16. Medaliku

Hari Kelima (5/18)

Tok…tok…tok…bunyi ketukan sayup-sayup menggema. Tok…tok…tok…terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. “Pagi!” seseorang berteriak di luar sana, membuatku seketika terjaga. “Pagi! Penjemputan sudah siap!!” pekik pria itu lagi. “Oke!” balasku, seketika melompat dari tempat tidur. Sial! Sial! Sial! Saya lupa pasang alaram. Kulirik jam tangan, jarum pendek menunjuk angka 5. SIALLLL!!! Saya langsung berlari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, lalu berpakaian secepat yang kubisa. Padahal semalam saya sempat terbangun, tapi kenapa bisa lupa?! Saya menggerutu sendiri. Tak terbayangkan wajah-wajah maut di mobil jemputan akan menyambutku dengan amarah. Aaah! Ini benar-benar memalukan.

Setelah yakin semua yang kubutuhkan sudah siap, saya langsung mengunci pintu kamar, dan berlari menuju mobil yang diparkir tepat di depan gerbang. Pria yang tadi memanggil-manggil entah ada di mana, mungkin sudah siap di belakang kemudi. Semakin mendekati mobil, jantungku kian mencelos, saya tidak berani bertatap wajah dengan para peserta tur lain. Semoga mereka semua manusia pemaaf. Tapi pas hendak masuk ke dalam kendaraan, ternyata cuma ada satu pria tua, duduk di kursi paling depan. “Pagi” sapanya ramah. Saya hanya bisa tersenyum, bukan untuk membalas sapaannya, tapi karena ternyata bukan saya sendiri yang terlambat.

Satu persatu peserta tur mulai mengisi tempat di mobil. Semuanya tampak bersemangat, walau tampang masing-masing masih kusut masai tidak sempat berdandan. Ada sekelompok muda-mudi Tiongkok yang ekstrim sekali ributnya. Bicara kayak pakai toak, serasa ikut tur pribadi. Sisanya bule-bule berambut pirang, dan terakhir cuma diriku seorang pria Asia Tenggara. Wajah sang penjemput merangkap supir yang sejak tadi sibuk membangunkan para peserta tur terlihat agak jengkel. Sesekali dia melirik ke dalam mobil sembari menghitung penumpang. Bisa dimaklumi sikapnya seperti itu karena beberapa peserta ada yang bergerak terlalu lamban, sedangkan kami sudah harus meluncur ke lokasi.

Setelah seluruh bangku terisi penuh, mobil pun menuruni bukit menuju jalan raya. Supir benar-benar tancap gas untuk mengejar waktu. Dan lagi suasana jalan yang masih sepi menjadikannya bagai arena balap. Sekitar 10 menit berkendera, mobil kemudian berbelok dan diparkir di depan sebuah gedung besar. Seluruh penumpang diturunkan, lalu diarahkan ke lantai 2. Ternyata kami disediakan makan pagi. Mantap lah! Harus banyak-banyak isi perut kalau tidak mau masuk angin. Apalagi stok Tolak Anginku sudah mau habis. Saya pun menyeduh teh panas dan menaruh banyak kue manis di piring, kemudian bergabung bersama pelancong lain di satu meja bundar untuk sama-sama menikmati sarapan.

Kami hanya diberi 15 menit untuk makan-minum—waktu yang pas bagiku karena apa yang tadinya ada di atas piring sudah ludes seluruhnya. Tinggal duduk-duduk santai sambil menyesap teh. Saya hindari banyak minum air karena tidak mungkin ada toilet di lokasi tur. Menahan-hahan kencing selama perjalanan kan bukan sesuatu yang menyenangkan. “Baik, kita harus pergi sekarang” kata sang supir yang sudah berdiri di ambang pintu. Bunyi bangku yang bergesekkan dengan lantai serentak terdengar saat semua orang berdiri meninggalkan meja, lalu mengantri di pintu keluar menuju kendaraan yang telah dihidupkan.

