20. Sang Oportunis

Hari Kelima (5/18)

Oportunis, sebuah istilah yang entah mengandung makna negatif atau sebaliknya. Saya pernah kelaparan di kosan, tabungan habis, uang receh yang terkumpul pun tak mencapai angka 1000, jadinya saya beralasan main ke rumah kenalan, kemudian pulang dengan perut kenyang karena disuruh makan di sana. Apakah itu sikap oportunis? Mungkin. Pernah juga saat jalan-jalan di Bandung, mampir di salah satu pusat oleh-oleh, lalu dengan hati berbunga-bunga mencoba semua penganan tradisional yang tersedia, toh sang pemilik toko cuek-cuek saja. Apakah itu juga sebuah perilaku oportunis? Kemungkinan besar iya.

Entah dari sudut mana kita memandang oportunisme, terkadang sikap ini benar-benar bisa menyelamatkan hidupmu. Atau dalam kasusku, mengenyangkan perut kosong! Kedengarannya memang seperti ‘sang pengambil untung tak tahu malu’, tapi saya dan kenalanku ini sudah seperti keluarga, dan beliau selalu menyuruhku makan tiap kali main ke rumahnya, bahkan saat dompetku lagi tebal-tebalnya. Kejadian di Bandung itu juga berakhir manis: saya membeli keripik tempe, walaupun hanya setengah kilo—itupun masih patungan sama teman. Haha. Continue reading

Advertisements

19. Lorong Gereja

Hari Kelima (5/18)

“Kas sampah kemari. Bakar lagi. kas banyak asap”1 kata temanku sambil terbatuk-batuk. Tangannya gesit mengais kertas dan plastik bekas di sekitar kakinya. “Aeee, stop sudah! Asap su banyak nih!”2 protesku sambil mengucek-ngucek mata yang perih terkena kepulan asap yang membumbung di udara—itu pun kalau memang masih ada udara di sini. Entah setan apa yang merasuki saya dan teman-temanku; kami nekad jongkok-jongkokkan di dalam goa kecil tepat di bawah ruang kelas sambil bakar sampah. Tujuannya? Biar kodok yang mendiami goa tersebut pada kabur keluar demi mendapat udara segar. Dan bodohnya, kami masih kuat-kuatan hirup asap, dan berusaha tetap bertahan walau mata sudah merah macam suanggi3. Saya yang sudah tidak kuat langsung merangkak keluar, meninggalkan teman-teman lain yang sepertinya dirasuki siluman anti asap. Baju putih merahku langsung kotor penuh lumpur, begitu pun telapak tangan dan lutut.

Ini lah realita kehidupan sekolah anak SD Inpres Tasangka Pura tercinta; tempat belajar paling ajaib yang pernah Continue reading

18. No Pain No Lunch

Hari kelima (5/18)

“Jangan bilang sudah ke Papua kalau belum pernah menginjakkan kaki di Wamena”, begitu kata muridku, entah satu atau dua tahun yang lalu. Tak tahu darimana dia mendapatkan kalimat yang terasa mengejek itu, terutama untukku yang memang belum pernah menghirup segarnya udara pegunungan di Wamena. Saya punya beberapa alasan tersendiri kenapa sampai saat ini paling ogah naik ke daerah eksotik itu: 1. Penerbangan ke Wamena selalu menggunakan pesawat yang tidak terlalu besar, dan itu cukup menakutkan bagi seorang penderita akrofobia; 2. Buat apa juga jauh-jauh ke Wamena hanya untuk membuktikan saya sudah pernah ke Papua, toh saya asli kelahiran Jayapura.

Sebenarnya kenyataan ini cukup menyebalkan juga, karena 90% kenalanku, baik kelahiran Jayapura maupun Continue reading

17. Tetap Tersembunyi

Hari Kelima (5/18)

Berada di ketinggian memang tidak pernah menyenangkan. Selain menakutkan, udara yang super duper menggigilkan juga sangat menyiksa. Apalagi tur balon udara tadi mulainya pas pagi buta, saat hawa dingin masih dalam kondisi prima. Jadi lah saat tiba kembali di penginapan, saya langsung menghambur ke kamar mandi dan berada selama mungkin di bawah pancuran air hangat. Saya menyesal tidak melapis baju banyak-banyak tadi, padahal menurut pengakuan salah satu pelancong yang ikut dalam tur, dia pakai 10 lapis kaos plus jaket! Pantas saja selama penerbangan dia tampak baik-baik saja, tanpa harus susah-payah menyembunyikan tangan yang gemetaran.

Uap yang tercipta dari hangatnya air memenuhi kamar mandi, yang kemudian Continue reading