Pesisir Paling Timur Indonesia: Pantai Koya

Pantai Koya“Ko tahu tugu yang dekat POM bensin lama to?”1 kata kakakku saat kami berdua sedang duduk-duduk di teras depan rumah. Saya sebenarnya ogah menanggapi, menoleh pun malas, akibat dikuasai perasaan jengkel karena tidak diajak lari pagi, tadi. Lagipula apa pentingnya pertanyaan ini, “Iyo too”2, jawabku akhirnya sambil mendengus, “kenapa jadi?”3 balik kubertanya. “Tadi pas lari pagi lewat situ, tong berhenti sebentar. Ternyata dalam kolam tuh ada ikan-ikan kecil”4 jelasnya sambil menerawang, membayangkan yang baru saja dia katakan, seakan-akan kolam penuh ikan tersebut tiba-tiba muncul di teras rumah kami yang sempit. Saya berusaha menyusupi pikiran kakakku saking penasarannya, mencoba mengimajinasikan hal yang sama. Tapi apa daya, patungnya saja masih samar-samar di gambaran. Lagipula, saya memang tidak pernah benar-benar memperhatikan tugu itu setiap kali melewatinya.

Saya jadinya malah makin jengkel, “ikan-ikan jelek saja moo!”5, ejekku dalam hati. Tak menyadari ledekanku, kakakku terus melanjutkan ceritanya, tapi saya sudah malas mendengar. Segera kukumpulkan mainan robot-robot plastik di lantai, lalu berlari menuju ibuku di dapur…

 

18 tahun pun berlalu…..

“Aleeee, tong abis jemput Mba Filipin dan Fier dari luar negeri”6, kata Dedew, diikuti oleh suara tawanya yang menggelegar di dalam mobil. Kata-kata tersebut bukan lah candaan, karena memang faktanya Dedew dan Arif (anaknya), Bon-bon, serta bang Edu baru saja menjemput kami yang juga baru saja selesai liburan dari Papua Nugini. Yang membuat tawanya terbahak-bahak adalah kenyataan bahwa kami dijemput di warung tegal, bukan di terminal kedatangan elit Bandara Soetta yang wangi dan megah—Bang Nugi yang baik hati mengantar kami hingga ke perbatasan, lalu sama-sama berjalan menuju warteg untuk makan siang, sebelum kemudian beliau kembali lagi ke rumahnya di Vanimo.Pantai Koya2

Mobil kami sedang melesat kembali ke arah kota. Bon-bon duduk di kursi paling depan menemani saudara se-NTT-nya, bang Edu, mengendarai mobil. Dedew dan Arif duduk di tengah ditemani berbungkus-bungkus makanan dan minuman ringan, wadah berisi ayam dan kawan-kawan, serta termos nasi. Sedang saya sendiri menemani mba Filipin di kursi belakang. Dia sedang ngomel-ngomel ke Bon-bon yang dengan tidak-tahunya telah menguras pulsa Rp 35.000 dari hapenya. “Bon-bon ini tidak mengerti sekali. Sudah dikasih tahu jemput kami jam 12, masih juga tanya-tanya. Padahal biaya satu sms tuh Rp 5.000” nadanya bersungut-sungut, jengkel karena mau marah juga rasanya salah—Bon-bon mana tahu soal roaming internasional.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saat mobil melewati jembatan di atas sungai berair keruh yang bermuara di Tami, kami berhenti sejenak untuk foto-foto. Jalan di sini sepi kendaraan, tapi kami harus ekstra hati-hati karena saking sepinya itu lah mobil yang lewat selalu dalam mode Formula1. Sungai ini terlalu dalam, berarus kencang, serta penuh kayu tumbang. Tercebur ke dalamnya dipastikan tak dapat selamat. Jadi lah kami selalu menepi tiap kali ada mobil yang lewat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ngomong-ngomong hari ini kami akan lanjut liburan ke pantai. Mungkin salah satu dari kamu sekalian yang membaca artikel ini akan mengatakan “gila nih orang, pantai mulu mainannya. Ga gosong tuh”. Oke, harus saya akui, saya sudah benar-benar kecanduan dengan yang namanya berenang di pantai. Ga tahu kenapa, rasanya enak saja berada di pantai. Saya tidak peduli kulit menghitam atau terbakar sinar matahari. Yang penting bisa mencium aroma laut serta merasakan sensasi hangatnya air asin. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku senang.Pantai Koya1

