Talassa: Pantai Tak Terencana

Pantai Talassa“Rp 800.000??!” seru saya kaget, mendapat jawaban yang sangat tak disangka. Bagaimana mungkin pantai yang jaraknya hanya 150 meter dari Harlem harganya bisa dua kali lipat. Yang benar saja, pikirku kesal, curiga sang pembawa perahu (selanjutnya disebut “Kakak Timo”) tersebut sedang memainkan harga. Saya memandang tak percaya pada Mba Filipin, yang juga memberikan tatapan itu. Cukup sudah kami habis-habisan perjalanan kemarin ke Pantai Maramai—karena jarak semakin jauh, Bapak P minta dibayar lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya. Oke lah tak apa kami bayar ekstra untuk perjalanan tersebut, setidaknya kami ke tiga pantai sekaligus. Lah ini! Cuma selemparan batu dari dermaga Depapre, harganya kok malah bikin pagi indah ini seketika jadi mengecewakan.

“Coba ditawar” bisik Mba Filipin. “Tra bisa kurang kah? Macam Rp 800.000 terlalu mahal kah” kataku pada Kakak Timo. “Maaf ade, tra bisa. Tong ikut harga minyak juga jadi” balasnya, wajahnya tampak mantap. Saya mendesah kecewa melihat mimiknya, percuma saja menawar lagi. Jawaban takkan berubah. “Kita ke Harlem saja” bisikku pada Mba Filipin; saya tidak bisa menyembunyikan nada kecewa. Dia tampak berpikir sesaat, cahaya matahari membuat mata sipitnya merapat bagai dua garis hitam, “Tak apa lah, kita ambil saja tawarannya. Kapan lagi coba kita punya kesempatan ke pantai tersebut. Lagipula saya sudah bosan ke Harlem”. Gantian saya yang memandangnya tak percaya, “serius?” tanyaku. Dia hanya mengangguk. “Kakak, tong pake perahu” sahutku pada pria berbadan tegak itu, yang langsung membantu mengangkat barang ke dalam perahu.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSeraya Wee, Nyonya K, Bon-bon, serta sepupunya satu persatu naik ke perahu, saya dan Mba Filipin memutuskan untuk membeli ikan untuk dibakar nanti—Sebenarnya minggu kemarin, walaupun biaya yang keluar lebih daripada yang diduga, kami cukup beruntung; selepas dari pantai Maramai menuju pantai Skouw, Bapak P menghadang kapal bagan di tengah laut. Beliau meminta ikan tiga ekor yang kemudian kami bakar. Lumayan lah gratis—Di dalam pasar ini kebanyakan ikan yang dijual tampak terlalu besar dan terlalu kecil untuk ditaruh di atas panggangan. Sang penjual pun harus menggali di bagian paling dalam kotak es besar untuk menemukan ikan yang sesuai ukuran. Setelah mengantongi sepuluh potong ikan, kami beranjak ke kios sebelah untuk beli margarin dan kecap, lalu menuju perahu dimana yang lain sudah menunggu.

SAMSUNG CAMERA PICTURESLaut cukup bergelombang pagi ini walau cuaca lumayan cerah. Kakak Timo dengan santai mengendarai perahu. Saya dan Mba Filipin di tempat duduk paling depan, Wee dan Nyonya K di tengah, sedang Bon-bon dan sepupunya menemani sang pengendara perahu di belakang. Semua tampak baik-baik saja sampai perahu tidak berbelok sesenti pun munuju pantai yang seharusnya—Kakak Timo terus melajukan perahu menuju laut lepas. Saya cuma bisa melongok. Bingung dengan yang sedang terjadi. Perahu berlayar kencang meninggalkan pantai itu jauh di belakang. Yang tahu persis pantai itu di kelompok ini hanya saya, itu pun berbekal Peta Google. Padahal sebelum berangkat tadi sudah ditunjukkan ke Kakak Timo letak pantainya di peta, apa dia salah mengartikan? Ga heran lah dia mintanya Rp 800.000. Saya menelan ludah berkali-kali sampai mulut kering gerontang, tapi memutuskan untuk diam saja. Kalau saya beri tahu mereka, pasti pada panik. Lagipula siapa tahu pantai di luar sana lebih menakjubkan. Saya cuma pasang tampang cuek sambil berdoa semoga tidak ada niat jahat yang bergentayangan di dalam perahu ini. Amin.

