2. Menuju Kegilaan

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya pernah baca di beberapa artikel berita daring bahwa tingkah wisatawan Tiongkok itu kampungan. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah melihat kelakuan mereka dalam penerbangan ini secara tidak langsung mengaminkan pemberitaan tersebut. Kami telah mendarat dengan mulus di bandara internasional Attatürk, dan saat pilot masih menyetir pesawat menuju parkiran, sebuah rombongan turis asal negeri tirai bambu sudah berdiri sambil mengeluarkan tas mereka dari kabin. Jujur di Indonesia juga ada manusia kampungan kayak begini; ceritanya mau cepat bin buru-buru, eh jadinya malah ndeso dan tidak beretika. Tapi itu hanya satu dua orang, tidak sampai serombongan layaknya mereka. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.

Pramugari yang baik hati tiba-tiba muncul di samping saya dan berusaha menyuruh mereka kembali duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Tetapi semuanya bergeming; tetap berdiri seperti tak ada yang memperingatkan. Entah ini akibat mereka tidak mengerti bahasa Inggris atau karena suara sang pramugari yang terlampau lembut. Berkali-kali wanita berwajah keibuan tersebut meminta mereka duduk, namun keadaan tak kunjung berubah. Saya yang kasihan akhirnya berkata lantang “Sit down, please!”. Saya yakin satu kabin ekonomi ini bisa mendengar suaraku, dan ternyata memang lebih manjur; mereka semua seketika duduk. Ya iya lah, kalau kata-kataku tidak diindahkan, sia-sia sudah pengalamanku sebagai guru 3 tahun ini.

Setelah penumpang sudah dipersilahkan turun, saya pun memanggul ransel dan melangkah menuju pintu keluar. Dari pengumuman pramugari tadi, suhu di luar katanya 11oC. Oke, ini kabar yang sangat kurang baik. Beberapa bulan sebelum berangkat, saya sudah periksa prakiraan cuaca di Istambul. Katanya April nanti cuaca berkisar 16oC, dan karena tidak suka cuaca dingin, saya sengaja turunkan suhu AC hingga yang terendah tiap kali di kantor. Biar terbiasa. Tapi nyatanya saya tidak pernah benar-benar terbiasa. Dan suhu di luar sana 5 angka lebih rendah dari yang di kantor. Semoga tidak seburuk yang saya pikirkan.

Seraya melewati ambang pintu, hawa dingin seketika menyerbu. Saya, yang sudah pakai syal dan jaket kulit, langsung kedinginan. Padahal cuaca cerah, tapi kenapa bisa sedingin ini. Segera kedua tangan kuselipkan dalam kantong celana, lalu berjalan mengikuti rombongan menuju terminal kedatangan. Di dalam gedung suasana kembali hangat. Berbanding terbalik dengan negara sendiri; biasanya sejuk dalam ruangan, kepanasan di luar, sekarang malah sebaliknya. Beberapa turis berbelok menuju loket pengurusan visa kedatangan, sedang saya terus menuju gerbang imigrasi sambil menyiapkan paspor dan visa daring.

Setelah paspor dicap, saya langsung menuju tempat penukaran uang untuk mengantongi beberapa pecahan Lira. Kemudian menuju stasiun Metro di lantai bawah. Di sini saya mulai kebingungan, mulai dari bagaimana menggunakan mesin dispenser token, membeli kartu Instanbulkart, dan lebih parah lagi petugas yang berjaga tidak bisa berbahasa Inggris. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, mereka yang menulis tentang liburan di Istambul tampaknya tidak punya masalah sama sekali dengan hal-hal seperti ini. Semuanya seperti tiba di bandara-naik kereta-sampai di hotel-titik. Atau mereka hanya menulis yang “lancarnya” saja. Padahal hampir semua turis di pintu masuk stasiun Metro ini kebingungan. Ah, mungkin saya yang kurang banyak baca artikel.

Setelah berhasil membeli token, saya segera menuju peron dimana kereta telah menunggu. Tak lama kemudian kami pun meninggalkan bandara. Ransel jumboku yang lumayan berat saya sandarkan di dinding, lalu meraih rincian perjalanan dari dalam tas pinggang. Tujuanku adalah stasiun Sultanahmed, dan menuju ke sananya, saya harus ganti kereta di Zeytinburnu, stasiun yang dari namanya saja terdengar seperti berada di ujung planet Mars. Pandanganku pun beralih ke atas pintu kereta, di mana peta stasiun selalu berada. Ternyata stasiun persimpangan tidak terlalu jauh dari bandara, jadinya saya harus tetap berdiri di samping pintu.

Setelah Metro mencapai Zeytinburnu, semua turis pun turun. Saya berjalan mengikuti plang, melewati pintu masuk otomatis, lalu menuju peron untuk bergabung bersama penduduk lokal menunggu tram. Dan di antara yang berdiri di sana, muncul lah seorang pria dengan gelagat sok akrab, membuka percakapan sambil bertanya-tanya. Dari investigasi di Internet, di Istambul banyak sekali tukang tipu. Dan pria mencurigakan tersebut masuk dalam kategori “jangan hiraukan kalau tidak mau tertipu”. Saya pasang tampang cuek saja, sambil pura-pura sibuk baca rincian perjalanan. Sedang yang lagi diajak “berbincang” adalah sepasang bermata sipit yang terbata-bata berbahasa Inggris.