Tak jauh dari tempat makan tadi, mobil pun memasuki jalanan nonaspal. Kendaran bergetar hebat, dan kami pun terguncang-guncang karena medan yang ditelusuri tidak terlalu mulus. Birunya puncak langit kian memudar warnanya kala mendekati garis cakrawala yang terhadang perbukitan. Sedang di ufuk Timur menyemburat warna oranye-kemerahan yang cerah membara. Ratusan siluet ranting pepohonan meranggas serta susunan bebatuan berdiri di tepi bukit-bukit kecil, terlihat dramatis berlatar angkasa yang bersih. Semua tampak damai dan syahdu pagi ini, seperti melihat mimpi yang indah. Satu-satunya hal yang menyadarkan kami pada kenyataan adalah deru mesin mobil.

Setelah melewati jalan menanjak dan menurun, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Ternyata sudah ada beberapa peserta tur lain yang telah mendahului. Mereka berkerumun dalam satu kelompok, saling bercakap-cakap seraya memandang sekitar. Saya sendiri berdiri terpesona melihat indahnya kobaran api yang sesekali muncul menjilat udara. Cahayanya yang kemerahan mewarnai tiap benda di sekelilingnya. Mesin yang mengeluarkan api tersebut merekat pada kerangka metal sebuah keranjang besar tepat di bawahnya. Pada kerangka itu sendiri tertambat tali-tali super kuat penghubung keranjang dan balon raksasa yang sedang diisi gas panas. Balon udara.

Seiring bertambahnya zat sisa pembakaran, semakin membesar pula ukuran balon. Wujudnya yang bulat dan melancip di bagian bawah kian terlihat jelas seraya perlahan-lahan terangkat ke udara. Gradasi warna kainnya yang berurutan—merah-kuning-jingga-putih—membuat cahaya api makin berpendar cerah. Beberapa petugas berjaket merah mengelilingi keranjang untuk menjaga posisinya tetap stabil, dibantu seutas tali tambang yang terikat kencang agar balon tidak kabur duluan ke angkasa. Setelah 2 tangga ditempatkan di tiap ujung, peserta tur pertama pun mulai mengambil tempat. Keranjang jumbo berbentuk persegi panjang ini dibagi 4 sekat, sehingga tercipta 5 ruang kecil. Bagian tengah ditempati sang pilot, sedangkan tiap ruang yang lain diisi 4 peserta. Jadi, total 17 orang termasuk sang pengendara.

Para petugas tampak berupaya keras menjaga keranjang kala balon sudah siap berangkat—terkadang cengkeraman tangan mereka menarik dan mendorong sekuat tenaga. Kotak anyaman berwarna kecokelatan itu pun mulai terangkat melayang di udara. Setelah seorang petugas melepaskan tautan tali tambang, balon seketika melayang bebas ke langit. Jantungku kian berdegup kencang melihatnya terbang menuju angkasa, seakan-akan saya yang ada dalam keranjang tersebut dan sedang menatap ke bawah. Wuh! Napasku sampai memburu mengetahui giliranku akan tiba tak lama lagi. Apalagi puluhan balon lain jauh di belakang sana telah dilepaskan di udara. Makin tidak sabar!

Dengan proses yang sama, balon udara kami pun dipersiapkan. Saya sengaja membiarkan pelancong lain masuk ke keranjang duluan untuk mengisi ruang bagian dalam, kemudian saya naik paling akhir biar dapat tempat di tepi terluar. Dari sini kan pasti pemandangan terlihat lebih jelas dan bisa leluasa mengambil gambar. Saat kobaran api ditembakkan dari mesin oleh sang pilot, suaranya meraung-raung bagai memberi tenaga pada balon untuk mengangkasa. Partikel-partikel putih berjatuhan dari dalam ruang balon, mengenai tubuh semua peserta. Mungkin hasil pembakaran atau apa, tidak begitu kami pedulikan karena sensasi melayang di udara yang saat ini tengah kami rasakan jauh lebih menyita perhatian.

