5. Melenceng Melancong

(Hari Kedua: 2/18)

Jika diperhatikan dengan seksama, film kartun Disney hampir selalu menampilkan cerita dengan latar belakang musim semi—musim yang sepertinya diindetikan dengan kebahagiaan. Kalaupun di awal cerita tumpukan salju memenuhi layar TV, pasti pada akhirnya akan mencair, tergantikan oleh rumput hijau nan segar berhias bunga warna warni yang tumbuh hanya dalam beberapa detik. Hewan-hewan pun keluar dari sarang, bermain ceria menyambut hangatnya sinar mentari. Semua gembira. Tulisan “Happily Ever After” pun melengkapi kebahagiaan tersebut. Tamat.

Kalau memang musim semi semenyenangkan itu, ingin rasanya Istambul berubah jadi Disney World saat ini juga. Kan seru tuh lihat burung, rusa, dan kelinci lomba lari di tengah jalan raya bersama mobil-mobil. Setidaknya juga saya ga harus menelan ludah berkali-kali kala membaca prakiraan cuaca yang mengatakan bahwa suhu pagi ini turun beberapa angka lebih rendah. Dan itu berarti dingin yang kemarin belum seberapa dibanding yang hari ini. Saya menghela nafas sambil memandang keadaan di luar dari balik jendela. Atau mungkin hangatnya orang Eropa ya kayak gini, dingin-dingin empuk, tidak seperti hangatnya orang Indonesia yang kayak minum teh manis, pikirku. Dan lagi mungkin saat ini masih masa peralihan dari musim salju, jadinya sisa-sisa hawa dingin masih gentayangan di langit Turki.

Sebaki makan pagi yang muncul tiba-tiba di atas meja menyadarkanku dari lamunan. Pelayan wanita berambut pirang yang bertugas menyiapkan makan pagi kemudian menaruh lagi sekeranjang roti. Wajahnya tidak ramah, sepertinya kebanyakan orang Turki. Entah karena kebanyakan masalah atau bawaan orog. Yang pasti sarapan yang tersaji di hadapanku ini benar-benar memukau! Berwarna-warni dan banyak rasa! Mulai dari telur rebus, salad tomat-zukini, buah zaitun, mentega, ham, keju kambing dan sapi, serta selai buah. Jadi bingung mulai makannya dari mana. Tehnya, kalau kata orang Ambon, benar-benar tua—mungkin satu gelas pake 10 kantong teh. Sedang rasa buah Zaitun siap hidang itu ternyata asin! Padahal selama ini saya pikir manis. Rasa keju kambing juga mirip tahu mentah yang kelamaan disimpan di kulkas. Lidahku benar-benar ditantang kali ini. Saya pun makan yang bisa ditolelir saja.

Setelah menyelesaikan sarapan, saya titip kunci, lalu beranjak keluar. Benar saja, pagi ini suhu benar-benar drop. Dengan tangan terselip di kantong, seperti kemarin, saya berjalan lagi ke arah stasiun Kabataş. Rencananya hari ini saya akan ke 4 tempat wisata: Masjid Biru, Aya Sofya, Basilica Cistern, dan Istana Topkapi. Tidak tahu apakah seharian cukup waktunya untuk mengunjungi ke empatnya sekaligus walaupun semuanya masih berada di dalam satu kompleks. Sesempatnya saja lah. Lagipula saya tidak mau terlalu terpaku pada jadwal. Rincian perjalanan ini kan saya buat lebih ke pada harinya, bukan apa yang dikunjungi. Kalau pun pada akhirnya saya malah melenceng, toh masih ada hari esok.

Dan ternyata saya memang melenceng. Saat melewati pagar pembatas gerbang istana Dolmabahce, saya langsung belok. Sekalian saja, pikirku. Jalan masuknya berpaving, dengan penghalang jalan silinder sedang dalam mode aktif sehingga kendaraan tidak bisa masuk. Taman kecil yang memagari jalan ditata rapi; salah satu sisinya berdiri layar besar yang menunjukkan potret isi istana. Tampak menara jam menjulang tinggi di samping gerbang masuk, menyambut para pengunjung. Saya diarahkan petugas untuk memasuki ruang pemindai; sebuah ruangan kecil dengan dinding kaca hitam tebal. Ternyata di dalam hangat sekali. Dipindai berkali-kali juga tak apa lah, yang penting bisa lama-lama di dalam.

Ternyata istana tutup pada hari Kamis, yang itu hari ini. Kami hanya diperbolehkan foto-foto di luar, di depan gerbang dan taman. Entah bangunan ini memakai gaya apa, yang pasti ukirannya banyak dan tampak sangat keren. Warnanya yang kelabu pun menambah kesan antik. Sampai-sampai menyentuh dindingnya pun tak berani, takut retak. Dari luar saja sudah bagus sekali, bagaimana dengan yang di dalam. Tak terbayang biaya pemeliharaannya. Pasti berangka fantastis dan cukup untuk membangun beberapa unit rumah. Saya pun ganti-gantian foto dengan sepasang turis entah dari semenanjung Arab bagian mana.

