6. Frostbite

Hari Kedua (2/18)

Beberapa tahun lalu saat masih kuliah, saya sering kali mengunjungi Gramedia di Botany Square, Bogor—tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam. Kayaknya yang kerja di sana sudah hafal tampangku, secara hampir 4 kali seminggu rutin ke sana. Dan saya selalu menuju koridor yang sama; komik. Ini sebenarnya agak memalukan, tapi jujur saja, komik yang saya baca adalah Doraemon. Tiap seri yang ada di situ telah saya lahap semua ceritanya, padahal (lebih memalukan lagi) beli satu pun tidak. Dari sekian banyak yang dibaca, ada satu fragmen cerita yang tiba-tiba muncul di pikiranku saat ini; kala Nobita dkk bertandang ke planet setan. Di sana mereka harus melewati semacam daerah kutub. Untuk melawan suhu ekstrim, Doraemon mengeluarkan krim adaptasi yang dapat membuat pemakainya mampu menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan. Dengan kata lain, semakin dingin hawa, semakin hangat mereka. Seandainya krim itu benar-benar ada dan dijual bebas dipasaran¸ ratapku.

Ini kedua kalinya saya berfantasi tentang kartun menjadi kenyataan—mungkin bukan sengatan panas matahari saja yang bisa bikin orang ngeyel hingga berfatamorgana, hawa dingin juga mampu melakukan hal yang sama. Deru angin, hempasan ombak, serta kepakan bendera Turki di buritan memenuhi telingaku; saya masih terduduk di bangku kayu di anjungan. Berusaha menipu diri sendiri bahwa keadaan tidak lah sedingin yang dirasakan sama sekali tidak manjur. Pemandangan indah di luar sini pun tidak bisa dinikmati lagi. Saya akhirnya beranjak dan berjalan menuju lantai bawah. Mudah-mudahan saja di sana tidak terlalu banyak angin.

Sesampainya di bawah, tampak berberapa anak kecil masuk-keluar sepasang pintu kayu, tepat di bawah anjungan dan ruang nahkoda. Pintunya terbuat dari kayu tebal dan terasa berat kala dilayangkan. Saat memasuki ruangan tersebut, kehangatan seketika menyelimuti. Pun lebih riuh di dalam sini karena padatnya manusia memenuhi ruangan. Ternyata ke sini lah orang-orang kabur dari gigitan angin dingin di anjungan. Bodohnya saya tidak memperhatikan. Kalau tahu di kapal ada tempat sehangat dan senyaman ini, mending sejak di dermaga tadi saya langsung masuk. Toh, pemandangan juga kelihatan dari balik jendela riben di kedua sisi ruangan.

Sebagai manusia yang telat muncul, saya tak dapat tempat duduk karena tiap ruang telah diisi oleh tubuh tambun pelancong Timur Tengah dan Eropa. Hanya tersisa sedikit tempat di bangku kayu yang tampak kurang nyaman, tepat di dekat pintu keluar. Tak memiliki pilihan lain, saya pun duduk bersama dua bapak-bapak berkumis tebal. Sesekali ada orang resek, terutama anak-anak, lupa menutup pintu saat keluar. Jadinya angin leluasa bertiup dan bikin kaget, soalnya yang tadinya hangat tiba-tiba jadi dingin menggigil. Jadi ngerti kenapa tadi orang lain ogah duduk di sini.

Untuk sedikit menghangatkan badan, sekaligus tergiur oleh minuman yang dijajahkan di atas nampan, saya beli segelas minuman putih kental. Entah susu atau apa, yang penting rasanya manis dengan tekstur yang bikin nyangkut di tenggorokan. Lumayan lah, bisa menaikkan suhu badan, walaupun saya menyesal tidak beli segelas teh pekat saja. Saya minum sedikit-sedikit, karena perjalanan tampaknya tidak selemparan batu. Dan lagi panasnya bikin lidah saya menderita. Menggenggam gelas mungilnya yang hangat juga terasa nyaman di telapak tangan.

Entah berapa lama kemudian, saat saya masih dempet-dempetan dengan orang lain di bangku sempit ini, muncul ujung sebuah pulau dari balik jendela. Tampak kehijauan dengan pepohonan yang lebat. Makin lama, makin jelas terlihat ratusan bangunan cokelat yang menjamur dari bukit hingga pesisir pantai. Laju kapal makin melambat seraya mendekati dermaga. Saya pun beranjak keluar untuk melihat-lihat. Beberapa penumpang mulai beranjak turun, melangkah hati-hati karena kapal cukup bergoyang. Dari bisik-bisik tetangga yang terdengar, pulau ini bukan lah tujuan kami. Masih ada satu lagi di pemberhentian terakhir.

Tak lama kemudian feri kembali berlayar. Jarak yang tak seberapa antara pulau sebelumnya dan pulau tujuan membuat perjalanan tak terasa. Tahu-tahu kami sudah sandar di pelabuhan. Semua penumpang pun bersiap, lalu menuju tempat pelepasan di haluan. Ombak hari ini lumayan ganas, membuat kami seperti orang mabuk saat berjalan di atas kapal. Setelah melompat ke daratan, saya langsung menuju salah satu bangku taman. Tempat duduk dari kayu ini berbentuk unik, dengan dua buah roda gerobak zaman gladiator menempul di kedua ujung. Tampak belasan burung merpati abu-abu berterbangan serta berjalan di atas paving yang disusun rapi.

