Jurnal 4: Korban Promosi

Penginapanku terletak di antara jejeran ruko, bahkan tampilan luarnya hanya pintu masuk dengan kunci otomatis dan papan nama. Di balik pintu menjulang tangga menuju lantai dua dan tiga. Suasananya agak temaram, dipucati lagi oleh warna dinding yang kehijauan. Suara obrolan menyelinap dari ambang bawah pintu ruang resepsionis, berbisik di dinding dan menjalari udara hingga sampai diĀ  gendang telingaku. Saya sendiri sedang melangkah perlahan menaiki anak tangga, namun ke dua mataku tertuju pada gambar-gambar di salah satu dinding; bukan foto pemilik penginapan maupun displai isi kamar, melainkan hal kecil yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata negeri ini—Malaysia.
Continue reading

Jurnal 3: Pelajaran di Antara Anak Tangga

Tepat di tengah jejeran ratusan anak tangga yang cukup terjal, berbagai manusia dari bermacam negara silih berganti melewatiku, menaiki maupun menuruni tiap undakan. Monyet-monyet ekor panjang pun berlarian, memekik, meloncat lincah di antara pepohonan rendah. Saya sendiri berdiri diam, termangu menatap seorang pria berkulit kelam dengan goresan putih melintang di dahinya. Dia berdiri di salah satu anak tangga, matanya terpejam damai, mulutnya bergerak-gerak, melepaskan kata-kata dalam bisikan.

Dia berbeda, tampak tenang di antara arus pengunjung yang mengalir penuh semangat, layaknya kapal yang berarung senyap di tengah derasnya sungai. Saya tak tahu persis kapan dia memulai langkah dari bawah, yang pastinya sejak terakhir memperhatikannya, tiap anak tangga yang dia ambil, sekiranya 20 detik dihabiskan untuk
Continue reading

Jurnal 2: Tak Semudah Membalik Telapak Tangan?

Dua jam akhirnya berlalu saat pesawat mendarat di landasan bandara LCCT. Penerbangan berjalan mulus, nyaris nihil turbulensi, dan ada sedikit “hiburan” dari nikmatnya Nasi Lemak Pak Nasserā€”disajikan panas sampai rasanya lidah hendak melepuh.

Setelah pesawat parkir, penumpang mulai turun satu-persatu, kemudian melewati koridor khusus yang langsung mengarah pada konter imigrasi. Saya melangkah perlahan, memandang jejeran pesawat Air Asia sembari membayangkan pengalaman dua tahun lalu (nyaris di waktu yang sama) saat saya berjalan menuju pesawat untuk terbang kembali ke Jakarta. Tak ada yang berubah. Semua tampak sama. Suasana hati lah yang berbeda.

Antrian menuju petugas imigrasi bergerak perlahan karena yang berjaga tidak terlalu banyak. Saat pasporku dicap, tak ada sensasi semenggembirakan layaknya yang kurasakan kala memandang cap imigrasi Malaysia pertamaku di Johor Bahru. Saat itu, rasanya seperti memandang harta karun yang berkilau dalam genggaman. Saat ini? Jangankan melirik, paspor Continue reading