Seluruh yang di bawah sana tampak makin mengecil seiring kami mencapai langit: pepohonan, mobil, orang-orang, semuanya. Sungguh saya deg-degan mendapati diri begitu jauh dari tanah. Kuberdiri, tapi merasa tak berpijak. Makin mengangkasa, tapi serasa terjun bebas. Saya selalu benci ketinggian, apalagi berada di situasi tersebut. Seminggu sebelum naik pesawat saja saya sudah sulit tidur memikirkan akan berada cukup lama di langit, tak terkecuali berada di sini yang notabene tidak ada dinding-jendela dan bersentuhan langsung dengan angin yang bertiup kencang. Lututku mulai lemas, tangan berlapis sarung pun mencoba mencengkeram tepi keranjang.

Tapi, itulah alasan sebenarnya saya memilih berdiri di tepi paling luar—untuk melawan rasa takutku pada ketinggian. Tidak ada terapi paling hebat dalam mengobati fobia selain mencoba menghadapi rasa takut itu sendiri. Saya tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, berulang kali. Lalu memberanikan diri melihat sekeliling, dan ke bawah. Oke! Pertempuran ini tidak akan mungkin kumenangkan secepat itu, karena jantung masih mencelos hebat, tapi pemandangan yang terpampang di hadapanku mengalahkan segalanya. Matahari dengan sinarnya yang membias mengintip dari balik bukit, makin lama makin terlihat jelas hingga kami dibaluri cahayanya yang keemasan. Luar biasa!

Lambat laun, saya mulai menikmati penerbangan ini. Alam Gӧreme yang spektakuler terbentang luas di depan mata. Bukit-bukit berbatu tersebar luas dalam berbagai ukuran, semakin jauh semakin besar, bagai tak ada habisnya. Kesemuanya membentuk ngarai indah, meliuk-liuk bagai alur sungai purba yang telah lama mengering berjuta-juta tahun yang lalu. Paduan warnanya yang kemerahan, menguning, kelabu, putih, hingga hijaunya rerumputan berpadan elok disirami sinar mentari yang perlahan-lahan menjalari Bumi.

Langit pagi yang makin terang tampak semarak dihiasi oleh puluhan balon udara berbagai warna. Ada yang telah mengudara sangat tinggi di kejauhan, sebagian masih sejajar dengan kami, bahkan ada yang baru dipersiapkan untuk mengangkasa. Kami semua terbang ke arah yang sama, dalam jarak yang terjaga sekian ratus meter agar tidak bertabrakan. Entah benar atau tidak, saya berasumsi para penerbang balon ini memiliki sistem transportasi tersendiri. Mereka seperti melihat jalur tak kasat mata yang mengarah pada titik tertentu; kapan harus mencapai ketinggian sekian, kapan harus berbelok, dan kapan harus melepas daya angkat. Tentu kecepatan dan arah angin memiliki andil yang besar, tapi tanpa lalu lintas yang seragam, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tumpukan bukit batu runcing yang tadinya terlihat kecil kini makin membesar seiring pilot menurunkan ketinggian jelajah. Kami hanya berjarak sekian ratus meter dari puncak bukit terdekat. Ternyata jejeran bebatuan kelabu rakasasa ini tidak normal, alias telah dialihfungsikan menjadi semacam tempat tinggal. Wow! Saya pikir hanya di sekitaran penginapan saja yang ada rumah batu, ternyata di pedalaman sini juga. Dan dilihat dari bentuknya yang sederhana, sepertinya ini adalah hasil dari kebudayaan lampau. Lubang-lubang berbagai ukuran diukir sebagai jendela dan saluran udara, tapi tetap tidak menghancurkan stuktur utuh batu secara keseluruhan. Sehingga rumah-rumah kuno ini tampak tersamarkan dari kejauhan—atau mungkin memang itu lah tujuannya.

