7. Api Cinta

Hari Kedua (2/18)

Siapapun pasti tahu kisah cinta Jack dan Rose yang berakhir tragis dalam film Titanic. Perjalanan kasih asmara mereka yang sangat “panas” dan menggairahkan menjadi bukti kasih abadi, walaupun pada akhirnya mereka tak pernah bersama. Cinta yang menyatukan keduanya, pun yang memberaikan. Cinta seperti mempunyai kekuatan ajaib, yang hanya bisa dirasakan oleh para pecinta. Tak heran lah bang Jack, dengan cintanya yang luar biasa besar, bisa bertahan lumayan lama di dalam air, tepat di sisi Rose yang tertelengkup kedinginan di atas kayu, sesaat setelah kapal raksasa itu tenggelam. Padahal perairan tersebut pasti benar-benar dingin, sampai-sampai ada bongkahan es nangkring di situ. Apakah cinta memang “hangat” dan “menghangatkan”? Dalam arti sebenarnya? Buktinya pasangan di sekelilingku, entah itu muda-mudi maupun yang telah nikah, santai-santai saja melenggang layaknya hawa dingin cuma sekedar pelengkap siang hari. Sepertinya cinta mereka lumayan membara untuk menghangatkan badan. Kenyataan yang menyedihkan bagiku, karena ini berarti saya tidak punya cinta. Makanya tak henti-henti kedinginan.

Saya sedang berjalan ke arah ujung lain dermaga, mengikuti gerombolan turis yang baru saja tiba pulau. Mereka tampak bersemangat sekali. Dan hampir semuanya berpasangan. Kami melewati beberapa gedung berukuran sedang yang memenuhi area ini. Sepertinya kantor pejabat pelabuhan—kata-kata yang tertera di atas pintu masuk tidak dapat dimengerti. Beberapa sisi pagar pembatas tepi dermaga pun telah berkarat akibat terpaan angin laut yang bergaram. Namun, entah kenapa, malah mempercantik tampilannya. Layaknya sesuatu yang antik, yang akan hilang keindahannya kala dicat ulang. Apalagi di depan sana, sedikit menjorok ke laut, berdiri bangunan lainnya yang berarsitektur kuno, dengan kepala jendela melengkung serta atap kubah berwarna kelabu.

Semakin memasuki pulau, semakin ramai pula suasananya. Bangunan berkubah tadi ternyata adalah pasar kecil dengan beberapa toko pakaian dan cenderamata. Jalanan yang lebar dan lega membuat para turis melenggang santai sambil melihat barang pajangan yang berderet di depan pertokoan di tiap sisi jalan. Ada restoran, ada atraksi aneh, pedagang kaki lima, jasa penukar uang, bank, serta penginapan. Jalanan yang menanjak pun membawaku ke sebuah persimpangan, di mana di tengahnya berdiri sebuah menara jam berhias bulan bintang di ujung atas atapnya yang runcing. Di tiap sisi jamnya yang bulat besar terdapat lambang mata uang Dollar, Entah apa maksudnya. Padahal Lira punya lambang sendiri.

Walaupun banyak jalur dari persimpangan ini, saya memutuskan untuk jalan terus ke atas. Di pulau tetangga tampak sebuah bangunan besar mirip vila raja-raja tepat di puncak bukit, mungkin di sini juga ada. Lagipula, lingkungannya tampak tenang dan jauh dari bising kendaraan roda empat. Jadi bisa santai melangkah di tengah jalan yang bersih, sambil menikmati pepohonan tak berdaun yang berdiri di sisi trotoar. Beberapa tempat menyewakan sepeda untuk mengelilingi pulau; tersedia dalam berbagai warna dengan keranjang di depannya. Mungkin tiap penyewa akan dibekali peta biar tidak nyasar di pulau ini. Soalnya makin ditelusuri, makin banyak jalan yang bercabang. Lebih baik saya menyusuri tepi luar saja.