Setelah menyusuri jalanan landai-menanjak berpagar hutan, akhirnya mobil berbelok memasuki perkampungan Koya Tengah. Tujuan awal kami sebenarnya adalah pantai Holtekam yang berlokasi di Koya Barat. Tapi kata bang Edu, pantai ini sama bagusnya. Dan lagi saya belum pernah ke pantai ini. Setidaknya bertambah satu lagi “koleksi” pantai yang telah saya kunjungi. Mobil terus melaju mengikuti jalan sempit di antara rumah-rumah sederhana, hingga kemudian memasuki halaman rumah kenalan bang Edu yang bagian belakangnya langsung bersentuhan dengan pesisir pantai.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kami segera menurunkan seluruh barang dan menaruhnya di atas rol kabel rakasasa bekas yang terbuat dari kayu. Sang pemilik rumah pun menyambut dengan ramah; beliau menyuruh anaknya memanjat dan menurunkan beberapa buah kelapa muda untuk diberikan pada kami. Saya sendiri langsung mengganti celana dan berlari menuju pantai.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Entah apa nama pantai ini (saya lebih senang menyebutnya pantai Koya), yang pastinya tidak begitu terkenal. Atau mungkin hanya beken untuk orang-orang Koya dan sekitarnya, saya tidak tahu persis. Wujudnya mirip sekali dengan sepupunya pantai Holtekam dan Hamadi, dengan tekstur pasir abu-abu sehalus bedak bayi. Pantainya landai tanpa batu karang, serta berombak super besar. Kurang lebih panjang garis pantai 2 km. Pantai ini merupakan pesisir terakhir di sisi Utara pulau Papua sebelum memasuki kawasan negara tetangga.

Segera yang lain bergabung denganku di hangatnya air laut setelah menyantap makanan dan es kelapa muda. Gelombang-gelombang raksasa menghantam tubuh. Sesekali arus menyeret jauh ke kedalaman. Rasanya menyenangkan sekaligus menegangkan. Lantai pantainya agak sedikit aneh. Landai, kemudian agak dalam, kemudian dangkal lagi. Mungkin pengaruh ombak yang bergulung-gulung. Saya pribadi tidak berani berenang jauh-jauh. Mba Filipin, yang berenang di dekatku, juga tampaknya tak ingin mengadu nasib di perairan yang lebih dalam. Dedew dan Arif, karena keduanya tidak bisa berenang, hanya bermain di sisi paling dangkal. Sedangkan Bon-bon, ia tiba-tiba membuat kejutan yang menggemparkan kami siang itu. Entah bagaimana celananya hilang terbawa ombak.

Kami semua tertawa terbahak-bahak. Bahkan anak-anak kecil lokal yang ikut berenang bersama pun terpingkal-pingkal dibuatnya. Bon-bon celingak-celinguk mencari celananya di antara buih air yang mendesis, tampak putus asa. Kalau arusnya kayak gini, yakin lah 100% tidak mungkin ketemu. Saya pun berlari ke daratan untuk mengambil salah satu celana pendekku, kemudian kembali lagi ke pantai menghampiri Bon-bon yang tidak berani keluar dari air. Sumpah, saya benar-benar tidak bisa menawah tawa. Dia berusaha menjelaskan bagaimana proses kaburnya celana tersebut, tapi terdengar aneh dan tidak masuk akal.

Tak terasa sore hari telah menjelang. Sinar matahari yang kekuningan makin silau menuju ufuk Barat. Kami pun bergiliran membilas badan dan berganti baju di kamar mandi yang terletak di luar ruangan. Setelah memasukkan semua barang kembali di mobil dan pamit pada pemilik rumah, bang Edu pun tancap gas menuju Jayapura.

………………………………………………

Teringat saat dulu Sarip masih kerja di Jayapura. Kami berdua suka sekali bertualang, pergi ke tempat-tempat yang mungkin orang lain pun tidak pernah berpikir untuk ke sana. Bersama dia pula saya menjelajahi sudut-sudut kota ini yang mungkin sama sekali tidak akan saya lakukan sendiri. Pernah suatu ketika saya menunjukkannya peta Jayapura yang ditampilkan Google’s Map, dimana telunjukku mengarah pada pantai-pantai di pelosok, yang kebanyakan tidak memiliki jalur darat. “Kita harus ke sana” kataku bersemangat kala itu.

Sayangnya hingga sahabatku itu berangkat kembali ke Bogor, petualangan tersebut tak pernah kami sanggupi. Semuanya perlahan-lahan terlupakan begitu saja. Yang dulunya terasa mungkin, lambat laun meredup, menjadi tak pasti. Impian tinggal lah impian. Hingga saat kemarin, kala kuberlari di atas panasnya pasir pantai Koya, saat airnya yang hangat membasahi jari-jari kakiku, serta saat pandanganku tertumpu pada tiap ujung pantai itu, kusadari bahwa keinginan itu dibuat bukan untuk menunggunya terwujud, tapi tentang bagaimana mewujudkannya.

