15. Mari Tidur

Hari Keempat (4/18)

Sakura, bunga indah penuh pesona yang begitu melekat di hati tiap masyarakat Jepang. Saking berartinya sampai-sampai dikukuhkan sebagai bunga nasional. Ritual makan-makan sambil menikmati ratusan kuncupnya yang bermekaran juga sudah sangat membudaya di sana. Seakan-akan kembang ini hanya mau tumbuh di Jepang, tidak di tempat lain. Saya pribadi belum pernah mengunjungi negeri berjuluk matahari terbit tersebut, dan mungkin tidak dalam waktu dekat. Apalagi mengkhususkan diri untuk menikmati mahkota sakura yang berterbangan tertiup angin. Cukup lihat versi palsunya saja yang dipajang di salah satu rumah karaoke di Jayapura.

Tapi memang alam itu selalu penuh dengan kejutan, yang mungkin tidak akan pernah habis walaupun seluruh Bumi telah dipijak. Belum cukup dibuat ternganga-nganga oleh bentang alam Gӧreme yang

cetar membahana, saya kemudian dipertemukan dengan kumpulan rangkaian ranting dengan ratusan kelopak merah jambu melekat di dahannya: bunga sakura. Tapi, tunggu dulu, masa iya ada sakura di Turki? Warna dan bentuknya memang sama, namun setahuku pohon sakura tidak sekecil ini. Mmm, bisa saja ini sakura yang masih remaja. Bisa juga bibitnya diimpor dan ditanam di Gӧreme. Atau, mungkin memang ini adalah sakuranya Turki?

Entah lah. Mau sakura, mau bukan, tiap kuncupnya yang bermekaran benar-benar fantastis keelokannya. Warnanya yang lembut juga tampak serasi dengan biru langit kala dipandang dari bawah. Apalagi kehadiran batang-batang meranggas di kiri-kanannya membuat pohon penuh bunga ini menjadi bintang. Kelopaknya yang bergoyang tertiup angin bagai memiliki sihir yang dapat memantrai tiap pejalan kaki untuk berhenti melangkah dan memandanginya dengan penuh pesona. Tak terkecuali diriku yang sejak tadi tak bosan-bosan memotretnya.

Bagaimanapun, secantik-cantiknya bunga ini tidak akan mampu membuat perut laparku kenyang. Saya belum makan apa-apa sejak kebab semalam, dan camilan yang diberi di dalam bus kan tidak termasuk makanan utama. Kondisi ini juga lah yang memaksaku keluar dari kamar. Beruntung hujan salju sudah berhenti, terganti cahaya matahari yang cerah, walaupun hawa dingin masih setia menyelimuti. Saya sedang melangkah santai di atas trotoar, tepat di tepi kali kecil yang diseberangi beberapa jembatan melengkung. Barisan pohon berbunga menjadi pemisah antara jalan raya dan daerah khusus pejalan kaki, menjulang kaku di antara tanaman pagar. Padahal ini cuma pemandangan biasa di jalan, tapi kok rasanya seperti memasuki lokasi syuting seri drama Korea.

Tepat di ujung jalan, saya mampir di salah satu minimarket untuk membeli sebotol air. Saat melihat seisi toko, berbagai macam jajanan asing yang ditumpuk di rak terlihat sangat menggoda. Tanganku pun meraih sebungkus makanan ringan, semacam keripik kentang pedas, karena ada gambar cabe dan bungkusnya berwarna oranye. Setelah membayar, saya lalu menyeberangi jalan menuju sebuah kafe kecil. Saat memasuki ruangannya yang tidak begitu luas, tampak 6 meja makan tertata rapi; 3 untuk berempat, 3 lainnya untuk berdua. Selebihnya ditaruh di luar untuk tamu yang hobi makan sambil dingin-dinginan. Dindingnya yang berupa jendela kaca meloloskan sinar matahari, membuat seluruh benda di ruangan ini bermandikan cahaya. Saya sendiri pilih tempat di paling pojok menghadap tembok, biar tidak usah bertemu pandang dengan orang lain. Cukup saya dan makan siangku.

Dari semua jenis makanan yang terpampang di buku menu, pilihanku jatuh pada yang ada nasinya, dan sebisa mungkin minim roti. Saya sudah mulai muak makan tepung. Dan untungnya, kafe ini ternyata sangat mengerti para tamu yang memang datang karena alasan kelaparan: entah saya yang kebanyakan melamun atau apa, tiba-tiba saja pelayannya sudah menaruh makanan di atas meja. Tidak pakai lama. Di atas piring putih ini terhidang 2 tusuk sate, 2 lembar roti gepeng, nasi, serta salad sayuran. Untuk daging, sudah bisa ditebak lah rasanya. Yang jadi bintang justru salad penuh warnanya yang terasa sedikit berbeda. Ada sensasi asam yang membuatnya segar, mungkin dari sari buah delima. Saya tak tahu pasti. Acarnya juga ternyata lezat sekali. Kalau dikasih semangkok penuh juga yakin lah bisa kuhabiskan semua.