Yang menunggu di depan ternyata lebih gila lagi! Saat perahu memasuki perairan sekitar tanjung, YA TUHAN, SELAMATKAN KAMI!! Saya termasuk sering berwisata menggunakan perahu, dan telah menghadapi berbagai rintangan laut, tapi yang satu ini benar-benar seperti mimpi buruk. Bayangkan saja, perahu kami seperti ditaruh di atas kain yang dibentangkan, kemudian kain tersebut dikebas dari segala sisi. Jadi lah kami diombang-ambingkan gelombang yang setiap saat bisa menenggelamkan perahu. Karang tajam mencuat di sisi tebing, siap sedia membuat kami karam. Kedua tanganku mencengkeram papan yang diduduki. Mba Filipin diam seribu bahasa. Saya tengok ke belakang, Nyonya K dan Wee tampak berpegangan tangan, menutup mata sambil membaca ayat-ayat Al Quran. Sedang Bon-bon dan sepupunya berlomba tampang siapa yang paling pucat pasi. Saya jadi bingung mau ketawa atau menangis. Diam di perahu rasanya mau gila. Loncat ke luar juga dijamin wassalam.

Kakak Timo melakukan manuver-manuver untuk menghindari gelombang yang datang dari segala sisi. Ini lah tantangan saat melewati tanjung; arusnya tidak beraturan; menciptakan gelombang-gelombang dahsyat; dan tentu saja menelan banyak korban. Tengok saja ujung kanan pantai Base-G yang tepat berada di tanjung—sisi tersebut paling sering menenggelamkan para perenang. Angin bertiup kencang membawa air yang terciprat ke atas perahu, membuat saya dan mba Filipin kebasahan karena duduk paling depan. Dan akhirnya dengan lindungan Yang Maha Kuasa serta kelihaian Kakak Tomi, kami pun terbebas dari jeratan gelombang. Wuih, melewatinya hanya sepuluh menit, tapi terasa bagai selamanya. Semua tampak pucat, apalagi Nyonya K—rasa-rasanya tidak ada darah setitik pun di wajahnya. Lega seperti menguap begitu saja, terkalahkan trauma yang tampak jelas di tampang masing-masing. Saya yakin semua berharap cepat sampai di pantai tujuan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESKami melewati sebuah pantai pasir putih yang tidak begitu luas tepat di sisi lain tanjung. Terus melaju hingga akhirnya perahu mengarah ke sebuah lekukan berpasir putih lainnya, dengan hutan lebat berdiri kokoh di belakangnya. Kata Kakak Tomi, di balik bukit setelah pantai ini ada pantai lainnya yang lebih bagus, tapi laut yang bergelombang menyulitkan perahu untuk sandar (dialog lokal untuk “merapat”). Kalaupun diberi pilihan, kami jelas tidak mau ke pantai tersebut (setidaknya untuk saat ini), sebagus apapun itu. Rasanya jantung belum sanggup untuk menghadapi gelombang-gelombang berikutnya. Perahu melewati jalur kecil di antara terumbu karang, lalu merapat ke pasir. Dibantu Kakak Tomi, kami turunkan semua barang, lalu pria tersebut membawa kami menuju air terjun kecil yang terletak tak jauh di dalam hutan. Beuh! Bayaran yang pantas untuk perjalanan tadi. Sebelum mencapai air terjun di bukit berbatu, kami menemukan tempat yang sudah diatur sedemikian rupa sebagai kamar mandi umum; ada pipa besar yang mengeluarkan air serta tirai seadanya yang terbuat dari plastik. “Yang datang ke sini tuh orang Barat saja, barang pante ini sepi jadi dong suka” jelas Kakak Tomi. Kami lalu mendaki bebatuan menuju air terjun. Jauh lebih kecil ketimbang yang di Bukisi, tapi tetap saja ini kejutan yang menyenangkan.