Bunyi lonceng terdengar dari kejauhan, dan tak lama kemudian kereta muncul. Saya segera mengangkat ransel dan masuk dalam kereta. Banyak sekali orang di dalam sini. Rasanya hangat memang, tapi padatnya yang bikin sesak. Saya bukan warga Jakarta yang sudah terbiasa sempit-sempitan di dalam TransJakarta. Naik bus saja jarang di Jayapura. Saya pun menggeser tas pinggang ke arah depan, sambil tangan terus memegang erat tiang agar tidak jatuh saat kereta mengerem kala memasuki stasiun. Dari balik jendela, tampak pemandangan di luar bergerak cepat bagai frame film bioskop. Rasanya seperti menonton film. Bangunannya, orangnya, bahasanya, suasananya, semuanya berbeda dan terasa sangat asing. Saya mulai bertanya-tanya dalam hati, saya gila kali ya bisa datang ke tempat ini.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan melancong ke Turki, bermimpi pun tidak berani. Faktor pertama: mahal. Semua orang juga tahu untuk orang biasa-biasa saja seperti saya, tiket pesawatnya saja terasa mahal. Faktor kedua: masih mahal. Daya tukar Rupiah yang lemah pastinya membuat harga inap di hotel cenderung tinggi. Faktor ketiga: lagi lagi mahal. Tur lokal seharga ratusan hingga jutaan Rupiah itu pasti buat saya tidak makan 7 hari 7 malam. Tapi di luar daripada itu, saya berada di sini sekarang, di dalam tram menuju Sultanahmed dimana penginapanku berada. Apakah mahal masih menjadi alasan? Saya geleng-geleng, masih tak percaya, saya sudah gila.

Ternyata perjalanan menuju tujuan lumayan lama juga, sebelum akhirnya suara elektronik wanita menyebutkan stasiun Sultanahmed. Saya pun bersiap turun. Setelah kereta berhenti total, saya langsung melompat ke peron. Hawa dingin kembali menyambut, diikuti oleh suara bising dari banyaknya manusia di sekeliling yang berjalan cepat sambil bercuap-cuap. Dan di ujung sana, mataku menangkap siluet megah bangunan bersejarah itu: Masjid Biru. Saya tak bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa tak percaya mengetahui saya sedang berhadapan dengan masjid tersebut—Sekarang orang lain lah yang menganggapku gila karena ketawa-tawa sendiri.

Saya pun mengeluarkan hape, kemudian mengetik “bisa beritahu saya dimana Royal Suites Besiktaş?” di googletranslate untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, lalu memperlihatkannya pada seorang petugas yang berdiri di luar pintu masuk. “Oo, Besiktaş. Bukan di sini, harus naik tram lagi, turun di stasiun akhir, lalu naik bus” jawabnya dalam bahasa Inggris. Seketika saya mengernyitkan dahi, Besiktaş, dimana lagi itu. Saya tidak pernah baca tentang daerah itu. Oh Tuhan, di tengah-tengah tempat asing, dikelilingi hembusan angin dingin, dan di antara orang-orang yang tak kalah asing, saya salah alamat.

Semuanya pun terasa gila.

41 responses to “2. Menuju Kegilaan

  1. Eh saya pernah nulis tuh di blog masalah pas nuker token . Berarti dirimu kurang gugling yaa.. Hihihi.. Emang bikin puyeng tuh, mana petugas gak ada yg bisa bhs inggris, jd cuman pake bahasa isyarat aja sambil nunjuk nunjuk.. Trus mana pernah salah masukin token, harusnya cuman satu token aja yg dimasukin, eh aku masukin dua token! Rugi bandar deh. Untung temenku masih punya token, jd aku pake token punya dia

    • Jiaahhhhh…telat nih ngasih taunya hahaha😀

      Sebenarnya maksudku adalh yg momen2 bingung itu. Kebanyakan yg saya baca artikelnya kayak yg mulus gitu perjalanannya, pdhl pas saya turun lapangan sndiri kok ya membingungkan, kayak yg terjadi pd mba juga😀🙂 mungkin mereka surveynya lebih rajin sebelum berangkat.

  2. Beuh, narasinya mantap. Kayaknya saya jadi keikut berasa banget perjalanan dan perasaan selama di sana :hehe. Tapi syukurlah kalau semua baik-baik saja, ya, meskipun agak “gila” karena terdampar di suatu kota asing :hehe. Eh tapi dirimu keren Mas, soalnya dengan Google Translate bisa langsung digunakan, kalau saya berpikir ribuan kali dulu kayaknya soalnya takut nada dan aksennya salah :hehe.

    Jadi ke mana kita setelah ini? :hihi.

  3. Kendala bahasa bukan alasan untuk takut berkunjung ke tempat baru, apa gunanya teknologi asal sebelum berangkat sudah benar2 dipelajari tempat yang akan dikunjungi.

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s