Entah lidahku yang sudah mulai terbiasa dengan cita rasa masakan Turki, atau karena terpengaruh kondisi perut kosong, saya mampu menyantap semua yang ada di atas piring. Tidak ada yang tersisa, bahkan sepotong kubis merah sekalipun. Ini jelas makan siang paling enak yang pernah kurasakan di negara ini—setidaknya untuk sejauh ini. Saya pun memilih santai-santai sejenak sambil menikmati keripik kentang yang tadi kubeli, serta berselancar di Internet melalui wifi gratis. Lagipula rumah makan ini lumayan sepi dan tidak terdapat antrian di luar, jadinya tak ada intimidasi diarahkan padaku untuk meninggalkan meja makan secepatnya. Setelah mencari di Google, ternyata pepohonan berbunga di luar sana bukan lah sakura, melainkan bunga aprikot. Ya, bagiku keduanya tidak begitu jauh berbeda. Sama-sama cantik dan elok dipandang mata.

Sekeluarnya dari kafe, saya memutuskan untuk lanjut jelajahi Gӧreme sebelum kembali ke penginapan dan tidur hingga esok hari. Saya mengikuti jalan besar, melangkah di atas trotoar, di samping kali kecil. Banyak sekali pertokoan dan kafe di sini. Tiap bangunannya, terutama yang berdiri tepat di tepi jalan raya, lebih variatif dari soal bentuk. Tampak moderen lah, tidak seperti hotel-hotelnya yang monoton. Sebenarnya sentuhan masa kini telah sedikit menyentuh arsitektur tiap tempat penginapan tersebut, karena kalau mengikuti sejarahnya ke belakang, mungkin teras dan kamar mandi dalam pun tidak ada. Saya kemudian mengambil tempat di salah satu bangku taman, sambil wajah menengadah ke arah bukit tempat beberapa kamar hotel benar-benar dipahat dari gundukan batu tersebut. Mungkin beginilah cara mereka mempertahankan tradisi—berubah, tapi tidak sampai tergerus zaman. Rumah-rumah batu itu dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa nyaman ditempati sementara oleh para pelancong, tanpa harus kehilangan sentuhan aslinya.

Hawa dingin rupanya kian menggila. Tangan yang sudah kusembunyikan di balik kantong saja masih terasa kedinginan. Saya pun berjalan kembali ke arah penginapan. Sembari melangkah, mataku dimanjakan oleh berbagai bentuk buah tangan yang digantung dan dipajang di sederet toko oleh-oleh. Lebih banyak permadani sebenarnya, serta miniatur-miniatur bebatuan raksasa khas Gӧreme yang menyerupai kemaluan pria. Mungkin saja sengaja diukir sedemikian rupa, entah lah, tapi dari penginapanku di atas bukit tadi saya memang sempat melihat salah satu batu raksasa yang menjulang mempunyai bentuk seperti itu. Ya, setidaknya pajangan unik ini tidak seekstrim ukiran kayu berbentuk penis manusia yang banyak dijual di gang-gang Legian, Bali.

Saat melihat-lihat tumpukan sarung tangan berbagai warna yang ditaruh dalam kotak, sang empunya toko langsung keluar dan mulai beramah tamah. Saya pilih yang warna ungu hijau dengan motif bintik-bintik hitam, karena cuma ini yang tampak jantan ketimbang sarung tangan lain yang berwarna imut. Pria tua beruban itu kemudian mengajakku ke dalam toko yang ternyata adalah markas menjahitnya. Seharusnya saya tidak kaget karena sejak tadi seutas tali meteran berwarna kuning menggantung di lehernya. Setelah membayar, pria tersebut kemudian mengeluarkan sebuah kotak kaleng kecil yang isinya dipenuhi puluhan peniti kuningan yang bukan peniti biasa. Ada semacam manik-manik kecil berwarna biru putih di salah satu ujungnya sebagai penghias. “Untuk keberuntungan”, ucap sang penjahit, diikuti oleh senyuman. “Terima kasih”, balasku, bukan pada pemberiannya, sebab saya tidak percaya yang begitu-begituan, melainkan karena sikapnya yang ramah.

Sesampainya di penginapan, saya sempatkan main di balkoni, tepat di atas kamarku. Dari sini pemandangan dapat dinikmati 360o. Tampak jalan utama serta jalur menanjak-menguras-tenaga yang tadi kulalui menuju hotel. Di kejauhan berdiri menara bebatuan raksasa yang bagian dalamnya berupa rumah kuno, sebagian besar masih digunakan, sedang yang lain kemungkinan telah menjadi kenangan. Bukit batu besar yang berdiri tepat di belakang Kayataş terlihat kuat dan kokoh, dimana di bagian puncaknya beberapa orang berdiri sambil memegang kamera untuk mengabadikan gambar dari ketinggian.

Saya langsung banting badan di atas kasur saat memasuki kamar. Tur keliling di bawah sana tidak terlalu lama, tapi rasanya melelahkan sekali. Saya kemudian berusaha untuk tidur, tapi hawa dingin selalu menemukan cara membuatku tetap terjaga. Keran mesin penghangat sudah diputar sampai mentok, bahkan sampai panggil karyawan hotel untuk membereskan masalah, tapi kamar masih saja terasa menggigilkan. Oke, tak ada pilihan lain. Saya tarik bantal dan selimut, lalu merebahkan badan di atas karpet, tepat di depan mesin penghangat.

Mari tidur.

2 responses to “15. Mari Tidur

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s