10. Tolok Ukur

Hari Ketiga (3/18)

Dari semua kota yang pernah saya kunjungi di Indonesia, mungkin Bogor adalah yang paling terhijau. Tidak hanya karena berbaris-baris pohon raksasa yang berdiri di sepanjang jalan Padjajaran, tapi juga akibat ribuan angkotnya yang hijau terang. Sebagai transportasi andalan masyarakat setempat, termasuk bagiku kala masih tinggal di sana, angkot adalah sesuatu yang ironi; dicintai sekaligus dibenci. Dengan jangkauan treknya yang luas, tentu saja kemana-mana jadi mudah dan murah. Tapi penyakit ngetemnya itu yang bikin dongkol. Biar kata 4 tahun tinggal di sana, saya tidak pernah benar-benar terbiasa dengan hal tersebut.

Para supir punya trik tersendiri untuk menggaet penumpang kala sedang ngetem; beberapa temannya ramai-ramai duduk dalam angkot, seakan-akan sudah hampir penuh dan siap untuk diberangkatkan. Tapi pas ada yang hendak naik, langsung mereka kompak turun. Penumpang pun terkelabui. Karena sering tertipu, saya akhirnya melakukan aksi balas dendam dengan menciptakan sebuah permainan. Cara mainnya: saat calo angkot sudah panggil-panggil, saya pura-pura jalan mendekati mobil sambil melihat dalam angkot seakan-akan mau naik. Pas sudah sampai di depan pintu, dan supirnya sudah tengak-tengok tersenyum lebar, langsung saya putar arah sambil bilang “oops, salah angkot”. Rasakan itu!

Sejak saat itu, saya jadi ketagihan membuat permainan-permainan konyol lainnya. Salah satunya saya lakukan saat sedang transit 4 jam di HatYai, Thailand, sebelum bus selanjutnya menjemput menuju Kuala Lumpur. Saya, yang bosan duduk sendirian di kantor agen perjalanan, memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota. Berbekal peta, saya kunjungi beberapa tempat menarik serta beberapa mal. Dan di salah satu pusat perbelanjaan itu lah saya lancarkan aksi. Muka orang Indonesia yang mirip orang Thailand membuat mereka berpikir saya orang lokal. Jadi lah saya pura-pura lihat baju dan barang dagangan lainnya dengan mimik tertarik, sampai sang pramuniaga datang dan mulai menawarkan bantuan. Saya cuma ngangguk-ngangguk saja mendengarnya. Kutunggu sampai dia sudah banyak bicara baru saya bilang “Sorry, I don’t speak Thai”. Hehehe, iseng memang. Tapi menyenangkan.

Permainan terbaru yang sejatinya sedang saya lakoni saat ini tidak bisa dibilang 100% menyenangkan. Total sudah 2 setengah hari saya mainkan, tepatnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Istambul, atau lebih tepatnya lagi ketika saya menyadari betapa luar biasa indahnya paras orang Turki, baik itu lelaki maupun perempuan, tua maupun muda. Yang naik tram, yang duduk di bangku taman, yang baru pulang kantor, sampai yang jualan kaos kaki, semuanya enak dipandang mata. Bahkan para bintang iklan dan artis sinetron semalam yang saya tonton sebelum tidur, mukanya tidak beda jauh dengan pejalan kaki di trotoar Besiktaş.

Seumur hidup saya belum pernah merasa diri sejelek dan setidak menarik ini. Saya sebenarnya termasuk pede dengan tampangku; walau tidak bisa dikategorikan ganteng, saya juga yakin tidak jelek-jelek amat. Tapi saat bersisian dengan pria-pria bersuara berat plus janggut maskulin yang lebat itu langsung membuatku banting harga. Rasanya seperti bebek liar di tengah-tengah angsa berbulu putih. Untungnya, tinggi badanku yang mencapai 180cm—ukuran yang termasuk jangkung untuk orang Indonesia—menyelamatkanku. Jadinya saya tidak benar-benar tenggelam dalam lautan manusia penuh pesona ini.