Pantai Pasir 6, pantai Skouw, serta pantai ini, yang dulu hanya kusentuh di atas peta, sekarang telah kujelajahi semua. Rasa cintaku, serta keinginanku yang kuat untuk selalu bertualang, telah membawaku pada jalan yang berujung pada tiap-tiap hal yang diimpikan. Keinginan memang takkan pernah mati, tapi juga takkan pernah menjadi nyata jika hanya sebatas menunggu, yang entah kapan akan terjadi. Saat kita benar-benar berusaha untuk mendapatkannya, hasilnya pasti terbayar pantas.

Saat ini saya sedang berdiri di hadapan tugu yang menjulang di tengah-tengah jalan raya. Belum pernah kulihat sejelas dan sedekat ini: ukiran tubuh beberapa manusia yang tampak tidak begitu bernilai seni tinggi, menopang tumpukan bambu di pundaknya, untuk menahan bobot manusia perkasa lain yang berdiri kokoh di atasnya. Tapi bukan itu yang kutuju, melainkan kolam kecil yang mengelilinginya.

Langkahku makin mendekat hingga pandanganku melewati pagar semennya yang diukir menyerupai jejeran bambu. Dapat kulihat air keruh yang memenuhi dasar kolam. Lumut hijau tumbuh di sekitar cat yang mengelupas. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana, kecuali makhluk-makhluk kecil aneh yang seharusnya tidak menghuninya. Ikan-ikan kecil itu telah mati, gumamku. 18 tahun bukan lah waktu yang sedikit. Saya tertegun. Ada rasa puas, sekaligus kecewa. Bagaimanapun juga saya ingin sekali melihat ikan-ikan “jelek” itu berenang di sana, seperti yang disaksikan kakakku dahulu. Tak apa lah, setidaknya satu lagi keinginan (aneh)-ku yang terpendam sekian lamanya, telah kuwudkan.

 

1 ”Kamu tahu kan tugu yang di dekat POM bensin lama?”

2 “Iya lah”

3 “Kenapa emang?”

4 “Tadi, pas lari pagi melewati tugu, kami mampir sejenak. Ternyata ada ikan-ikan kecil di dalam kolamnya”

5 “Paling juga ikan-ikan jelek”

6 “Wow! Kita baru saja menjemput Mba Filipin dan Fier dari luar negeri!”

34 responses to “Pesisir Paling Timur Indonesia: Pantai Koya

  1. Pantai di Papua memang keren… kalau biasanya berlangit jernih tapi di sana kayaknya awannya banyak, namun itu justru menambah keunikan! Belum lagi dengan garis pantai superpanjang, ombak superbesar dan pantai superhalus itu, keren sekali. Pantai Papua memang beda!

    Seru bangetlah bisa bermain di sana. Tampaknya juga sepi sekali. Ah, saya setuju, mimpi memang harus selalu dipupuk, Kak, karena kita tak tahu kapan mimpi itu menjadi nyata :)).

    • Ya, pantai sebagus itu sayangnya belum terlalu terkenal di Jayapura. Mungkin karena lokasinya yang terlampau jauh dan di kawasan pedalaman😀 Lagipula pantai serupa juga ada dalam jarak yang lebih dekat, jadinya tempat ini masih sepi.😀

      Keep dreaming!

    • Hadoohh, itu lagi. Su lama skali tra muncul. Kmrin tuh tiba2 kena penyakit malas jadi. Hahaha…arooo, su biasa hidup deng pante jadi, makanya kalo trada tuh macam rasa mo gali tanah sampe tiba di kampung halaman kah😀

  2. Saya tidak terlalu suka dengan pantai berpasir hitam atau abu2, cuman pantai ini memiliki keunikan sendiri dengan shorelinenya yang begitu luas. Papua memang kaya banget dengan kekayaan alamnya.
    Keep on sharing your wonderful thoughts and travels. All the very best to you.

  3. Hwaaaah…iya fier. km k pantai mulu…hihihi…tapi aku juga suka pantai kok! Nanti aku mau main ke Pantai lagi. Cuma yah..nyari dana dulu. Hehehe..meski aku akhir-akhir ini main ke gunung, tapi yah, kulit tetep gosong gara2 tidur jemuran di cadas tanpa sunblock. Wkwkwk

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s