4. keDINGINan

Prapemberitahuan:

Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya sedang berada di atas bus, di tempat yang sama tepat di belakang supir. Orang-orang yang duduk di bangku lainnya pun entah kenapa juga orang yang sama. Muka mereka seperti berbayang, tapi jelas saya masih mengenali wajah-wajah itu. Déjà vu? Sang supir tiba-tiba membanting setir memasui jalan raya, dan di sana lah ranselku, masih tertinggal di samping kursi pengemudi, mulai bergoyang tak seimbang. Tak mau kejadian memalukan itu terulang kembali, saya langsung melompat dari kursi untuk menangkap ransel. Tapi sialnya salah satu kakiku terantuk dan tangan tak menemukan apapun untuk dicengkeram. Saya pun mulai berguling menuju pintu keluar. Tangga keluar yang tak seberapa tinggi itu, kenapa rasanya seperti terjatuh dari tepi jurang——Seketika saya terjaga dari tidur.

Sungguh cara bangun yang menyebalkan—saya selalu benci mimpi tentang jatuh dari ketinggian. Jam yang masih melingkari tanganku menunjukkan pukul 5. Setelah meregangkan badan, saya langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Badanku masih kedinginan walaupun tidur sudah berlapis selimut. Rasanya ingin lama-lama menaruh tangan di bawah pancuran air hangat. Keluar dari kamar mandi, saya langsung menuju sebuah pintu geser di samping jendela, ingin tahu sedingin apa di luar sana kala hari menjelang senja. Saat menjulurkan tangan, telapak yang tadinya hangat tiba-tiba langsung drop. Segera pintu kututup kembali agar hawa dingin tidak menyusup ke kamar.

Saya raih jaket dan syal, mengenakan sepatu, kemudian turun ke lantai bawah. Di luar memang dingin, tapi lebih rugi lagi kalau hanya tinggal di kamar. Setelah menitip kunci di resepsionis, saya pun beranjak keluar. Hawa dingin, yang terasa lebih dingin dibandingkan siang tadi, langsung menyambut. Uap nafas saja sampai terlihat. Dengan tangan terselip di kantong jaket, saya pun menyusuri jalan berpaving menuju taman. Sesampainya di area terbuka yang masih ramai itu, saya mampir dulu di salah satu kios di dekat halte bus untuk membeli istanbulkart. Memiliki kartu sakti ini langsung membuatku pengen naik bus dan menempelkan istanbulkart di jidatnya supir bus siang tadi.

Bergabung dengan ratusan pejalan kaki lainnya, saya mulai menikmati pemandangan sekitar. Ternyata memang benar, masyarakat negara-negara Eropa, atau dalam kasus Turki “Asia-Eropa”, hobi jalan kaki ramai-ramai. Apalagi cuaca lagi dingin-dinginnya. Bisa sambil menghangatkan badan. Pas menyeberang jalan juga begitu. Rasanya zebrakros benar-benar berfungsi optimal di sini, bukannya tempat nangkring gepeng dan pengamen lampu merah.

Ada semacam area terbuka lainnya, tepat bersebelahan dengan terminal bus. Panji-panji merah bergambar bulan bintang memenuhi kawasan ini, melambai-lambai tertiup angin laut. Ada masjid di salah satu sudut, serta sebuah bangunan mirip paviliun yang dikelilingi pagar. Tampaknya kawasan ini cukup bersejarah, lihat saja jejeran meriam yang berjejer menghadap laut, serta sebuah monumen dengan patung seorang pria bersorban ala era Turki Ustmani. Mungkin saja dulu tempat ini merupakan basis militer atau medan pertempuran sengit, pikirku, sambil tangan perlahan menyusuri badan meriam yang dingin. Saya kemudian bergabung bersama masyarakat lokal duduk-duduk di tepi laut, menikmati sore berhias kapal laut serta Turki bagian Asia.

Puas makan angin, saya lanjut melangkah lagi, menyusuri jalan menuju terminal bus Kabataş. Pohon-pohon tak berdaun serta bunga musim semi yang keunguan memagari jalan. Saya mencoba jalan dengan tangan melenggang layaknya para pejalan kaki lainnya, tapi secepat itu juga menyelipkannya kembali ke kantong jaket. Ini benar serius makin dingin seraya matahari mulai kembali ke peraduan. Telingaku saja hampir mati rasa kalau tidak diusap-usap biar hangat lagi. Di sisi kiri trotoar berdiri dinding super kokoh yang ternyata menyembunyikan istana Dolmabahce, bangunan mahsyur yang gerbang masuknya saja WOW sangat. Dan tepat di depan pagar besi pembatas kawasan istana, di dalam pot batu bundar raksasa, bunga tulip berwarna merah jambu berjejer rapi, tampak serasi dengan pangkalnya yang hijau segar. Rasanya mawar merah juga bakalan pucat bila disandingkan dengan bunga secantik ini.

