Semalam Menjadi ‘Singaporean’

     “You stay in my house tonight, and we both go to Woodlands tomorrow morning, okay” kata Nurfirman pada saya. Waduh, ada perubahan rencana nih . Tapi setelah saya pikir-pikir, kalo saya nekad pergi malam ini, sampai di Kuala Lumpur besok pagi. Sedangkan bila saya perginya besok pagi, tibanya sore hari. Intinya, ya sampenya hari itu juga.  Lagipula, saya ga perlu bayar kan nginap di rumah Nurfirman. Dan satu hal lagi, kapan lagi coba bisa meliat langsung kehidupan rakyat Singapura. “Okay” sahut saya.

Gimana sih rasanya semalam jadi “Singaporean”?

7 Jam Menunggu? -_-“

     Buku novel yang saya bawa untuk nemenin perjalanan sedang saya baca di, ehem…ehem, depan toilet Bugis Junction . Yap, saya masih punya 7 jam untuk menunggu! Dan saya sekarang sedang menyasarkan diri, duduk dibangku depan toilet umum mal, memonopoli tempat dengan menaruh tas saya agar ga ada yang duduk, membaca tapi tak bisa fokus, sambil menghitung detik jam yang berputar . Huh, saya sebenarnya ga ada rencana, terbersit pun ga, untuk berakhir di Bugis Junction, tapi mau dimana lagi saya bisa duduk-duduk sambil menahan lapar. Bete ga sih nunggu selama itu?

Kare? Cukup Sudah!

     “Excuse me, would you mind packing my breakfast?” kata saya pada si Pak India yang sedang ngelap meja. Uuh, persetan dengan makanan India dan karenya! Saya sudah muak. Tiap hari saya makannya selalu yang mengandung kare, kare, dan kare! Pagi ini pun saya sarapannya roti prata + daging macan, eh, kambing + kare! Hadeh, saya mesti mengeluh pada siapa coba? *siapa suruh jadi pelancong kere! Kok ga mau makan kare lagi?

Sentosa Island, Pulau Turistik!

     Saat tiba di Vivo City, saya langsung menuju lantai 3, ke arah monorel. Kata si Tom, kalo jalan kaki ke Pulau Sentosa, HTMnya hanya $ 1, tapi kan saya pengen nyobain transportasi yang gagal diadakan di Jakarta ini. Dan saya pun beli tiketnya seharga $ 3. Sebenarnya nih ya, saya pengen sekali main ke USS. Mumpung ADA DISINI. Tapi sekarang udah jam 2, dan saya rasa waktunya ga cukup. Udah bayar $ 72 tapi yang ada ngantri doang, hahaha. Kapan-kapan lah. Yuk cari tau seberapa menarik Pulau Sentosa itu!

You Don’t Speak Bahasa?

     Laju kereta yang kencang sedang membawa saya menuju stasiun Harbourfront. Hari ini saya hendak main ke Pulau Sentosa yang diklaim oleh Singapura sebagai pusat bermain favorit masyarakat Asia. Pundak kiri saya agak sedikit perih menahan tas pinggang yang lumayan berat ; isinya kamera SLR, botol minum, serta 12 gantungan kunci seharga $ 10 yang tadi saya beli di depan Mustafa Center. Walaupun begitu, senyum saya tak hentinya tersungging mengingat kejadian lucu semalam saat pulang dari Marina .
Ceritanya begini:
    
       Saat berjalanan menuju penginapan, ternyata dijalan dibelakang penginapan ada resto India halal, namanya Tiffin Bhavan. Tanpa pikir panjang, serta karena perut saya sudah dangdutan, saya langsung santronin aja . Didalam saya liat seseorang berdiri dibalik rak makanan serta seorang pria berkumis yang keliatannya Yuk cari tau perihal “bahasa” ini?

Merlion, Aku Datang!

     2 jam saya putar-putar sampai punggung saya serasa mau patah. Daftar penginapan murah yang ada dibuku yang saya beli ditoko buku ternyata sudah kadaluarsa. Beberapa penginapan itu sudah tutup. Dan harapan saya satu-satunya adalah Inncrowd hostel*. Saya yang sudah nyasar sampai Mustafa Center, akhirnya harus berjalan ratusan meter lagi ke kearah Inncrowd. Dan tau kah anda, pemirsa? Merlion! Akhirnya kubertemu dengankau! 😉

Cari Penginapan di Little India

     Saat berjalan memasuki bandara, mata saya jelalatan cari orang Indo, siapa tahu bisa dijadikan teman jalan. Tapi kok ya banyaknya pada bergerombol, saya kan jadinya malas gabung. Saya pun terus berjalan sambil mengikuti petunjuk dari plang yang digantung dilangit-langit, menuju pintu keluar. Dari hasil pencarian saya di inet, katanya kita bisa naik MRT dari bandara. Tapi dimana transportasi ini saya ga tahu. Jadilah saat melewati ruang pengambilan bagasi, saya bertanya pada petugas bandara. Penginapan apa sih yang murah di Little India?

Perjalanan Dimulai

      Saya sedang duduk manis dibangku yang sempit sambil melihat pemandangan diluar jendela. Biru air laut yang memantulkan sinar mentari, serta awan putih yang berarak-arak nampak tak meredakan degup jantungku yang memukul-mukul keras. Gosh! Saya terlalu nekad, T-E-R-L-A-L-U!!

(beberapa bulan sebelumnya…) Yuk ikuti kisah lengkapnya!