Main ke Tetangga Sebelah: PNG (Bagian 1)

SAMSUNG CAMERA PICTURESKalau kita ditanya “Negara mana kah yang serumpun dengan Indonesia?”, saya yakin semua yang membaca jurnal ini akan menjawab Malaysia. Mungkin sekian persen kemudian akan menyebut Brunei. Atau ada juga yang  menambahkan Singapura. Tak heran lah jawabannya seperti itu. Indonesia kan identik dengan Melayu, atau yang tampilannya tak jauh-jauh dari etnis satu itu. Bagaimanapun, pernah kah kita berpikir bahwa bangsa yang pernah menjadi bagian dari kesatuan RI juga adalah saudara serumpun: Timor Lesté? Atau lebih jauh lagi, bangsa kita masih berhubungan darah dengan PNG alias Papua Nugini. Sebagian dari kita pasti heran, terutama orang Indonesia Barat: dari warna kulit dan bentuk rambut saja beda, kok sodaraan? Ya itu pendapatmu. Tapi bagi kami yang tinggal jauh di Timur, PNG termasuk bangsa serumpun.

SAMSUNG CAMERA PICTURESNegeri jiran ini hanya berjarak dua jam dari pusat kota Jayapura—sebuah perjalanan menuju lintas batas yang sedang saya dan Mba Filipin lakoni. Kami terhitung cukup nekad sebenarnya: empat minggu sebelumnya saya melontarkan ide ke PNG setelah melihat kota Vanimo dari peta Google; tiga minggu sebelumnya kami cari kenalan yang punya saudara atau teman di provinsi Sandaun; dua minggu sebelumnya kami santroni konsulat PNG di Entrop untuk pembuatan visa pelancongan yang ternyata gratis; Seminggu sebelumnya kami kecewa karena kenalan yang akan ikut dengan kami batal, padahal dia yang punya keluarga di Vanimo; semalam, kami menemui Bang Nugi, temannya kenalan yang batal pergi dengan kami; dan pagi ini, kami sedang menumpang mobil pria berkulit sawo matang itu menuju perbatasan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES“Ada dua hotel di Vanimo. Tapi kalau kalian mau menginap di rumah, ada dua kamar kosong di lantai bawah”, tawar Bang Nugi, dia duduk di kursi depan—tepatnya tidur-tiduran. Saya dan Mba Filipin saling berpandangan takjub di bangku tengah. Siapa juga yang mau habiskan duit sekian Kina (mata uang PNG) kalau memang bisa gratisan menginap di rumahnya. “Boleh lah bang” kataku, sembari tersenyum. Saya mulai berpikir bahwa kenekadan benar-benar bisa membawa keberuntungan yang tak disangka-sangka. Pertama kali melancong sendiri dulu, saya nekad ke Bali seorang diri, padahal tidak ada kenalan, teman, maupun saudara di sana. Pertama kali jalan-jalan keluar negeri pun seorang diri, mengunjungi tiga negara Asia Tenggara sekaligus dengan duit seadaanya. Untungnya, dalam semua perjalan tersebut, saya selalu menemui orang-orang baik. Ada beberapa situasi tidak menyenangkan memang, tapi saya selalu saja beruntung. Tuhan memang maha menjaga dan memberi pertolongan😀