Pantai Talassa1SAM_2487Setelah kembali ke pantai, kami janjian dengan Kakak Tomi untuk dijemput jam 3 nanti. Dia harus kembali ke dermaga untuk menanti penumpang lain. Jadi lah secara tidak resmi, untuk hari ini, pantai Talassa masuk dalam wilayah kekuasaan kami😀 . Berenam sendirian di pantai, dan tak harus berbagi dengan yang lain. Saya dan Bon-bon segera membersihkan ikan, sedang sepupunya membakar tempurung. Kami lupa bawa pisau, jadi lah kedua tangan menggantikan fungsinya mencongkel insang keluar dari kepala ikan. Setelah bersih, kami semua duduk melingkari kobaran api, menunggu arang jadi. Selain para-para dan papan nama Talassa, semua tampak alami dengan pepohonan rindang besar, serta suara serangga yang menjengkelkan. Kalau memang hanya bule yang selama ini berjemur di sini, saya merasa beruntung sekali menjadi pengunjung lokal pertama🙂 . Nekad memang butuh nyali dan berpeluang tragedi, tapi bayarannya sangat fantastis!

SAMSUNG CAMERA PICTURES??????????????????????????????????????????????SAMSUNG CAMERA PICTURES???????????????????????Satu persatu ikan mulai dibaringkan di atas panggangan. Suhu bara yang tinggi membuat daging cepat matang. Tak butuh waktu lama memanggang semua ikan. Kami pun menggelar tikar, menyiapkan lauk lainnya (salah satunya mie goreng andalan saya, hehe), menuang es sirup ke gelas, lalu pesta ikan bakar pun dimulai. Selalu ada sensansi tersendiri makan di tengah sebuah kesederhanaan. Bekal yang kami bawa termasuk standar warung tegal. Pun bumbu ikan bakarnya tak selezat kafe pinggir laut. Tapi selalu terasa nikmat. Seperti membandingkan masakan rumah dan restoran—sebiasa apapun masakan mama, pasti saja dimakan. Atau mungkin ini hanya karena efek makan bersama, duduk melingkar sambil melontarkan ejekan serta lelucon, yang setidaknya tercipta jalinan komunikasi. Bukan seperti di kantor, dimana makan siang saja berhadapan dengan tembok.

SAMSUNG CAMERA PICTURES???????????????????????SAM_2556 - CopySetelah makan, kami pun berlomba lari menuju pantai. Airnya jernih sekali (saya sampai bosan mengatakan ini pada semua pantai di Jayapura). Satu yang kurang menyenangkan adalah arusnya lumayan kencang. Berenang jadi berasa lelah karena keseringan melawan arus. Tapi hasil dari pergerakan air ini adalah terumbu karangnya sehat serta ikan-ikannya banyak dan beragam, mulai dari yang bentuknya aneh kayak ular, sampai yang besar-besar. Saya, jujur saja, tidak berani mencoba ke bagian yang lebih dalam. Kami terlalu jauh dari peradaban, jadi main aman saja dengan berenang dekat pesisir. Beberapa kali saya membiarkan diri terbawa arus dari ujung ke ujung pantai sambil mengintip ikan berwarna-warni yang berenang di bawah. Nyonya K dan Wee, seperti biasa, berfotomodel ria. Mba Filipin, entah kemana dia. Bon-bon, nekad memanjat pohon kelapa yang ada ayunannya. Sedang sepupunya usil menarik tali ayunan itu. Bon-bon yang ketakuan pun memeluk erat batang kelapa karena takut terjatuh. Hahahaha. Dasar konyol. Berasa seperti menonton adegan komedi ala sirkus.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESKelelahan berenang, kami kembali ke perbekalan untuk makan yang kedua kalinya. Berenang selalu berhasil membuat lapar. Kali ini saya memilih untuk makan lauknya saja. Lagipula masih banyak ikan yang tersisa. Setelah kenyang, saya dan mba Filipin berjalan ke salah satu ujung pantai untuk mengabadikan foto diri dan pemandangan. Ada batang besar yang tumbang ke laut, dan saya pun semangat berpose di atasnya. Kemudian kami menuju ujung lainnya, bergabung bersama Nyonya K dan Wee yang sudah duluan berada di sana. Di sisi ini banyak batu besar. Kami duduk di atasnya dan memandang lautan. Mba Filipin kemudian lanjut berenang lagi. Saya dan Wee sibuk mengeluarkan seekor kepiting kecil dari dalam batu karang, sedang Nyonya K masih asyik berselfie.

