11. Sebuah Simbol

Hari Ketiga (3/18)

“Maaf bapak. Tolong antri, ya! Saya datang duluan!” bentakku sambil tahan-tahan emosi kepada dua orang pria dewasa tidak tahu aturan. Saat itu saya, dan kami semua yang berdiri di depan loket layanan penumpang Lion Air Bandara Sentani Jayapura, hendak menunjukan kode tiket untuk kemudian dicetak oleh sang petugas. Saya sudah mengesampingkan kesan ‘anak muda sopan’, karena perilaku memalukan bapak-bapak itu sangat tidak bisa saya toleransi. Bagaimana mungkin sebagai orang dewasa yang seharusnya mencontohkan sikap ‘ayo budayakan mengantri’ malah ditegur yang lebih muda karena tidak mengindahkan peraturan. Tanganku langsung menyingkirkan beberapa kertas bertulis kode dari lubang kecil penghubung kami dengan sang petugas di balik dinding kaca, kemudian menaruh milikku sendiri. Tak ada yang berani membantah saat itu, mungkin karena sudah terlanjur malu. Segera setelah mendapat tiket, saya langsung berlalu meninggalkan loket.

Diakui atau tidak, kebanyakan orang Indonesia memang memiliki masalah dengan yang namanya mengantri. Mungkin saking takutnya kehabisan barang, atau pengen cepat-cepat. Padahal bangsa kita terkenal dengan jargon “pelan-pelan asal selamat”. Tengok saja penumpang pesawat yang berlomba-lomba memasuki kabin, kayak yang khawatir kehabisan tempat. Itu pun masih sering salah duduk, padahal nomor bangku sudah tercetak jelas di kartu bording. Semua berebutan ingin jadi yang terdepan, walau itu harus berdesak-desakan, dorong-dorongan. Tak perlu ikut aturan, karena orang yang taat itu tidak keren. Rasanya sistem pendidikan dini di Indonesia harus diubah; tak apa lah lupa buat PR, tak masalah juga tetap bego walau sudah diajari materi yang sama belasan kali, yang penting anak-anak tahu bagaimana mengantri, menyeberang jalan melalui zebrakros, dan buang sampah pada tempatnya. Kebodohan kan bisa diubah, sedang perilaku membangkang aturan bisa memfosil di otak, layaknya kasus bapak-bapak yang tadi saya bentak.

Dan tampaknya di sore hari yang cerah nan dingin ini, tidak ada satupun orang yang pantas untuk dibentak. Antrian panjang menuju loket karcis masuk Aya Sofya tampak netral dari “pembuat jalur baru”. Padahal waktu yang tersisa bagi pengunjung hanya tinggal 1 jam untuk menikmati keindahan bangunan sarat sejarah ini. Antrian pun berjalan lancar karena tidak ada yang saling sikut. Sampai tiba giliranku, seorang petugas wanita melayani dengan cekatan karena barisan pengunjung masih sangat mengular. Setelah menyerahkan 30 Lira, sang petugas pun menyerahkan tiket.

Saat memandang Aya Sofya dari dekat, ukurannya seperti mengembang 3 kali lipat. Padahal kala pertama melihatnya, tampak seperti bangunan biasa. Dindingnya yang terbuat dari bata serta bahan lainnya menciptakan kesan kasar—terutama bagian kaki bangunan—tapi dilembutkan oleh warna merah bata yang kalem. Puluhan jendela besar menghiasi tiap sisi—dibingkai dengan kerangka kotak berwarna putih. Layaknya Masjid Biru, terdapat juga kubah-kubah yang bertumpuk, mulai dari yang raksasa di puncak, hingga mengecil di bagian bawah. Dan di tiap sudut menjulang empat minaret raksasa, berdiri layaknya menara pengawas istana.

Kala melewati gerbang masuk, saya disambut oleh ruangan yang mungkin saja berfungsi sebagai teras. Mirip sebuah koridor beratap tinggi, dimana sisi-sisinya terpampang papan informasi tua tentang Aya Sofya, beberapa sarkofagus, serta tablet batu berukir huruf-huruf kuno. Beberapa lampu gantung berbentuk unik bergelayut dari langit-langit yang berwarna keemasan. Cahayanya yang kekuningan tak benar-benar mampu menerangi ruangan, kalah oleh semburat sinar matahari yang menembus kaca jendela. Di salah satu sudut koridor terdapat rak yang berpendar cerah, memamerkan beberapa peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Aya Sofya serta fungsinya di masa lalu.