SAM_2602Mobil meluncur kencang menyusuri jembatan di atas muara Tami yang airnya keruh kecokelatan. Terus melaju melewati daerah militer hingga akhirnya kami tiba di pasar perbatasan. Terakhir kali ke sini kurang lebih dua tahun yang lalu, dan sedihnya tampilan pasarnya sama sekali tidak berubah. Ya, setidaknya Skouw termasuk salah satu daerah perbatasan yang dikelola dengan baik. Buktinya tempat ini selalu ramai oleh orang PNG yang berbelanja produk Indonesia. Mobil kami kemudian berhenti sebentar di cekpoin militer untuk laporan, lalu parkir di samping kantor imigrasi yang tak jauh dari posko. Kami bertiga segera turun dan memasuki kantor. Supirnya Bang Nugi yang tak ikut dengan kami ke PNG menunggu di mobil. Ruangan kecil ini berisi dua petugas yang tampaknya sudah akrab sekali dengan Bang Nugi. Apalagi saat paspornya mau dicap. Alamak! Saking seringnya bolak-balik PNG-Indonesia, halaman paspornya 98% penuh cap. “Sudah pernah keluar negeri ya?” tanya Bang Nugi saat melihat beberapa cap di dalam pasporku. Saya cuma tersenyum simpul karena khawatir apa yang saya dan Mba Filipin sembunyikan sedikit lagi akan terkuak. Segera setelah petugas membuka paspor berkulit merah itu, “Oh, dari Filipin?” jelas bukan nada pertanyaan yang keluar dari mulut Bang Nugi. Saya dan wanita sipit itu bertatapan, dengan ekspresi ketahuan deh. “Iya” balasnya pelan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSaya dan Mba Filipin sudah sepakat tidak akan membicarakan apapun mengenai asal-usulnya atau apapun itu (saya pribadi ga tahu alasan khusus mba Filipin di balik ini). Bahkan selama perjalan dari Jayapura pun kami hanya berbahasa Indonesia yang baik dan lumayan. Cukup aneh. Selain karena aksennya yang kacau, saya pun jarang ngomong dengannya pakai bahasa ibu, seringnya bahasa Inggris. Sering mulutnya menciptakan bunyi “r” yang keinggrisan saat berbicara, membuatku memelototinya berkali-kali. Bang Nugi pun beberapa kali memancing kami ngomong bahasa Inggris. Tapi sebisa mungkin saya balas pakai logat Jayapura. Hehe. Yah, bagaimanapun penyamaran sudah terbongkar. Kami segera kembali ke mobil untuk kemudian menuju batas akhir teritori Indonesia. Sang supir (yang baru saya sadari mirip sekali dengan Bambang Pamungkas) menurunkan kami di samping pagar batas wilayah, kemudian tancap gas kembali ke Jayapura. Kami pun berjalan menyusuri tanah tak bertuan seluas setengah lapangan bola mini menuju kantor imigrasi PNG.

SAMSUNG CAMERA PICTURESBerbeda dengan Skouw yang begitu-begitu saja, perbatasan di teritori PNG berubah 180° (untuk melihat perbedaannya, sila baca jurnal saya sebelumnya tentang “Keluar Negeri Lagi, Walau Cuma ke PNG”). Gedung imigrasi apa adanya yang dulu berdiri tak jauh dari pagar sudah berganti bangunan baru yang sangat modern, walau masih dalam konstruksi. Karena masih belum bisa digunakan seluruhnya, kantor imigrasi untuk sementara pindah ke sebuah gedung kecil. Lagi-lagi petugas di sana terlihat akrab dengan Bang Nugi setelah kami menyerahkan paspor. Dan kerennya mereka bercakap-cakap dalam bahasa Fiji campur Inggris. Terdengar aneh, sekaligus menakjubkan melihat Bang Nugi dengan lancarnya bercuap-cuap. Saya ditanya beberapa pertanyaan standar sebelum paspor dicap. Saya yakin petugasnya mengerti dan bisa berbahasa Indonesia, makanya setelah paspor dikembalikan, saya ucap “terima kasih”, dan petugasnya tersenyum. Tuh kan mengerti dia 🙂

Keluar NegeriKami bertiga segera berjalan menuju mobil Bang Nugi yang diparkir di bawah salah satu rumah panggung (gila! banyak duit nih orang). Mobil berplat PNG ini kemudian menyusuri jalan temporari beralas batu karang di belakang konstruksi bangunan, kemudian memasuki jalan utama yang mulus. Wuih! Jantung saya berdebaran saking senangnya bisa memasuki negara ini. Apalagi saat melewati desa Wutung, makin sumringah saya. Dulu desa ini hanya bisa saya lihat dari perbatasan di atas bukit sana. Kami melewati cekpoin militer PNG yang diberi portal—Bang Nugi cukup melambaikan tangan serta mengucapkan sesuatu pada beberapa tentara yang duduk di kejauhan—dan kami pun terus melaju. Butuh sekitar 30 hingga 40 menit dari Wutung ke Vanimo. Perjalanan kami ditemani hutan dengan pohon-pohon super besar berselimut tumbuhan menjalar serta beberapa aliran kali berair jernih. Sering kami berpapasan dengan tepi laut serta pantai berpasir putih. Saat mobil melewati beberapa desa, tak banyak orang yang tampak; hanya beberapa wanita tua serta anak-anak dan anjing peliharaan mereka.

