15. Mari Tidur

Hari Keempat (4/18)

Sakura, bunga indah penuh pesona yang begitu melekat di hati tiap masyarakat Jepang. Saking berartinya sampai-sampai dikukuhkan sebagai bunga nasional. Ritual makan-makan sambil menikmati ratusan kuncupnya yang bermekaran juga sudah sangat membudaya di sana. Seakan-akan kembang ini hanya mau tumbuh di Jepang, tidak di tempat lain. Saya pribadi belum pernah mengunjungi negeri berjuluk matahari terbit tersebut, dan mungkin tidak dalam waktu dekat. Apalagi mengkhususkan diri untuk menikmati mahkota sakura yang berterbangan tertiup angin. Cukup lihat versi palsunya saja yang dipajang di salah satu rumah karaoke di Jayapura.

Tapi memang alam itu selalu penuh dengan kejutan, yang mungkin tidak akan pernah habis walaupun seluruh Bumi telah dipijak. Belum cukup dibuat ternganga-nganga oleh bentang alam Gӧreme yang
Continue reading

14. ‘The Flintstones’

Hari Keempat (4/18)

Sepertinya memang cuaca hari ini sangat tidak bersahabat; bahkan untuk orang Turki sekalipun. Dari balik jendela, tak tampak satu manusia pun berkeliaran di luar, walau itu hanya sekedar jalan kaki ke warung samping rumah. Mobil juga tidak banyak yang lalu lalang, hanya sesekali melaju kencang menghantam angin. Persis sepeti setting seri televisi ‘The Walking Dead’. Yang kurang hanya mayat hidupnya saja. Atau jangan-jangan tayangan mengerikan itu memang syutingnya di sini. Dasar konyol, pikirku sambil tertawa-tawa kecil.

Saya sedang duduk sempit-sempitan dengan pelancong lain di bangku paling belakang, dalam bus yang ukurannya 2 kali lebih kecil dan lebih jelek daripada bus sebelumnya. Bisa dibilang kami turun ke kelas Continue reading

13. Mau—Tak Mau

Hari Ketiga Menuju Hari Keempat (3-4/18)

Bunyi bel tram yang nyaring bergema di dalam gerbong, menandakan bahwa stasiun berikutnya hampir dicapai. Saat badan kereta berhenti total dan pintu bergeser terbuka, saya langsung melompat dan berlari ke arah pintu keluar. Terus berjalan mengitari blok hingga bertemu dengan jalan raya yang lumayan lebar. Saya pastikan dulu lajur kiri-kanannya lengang, lalu segera melangkah cepat menyeberanginya. Ranselku yang berat terpental-pental di punggung, membuat pundakku nyeri. Tapi saya tak bisa memperlambat langkah biar satu pun karena jarum pendek sudah hampir melewati angka 9. Harus segera tiba di otogar kalau tidak mau ketinggalan bus.

Sesampainya di seberang, saya langsung mencari gerbang Metro. “Terus saja ke sana” jawab seorang pria yang kutanya, tangannya menunjuk pada sebuah bangunan tak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Perhitunganku benar kali ini, jarak
Continue reading

12. Harta Karunku

Hari Ketiga (3/18)

Baik itu baik, tapi terlalu baik itu tidak baik, begitu kata dosenku dulu padaku. Perkataan itu, entah bijak entah menghina, meluncur hanya karena saya membantu mengangkat kertasnya yang berceceran di lantai. Mungkin itu sebuah “nasehat” terselubung. Tentu saja menjadi manusia baik adalah hal yang baik. Tak ada yang salah dengan itu. Memberi makan kucing yang kelaparan itu baik, apalagi makanannya Whiskas. Tapi apakah sekedar berkeinginan untuk mengumpulkan bercarik-carik dokumennya yang terjatuh ke lantai terhitung sebagai sesuatu yang “terlalu baik”? Sampai-sampai malah menjadi perlakuan “tidak baik”. Mungkin pak dosen mencium gelagat “seorang Continue reading

11. Sebuah Simbol

Hari Ketiga (3/18)

“Maaf bapak. Tolong antri, ya! Saya datang duluan!” bentakku sambil tahan-tahan emosi kepada dua orang pria dewasa tidak tahu aturan. Saat itu saya, dan kami semua yang berdiri di depan loket layanan penumpang Lion Air Bandara Sentani Jayapura, hendak menunjukan kode tiket untuk kemudian dicetak oleh sang petugas. Saya sudah mengesampingkan kesan ‘anak muda sopan’, karena perilaku memalukan bapak-bapak itu sangat tidak bisa saya toleransi. Bagaimana mungkin sebagai orang dewasa yang seharusnya mencontohkan sikap ‘ayo budayakan mengantri’ malah ditegur yang lebih muda karena tidak mengindahkan peraturan. Tanganku langsung menyingkirkan beberapa kertas bertulis kode dari lubang kecil penghubung kami dengan sang petugas di balik dinding kaca, kemudian menaruh milikku sendiri. Tak ada yang berani membantah saat itu, mungkin karena sudah terlanjur malu. Segera setelah mendapat tiket, saya langsung berlalu meninggalkan loket.

Diakui atau tidak, kebanyakan orang Indonesia memang memiliki masalah dengan yang namanya Continue reading

10. Tolok Ukur

Hari Ketiga (3/18)

Dari semua kota yang pernah saya kunjungi di Indonesia, mungkin Bogor adalah yang paling terhijau. Tidak hanya karena berbaris-baris pohon raksasa yang berdiri di sepanjang jalan Padjajaran, tapi juga akibat ribuan angkotnya yang hijau terang. Sebagai transportasi andalan masyarakat setempat, termasuk bagiku kala masih tinggal di sana, angkot adalah sesuatu yang ironi; dicintai sekaligus dibenci. Dengan jangkauan treknya yang luas, tentu saja kemana-mana jadi mudah dan murah. Tapi penyakit ngetemnya itu yang bikin dongkol. Biar kata 4 tahun tinggal di sana, saya tidak pernah benar-benar terbiasa dengan hal tersebut.

Para supir punya trik tersendiri untuk menggaet penumpang kala sedang ngetem; beberapa temannya ramai-ramai duduk dalam angkot, seakan-akan sudah hampir penuh dan siap untuk diberangkatkan. Tapi pas ada yang hendak Continue reading

9. Kubah, Pilar, Menara

Hari Ketiga (3/18)

Saat masih SMA dulu, saat masih zaman-zaman labil tanpa pendirian tetap, saya paling malas yang namanya shalat Jumat. Mungkin ini aib terbesar seorang pria yang tidak mungkin diceritakan pada sahabat terdekat sekalipun. Sangat memalukan. Dan sebisa mungkin berbohong saja kalau ditanya shalat atau tidak. Hampir tiap Jumat saya lewati dengan bersembunyi dalam rumah, yang penting tidak ada orang yang lihat. Pernah sekali saya sampai ditarik-tarik sambil dinasehati oleh saudara yang peduli dengan dosaku, tapi saya keukeuh malas ke masjid. Saat itu sebenarya bukan karena benar-benar tidak mau, tapi saya sudah kudung malu, takut dilihat tetangga lain dengan pandangan menuduh mereka “ini setan kok tiba-tiba dapat hidayah mau ke masjid?”. Dan bodohnya saya memilih tetap menjadi setan. Setidaknya teman-teman di sekolah tidak tahu, pikirku.

Saya baru mulai sadar saat pindah kuliah di Bogor. Saat itu saya pikir, orang-orang di sana tidak mengenalku. Jadi tidak akan ada pandangan menohok itu kala melangkah ke masjid nanti. Jadi lah tiap
Continue reading