6. Frostbite

Hari Kedua (2/18)

Beberapa tahun lalu saat masih kuliah, saya sering kali mengunjungi Gramedia di Botany Square, Bogor—tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam. Kayaknya yang kerja di sana sudah hafal tampangku, secara hampir 4 kali seminggu rutin ke sana. Dan saya selalu menuju koridor yang sama; komik. Ini sebenarnya agak memalukan, tapi jujur saja, komik yang saya baca adalah Doraemon. Tiap seri yang ada di situ telah saya lahap semua ceritanya, padahal (lebih memalukan lagi) beli satu pun tidak. Dari sekian banyak yang dibaca, ada satu fragmen cerita yang tiba-tiba muncul di pikiranku saat ini; kala Nobita dkk bertandang ke planet setan. Di sana mereka harus melewati semacam daerah kutub. Untuk melawan suhu ekstrim, Doraemon mengeluarkan krim adaptasi yang dapat membuat pemakainya mampu menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan. Dengan kata lain, semakin dingin hawa, semakin hangat mereka. Seandainya krim itu benar-benar ada dan dijual bebas dipasaran¸ ratapku.

Ini kedua kalinya saya berfantasi tentang kartun menjadi kenyataan—mungkin bukan sengatan panas matahari saja yang bisa bikin orang Continue reading

5. Melenceng Melancong

(Hari Kedua: 2/18)

Jika diperhatikan dengan seksama, film kartun Disney hampir selalu menampilkan cerita dengan latar belakang musim semi—musim yang sepertinya diindetikan dengan kebahagiaan. Kalaupun di awal cerita tumpukan salju memenuhi layar TV, pasti pada akhirnya akan mencair, tergantikan oleh rumput hijau nan segar berhias bunga warna warni yang tumbuh hanya dalam beberapa detik. Hewan-hewan pun keluar dari sarang, bermain ceria menyambut hangatnya sinar mentari. Semua gembira. Tulisan “Happily Ever After” pun melengkapi kebahagiaan tersebut. Tamat.

Kalau memang musim semi semenyenangkan itu, ingin rasanya Continue reading