Papua New Guinea 2Semakin mendekati Vanimo, tampak beberapa kapal besar yang berlabuh di tepi laut. Ternyata kapal-kapal itu yang akan mengangkut kayu hasil tebangan hutan PNG menuju negara importir. Walaupun bukan negara sendiri, rasanya miris saja melihat kayu-kayu besar itu ditebang untuk keperluan industri. Semoga saja negara ini mempunyai kebijakan reboisasi. “Selamat datang di Vanimo” kata Bang Nugi seraya menunjuk kota tersebut di kejauhan. Tanjung membulat dimana Vanimo berada ternyata besar sekali—berkali-kali lipat dari yang terlihat di peta—membukit dan melebar ke samudera. Tampak perumahan di sisi bukit, pelabuhan serta tumpukkan petikemas di bawahnya, hingga gedung-gedung pertokoan. Saat mobil memasuki pusat kota, tampak lah bandara kecil dengan jalur lepas landasnya yang lumayan panjang. Kata Bang Nugi, bandara dan pelabuhannya bersisian, dan tepat berada di tengah kota. Jadi kalau masih ketinggalan penerbangan ataupun pelayaran, itu tolol namanya. Pelabuhannya sendiri, selain melayani bongkar muat logistik, juga ada kapal penumpang (walaupun jarang). Sedang bandaranya melayani penerbangan ke Port Morresby (dibaca “mosbi” dalam logat setempat) dengan maskapai Air Nugini.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKami mampir ke sebuah swalayan yang pintu masuknya dipasang jeruji—nyatanya semua gedung yang kami lewati dilindungi jejeran besi. Ga heran lah. Negara ini kan tingkat kriminalitasnya tinggi. Walaupun kata petugas kedutaan “Vanimo termasuk kota paling aman di PNG”, tetap saja aroma kejahatan masih melayang-layang di udara. Lihat saja toko bir SP di depan sana, yang beli pada mengantri kayak mo ambil dana bantuan. Belum lagi beberapa pria bermata merah duduk-duduk sambil tos botol bir di tangan mereka. Otak melayang ga karuan akibat alkohol kan bisa mengarah pada tindak kriminal. Ditambah lagi desas-desus menakutkan dimana penduduk setempat saja sudah tidak berani keluar rumah di atas jam lima sore. Saat saya dan Mba Filipin bediri di samping mobil saja terasa sekali tatapan tajam berbumbu penasaran dari orang-orang sekitar. Ukuran kota yang kecil membuat mereka cepat mengenali wajah-wajah baru. Bang Nugi yang tadi pergi entah kemana seketika muncul sambil membawa dua karton bir. Saya, yang agak kaget, pun membantunya memasukkan di bagasi belakang. “Tenang saja. Walaupun orang PNG doyan minum SP, mereka tidak diperbolehkan minum di area umum, apalagi sambil jalan-jalan. Bisa langsung ditendang ke penjara mereka”, jelas Bang Nugi sambil mengarahkan mobilnya menuju bukit.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESKami  memasuki kawasan perumahan ekspat dengan bentuk rumah yang nyaris sama serta halaman berumput yang dibabat rapi. Terus menelusuri jalan hingga tiba di sisi lain bukit. “Rumah saya memang kecil, tapi berada di lokasi paling indah di bukit ini” kata Bang Nugi sambil mencari posisi untuk memarkir mobilnya di depan rumah. Saat kami memasuki rumah bergaya minimalis ini, saya dibuat takjub dengan konsepnya. Di samping pintu masuk terdapat tangga menuju lantai bawah, sedang di depan kami tampak ruang tamu kecil yang bersisian dengan ruang makan dan dapur plus minibar. Apalagi saat ke balkoni yang langsung menghadap jejeran hutan serta laut di kejauhan. Ga bohong lah kata Bang Nugi, posisi rumah ini benar-benar pas. Sang pemilik rumah kemudian mengantar kami ke kamar masing-masing di lantai bawah. Jadinya seperti di vila. Saya ga berhenti tersenyum mendapati keberuntungan ini. Rasanya seharian bersyukur pun tidak akan cukup.