9. Kubah, Pilar, Menara

Hari Ketiga (3/18)

Saat masih SMA dulu, saat masih zaman-zaman labil tanpa pendirian tetap, saya paling malas yang namanya shalat Jumat. Mungkin ini aib terbesar seorang pria yang tidak mungkin diceritakan pada sahabat terdekat sekalipun. Sangat memalukan. Dan sebisa mungkin berbohong saja kalau ditanya shalat atau tidak. Hampir tiap Jumat saya lewati dengan bersembunyi dalam rumah, yang penting tidak ada orang yang lihat. Pernah sekali saya sampai ditarik-tarik sambil dinasehati oleh saudara yang peduli dengan dosaku, tapi saya keukeuh malas ke masjid. Saat itu sebenarya bukan karena benar-benar tidak mau, tapi saya sudah kudung malu, takut dilihat tetangga lain dengan pandangan menuduh mereka “ini setan kok tiba-tiba dapat hidayah mau ke masjid?”. Dan bodohnya saya memilih tetap menjadi setan. Setidaknya teman-teman di sekolah tidak tahu, pikirku.

Saya baru mulai sadar saat pindah kuliah di Bogor. Saat itu saya pikir, orang-orang di sana tidak mengenalku. Jadi tidak akan ada pandangan menohok itu kala melangkah ke masjid nanti. Jadi lah tiap

Jumat saya memaksa diri ke masjid. Kadang malas melanda, tapi saya sudah bertekad untuk berubah. Memang pada awalnya terasa seperti beban, tapi lama-kelamaan keadaan berbalik 180o. Yang dulunya malu dikata orang sok alim, sekarang malah malu—semalu-malunya—kalau sampai tidak shalat. Bahkan terkadang saya heran lihat pria-pria yang masih asyik jualan atau merokok di tepi jalan, padahal azan sudah berkumandang. Mudah-mudahan mereka juga cepat sadar, sebelum disadarkan, amin.

Banyak pengalaman unik yang berhubungan dengan jumatan kalau hendak diceritakan. Pernah sekali saya lupa total saat itu hari Jumat; saya santai-santai di rumah padahal yang lain sedang mendengar ceramah. Baru sadar saat ayah pulang dan bilang “kenapa tidak jumatan?”. Di masjid universitas dulu juga berulang kali harus shalat di samping tempat wudhu yang berlantai basah dan bau karena ruang shalat kepenuhan. Belum lagi malunya tak terkira kala datang terlambat saat khatib sudah masuk ke ceramah kedua; semua mata tertuju padaku sampai rasanya pengen ditelan tanah saja. Yang paling berkesan adalah saat shalat Jumat di masjidnya orang Tamil di Little India, Singapura. Saya benar-benar salah pilih masjid karena hampir semua yang shalat adalah keturunan India, dan ceramah yang dibawakan pun dalam bahasa mereka. Jadinya saya cuma celingak-celinguk pura-pura mengerti.

Tapi dari kesemua itu tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman jumatan di Masjid Sultanahmed, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Biru. Mulai dari air wudhunya yang ngalah-ngalahin air es di tengah siang bolong, sampai penuhnya orang-orang dalam wujud Arab dan Turki yang duduk dalam saf-saf rapi. Yang lebih mencengangkan lagi adalah durasinya. Biasanya di Indonesia hanya 45 menit, paling lama 60 menit lah. Ini saya sudah duduk lebih dari 1 jam tapi kayaknya sang khatib yang bersongkok putih masih semangat memberi khotbah. Ceramah panjang lebarnya yang berbahasa Turki bergema di seluruh ruangan. Ada satu sesi dimana seseorang naik ke semacam mimbar tinggi beratap runcing layaknya menara istana, lalu membaca secarik kertas yang sepertinya ringkasan ceramah tersebut—kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Inggris agar jamaah internasional dapat mengerti.

Walau duduk bercampur baur, jamaah lokal dan internasional gampang sekali dibedakan. Untuk orang Turki orijinal, mereka duduk diam mengkhayati isi ceramah. Sedang yang turis, walau juga duduk diam, tangan mereka sigap memegang kamera untuk foto-foto isi masjid, termasuk memotret sang khatib. Ya, seperti saya, yang cuma berhasil dapat 2 potret. Sebenarnya kalau tidak salah sudah ada larangan foto-foto saat sedang beribadah, tapi sepertinya banyak yang tidak patuh. Lagipula orang lokal yang lihat juga cuek-cuek saja. Dan mungkin saja petugasnya sedang khusyuk dengar ceramah.