SAMSUNG CAMERA PICTURESTak terasa sudah mendekati waktu pulang. Satu persatu kami membilas badan dan berganti baju, kemudian merapikan barang-barang dan mengumpulkan semua sampah. Tak lupa kami mengambil gambar di depan papan nama pantai Talassa. Barang-barang sudah ditaruh di pesisir, biar saat Kakak Tomi datang, tinggal dimasukkan. Tapi ini perahu belum muncul juga, padahal sudah jam tiga lewat. Kami mulai cemas, sampai berandai-andai bermalam di sini. Saya yang kelelahan berenang lama-lama jadi mengantuk dan ketiduran di atas kayu besar. Tiba-tiba suara keras mengagetkan saya. Semuanya beteriak senang saat monyong perahu mendekati pantai. Saya lihat jam tangan, jarum mendekati angkat empat. Wuh! Lama juga saya tertidur. Setelah memastikan semua barang sudah terangkut, kami pun bertolak meninggalkan pantai. Jangan ditanya dah gelombangnya. Makin sore kan makin tinggi. Kali ini kami lebih siap karena sudah tahu apa yang akan dihadapi di depan sana. Dan lagi, andai saja laut lebih tenang, tebing-tebing longsor yang membentuk tanjung tampak luar biasa berlumuran cahaya emas mentari. Terima kasih Tuhan, satu lagi Engkau memberi kami kesempatan untuk mencicipi indahnya duniaMu.SAMSUNG CAMERA PICTURES

59 responses to “Talassa: Pantai Tak Terencana

  1. No pain, no gain…. We must be brave to combat our fears to enjoy the beauty of nature… Sama drngan hidup tanpa keberanian to do something beyond the norms then we will never stand out from the majority.
    You’ve been everywhere so you can be qualified to be a tourist ambassador in Jayapura..hehehehhe… All the best.

  2. aduuuuh..keren banget ah! sebenernya job kamu apaan sih Fier sampe jalan2 teruuusss???!!! aku ngiriiiii! kalo ada lowongan aku apply deh! kan enak. jalan2 terus…pantainya indah dan aku ngebet pengen berenang ke sana ^_^

  3. Wah ada momen deg-degan juga.. Untunglah pantainya indah seperti biasa.. Jadi inget zaman masih ngantor dulu di Kaltim.. Harus pergi dari office A ke office B, biasanya via darat. Supaya cepat, hari itu kita putuskan naik boat menyusuri pesisir timur Kalimantan.. Alamak! Pas gelombangnya kenceng pula! Walhasil nyampe kantor B pada pucat semua.. Hahaha!

    • Bahahahaha, setidaknya walau kita berdua sempat pucat pasi dibuai gelombang, sekarang malah jadi cerita menarik. Tapi kalau untuk diulang lagi, kayaknya jangan sampai dah. Bahahahaha😀

  4. wow..terombang ambing di atas perahu yang disewa seharga 800ribu…tapi spertinya semua terbayar saat tiba di pantai talassa…benar-benar pantai natural yang masih perawan…worderfull……..
    keep happy blogging always…salam dari Makassar🙂

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, Fier…

    Memang mengundang bahaya kalau tidak siap dengan ilmu alamiahnya tentang Pantai yang hendak dituju. Mungkin kerana tantangan gelombang dan sukarnya untuk ke sana menjadikan harga tambang perahu itu sangat tinggi sesuai dengan kepayahan meredah lautannya yang bergelora. Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan hati apabila bisa beraktivitas dengan sesuka hatinya dan selain itu meninggalkan suasana indah yang telah dipotretkan untuk dikenang bersama debaran pengalamannya.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.🙂

    • Kemungkinan besar jarak yang membuat harganya mahal, kalau laut yang bergelombang kan musiman. Tapi setidaknya semua terbayar oleh pemandangan pantai yang indah😀

      • Iya Fier, kedua-duanya mempunyai hubung kait yang relevan hingga diperkira sebagai hatga “nyawa” yang bakal bertarung di samudera raya.

        Saya tidak menyukai gelombang laut kerana selalu muntah apabila berada di atasnya. Tetapi sangat menyukai pantai. Mudahan alam pantai sentiasa lestari untuk ketenangan manusia.

        Salam penghujung pekan.🙂

      • Ternyata Mba Siti kena mabuk laut rupanya. Untungnya saya tidak. Jadi bisa sering-sering bepergian dengan transportasi air.

        Ya, saya sih berharap saat bepergian lagi nanti, tidak seseram saat itu. Hahahahahha

  6. Pingback: Main ke Tetangga Sebelah: PNG (Bagian 2) | Eat, Pray, Travel!

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s