1. Hei, Aku Datang!

Prapemberitahuan: Perjalanan ini sejatinya dilakukan oleh dua orang pelancong, yaitu saya dan teman. Namun, dengan alasan tertentu, kami sepakat untuk tidak memasukkan satupun hal mengenai teman saya dalam jurnal perjalanan kali ini. Karena itu lah, cerita ini saya susun seakan-akan hanya saya seorang yang menjalaninya, dengan tanpa mengurangi atau melebihkan esensinya, walaupun ada perubahan dari sisi penokohan. Semoga pembaca menikmati.

(Hari Pertama: 1/18)

Saya selalu memiliki dua perasaan yang saling berkontradiksi tiap kali pesawat hendak mendarat: Senang dan jengkel. Agak aneh memang, tapi memang itu lah yang selalu terjadi. Perasaan pertama, tentu saja, muncul karena tujuan sudah di depan mata. Tidak ada yang lebih menggembirakan seorang penumpang pesawat daripada pengumuman dari pilot bahwa dalam beberapa saat lagi, pesawat akan mendarat di bandara internasional bla bla bla. Tergambar jelas di wajah-wajah yang kesemuanya menoleh ke arah jendela bulat di dinding pesawat: senyuman serta rasa takjub melihat kota tujuan dari ketinggian sekian kaki.

Perasaan kedua, dengan memikirkannya saja membuatku makin kesal. Bahkan kenyataan bahwa mungkin hanya sekian persen dari manifesto penerbangan ini yang mengalami hal yang sama semakin membuatku menderita. Pelakunya apa lagi kalau bukan perubahan tekanan. Saat pilot mulai menurunkan ketinggian jelajah, telingaku selalu jadi korban. Rasa sakitnya hanya bisa digambarkan dengan nada meringis. Seperti ada benda tajam yang menusuk-nusuk, tiada henti. Kadang sakitnya menyebar hingga ke dahi. Sampai rasa-rasanya kepala mau meledak. Saya sudah sering mencoba cara yang beredar di Internet, meniup dengan mulut-hidung tertutup rapat. Tapi hasil selalu nihil. Kalaupun rasa sakitnya hilang saat pesawat telah parkir di bandara, efek budegnya bisa bertahan berhari-hari setelahnya.

Anehnya, di siang hari yang cerah ini, saat cahaya matahari berkilau-kilau di permukaan perairan di bawah sana, telingaku terasa baik-baik saja. Apa karena beda negara beda langit? Pikirku konyol, tak sadar telingaku telah disumpal penyumbat telinga warna kuning yang diberikan cuma-cuma oleh Qatar Airways. Tidak pasti apakah fungsi benda kecil ini untuk menyaring suara atau mengurangi efek buruk perubahan tekanan, yang pastinya mereka sangat-sangat berguna untuk saat ini. Telinga pun hanya terasa mampet. Tidak sampai menyakitkan seperti mimpi buruk yang sudah-sudah.

Pramugari dari berbagai etnis kembali menyusuri lorong kabin untuk memastikan seluruh penumpang telah mengencangkan sabuk pengaman. Baru kali ini saya lihat pramugari dengan badan agak padat. Tidak seperti pramugari armada Asia Tenggara yang kesemuanya langsing, tinggi, dan berjari lentik. Tengok saja kru kabin Singapore Airlines. Sepertinya mereka punya mesin khusus pencetak badan—saat melihat para pramugarinya melenggang di bandara Changi, bentuk, tinggi, serta lekukan tubuh mereka sama persis tiada beda.

Total 11 jam sudah saya habiskan di bangku pesawat—penerbangan terlama yang pernah saya jalani. Kami bertolak dari Singapura jam 2 pagi, menumpang pesawat Boeing Dreamliner yang sayapnya saja bisa ditaruh bus antarkota saking besarnya. Tentu saja saya udik. Bodo amat. Baru kali itu saya naik pesawat raksasa. 7 jam saya habiskan dengan tidur-tiduran di bangku kelas ekonomi yang nyaman. Tahu-tahu pas buka mata, pesawat sudah mau mendarat di Doha, Qatar. Di bandara yang katanya paling modern seArab ini, kami harus menunggu lagi 2 jam untuk ganti pesawat. Terbiasa dengan fasilitas biasa-biasa saja di bandara Soetta, kembali saya dibuat udik dengan mabes Qatar Airways ini. Hampir semuanya serba otomatis, mulai dari keran air dan sabun wastfel, hingga keran wudhu mushola. Rasanya seperti menonton film Back to the Future (yang kebetulan masa depan dalam film itu adalah tahun 2015)

4 jam penerbangan berikutnya pun tidak begitu terasa. Kali ini saya habiskan waktu mendengar bacaan Al Quran dari layar video sambil tidur-tiduran. Entah kenapa, belakangan ini penerbangan berjam-jam tidak terasa berjam-jam. 5 hari yang lalu saya terbang dari Jayapura ke Jakarta, total 6 jam. Tapi anehnya tidak terasa lama dan membosankan seperti yang lalu-lalu. Justru penerbangan pendek dari Jakarta ke Singapura lah yang rasanya lama sekali, padahal tidak sampai 2 jam. Mungin karena saya sudah mulai terbiasa, atau karena fisilitas hiburan yang sudah sangat membaik.

Kembali pilot mengumumkan proses pendaratan pesawat, diikuti oleh pemberitahuan ulang oleh pramugari dalam bahasa Arab dan Inggris. Kembali saya mengintip pemandangan di luar melalui jendela. Garis cakrawala di ujung lautan tampak berkilau. Jembatan serta bangunan yang tampak mirip lego pun makin jelas terlhat. Saya tak sanggup menahan senyuman yang perlahan tersungging, seiring munculnya rasa menggebu dalam dada—rasa yang selalu ada saat akan memulai petualangan baru di negara asing. Mungkin orang lain berpikir saya gila karena senyum-senyum sendiri. Persetan lah! Kan mereka tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang.

Istambul, aku datang.

29 responses to “1. Hei, Aku Datang!

  1. aseeek,,,baronda di turki e…tra ajak2 sa tu😛. eh dri jayapura k jkt jauh juga e 6 jam hampir sama dari doha ke Roma. kalo dri ternate ke jakarta direct flight 4 jam sja. sa penasaran ko pe kelanjutan cerita ni🙂

    • haloooooooooooo….lama tong tra baku kontak aleee..kabar bagemana? iya nih, ada rejeki ke Turki. Beuh, semoga ada kesempatan bisa main ke Roma😀😀 sip sip, ditunggu ee kelanjutannya🙂

  2. Wuih, Istanbul… mohon maaf saya baru baca bagian pertamanya sekarang :hehe, ini keren sekali. Perasaan akan tiba di sebuah dataran baru memang demikian membuncah, antara semangat, gentar, dan keberanian untuk menaklukkan dataran baru! Saya jadi membayangkan bagaimana perasaan explorer di abad-abad yang lalu saat akan melempar sauh di benua baru :hehe.
    Great!

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s