Setelah melewati alur antara bukit batu yang mirip labirin, pilot kembali mengangkat kami hingga ke ketinggian sekian ribu kaki. Sampai di titik ini saya sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi untuk menggambarkan apa yang kusaksikan. Hanya ada satu frase yang dapat menggungkapkan semuanya—LUAR BIASA!!!!!!!!! Dan anehnya, suasana sangat hening di atas sini. Hanya raungan api serta deru angin yang memecah kesunyian. Bila saja ada seorang pelukis hadir bersama kami di dalam keranjang ini, jutaan lukisan pasti akan tercipta hanya dengan menatap indahnya pemandangan ini.

Cukup lama kami melayang-layang terbuai angin di puncak maksimal penerbangan, hingga akhirnya balon perlahan-lahan meninggalkan angkasa. Saya tak tahu persis berapa lama kami mengudara, tapi dapat kupastikan tiap detik dari pengalaman ini menjadi salah satu masa terbaik dalam hidupku. Dan sesingkat atau selama apapun tur ini, tak menjadi masalah bagiku, karena jujur saja, tanganku sudah tidak kuat lagi mencengkeram tepi keranjang akibat sensasi jatuh dari ketinggian yang terus-terusan terjadi di atas sana. Untuk seorang akrofobia, saya memang bodoh telah memilih untuk berdiri di ujung keranjang, tapi saya akan lebih bodoh lagi kalau tidak mencobanya.

Sesaat sebelum menuju landasan, pilot menginstruksikan para peserta untuk bersandar dalam posisi jongkok di dinding keranjang, sambil tangan memegang erat bagian tepinya. Hingga akhirnya kami berhasil mendarat dengan mulus tepat di atas sebuah kendaraan roda khusus—sesuatu yang membutuhkan keahlian khusus. Saya segera memanjat keluar, dan merasakan kebahagiaan luar biasa karena bisa berpijak lagi di atas tanah. Lokasi pendaratan berada di tengah sebuah padang luas yang rerumputannya diselimuti kepingan es. Tampak balon-balon lain juga berlomba-lomba menyentuh tanah, tak jauh dari kami.

Entah dari mana, tiba-tiba saja sudah ada meja kecil bertaplak putih dengan hiasan dedaunan di tengah kerumunan. Di atasnya terdapat sebotol sampanye dan sirup ceri, serta 17 gelas dan sepiring biskuit. Sang pilot yang berkacamata hitam memberi kata sambutan singkat, kemudian membuka sampanye yang penutupnya seketika melompat dari mulut botol. Semua orang pun bersorak-sorai gembira, lalu meraih gelas yang telah dituang satu persatu. Saya sendiri cukup menikmati beberapa potong biskuit saja sambil mengobrol dengan seorang pelancong yang ternyata juga memiliki ketakutan terhadap ketinggian.

Tak lama kemudian sang pilot kembali memberi kejutan dengan menghadiahi kami masing-masing sebuah medali bertajuk Universal Balloon dengan gambar balon udara di tengahnya. Saya pikir cuma medali mainan, tapi ternyata beratnya tidak menipu. Sungguh tidak main-main fasilitas serta layanan yang diberikan pada turis. Para peserta tur pun menjadikan hadiah ini sebagai sebuah candaan bahwa kami adalah juara lomba balap balon udara. Walau bagiku pribadi, medali kecil ini untuk mengingatkan betapa besar perjuanganku melawan rasa takut yang telah menghantuiku sedari kecil.

Medali kemenangan.

One response to “16. Medaliku

  1. Y ampun Fieeeeer! udah lama gak buka blog trus liat blog kamu. Keren bangeeeeet udah nyampe Turki, nah aku paling banter Malaysia dan passport langsung ilang. Aku d JKT nih Fier. Ntar kalo kamu k JKT ketemu dong! Hahaha….post nya kujadiin PR dulu yak ^_^

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s