Pas lagi asyik-asyiknya menikmati pemandangan, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda layaknya filem koboi Texas. Dari kejauhan tampak seekor kuda berlari dengan kencangnya di tengah jalan raya—tanpa sang kusir. Gila! Ada kereta lepas. Seandainya latar belakangnya adalah dataran kering penuh bebatuan, adegan ini pasti tampak keren sekali, di mana sang kuda sedang ngos-ngosan melarikan diri karena mau disembelih tuannya. Setiap orang langsung kabur ke arah trotoar, tak terkecuali saya yang sebenarnya masih merasa takjub. Sang pemilik yang mengejar dari belakang berteriak-teriak karena tertinggal jauh. Kalau saja ada yang duduk di keretanya, pasti sudah menangis-nangis ketakutan sambil berpergang erat biar tidak terjungkal. Tiba-tiba tak jauh dariku, saat kereta kuda makin mendekat, sang pemberani muncul; ia berdiri di tengah jalan raya, melepaskan bajunya, lalu memutar-mutarkannya di udara sambil berteriak. Aksi nekadnya ternyata manjur. Laju kuda melambat hingga berhenti total. Semua orang pun bertepuk tangan.

Ternyata adegan sinematik tadi meninggalkan tragedi. Tak jauh dari arah datangnya sang kuda hitam, tampak beberapa orang tua berkumpul mengelilingi sepasang kekasih bermata sipit yang perempuannya menangis terseduh-seduh. Saya sebenarnya tidak tahu pasti apakah kisah sedih dihadapanku ini akibat terserempet kuda lepas kendali tadi. Yang pastinya sang perempuan tampak sangat traumatis, bercucuran air mata, dan lemah tak berdaya. Saking syoknya, sampai salah satu ibu-ibu di situ dipeluknya untuk mencari perlindungan. Kasihan juga. Tapi bagaimana saya hendak menolong, mengerti mereka bicara juga tidak. Saya cuma memperhatikan dari seberang, semoga dia baik-baik saja. Tak lama muncul mobil ambulans entah dari mana, langsung menangkut keduanya menuju rumah sakit terdekat.

Dari sini saya langsung belok kembali ke arah laut, mengambil langkah lebih pinggir karena tidak mau bernasib sial seperti mereka. Siapa tahu kuda lepas tadi masih merasa belum cukup bikin sensasi. Sepertinya saya sudah masuk wilayah perumahan karena tidak ada toko sama sekali, hanya sebuah penginapan kecil yang luar-dalamnya terbuat dari kayu cokelat. Sepanjang mata memandang rumah-rumah besar nan indah memagari jalan. Tak satupun jendela terbuka. Semuanya tertutup, tampak nyaris tak berpenghuni. Bahkan ada satu yang sudah lapuk siap roboh. Beberapa yang lain malah sedang dijual. Kalau ada uang, saya pengen beli satu. Tinggal pasang mesin pengontrol suhu ruangan, beli bahan makanan sebanyak-banyaknya, dan tak perlu keluar sampai bulan depan.

Sesampainya di tepi laut, saya duduk-duduk sebentar di talut batu yang ditata untuk menghalangi air laut menyambar bahu jalan. Angin memang masih dingin, tapi sinar matahari sudah lumayan menghangatkan. Di kananku berdiri dermaga khusus kapal-kapal kecil yang menjorok jauh ke arah laut. Tampak beberapa pelayar mengangkat barang ke atas kereta kuda yang berdiri diam di samping kapal. Sedang di kiriku berjejer restoran dan kafe keren yang sepertinya mahal; bangku-bangku dijejerkan tepat di tepi laut, meskipun tak ada satu pun yang diduduki. Kemungkinan besar pulau ini pasti padat saat musim panas. Bisa kubayangkan udara di sini dipenuhi tawa serta celotehan para pelancong sambil menikmati suguhan khas laut Mediterania.

Dalam perjalanan kembali ke dermaga, saya mampir beli jus jeruk. Tidak seperti di negara sendiri yang sari jeruknya cuma sejengkal terus ditambah gula dan air, di sini satu gelas bisa muat 4 buah yang diperas di mesin manual khusus, tanpa tambahan apapun. Pantas saja mahal. Yang lebih mencengangkan lagi adalah sayurannya. Tidak tahu mereka pakai pupuk apa dan pembasmi hama model bagaimana, yang pasti tomat, terong, zukini, kol, apapun itu, tampak mulus sempurna tanpa cacat. Tampilannya pun makin menarik dan mentereng karena masing-masing sayur ditaruh di dalam kotak dan ditata rapi berhias dedaunan. Saya pun beli tomat kecil setengah kilo untuk ngemil di feri nanti.

