Pesisir Paling Timur Indonesia: Pantai Koya

Pantai Koya“Ko tahu tugu yang dekat POM bensin lama to?”1 kata kakakku saat kami berdua sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Saya sebenarnya ogah menanggapi, menoleh pun malas, akibat dikuasai perasaan jengkel karena tidak diajak lari pagi, tadi. Lagipula apa pentingnya pertanyaan ini, “Iyo too”2, jawabku akhirnya sambil mendengus, “kenapa jadi?”3 balik kubertanya. “Tadi pas lari pagi lewat situ, tong berhenti sebentar. Ternyata dalam kolam tuh ada ikan-ikan kecil”4 jelasnya sambil menerawang, membayangkan yang baru saja dia katakan, seakan-akan kolam penuh ikan tersebut tiba-tiba muncul di teras rumah kami yang sempit. Saya berusaha menyusupi pikiran kakakku saking penasarannya, mencoba mengimajinasikan hal yang sama. Tapi apa daya, patungnya saja masih samar-samar di gambaran. Lagipula, saya memang tidak pernah benar-benar memperhatikan tugu itu setiap kali melewatinya.

Saya jadinya malah makin jengkel, “ikan-ikan jelek saja moo!”5, ejekku dalam hati. Tak menyadari ledekanku, kakakku terus melanjutkan ceritanya, tapi saya sudah malas mendengar. Segera kukumpulkan mainan robot-robot plastik di lantai, lalu berlari menuju ibuku di dapur…

 

18 tahun pun berlalu…..

Continue reading

Yoo Ramai-ramai ke Pantai Maramai

Pantai MaramaiMinggu pertama di bulan September benar-benar melelahkan. Rasanya cukup aneh memulai bulan ini bukan dengan rasa ceria, seperti yang selama ini menjadi jargon andalannya. Setelah liburan penuh semangat ke Pantai Pasir 6 dan Pantai Skouw Sabtu kemarin, seminggu penuh kami bergelut dengan kesibukan kantor sekaligus rapat dan mengurusi berbagai keperluan kompetisi Spelling Bee yang, terima kasih Tuhan, hari ini telah kami tuntaskan. Acaranya sukses besar dan benar-benar menguras tenaga—dalam arti sebenarnya karena saya dengan suka rela mengangkat meja, kursi, serta pengeras suara super besar dari lantai tiga ke tempat parkir. Ya, anggap saja fitnes secara akhir-akhir ini saya sering bolos. Continue reading

Beach Skouw: A Place for a Special Dreamer

Pantai Pasir 6 dan Skouw1Serene; Alone; Distant; Words which reflect a dream for those who love to enjoy loneliness. Well, perhaps loneliness is a strong word for people who are alone are not automatically lonely. Maybe one likes to stay in his room and does whatever he loves to do. Maybe two people, alone, feel like being together and don’t mind others’ business. Or maybe five people who, at that time, wanted to be an outcast just for once in their lives, trying to find a serene and distant place where some of them finally found that one of their precious dreams had come true. Continue reading

Ber-5 ke Pantai Pasir 6

Pantai Pasir 6 dan SkouwPernahkah kalian membuat sebuah perjanjian tanpa tanda legalitas? Hanya berdasar pada asas kepercayaan? Itu pun kepada orang yang baru saja dikenal. Hufff..itu lah yang kami lakukan, saya dan Mba Filipin. Kami nekad pergi mencari orang yang menyediakan perahu cepat untuk disewa. Awalnya kami bingung karena begitu banyak rumah panggung yang berdiri di atas pantai; entah keluarga mana yang memiliki perahu. Yang pastinya salah satu dari penghuni Kampung Vietnam (saya sendiri tidak tahu kenapa namanya seperti ini kalau kalian bertanya) ini mau lah menyewakan. Setelah tanya kiri-kanan, akhirnya kami berakhir di rumah paling ujung, dijamu oleh tuan rumah bernama Bapak P. Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter. Continue reading

Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 2)

BukisiBon-bon dan saya sekamar di ujung kiri, Nyonya K dan mba Filipin di tengah, sementara bos besar Mas AG eksklusif dapat yang kanan untuk dirinya sendiri. Kami tak mau berlama-lama di penginapan karena hendak langsung menuju pertunjukan sesungguhnya dari wisata kali ini. Segera setelah menaruh barang, kami kembali ke dermaga dimana Karel sudah menunggu. Asal tau saja, kamar kami tidak bisa dikunci. Tapi kami tidak khawatir ada barang yang hilang, soalnya penduduk setempat sangat menjaga kepercayaan pengunjung. Tahun lalu saja, dompet teman yang tertinggal di kursi depan kamar tidak disentuh sama sekali. Dimana lagi coba bisa berwisata dengan tingkat keamanan setinggi ini? Continue reading

Tablanusu, Si Idola Baru

 (Cerita ini seharusnya udah saya pos dari bulan Februari kemarin, tapi karena saat itu sibuk mengurusi dokumen-dokumen kelulusan di universitas, jadinya molor sampai detik ini saya dapat kesempatan untuk mengeposnya. Hehe)

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Di hari Minggu yang cerah, tepatnya tanggal 19 Februari lalu, saya dan sahabat-sahabat sedang dalam perjalanan menuju salah satu tempat wisata idola baru Jayapura, yaitu Pantai Tablanusu. Kami menyewa mobil dengan duit hasil patungan bersama (RP 500.000) karena Penasaran 🙂 ?? Ayo Klik di Sini