Karena sempat berlama-lama di ruangan hangat, rasanya makin dingin saja berada di luar sini. Membuatku enggan mengeluarkan tangan dari saku jaket. Duduk lama-lama di sini juga ga berguna, malah makin kedinginan. Saya pun membuang langkah menuju ujung dermaga. Beberapa kapal dengan warna dan bentuk nyaris sama—hanya satu berwarna biru tua yang mencolok—berjejer di tepi pelabuhan. Tali tambang tebal yang bergelayut tertambat di tiang besi dermaga. Seperti hewan peliharaan yang diikat biar tidak kabur terbawa arus dan ombak.

Dari ujung dermaga tampak pulau yang sebelumnya kami singgahi. Padahal saat di sana tadi rasanya pulaunya kecil saja, tapi ternyata besar dan luas sekali dari kejauhan. Dua bukit hijau menjulang, berkaki bangunan berwarna monoton, serta berlatar langit biru yang bersih. Saya baru sadar, sejak kemarin tiba, baru hari ini saya lihat hutan di Istambul—walaupun di lepas pantai dan bukan di daratan utama. Agak lebay mungin kedengarannya, tapi bagi orang Jayapura sepertiku, hutan adalah pemandangan sehari-hari. Jadi aneh saja jika hanya disuguhi tumpukan beton-semen.

Di belakang dermaga berdiri hotel-hotel berbentuk aneh; dengan konsep teras yang bertumpuk dari atas hingga bawah. Kalau yang bangunannya besar tampak keren-keren saja, tapi yang cuma sepenggal ukuran ruko Indonesia, terus disusun sampai beberapa tingkat ke atas, rasanya seperti lihat raksasa kurus sedang berpura-pura jadi tempat penginapan. Jalanannya lebih unik lagi, menanjak curam, belok-belok, seperti dipaksakan berada di sana. Masa iya ke sana lah atraksi utamanya? Pikirku keheranan. Saya pun mengalihkan pandangan ke secuil pantai berpasir putih yang sepertinya sudah lama ditinggalkan, tepat di sisi dermaga. Gulungan ombak menyapu pesisirnya, meninggalkan jejak air di atas pasir yang perlahan-lahan menghilang.

Laut di sini bersih sekali. Jernih, bening, serta berwarna hijau terang dan gelap, tergantung formasi karang di dasar pantai. Sama persis seperti laut di Jayapura. Rasanya pengen langsung nyebur. Saya pun bersusah payah menundukkan badan untuk menyentuh airnya. Saat hampir seluruh ruas jariku terendam air, saya langsung menariknya keluar. Saya tidak tahu apa itu frostbite, tapi sepertinya inilah yang disebut demikian; jariku tiba-tiba sakit seperti dihantam sesuatu dan langsung mati rasa. Buru-buru saya masukkan ke saku dan terus menggosok telapak tangan dengan jari. Boro-boro berenang, adanya saya bakalan beku. Ikan-ikan yang hidup di perairan ini pasti sudah benar-benar tahan banting, atau mungkin mereka menyelam ke wilayah yang lebih hangat ketimbang di permukaan. Entah lah. Saya langsung putar arah dan kembali ke arah taman.

Waktunya eksplorasi pulau.

10 responses to “6. Frostbite

  1. Dari deskripsimu, kayaknya yang diseberangi itu Selat Bosporus ya Kak? Hee… arus di sana sangat dingin ya, tapi lautnya seolah belum membeku?

    Keren! Saya selalu suka deskripsimu akan suatu tempat Kak, jadi seolah saya juga turut serta merasakan dinginnya laut di Turki, plus hangatnya susu yang dibeli di atas kapal (itu betulan susu?) dan, kaget yang terasa ketika ada orang yang tanpa sengaja membuka pintu dan membiarkan angin masuk ke dalam kapal. Ya, saya yang sering naik kapal feri kayaknya bisa merasa setengah dari terpaan angin di sana, dan itu memang membuat kaget, tapi kalau sudah terbiasa mungkin jadi nagih ya :haha.

    Oke, apa yang selanjutnya dieksplorasi di pulau itu?

    • Tepatnya hanya melewati, bukan menyeberangi. soalnya Princes’ Island adanya di laut Marmara. Iya, dingin sekali airnya, tapi tidak sampai jadi es karena belum mencapai titik beku. lagipula hanya lapisan tipis di permukaan air yang jadi es, bukan lautnya😀😀 ;D

      terima kasih ya dik pujiannya. menurutku itu adalah pujian tertinggi bagi seorang penulis karena bisa membuat pembacanya dapat merasakan persis layaknya pengalaman penulis. bahahahhaha, kalau saya ogah lah nagihnya. dingin begitu …bahahhahaha, kalau cuacanya panas gerontang sih oke saja ditiup angin dingin🙂🙂🙂

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s