan menyelinap dari ambang bawah pintu ruang resepsionis, berbisik di dinding dan menjalari udara hingga sampai di  gendang telingaku. Saya sendiri sedang melangkah perlahan menaiki anak tangga, namun ke dua mataku tertuju pada gambar-gambar di salah satu dinding; bukan foto pemilik penginapan maupun displai isi kamar, melainkan hal kecil yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata negeri ini—Malaysia.
Continue reading

Jurnal 3: Pelajaran di Antara Anak Tangga

Tepat di tengah jejeran ratusan anak tangga yang cukup terjal, berbagai manusia dari bermacam negara silih berganti melewatiku, menaiki maupun menuruni tiap undakan. Monyet-monyet ekor panjang pun berlarian, memekik, meloncat lincah di antara pepohonan rendah. Saya sendiri berdiri diam, termangu menatap seorang pria berkulit kelam dengan goresan putih melintang di dahinya. Dia berdiri di salah satu anak tangga, matanya terpejam damai, mulutnya bergerak-gerak, melepaskan kata-kata dalam bisikan.

Dia berbeda, tampak tenang di antara arus pengunjung yang mengalir penuh semangat, layaknya kapal yang berarung senyap di tengah derasnya sungai. Saya tak tahu persis kapan dia memulai langkah dari bawah, yang pastinya sejak terakhir memperhatikannya, tiap anak tangga yang dia ambil, sekiranya 20 detik dihabiskan untuk
Continue reading

Jurnal 2: Tak Semudah Membalik Telapak Tangan?

Dua jam akhirnya berlalu saat pesawat mendarat di landasan bandara LCCT. Penerbangan berjalan mulus, nyaris nihil turbulensi, dan ada sedikit “hiburan” dari nikmatnya Nasi Lemak Pak Nasser—disajikan panas sampai rasanya lidah hendak melepuh.

Setelah pesawat parkir, penumpang mulai turun satu-persatu, kemudian melewati koridor khusus yang langsung mengarah pada konter imigrasi. Saya melangkah perlahan, memandang jejeran pesawat Air Asia sembari membayangkan pengalaman dua tahun lalu (nyaris di waktu yang sama) saat saya berjalan menuju pesawat untuk terbang kembali ke Jakarta. Tak ada yang berubah. Semua tampak sama. Suasana hati lah yang berbeda.

Antrian menuju petugas imigrasi bergerak perlahan karena yang berjaga tidak terlalu banyak. Saat pasporku dicap, tak ada sensasi semenggembirakan layaknya yang kurasakan kala memandang cap imigrasi Malaysia pertamaku di Johor Bahru. Saat itu, rasanya seperti memandang harta karun yang berkilau dalam genggaman. Saat ini? Jangankan melirik, paspor Continue reading

Keuntungan Tiket Gabungan

     Tiket gabungan (joint ticket) yang saya gunakan memang sangat menguntungkan. Tiket yang saya maksud adalah paket transportasi dari agen travel lokal yang saya gunakan dari Penang menuju pulau Phi Phi. Disebut tiket gabungan karena adanya kerja sama antarbeberapa agen travel, dimana setiap agen travel bersedia menyediakan transportasi untuk mengantar pengguna jasanya ke tempat tujuan. Jadi, bukan mobil agen travel tempat kita membeli tiket gabungan inilah yang terus mengantar kita hingga ke tempat tujuan, namun kita akan sedikit ‘berlompat-lompat’ antaragen travel Penasaran ga sih keuntungan tiket gabungan 😉

Indo & Melayu = BerbEDA atau BerbEZA

Tet..tereett..terreeeeetttt…!!!!

     Bunyi alarm berdering keras membangunkan saya. Dengan malas saya bangkit, mematikan alarm, lalu langsung berjalan menuju kamar mandi. Saya sengaja pasang alarm jam 4 pagi karena jam 5 nanti saya akan dijemput minivan yang akan membawa saya ke Thailand . Untungnya kamar mandi di penginapan ini ada air panasnya, jadinya ga perlu menderita kedinginan .

     Seusai mandi dan berpakaian, saya pun memanggul ransel untuk keluar kamar. Sebenarnya saya ingin pamitan sama Paul, tapi ga tega aja banguninnya . Emang ada gitu perbedaan antara bahasa Indo dan Malay?

Kota Tua – George Town

     “So, how was your trip?” tanya Paul yang lagi-lagi sedang asyik main netbooknya. “It was nice. I do like Peranakan Mansion. It was so luxurious and unique” balas saya. “Yeah. I went there once” sahut Paul tanpa mengalihkan pandangannya dari netbook. Saat melempar coca-cola yang tadi saya beli ke atas kasur, botolnya tergelincir jatuh: hal inilah yang menjadi malapetaka! Yuk cari tau tempat-tempat menarik di George Town 😉

Uniknya Peranakan Mansion

     Terik matahari membuat kepalaku sedikit pusing saat membaca peta yang diberikan resepsionis. Peta promosi ini menampilkan wilayah George Town; ruas serta nama jalan, titik-titik kuning dengan angka dari 1 hingga (kalo ga salah) 50, yang kemudian dijelaskan dalam daftar nama-nama tempat dari titik-titik itu. Daftar itu kemudian dijelaskan lagi satu persatu beserta gambarnya. WOW! Ternyata banyak sekali yang bisa dilihat di wilayah kecil ini. Saya pun menuju titik yang paling dekat dengan penginapan. Apa sih uniknya Peranakan Mansion?

Mewek Ditengah Perjalanan

     Di malam hari yang biasa-biasa saja di Penang, saya kembali mengotak-atik informasi perjalanan ke Thailand. Dari berbagai blog sesama pelancong, banyak disebutkan kalau mau ke pulau Phi Phi (yang menjadi tujuan saya) harus naik bus dari Butterworth ke Hat Yai, trus sambung ke Krabi, baru nyebrang pake feri ke Phi Phi. Jiaahhh, ribet bener. Mana informasinya ga begitu lengkap lagi. Disebutkan kalau kesana-kesini-kesono bagusnya pake bus lah, tuk-tuk lah, jetty lah, apalagi minivan, mana tau saya kendaraan satu itu, liat aja blom pernah. Ribeeettttt… Lagi melancong kok malah mewek 🙄