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESTak lama saat kami duduk-duduk di balkoni, teman Bang Nugi datang berkunjung. Dengan aksen Jawanya yang ga hilang-hilang, Bang Yadi menyapa kami dengan ramah. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk mengakrabkan diri. Pembicaraan pun lebih dominan mengenai saya dan Mba Filipin. Hingga saat waktu menunjuk ke angka empat (PNG satu jam lebih cepat dari Indonesia), kami memutuskan untuk berkeliling kota sebelum terlalu sore. Kali ini menggunakan mobil Bang Yadi yang merah mengilap. Awalnya kami diajak berputar-putar di kawasan perumahan, lalu menuju pantai pasir putih di sisi lain bukit, menyusuri tengah kota yang tampak lebih sepi dibanding beberapa jam lalu, berhenti untuk foto-foto di kantor Gubernur Provinisi Sandaun dan Konsulat Indonesia, melewati pasar rakyat dan bandara, kemudian mengikuti jalan mulus yang memperlihatkan beberapa desa serta sisi Timur tanjung. Semuanya dilakukan tak lebih dari 20 menit dan kami sudah kembali titik awal. Untuk ukuran Indonesia, yang wilayahnya cuma segini paling sekelas kelurahan. Tapi entah kenapa, hal ini justru yang membuat Vanimo unik. Kota ini termasuk lengkap: ada bandara, pelabuhan, gereja, rumah sakit, hotel, sekolah, pangkalan militer, swalayan, bank, kantor pos, serta apotek. Kalau ada yang bermasalah dengan hukum, ada kantor polisi. Masalah berlanjut, ada pengadilan. Hakim ketuk palu, ada penjara di tepi pantai pasir putih. Belum lagi hampir semua orang di sini saling kenal semua. Rasanya kalau tingkat kriminalitasnya rendah, atau paling tidak masuk kategori ramah wisata, saya mau lah sering-sering sambangi PNG untuk menghabiskan sore sambil leyeh-leyeh di pantainya yang indah itu.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESKeluar Negeri (2)SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESHari semakin tua saat kami kembali ke rumah. Saya dan Mba Filipin menyempatkan diri duduk-duduk di pafiliun di samping rumah. Kata Bang Nugi, pemilik rumah-rumah ini adalah orang Malaysia. Dan biaya sewa perbulannya cukup untuk membuat saya tersedak. Belum lagi bayar listrik dan pembantu. Tak usah lah saya sebut nominalnya. Yang pastinya bisa untuk membawaku liburan dengan kapal sewaan di Raja Ampat. Saat kami kembali ke rumah, Bang Nugi ternyata sudah mempersiapkan bumbu untuk memasak. Mba Filipin segera mengambil tempat di dapur, sedang kami bertiga duduk di meja makan, menunggu makanan cepat matang. Celakanya, potongan cabe rawit yang harusnya dicampur telur dadar, malah dimasukkan semua ke dalam sayur sawi. Jadi lah saat masakan dihidangkan di meja, kami semua mandi keringat makan sayur selera pedas. Saya pengen ketawa lihat ekspresi Bang Nugi dan Yadi; napas keduanya kembang kempis kayak habis lari nontsop keliling Vanimo; mau protes juga tidak enak karena yang masak adalah kenalan baru😀 .