Sebelum ke kapal, saya mampir ke pasar untuk beli kupluk. Telingaku sudah tidak sanggup diterpa angin dingin yang menderu-deru. Setelah membeli tiket, saya langsung loncat ke atas feri, kemudian masuk ke ruangan dan mengambil tempat di tengah. Untung masih tersisa tempat walaupun sudah banyak orang. 10 menit kemudian, kapal bertolak meninggalkan pulau. Saya mulai menikmati tomat sambil menyeruput sari jeruk. Tak lama muncul lah seorang pria paruh baya berkepala plontos. Dia mulai bercerocos sambil menawarkan barang dagangannya, berupa pisau yang bisa memotong dalam berbagai pola, serta tongkat untuk kakek-nenek yang (kalau tidak salah) ada senter. Suara sang pedagang yang makin parau akhirnya terbayar saat beberapa penumpang membeli tongkat dwifungsi tersebut.

Makin ke tengah laut, ombak makin besar. Badan kapal dibuat ombang-ambing. Dan walaupun ruangan ini tertutup, terdengar jelas suara hempasan ombak saat menghantam feri. Saya sudah sering naik transportasi laut, dan sudah terbiasa dengannya. Tapi kalau sampai tenggelam di negara orang kan tidak lucu. Kalaupun kapal ini dilengkapi jaket pelampung untuk keselamatan, saya yakin tidak akan bertahan lama dalam perairan di luar sana. Bukan lautnya yang mematikan, tapi dinginnya.

Jadi teringat lagi adegan saat Jack sudah membeku di tepi kayu tempat Rose terbaring tak berdaya. Badannya yang telah membeku kemudian tenggelam ke dasar laut yang gelap gulita. Ya, kalau memang sore ini takdir saya akan berakhir, mudah-mudahan beberapa tahun ke depan badanku yang telah membeku akan ditemukan dan dihangatkan lagi, seperti Jack di filem Titanic yang dibuat ulang itu, tanganku seketika menampar pelan paha, ngeyel apa saya barusan, dasar konyol!

Semoga selamat hingga ke Kabataş, amin.

16 responses to “7. Api Cinta

  1. Sepertinya udara dingin di sana memang demikian menusuk dan menyiksa ya Kak. Tapi hebatnya air laut sana tidak membeku lho, padahal dinginnya sudah banget-banget *saya masih saja kagum :haha*. Dan, dirimu betulan ngemil tomat? Wow, kalau saya mah tidak pernah terpikirkan untuk mengemil itu :hihi. Bagaimana rasanya? Memang sih, dari sini tomat-tomat itu tampak sangat segar tapi untuk menjadikannya cemilan… saya kayaknya belum terbiasa :hoho.

    Amin, semoga sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Itu kota yang bersih, saya suka melihatnya! Memang yang paling epic adalah seorang pria yang membawa banyak roti di kepalanya itu :haha. OK, cerita selanjutnya sangat dinanti :hoho.

    • betul sekali, sangat menyiksa untuk orang-orang seperti kita yang terbiasa dengan iklim tropis. bahkan yang betah lama-lama di ruangan berAC juga ga bakalan suka cuaca dingin kayak gini. Serius saya ngemil tomat. enak lho. dulu sih cuma coba-coba, tapi lama-lama nikmat sendiri. rasanya kayak jambu air gitu lah. coba deh, pasti suka.😀😀😀
      pulau ini memang bersih dan rapi. betah sebenarnya lama-lama di sana, apalagi kalau cuacanya bagus. beuh! mantap lah.
      saya juga suka foto itu. tiap kali dilihat, macam ada rasa takut yang dikepalanya bakal jatuh berhamburan🙂🙂🙂

  2. Ini menyeberang dari Kabatas dari mana? Aku missed nama tempatnya kecuali disebut Kabatas karena foto tukang jus jeruk yang kece dengan jaket kulitnya😀 perginya bulan apa nih? rencana ke Tukey Maret tahun depan, pastinya juga dingin.

    • Dermaga ferinya berdekatan dengan terminal bus dan stasiun tram Kabataş. Samping-sampingan lah. Saya perginya awal April, awal musim semi. Kalau Maret sih masih masuk musim dingin. Sebisa mungkin bawa banyak jaket.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s