16. Medaliku

Hari Kelima (5/18)

Tok…tok…tok…bunyi ketukan sayup-sayup menggema. Tok…tok…tok…terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. “Pagi!” seseorang berteriak di luar sana, membuatku seketika terjaga. “Pagi! Penjemputan sudah siap!!” pekik pria itu lagi. “Oke!” balasku, seketika melompat dari tempat tidur. Sial! Sial! Sial! Saya lupa pasang alaram. Kulirik jam tangan, jarum pendek menunjuk angka 5. SIALLLL!!! Saya langsung berlari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, lalu berpakaian secepat yang kubisa. Padahal semalam saya sempat terbangun, tapi kenapa bisa lupa?! Saya menggerutu sendiri. Tak terbayangkan wajah-wajah maut di mobil jemputan akan menyambutku dengan amarah. Aaah! Ini benar-benar memalukan.

Setelah yakin semua yang kubutuhkan sudah siap, saya langsung mengunci pintu kamar, dan berlari menuju mobil yang diparkir tepat di depan gerbang. Pria yang tadi memanggil-manggil entah ada di mana, mungkin Continue reading

15. Mari Tidur

Hari Keempat (4/18)

Sakura, bunga indah penuh pesona yang begitu melekat di hati tiap masyarakat Jepang. Saking berartinya sampai-sampai dikukuhkan sebagai bunga nasional. Ritual makan-makan sambil menikmati ratusan kuncupnya yang bermekaran juga sudah sangat membudaya di sana. Seakan-akan kembang ini hanya mau tumbuh di Jepang, tidak di tempat lain. Saya pribadi belum pernah mengunjungi negeri berjuluk matahari terbit tersebut, dan mungkin tidak dalam waktu dekat. Apalagi mengkhususkan diri untuk menikmati mahkota sakura yang berterbangan tertiup angin. Cukup lihat versi palsunya saja yang dipajang di salah satu rumah karaoke di Jayapura.

Tapi memang alam itu selalu penuh dengan kejutan, yang mungkin tidak akan pernah habis walaupun seluruh Bumi telah dipijak. Belum cukup dibuat ternganga-nganga oleh bentang alam Gӧreme yang
Continue reading

14. ‘The Flintstones’

Hari Keempat (4/18)

Sepertinya memang cuaca hari ini sangat tidak bersahabat; bahkan untuk orang Turki sekalipun. Dari balik jendela, tak tampak satu manusia pun berkeliaran di luar, walau itu hanya sekedar jalan kaki ke warung samping rumah. Mobil juga tidak banyak yang lalu lalang, hanya sesekali melaju kencang menghantam angin. Persis sepeti setting seri televisi ‘The Walking Dead’. Yang kurang hanya mayat hidupnya saja. Atau jangan-jangan tayangan mengerikan itu memang syutingnya di sini. Dasar konyol, pikirku sambil tertawa-tawa kecil.

Saya sedang duduk sempit-sempitan dengan pelancong lain di bangku paling belakang, dalam bus yang ukurannya 2 kali lebih kecil dan lebih jelek daripada bus sebelumnya. Bisa dibilang kami turun ke kelas Continue reading