Dihadapanku terdapat beberapa gerbang masuk yang tak henti dilalui pengunjung. Saya pun melewati salah satunya, yang kemudian membawaku ke ruangan sungguh luas yang merupakan hall utama. Segalanya tampak sangat dahsyat di dalam sini: pilar, atap, lantai, lukisan, ukiran, semuanya. Saya sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkap betapa indahnya apa yang terpampang di sekelilingku. Semburat warna keemasan memenuhi seluruh atap yang dihiasi oleh lukisan ornamen serta sayap malaikat. Lampu gantung yang berkilauan tampak serasi dengan bias cahaya mentari dari tiap jendela di dinding. Belasan pilar berdiri kokoh di sisi kiri dan kanan, yang mana ujung atasnya disambung oleh lengkungan bergaris hitam-putih ala Mesir. Lantai mewahnya yang terbuat dari marmer kelabu menjalarkan rasa dingin, menembus alas sepatuku.

Sambil memotret, saya terus melangkah hingga mencapai sisi paling depan, dimana di atasku tertambat kaligrafi yang ditulis pada dua buah lingkaran raksasa: Allah SWT dan Muhammad SAW. Di antaranya terdapat ruang cembung berhias deretan jendela berkaca patri yang diatur secara simetris. Dan tepat dipuncaknya, terlukis potret seluruh tubuh bunda Maria dan Yesus yang masih anak-anak—persis seperti yang kulihat di film 99 Cahaya di Langit Eropa. Sungguh bergetar rasanya menyaksikan sendiri betapa Islam mengagungkan perdamaian di muka bumi. Bahkan lukisan yang ditujukan untuk dekorasi gereja katolik, yang merupakan fungsi Aya Sofya di masa lalu, tidak dihancurkan maupun diubah. Padahal letaknya persis di atas tempat imam memimpin shalat, di antara kaligrafi-kaligrafi indah tersebut.

Saya kemudian melanjutkan tur ke ruangan tambahan di balik barisan pilar di sisi kanan. Kala berjalan di area yang dingin ini, seketika terbayang seperti apa Aya Sofya di masa lalu. Saat masih menjadi tempat berdoa para umat Katolik Roma di bawah pimpinan Konstantin. Betapa hebat dan mahsyurnya masa itu sampai mereka dapat mendirikan bangunan semegah ini. Kemudian ketika diambil alih oleh pasukan kekhalifaan, dan dijadikan masjid. Rasanya bisa kulihat para jamaah berbondong-bondong melangkah melewati gerbang masuk kala adzan berkumandang, kemudian berlomba mengambil tempat di saf paling depan untuk kemudian tenggelam dalam kekhusuyukan shalat. Sayangnya sekarang Aya Sofya telah dijadikan museum; keputusan yang menurutku terlalu ekstrim dan salah, apapun alasannya.

Saya melewati beberapa ruangan yang dibatasi oleh pintu berukir rumit berwarna keemasan, tak tahu apa fungsi kamar-kamar tersebut. Terus berjalan hingga kembali ke teras luar, tepat di ujung kanan koridor dari arah gerbang masuk. Sayap sisi kiri sebenarnya hanya perpanjangan dari ruangan utama, layaknya sisi kanan yang tadi saya lewati. Namun karena beberapa bagian interior sedang direhab, dinding kayu pembatas area renovasi pun memisahkan keduanya. Jadinya saya harus memutar jauh melalui teras, sambil berlari-lari kecil karena dari informasi yang menggema di ruangan, Aya Sofya akan segera ditutup.