Itu baru yang lelaki, belum perempuannya yang nyaris cantik semua. Dengan pupil mata berwarna cokelat terang, rambut ikal panjang, kulit putih bersih, serta hidung mancung runcing yang bisa dipakai potong sayur, rasanya mereka tidak punya tandingan. Mungkin akibat invasi di masa lalu, dan atau letak negara yang unik berada di antara dua benua, wajah mereka seperti paduan antara Arab dan Eropa. Bayangkan, dua ras berbeda ini saja sudah cakep-cakep turunannya, apalagi kalau digabung. Tercipta lah manusia Turki modern dengan segala kebagusannya.

Mataku tak lelah menyisir sekitar selagi melangkah meninggalkan masjid yang sudah mulai ramai kembali oleh wisatawan. Yang kucari bukan lah penjual jagung semalam, tapi orang jelek. Yap, ini lah permainan yang sedang kujalani; mencari manusia tak beruntung berwajah pas-pasan. Tujuannya: satu, untuk membuktikan bahwa tidak semua orang Turki itu berparas indah; dua, biar saya tidak jelek sendirian. Nyatanya, seperti yang kubilang tadi, permainan ini tidak 100% menyenangkan karena mencari sasarannya seperti mencoba membedakan nyamuk jantan dan betina. Dari 100 sampel yang lewat, yang jelek cuma 1 atau 2 orang. Itu pun rasanya masih masuk kategori lumayan.

Di pelataran taman luas ini, dimana kemarin sore saya bertemu dengan pria-pria Iraq misterius, suasananya ramai sekali. Mungkin karena hari Jumat, dan cuaca sedang bagus-bagusnya. Tapi, hal tersebut malah membuat ‘permainanku’ jauh lebih sulit dan menantang karena harus lihai membedakan mana orang Turki dan mana yang turis. Alhasil kegiatan konyol ini membuatku tidak benar-benar menikmati pemandangan dua tugu besar bersejarah yang berdiri di salah satu ujung pelataran. Sepertinya tugu-tugu tersebut dibangun oleh dua kebudayaan berbeda, walau sama-sama berbentuk segiempat menjulang yang di atasnya meruncing. Dinding salah satu tugu tercetak huruf hieroglif—sudah pasti hasil karya orang Mesir kuno. Sedang yang satu lagi berdinding batu kotak yang ditata layaknya jalan berpaving. Entah didirikan bangsa mana.

Di tengah pelataran, tampak beberapa anak kecil bermain bersama belasan merpati. Burung-burung kelabu itu berterbangan seraya dikejar oleh langkah kaki yang berderap semangat. Sayap mereka yang memukul udara menciptakan suara kepakan di antara riuh wisatawan. Saya sampai terhenti sejenak untuk melihat betapa riangnya gadis-gadis kecil itu bermain, kemudian kembali melangkah menuju sebuah kedai kebab tak jauh dari situ. “Apa beda ini dengan yang itu?” tanyaku pada sang pramusaji sambil menunjuk gambar makanan di menu. “Yang ini sudah terjual habis, sedang yang satu lagi isinya daging” jawabnya, tangannya sigap melipat-lipat roti. “Rasa dagingnya istimewa” sahut seorang perempuan yang berdiri tepat di sampingku. Saya tersenyum padanya lalu memesan roti isi daging tersebut.

Setelah membayar, saya pun menikmati penganan khas yang rasanya memang seistimewa yang dijanjikan. Dominasi rasa asin roti berpadu lezat dengan sensasi pedas daging tipis kemerahan. Seraya mulut mengunyah, saya mengambil jalan berputar, melewati sisi lain pelataran yang bersisian dengan Aya Sofya. Lebih banyak orang di sini, mucul berbondong-bondong dari ambang gerbang kuno yang masih berdiri kokoh. Di sisi kiri terdapat banyak kios oleh-oleh dengan berbagai baju, karpet, serta keramik-keramik indah memenuhi depan toko. Saya hanya berdiri sambil memperhatikan beberapa turis membeli buah tangan. Tapi lama-lama tenggorokan tercekat juga karena keasinan, dan jadi susah menelan. Saya pun membeli air sebotol, lalu melangkah kembali ke pelataran.

Di salah satu sudut ada toilet portabel yang sepertinya sudah dijadikan bangunan semi permanen, Tampilannya yang modern terlihat cukup kontras dengan gedung tua di sampingnya. Setelah memasukkan sekoin Lira ke dalam pintu otomatis, saya langsung masuk ke salah satu bilik. Saat mencuci tangan dan memandang refleksi di cermin, tiba-tiba beberapa pertanyaan muncul begitu saja, kalau memang rata-rata pria dan wanita Turki berparas indah semua, terus apa tolok ukurnya dalam menjalin sebuah hubungan? Apa yang dapat membuat mereka jatuh cinta kalau taraf ketampanan dan kecantikannya saja hampir sama? Bukankah seyogyanya anak manusia cenderung lebih memilih yang enak dipandang mata? Lah ini, cakep semua. Lantas, apa yang menjadi bahan pertimbangan?

