19. Lorong Gereja

Hari Kelima (5/18)

“Kas sampah kemari. Bakar lagi. kas banyak asap”1 kata temanku sambil terbatuk-batuk. Tangannya gesit mengais kertas dan plastik bekas di sekitar kakinya. “Aeee, stop sudah! Asap su banyak nih!”2 protesku sambil mengucek-ngucek mata yang perih terkena kepulan asap yang membumbung di udara—itu pun kalau memang masih ada udara di sini. Entah setan apa yang merasuki saya dan teman-temanku; kami nekad jongkok-jongkokkan di dalam goa kecil tepat di bawah ruang kelas sambil bakar sampah. Tujuannya? Biar kodok yang mendiami goa tersebut pada kabur keluar demi mendapat udara segar. Dan bodohnya, kami masih kuat-kuatan hirup asap, dan berusaha tetap bertahan walau mata sudah merah macam suanggi3. Saya yang sudah tidak kuat langsung merangkak keluar, meninggalkan teman-teman lain yang sepertinya dirasuki siluman anti asap. Baju putih merahku langsung kotor penuh lumpur, begitu pun telapak tangan dan lutut.

Ini lah realita kehidupan sekolah anak SD Inpres Tasangka Pura tercinta; tempat belajar paling ajaib yang pernah Continue reading