Tak banyak yang bisa dilihat di sisi kiri ruangan selain kayu-kayu penopang renovasi serta dinding tripleks. Di ujung depan ada tangga di balik pintu yang akan membawa pengunjung ke lantai 2, tapi karena sudah ada instruksi penutupan, sang petugas pun melarang menaiki tangga. Saya akhirnya memutar balik ke teras, tapi kemudian memutuskan untuk bergabung dalam antrian yang mengarah pada sebuah pilar. Dari curi-curi pandang dan dengar, katanya ada lubang kecil di sana. Dan kalau berhasil memutar telapak tangan 360o searah jarum jam, dengan jempol berada di dalam lubang sebagai poros, keinginan kita akan terkabul. Terdengar tidak masuk akal tentunya. Tapi apa lah terserah, saya cuma mau ikut meramaikan.

Satu persatu wisatawan melakukan ritual mewujudnyatakan impian tersebut. Dengan semangat, bahkan sampai pelintir-pelintir lengan, mereka berusaha memutar telapak tangan satu lingkaran sempurna. Bahkan ada yang sampai coba dua kali—mungkin dia bermaksud mengabulkan 100 keinginan. Tapi ada juga yang sepertinya membawa visi-misi yang sama denganku: ikutan ramai. Mereka tertawa-tawa karena tidak berhasil memutar tangan secara penuh. Saat tiba giliran, saya pun mendekati pilar dan memperhatikan sesaat area di tepi lubang yang tampak sangat licin karena terlalu sering dipakai tradisi aneh ini. Setelah jempol dimasukkan, saya kemudian memutar telapak tangan sampai lenganku terpelintir. Berhasil? Tentu saja. Bahkan rasanya jari-jariku yang panjang membuat putaranku mencapai 1 seperempat lingkaran. Ada keajaiban? Tidak, selain tampak seperti orang bodoh.

Tepat di atas lorong menuju gerbang keluar, ada mozaik lukisan yang menceritakan kisah sejarah kota ini secara singkat. Di sisi kanan berdiri Kaisar Konstantin, sang pendiri Konstantinopel (Istambul kuno), memegang model kota. Di sebelah kiri ada Kaisar Justinian, memegang model bangunan Aya Sofya. Sedang di tengah, berdiri Bunda Maria dan Yesus, persis seperti lukisan di ruang utama. Keempatnya selalu berada di sana, menjadi saksi bisu sejarah peradaban, dari sejak pertama kali bangunan ini didirikan. Silih berganti berada di bawah kepemimpinan dengan latar budaya dan agama yang berbeda, tak jua menyentuh mereka dengan perubahan berarti.

Mungkin ini lah tujuan dipertahankannya Aya Sofya dari zaman ke zaman, beserta seluruh ornamen-ornamen keagamaan yang kontras satu sama lain. Bahwa didirikannya bangunan ini bukan hanya untuk memenuhi tugas utamanya sebagai rumah ibadah, gereja maupun masjid, juga tak saja untuk dinikmati keindahan dan kemegahannya. Tetapi sebagai simbol perdamaian yang abadi, bagi siapapun yang menghargai sejarah.

Dan tiap-tiap manusia. DSC_0732

11 responses to “11. Sebuah Simbol

  1. Semoga doa yang dipanjatkan di sana terkabul ya :hehe. Aya Sofya adalah sebuah bangunan yang megah, megah sekali dan berkarisma. Terima kasih sudah membawa saya mengintip sedikit apa yang ada di dalamnya, ini cantik dan saya membacanya dalam ketakjuban yang sangat. Mudah-mudahan semua pengalaman dalam perjalanan ini memperkaya baik yang menulis dan yang membacanya ya :amin.

    • Saya pas menulis saja masih merasakan takjub, seperti ditarik kembali ke sana dan mencoba untuk menggambarkan tiap keindahannya. Ya, saya juga berharap yang sama, semoga jurnal ini bisa memperkaya pengatahuan pembaca. Dan, ngomong2, jujur nih, saya ga berharap apa2 pas ikutan ritual itu🙂🙂

      • Yep, memang itu berarti tempat itu sangat berkesan ya sehingga gaungnya seolah terus terdengar sampai saat ini. Amin, ini memang sangat memperkaya :hehe. Dan memang, kadang kita tidak usah berharap ketika melakukan sesuatu, cukup dilakukan dengan sebaik mungkin dan Tuhan pasti akan memberi hasil terbaik atas apa yang sudah kita lakukan.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s