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSetelah makan, saya pun mencuci semua piring dan peralatan masak. Kemudian kami berempat lanjut mengobrol, masih di meja makan. Entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba saja kami sudah ngomong Inggris. Pembicaraan kami lebih banyak mengenai hal-hal konyol dan pengalaman lucu. Bahkan saat Bang Yadi pamit pulang, kami masih lanjut bercerita panjang lebar, dengan topik yang sudah mencapai ranah pribadi dan persoalan kehidupan. Baru kali ini saya benar-benar merasa nyaman berbicara dalam bahasa ke dua. Sampai-sampai saya berada pada titik dimana saat Bang Nugi menyebut sesuatu dalam bahasa Indonesia, saya malah merasa asing mendengarnya. Aneh memang. Tapi itu lah yang terjadi. Rasanya ajaib sekali melihat Bang Nugi sudah meneguk berbotol-botol SP, dan dia masih stabil. Seakan-akan bir baginya adalah air putih, dan air putihnya sendiri cuma minuman selingan. Saya bersyukur Mba Filipin membawa cukup air mineral dari Jayapura, karena ternyata hanya ada sebotol air putih di kulkas rumah ini.

20140927_225321Akhirnya obrolan berakhir tepat di tengah malam. Kepala saya nyaris ambruk saking ngantuknya. Kami pun menuju kamar masing-masing. Lampu kamar yang sudah tidak layak pakai meninggalkan kegelapan. Namun ada cahaya yang berhasil menyusup dari ruang kecil di bawah pintu. Sepanjang obrolan tadi, terkadang saya lebih banyak diam. Ada yang saya pikirkan saat melihat jejeran botol-botol SP di atas meja dan minibar. Hidup macam apa yang sedang dijalani Bang Nugi. Tangannya tak pernah lepas dari botol bir. Mulutnya pun tak jarang disinggahi batang rokok, membuat wajahnya terkepung asap putih tipis. Tak sadar, dalam hati, saya mulai menghakiminya sebagai orang ga bener. Namun, semakin menghujatnya, semakin saya mempertanyakan nilai diri sendiri. Apakah saya lebih baik darinya? Apakah dengan tidak melakukan apa yang dia lakukan, akan hal-hal yang dianggap tabu dalam didikan keluarga serta lingkungan, membuatku menjadi orang yang lebih baik, untuk setidaknya, dibanding Bang Nugi? Saya mendengus di tengah keremangan kamar, mendapati diri sedikit kedinginan oleh hawa malam. Teringat siang tadi saat melontarkan candaan kalau saya ingin mencoba SP, saat itu juga Bang Nugi melarang, jangan, katanya. merokok juga tidak bagus, lanjutnya, padahal saat itu mulutnya sedang menyesap sebatang.

20140928_075531Saya sama sekali tidak melihat kemunafikan di balik kata-kata itu, melainkan ungkapan-ungkapan tulus, walaupun larangannya terhadapku sama sekali tidak diindahkannya sendiri. Apakah dia masih tidak lebih baik dibandingkan diriku? Entah suara gemuruh langit atau gelombang yang menghantam karang, bunyinya teredam dari balik jendela kamar, membuat suasana kamar ini makin senyap. Saya suka mengajak para pelancong untuk menginap di rumah, seru Bang Nugi saat mengendarai mobil menuju Vanimo siang tadi, saya sering ditolong saat kesusahan di negeri orang, jadinya ini lah caraku untuk membalas kebaikan itu. Kalian tahu, berdasar semua pengalaman yang ada, saya yakin orang baik selalu bertemu orang baik, tutupnya. Seketika senyumku merekah mendapat jawaban itu, ya, dia tak lebih baik dariku, begitupun saya, tak lebih baik darinya. Hal-hal baik dari kami akan tampak tergantung cara orang memandangnya. Lagipula tak ada manusia yang sempurna bukan. Selama ini saya selalu memandang negatif hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang dianut, tanpa mempertimbangkan perbedaan pandangan yang nyata. Padahal tidak selamanya diri lebih baik, bahkan dibanding seorang penikmat bir sekalipun. Ada hal-hal yang membuat mereka satu juta kali lebih baik dari saya, begitu pun sebaliknya. Yang perlu kulakukan adalah membesarkan rasa pengertian terhadap hal-hal baru dan tabu, namun tetap berpegang teguh pada keyakinan yang ada.

Aahh, andai saja tidak ada langit-langit kamar, ingin saya teriak terima kasih pada Bang Nugi yang kamarnya tepat di atasku, untuk sebuah pelajaran berharga di malam ini.🙂

69 responses to “Main ke Tetangga Sebelah: PNG (Bagian 1)

    • Iya nih, jadi lebih banyak pengalaman saat bertemu orang baru.
      Kualitas jalannya bagus lho sebetulnya, lebih kokoh dan ga bergelombang. Cuma ga diperbaiki😀

  1. Cay cay chili… Cay cay rice..he.he.he… Vanimo is one of the most memorable place for me to appreciate Jayapura and to be thankful for all the comfort I had in Jayapura my home away from home.

  2. fier saya baru mratiin kamu tuh tinggi ternyata ya🙂 berapa tingginya fier?

    saya juga sempat menduga-duga mbak filipin ini orang filipin lho, tapi trus ah bisa aja kan orang namanya filipin🙂 btw semua kenalan saya yang orang filipin orangnya asyik-asyik…

    asyik ya kalau ada negara lain disatu pulau yang sama, bisa sering-sering keluar negeriii…😀 sayang juga ya masih pake cap-cap paspor gitu.

    setuju banget tuh yang terakhir, dont judge the book by its cover…

    salam
    /kayka

    • Bahahahha, iya nih saya kelewat tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Kurang lebih 180cm.

      Iya, dia dari Filipina. Walaupun tibak bisa digeneralisasikan, tapi teman saya itu memang asyik dan nekad orangnya, jadi enak kalo diajak melancong.