Kebanyakan dari kami duduk bersimpuh, bersisian dengan sepatu pribadi yang terbungkus kantong plastik putih. Rak yang disediakan tidak mampu menampung ribuan pasang alas kaki. Jadinya kami harus membawanya ke tempat shalat. Untunglah di dekatku ada semacam pembatas saf dari kayu, yang di bawahnya ada ruang kosong sehingga kami bisa meletakkan sepatu di sana. Kan tidak lucu sujud harus terganggu dengan aroma khas kaki. Dan lagi kalau tadi nekad taruh sepatu bersama ribuan pasang lainnya, kemungkinan besar hilang bisa mencapai 90%. Bukan karena dicolong, tapi takutnya tercecer, tertendang, atau lebih parah lagi tanpa sengaja terpakai orang lain yang tidak bisa membedakan mana sepatunya, mana bukan.

Tepat jam 2 lewat sedikit shalat jumat pun berakhir. Tadi hampir saja saya buat sensasi di negeri orang. Berbekal pengalaman shalat semalam di masjid yang sama, saya sudah mewanti-wanti diri untuk tidak melakukan hal yang terhitung wajar di kampung sendiri, namun tidak di sini. Saat imam dengan suaranya yang luar biasa indah hampir selesai membaca surah Al-Fatihah, saya sudah tarik napas dan ancang-ancang berkata “amin”. Tapi saat suara hendak keluar dengan sepenuh hati, tak terdengar satu pun jamaah yang mengaminkan surah dengan lantang. Hanya berupa bisikan teredam yang menjalar di udara. Suaraku langsung tercekat, kemudian mengikuti yang lain mengaminkan dengan cara yang sama. Fiuh! Hampir saja. Sungguh saya tidak sanggup membayangkan reaksi jamaah lain kalau saja hal itu benar-benar terjadi.

Saya memutuskan untuk tidak ikut keluar bersama yang lain, melainkan sengaja menunggu ruangan lebih plong agar bisa leluasa ambil foto. Dekorasi masjid ini sangat fantastis baik di luar maupun dalam. Dan semesta pun setuju bahwa akan sangat merugikan jika sampai melewatkannya dalam sesi dokumentasi. Kubah-kubah yang tampak menonjol di luar meninggalkan banyak ruang di langit-langit—hampir tiap incinya diberi lukisan bunga dan bentuk-bentuk indah tak teridentifikasi yang didominasi warna biru dan merah. Tiap sisi dinding ruangan yang ditopang oleh pilar-pilar raksasa juga tak luput dari lukisan serta ukiran kaligrafi, baik sudut maupun celah lekukan. Kaca-kaca patri berwarna-warni pun makin memeriahkan. Belum lagi karpet merahnya yang berlukis 3 macam bunga, dimana salah satunya adalah tulip. Rasanya tidak ada satupun bagian masjid yang lepas dari sentuhan seni tingkat tinggi.

Seluruh ruangan diterangi oleh cahaya lampu yang tergantung tak jauh dari kepala; kira-kira hanya berjarak 4 meter dari lantai. Ratusan bohlamnya berbentuk unik, dengan cahaya kuning cerah yang menciptakan kesan hangat dan tenang. Rangkaian besi tempat lampu terpasang ditambat pada puluhan tali yang pangkalnya ada di langit-langit; tampak seperti akar pohon yang menembus dinding kubah di atas sana. Ada sebuah paviliun di tengah ruangan yang tingginya hampir sama dengan lampu gantung—berbentuk persegi dengan atap yang bisa dinaiki untuk dipakai shalat. Mungkin saja di masa lalu hanya petinggi-petinggi negara yang bisa naik dan shalat di atasnya.

Selain ruangan ini, kemungkinan besar masih ada ruangan-ruangan kecil lainnya dengan fungsi tertentu, mengingat bentuk masjid yang cukup ekstensif. Pun tepat di luar gerbang utama ada pelataran luas berbentuk persegi panjang yang masih termasuk bangunan utama; dipagari oleh dinding kokoh dengan atap belasan kubah dan bertopang puluhan pilar. Bagian bangunan lainnya, yang memiliki fungsi tak kalah penting, adalah 6 menara jangkung beratap runcing, menjulang dari tiap sudut serta sisi tengah masjid. Sepertinya dibuat dalam jumlah sekian biar tidak menyaingi Masjidil Haram di tanah suci yang memiliki 9 menara. Tak heran lah masjid ini dibangun untuk menandingi kemegahan Aya Sofya di seberang sana. Dengan semua keindahan, keluarbiasaan, sejarah, serta rahasia yang dimilikinya, sangat lah patut untuk dibanggakan. Rasanya tiap bangunan historis yang telah saya kunjungi sebelumnya langsung hilang pesonanya.

Terkalahkan oleh keagungan Masjid Biru.

8 responses to “9. Kubah, Pilar, Menara

  1. Saya kirain disana orang mengaminkan bacaan alfatihah sama kencangnya dengan di tanah air.
    Kalo sempat mengaminkan dengan suara kencang ya seperti dalam cerita Laskar Pelangi, hehe…

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s