Puas mengambil gambar, saya pun keluar lingkungan istana menuju terminal Kabataş. Saya sengaja melewati taman yang ternyata bersisian dengan pelabuhan kapal penumpang. Saat duduk-duduk di taman kemarin memang tampak banyak kapal yang hilir mudik, tapi saya tidak menyadari kalau ada tempat berlabuh di situ. Jadi lah saya memutuskan untuk melihat sebentar sebelum ke stasiun tram, siapa tahu ada penawaran menarik di sana. Beberapa feri wisata berjejer di dermagam, bergoyang-goyang diterpa gelombang. Para penumpang yang menaiki kapal dibantu oleh beberapa petugas agar mereka tidak tercebur ke laut.

Saya menuju sebuah loket karcis dan melihat daftar peta wisata yang ditawarkan. Dipaparkan juga waktu keberangkatan dan ketibaan dalam satu hari. Princes’ Island, kalau tidak salah saya pernah baca sesuatu tentang pulau ini di salah satu blog. Hanya berupa pertanyaan di kolom komentar sebenarnya, bukan artikel, yang isinya tentang si penanya ingin liburan di Princes’ Island karena ada pantai di sana. Saya tidak punya gambaran sama sekali akan tampilan pulau tersebut, tapi ide akan pulau dengan hamparan pasir putih terdengar menarik dan menggairahkan. Dan lagi siapa tahu tempat itu punya iklim tropis ajaib dengan matahari yang bersinar cerah dan hangat, pikirku konyol. Saya pun menyodorkan sekian Lira kepada petugas wanita yang kemudian menyerahkan tiket.

Setelah berada di atas kapal, saya langsung menaiki tangga menuju anjungan di lantai dua. Beberapa bangku panjang berderat di bagian tengah; sebagian telah diduduki pengunjung lain. Saya pun mengambil tempat di sisi kiri, tepat menghadap sebuah masjid, istana Dolmabahce, ribuan bangunan lainnya serta jembatan Bosphorus penghubung Turki Asia dan Eropa. Siraman cahaya matahari yang terang benderang benar-benar menipu; lihat saja nanti saat saya tunjukkan foto-foto pada teman di Indonesia, mereka pasti menganggapku sinting karena “mana mungkin dingin, orang cahaya mataharinya saja menyilaukan”.

Kira-kira 15 menit kemudian kapal akhirnya bergerak perlahan meninggalkan daratan. Lanskap Istambul yang berbukit-bukit mulai tampak melebar seraya kami memasuki jalur lalu lintas kapal. Satu persatu tengaran Istambul pun bermunculan: menara Galata, istana Topkapi, Aya Sofya, dan masjid biru. Semuanya tampak kokoh nan megah di kejauhan. Kota ini ternyata benar-benar berhutan beton—sepanjang mata memandang tidak ada sepenggal hutan secuil pun, hanya gedung, gedung, dan gedung. Dan anehnya semua bangunan berwarna dasar sama, putih, yang dicoraki warna cokelat, merah bata, atau kuning. Perairan ini juga dipenuhi feri-feri wisata yang hilir mudik silih berganti—semuanya meninggalkan garis putih buih di permukaan air, hingga perlahan-lahan memudar kembali ke warna biru.

Makin ke tengah laut, makin kencang sang nahkoda mengemudikan kapal. Angin pun ikut-ikutan kencang menyerbu apapun yang dilewatinya. Saat ini, saya sudah tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana dinginnya. Dan bodohnya saya malah meninggalkan syal di hotel. Telapak tanganku mulai kering dan hampir mati rasa. Telinga pun rasanya sudah hilang dari tempatnya karena saya sudah tidak bisa merasakan kehadirannya. Parahnya, kepalaku tiba-tiba pusing sehingga saya hanya bisa duduk menahan dingin. Saat itu lah saya baru menyadari, orang-orang yang tadi bersenda gurau di sekelilingku sudah hilang entah kemana. Hanya tinggal beberapa orang saja di anjungan yang sepertinya sudah pakai krim antidingin. Ini orang-orang sudah tertiup angin atau bagaimana, pikirku sambil tengak-tengok dengan gigi bergemeluk. Tiap ruas jariku mulai terasa menyakitkan. Seperti ada genggaman besi beku yang meremas jemariku. Kulit wajah pun sudah sedingin angin yang bertiup serta terasa tertarik.

Saya harus kemana.

DSC_0149

15 responses to “5. Melenceng Melancong

  1. Meringkuk di bawah selimut kayaknya asyik, Kak :haha. Dinginnya agak menyiksa ya, tapi memang butuh perjuangan, kalau tidak kan kayaknya tidak bisa dapat gambar yang menakjubkan seperti itu :huhu. Aaah mupeng banget saya jalan ke Turki… tapi buat sekarang saya baca ceritamu dulu sajalah Kak :hehe.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s