Tak jauh dari situ ada taman penuh bunga warna-warni yang tak begitu luas. Saya pun mengambil tempat di salah satu bangku, agak menjauh dari dua sejoli romantis yang duduk di salah satu sudut. Entah kenapa taman ini cocok sekali dengan tema sore ini; saya sendirian, laut biru abu-abu penuh riak, semilir angin dingin, langit bersemburat merah penuh awan kelabu, serta pohon-pohon tak berdaun berdiri menghias taman. Semisal siang penuh sial tadi saya habiskan di taman ini, pasti sudah menangis sesenggukan meratapi nasib nahas. Haha, jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Pengalaman pahit selalu berakhir layaknya komedi hitam: menyakitkan tapi mengundang tawa tiap kali mengingatnya.

Hari sudah makin gelap saat akhirnya saya meninggalkan taman dan berlari-lari kecil menuju stasiun tram. Saya hanya akan menghabiskan 2 malam di sini sebelum lanjut ke Gӧreme di malam hari ketiga, karena itu lah saya memutuskan untuk pergi ke Otogar untuk membeli tiket bus. Gerimis mulai menghias malam kala penumpang menunggu di peron. Dan saat akhirnya kami sudah berada di dalam kereta, hujan pun makin deras. Tram mulai bergerak menyeberangi jembatan Galata, mendaki jalanan menanjak menuju stasiun-stasiun bernama aneh, hingga tiba di Aksaray dimana saya harus beralih ke Metro.

Sekeluarnya dari stasiun, saya mengikuti puluhan orang lain menyeberangi jalan, menuju sebuah area terbuka—perasaan di Istambul banyak sekali kawasan-kawasan seperti ini. Karena suhu entah sudah mencapai angka berapa di bawah 10, saya sama sekali tidak merasa lapar. Pengaruh cuaca dingin pastinya. Padahal seingatku sejak makan siang di pesawat tadi, perutku belum diisi apapun selain air putih. Saya pun mampir di salah satu kedai dan membeli kebab, kemudian kembali melangkah mencari gerbang Metro sambil mengunyah paduan roti kering, daging, serta sayuran.

Penumpang Metro malam ini cukup sepi, hanya beberapa orang yang berdiri bersamaku di peron. Tidak seperti tram yang sepertinya selalu ramai. Saat masuk ke dalam kereta pun keadaannya tidak sesesak saat naik dari bandara tadi. Jadinya saya bisa duduk-duduk menikmati hangatnya ruangan. Sesampainya di Otogar, saya langsung menuju loket pembelian tiket, tapi sang petugas langsung mengarahkanku ke luar stasiun. Ternyata loket tadi hanya menjual tiket Metro dalam kota, sedang agen-agen penyedia bus antarkota adanya di luar. Pilihanku jatuh pada Metro, agen bus yang berdasar banyak ulasan dikatakan memiliki pelayanan bagus dibanding yang lain.

Sang petugas pria yang mukanya mirip sekali dengan pelantun “Stay With Me”, melayaniku dengan bahasa Inggris terbata-bata. Kami sampai harus saling menulis di kertas untuk memilih waktu keberangkatan. Saya pilih yang jam 10 malam, biar sekalian menginap di bus. Sebenarnya, sesuai rincian perjalanan yang kususun, tiket akan dibeli di tiap otogar di kota yang saya singgahi nanti. Namun tawaran Sam Smith KW yang menyarankan agar membeli saja semuanya di sini biar tidak kehabisan tiket nantinya, terdengar seperti ide yang bagus. Saya pun mengaminkan, dan lagi-lagi kami berurusan dengan pena dan kertas untuk menentukan waktu keberangkatan.

Hujan masih mengguyur saat akhirnya saya kembali lagi ke stasiun tram Kabataş, bahkan makin deras. Badan menggigil kedinginan kala berlari menuju terminal bus di seberang jalan. Keadaan masih tak berubah setelah saya turun di halte Besiktaş; seluruh badan basah kuyub, ditambah angin dingin bertiup, gemeletuk gigi pun melengkapi penderitaan. Saya tak berhenti berlari hingga sampai di hotel, takut kalau melangkah gontai bisa-bisa beku di jalan. Sesampainya di kamar, saya langsung menggantung pakaian dan berdiri lama-lama di bawah pancuran air hangat. Inikah rasanya tinggal di negara 4 musim? Ratusan kali saya kehujanan di negeri sendiri, tidak pernah semenyedihkan tadi. Rasanya pengen tidur saja di kamar mandi.

Badanku jadi lemas kelamaan mandi air hangat. Saat shalat saja mataku berat sekali untuk tetap terbuka saking capeknya. Apalagi suhu di luar mungkin sudah mencapai angka 0 karena kamar juga ikut-ikutan dingin. Saya cari-cari mesin penghangat, adanya di belakang meja, dan saya tidak tahu bagaimana mengoperasikannya. Akhirnya tak ada pilihan lain selain menyalakan AC dan menaikkan suhu hingga yang paling maksimal. Kamar jadi lumayan menghangat, walau masih dalam kategori dingin. Saya pun meringkuk di balik selimut, membuatnya serapat mungkin di badan. Mungkin rombongan turis Tiongkok di pesawat tadi tidak benar-benar kampungan, mereka hanya tidak tahu bagaimana harus berperilaku dengan tepat. Seperti saya yang nekad ke negara dingin ini, tapi tidak tahu cara menggunakan mesin penghangat.

Ah, saya memang kampungan.

8 responses to “4. keDINGINan

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s