Pesisir Paling Timur Indonesia: Pantai Koya

Pantai Koya“Ko tahu tugu yang dekat POM bensin lama to?”1 kata kakakku saat kami berdua sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Saya sebenarnya ogah menanggapi, menoleh pun malas, akibat dikuasai perasaan jengkel karena tidak diajak lari pagi, tadi. Lagipula apa pentingnya pertanyaan ini, “Iyo too”2, jawabku akhirnya sambil mendengus, “kenapa jadi?”3 balik kubertanya. “Tadi pas lari pagi lewat situ, tong berhenti sebentar. Ternyata dalam kolam tuh ada ikan-ikan kecil”4 jelasnya sambil menerawang, membayangkan yang baru saja dia katakan, seakan-akan kolam penuh ikan tersebut tiba-tiba muncul di teras rumah kami yang sempit. Saya berusaha menyusupi pikiran kakakku saking penasarannya, mencoba mengimajinasikan hal yang sama. Tapi apa daya, patungnya saja masih samar-samar di gambaran. Lagipula, saya memang tidak pernah benar-benar memperhatikan tugu itu setiap kali melewatinya.

Saya jadinya malah makin jengkel, “ikan-ikan jelek saja moo!”5, ejekku dalam hati. Tak menyadari ledekanku, kakakku terus melanjutkan ceritanya, tapi saya sudah malas mendengar. Segera kukumpulkan mainan robot-robot plastik di lantai, lalu berlari menuju ibuku di dapur…

 

18 tahun pun berlalu…..

Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter. Continue reading

Tablanusu, Si Idola Baru

 (Cerita ini seharusnya udah saya pos dari bulan Februari kemarin, tapi karena saat itu sibuk mengurusi dokumen-dokumen kelulusan di universitas, jadinya molor sampai detik ini saya dapat kesempatan untuk mengeposnya. Hehe)

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Di hari Minggu yang cerah, tepatnya tanggal 19 Februari lalu, saya dan sahabat-sahabat sedang dalam perjalanan menuju salah satu tempat wisata idola baru Jayapura, yaitu Pantai Tablanusu. Kami menyewa mobil dengan duit hasil patungan bersama (RP 500.000) karena Penasaran 🙂 ?? Ayo Klik di Sini

Tamasya ke Pantai Kamboja

Berlari di Jembatan Biru, Pantai Kamboja

Berlari di Jembatan Biru, Pantai Kamboja

Sejak akhir Maret kemarin saya sudah kembali lagi ke Jayapura. Dan kali ini bukan untuk liburan seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan pulang dari rantauan. Hari-hari awal memulai hidup lagi di kampung halaman terasa sedikit janggal; saya merasa asing di kampung halaman sendiri. Saya kangen sekali dengan Bogor dan segala isinya. Apalagi sahabat-sahabat saya di sana. Setelah 4 tahun “berjalan” bersama, akhirnya harus berpisah jua. yuk baca lanjutan ceritanya 🙂