      Sebenarnya ada fasilitas Kartu Merah, jadi ga perlu Visa. Tapi itu hanya berlaku kunjungan bbrp jam, bukan menginap. Makanya kami lebih pilih buat Visa🙂

      Itu pelajaran paling berharga karena langsung saya alami😀

      • betul fier gak bisa dipukul rata semuanya asyik. tapi ya gitu deh gimana gitu lho semua orang filipin yang saya kenal asyik-asyik semua🙂

        btw secara umum okean mana fier, papuanya kita apa papua nugini kah?

        salam
        /kayka

      • Saya cuma punya satu kenalan orang Filipin, ya dia itu, dan untungnya dia orangnya asyik. Hahaha. Mungkin mereka sama seperti kita Kay, tidak terlalu terbebani kompleksitas hidup. Yang penting bisa makan hari ini dan kumpul bareng teman, udah memenuhi arti bahagia. Ga kayak orang Singapura yang kelewat serius. Hahahha

        Tunggu jurnal bagian ke dua ya Kay. Jawabanku ada disitu.🙂

  3. Woh menarik sekali bisa masuk ke PNG. Selama ini saya tak pernah bisa membayangkan seperti apa PNG.
    Mungkin karena satu rumpun, jadi ada semacam kedekatan kultural ya kak.

    Salam kenal.

    • Jangankan dirimu, saya yang tetanggaan dengan PNG saja baru terpuaskan rasa penasarannya setelah berhasil ke sana.

      Iya, mereka masih ada hubungan budaya yang kuat dengan orang Jayapura🙂

  4. Agak miris ya kalau tau PNG masih termasuk negara yang tingkat kriminalitasnya tinggi ya.
    Ngomong-ngomong saya suka banget tulisan ini, banyak banget pengalaman dan pelajaran yang seru.
    Jadi pengen deh jalan-jalan dan ketemu orang-orang baru, oh iya salam buat bang Nugi ya😀

    • Iya sayang sekali, padahal pantainya bagus banget buat berenang seharian. Kalau saja aman. Bisa sering bolak-balik saya ke sana.😀

      Terima kasih ya pujiannya untuk tulisan saya. Pelajaran hidup kan bisa di dapat dari mana saja. Dan karena saya doyan melancong, selalu saja ada hikmah yg bisa diambil.🙂

  5. Pengalaman yang mengesankan banget bisa bertandang ke PNG, Mas. Terima kasih karena sudah berbagi begitu banyak cerita dan pelajaran yang bisa Mas ambil selama di sana :hihi. Entah kenapa membaca ini rasanya campuraduk: antara bersyukur, prihatin, tapi bangga melihat di dunia ini masih banyak banget orang baik yang mau membantu. Saya tunggu postingan selanjutnya :))

    • Hahahhahaha, iya nih, saya berusaha untuk selalu menyisipkan nilai kehidupan yang saya dapat ketimbang hanya berbagi cerita. Melancong dan bertemu orang baru kan tidak selalu menciptakan pengalaman menyenangkan, pasti ada saat2 dimana kita mendapati diri bahwa pelajaran hidup yang selama ini kita punya ternyata belum cukup untuk menjadikan kita pribadi yang dewasa🙂

  6. Orang baik akan bertemu orang baik. Maka, di mana pun, kapan pun mari suka berbuat baik, yakinlah di mana dan kapan waktu nanti kita juga akan mendapatkan kebaikan, bahkan lebih. Suka sekali saya dengan kelimat tersebut, Mas.

    • Setuju mas. Saya juga belajar hal itu dari perjalanan ini🙂
      Apa yang kita beri itu lah yang kita raih. Selalu seperti itu. Jadi, mari lah menebar kebaikan dimanapun kita berada🙂

  7. Pingback: Main ke Tetangga Sebelah: PNG (Bagian 2) | Eat, Pray, Travel!

  8. Salam Fier… selalunya pemergian nekad tanpa dirancang memang memberi pengalaman menarik dan mengasyikkan untuk dikenang. Tambah lagi apabila Allah SWT memudahkan segala urusan tersebut. Kita hendaklah sentiasa bersyukur kepada-NYA.

    • Liburan di Vanimo?? Mantap mas. Biaya sewa di rumah kenalan saya kalau ga salah Rp 10jt perbulan. Tapi ga tau kalau yang lain. Ada hotel juga di sana. Coba cek di Google.

      • Iya mas, bikin usaha di Vanimo tuh termasuk peluang lho. Aplg buka toko. Orang Indo punya banyak toko swalayan di Vanimo.

        Jauhnya mas ke Daru. Naik pesawat pasti ya?

        Iya saya punya FB, mas kasih akun FB dsni, nnt saya undang🙂

  9. terima kasih untuk entry Papua ini..sedikit sebanyak saya dapat information tentang PNG.

    from Malaysia.
    Afifah

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s