Saya sadar ini sama sekali bukan urusanku. Toh bukan saya yang jatuh cinta dengan orang Turki. Tapi kenyataan ini benar-benar menarik, mengingat di negara sendiri ‘tampang adalah segalanya’. Ada perbedaan kontras antara si tampan dan si jelek. Yang bagus rupanya, sudah pasti gampang dapat gandengan. Sedang yang jelek, harus kerja ekstra keras, dan seminimal mungkin punya motor biar jadi semacam jaminan. Saya yakin sebagian besar orang Indonesia setuju dengan persepsi ini, sehingga dalam hubungan percintaan, jelas tolok ukurnya apa. Walaupun dewasa ini berkembang konsep ‘ganteng/cantik dari dalam’, tetap saja ‘tampang yang jualan’.

Sekeluarnya dari toilet, saya pun mengambil tempat di sebuah pot raksasa yang juga berfungsi sebagai bangku taman. Di tengahnya ditumbuhi bunga tulip berbagai macam warna; kuning, merah jambu, dan peach. Semuanya tampak indah dan luar biasa. Bunga ini bagaikan lahir dari sebuah kejaiban—walaupun sensasi itu sepertinya hanya dirasakan oleh wisatawan. Tidak untuk orang lokal. Mungkin bagi mereka kuncup-kuncup tulip beraneka warna itu telah menjadi hal yang biasa, yang sudah lumrah dinikmati di musim semi. Tak ada lagi yang istimewa dengan tampilannya. Namun, di balik itu semua, ada rasa memiliki, sayang, serta bangga akan bunga nasional ini yang selalu hadir di hati rakyat Turki. Sesuatu yang membuatnya berbeda dan menonjol ketimbang bunga lainnya.

Itu jawabannya, kataku, lebih kepada diri sendiri. Wajah-wajah rupawan itu bukan lagi hal yang istimewa, yang akhirnya menjadi biasa karena semuanya tampak serupa dan setara. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat masing-masing dari mereka berbeda, tidak sama, dan unik. Seketika terbayang kembali dua sejoli yang saling menggoda di taman dekat stasiun bus Kabataş, hingga ratusan pasangan lain yang memancarkan energi kasih dimanapun mereka berada. Mesra, itu lah kelebihan yang mereka punya, yang menjadi suatu nilai mutlak untuk menjalin sebuah hubungan. Tampak dari bagaimana suami wanita-wanita tua renta itu memegang tangan mereka, mengelus rambut mereka, serta memandangi mereka dengan tatapan penuh arti.

Sungguh romantis.

18 responses to “10. Tolok Ukur

  1. Yang Perempuan Turki emang cantik2, khas gitu wajahnya, tp yg laki-lakinya ko di mata teteh mah biasa saja tuuh… Hahaa
    Fier jalan-jalan ngga ngajak-ngajaaaak…!!! huuh

  2. Mungkin jika orang Turki jalan-jalan di Indonesia akan berpikir hal yg sama: koq orang Indonesia cakep-cakep yah..😀 Ini kejadian di suamiku yg orang Australia, katanya gampang banget nemu perempuan cantik di tanah Sunda (cantik versi dia tentunya, yg menurut pria Sunda mungkin biasa aja).

  3. Belajar tentang hakikat cinta sampai ke Aya Sofya ya Kak, sumpah keren sekali, terutama kontemplasinya yang ada di sini :hehe. Iya, memang wajah mereka-mereka sangatlah rupawan tapi cinta kan tidak melulu soal tampang. Dan menurut saya sih selera orang berbeda-beda jadi apa yang kita katakan rupawan belum tentu menarik bagi orang yang lain, bisa jadi apa yang menurut kita biasa, bagi seseorang di sudut dunia ini adalah ganteng banget :hehe. Yah, jodoh sudah diatur sama Yang Di Atas jadi kita tak perlu khawatir tidak kebagian kan :hehe.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s