Yoo Ramai-ramai ke Pantai Maramai

Pantai MaramaiMinggu pertama di bulan September benar-benar melelahkan. Rasanya cukup aneh memulai bulan ini bukan dengan rasa ceria, seperti yang selama ini menjadi jargon andalannya. Setelah liburan penuh semangat ke Pantai Pasir 6 dan Pantai Skouw Sabtu kemarin, seminggu penuh kami bergelut dengan kesibukan kantor sekaligus rapat dan mengurusi berbagai keperluan kompetisi Spelling Bee yang, terima kasih Tuhan, hari ini telah kami tuntaskan. Acaranya sukses besar dan benar-benar menguras tenaga—dalam arti sebenarnya karena saya dengan suka rela mengangkat meja, kursi, serta pengeras suara super besar dari lantai tiga ke tempat parkir. Ya, anggap saja fitnes secara akhir-akhir ini saya sering bolos.

“Hari ini Mas AG tiba di Jayapura, dan dia sudah di rumah” kata Mba Filipin yang duduk di bangku tengah kepadaku. Kami sedang dalam perjalanan menuju kantor pusat untuk menaruh barang-barang yang tadi dipakai saat acara. “Saya sudah telepon dia tadi dan dia setuju untuk pergi liburan besok” lanjutnya. Saya sudah cukup lama berkerja dengannya, tapi sampai detik ini belum terbiasa mendengar logat Jayapuranya yang benar-benar kacau. “Jadi?” tanyaku dari bangku belakang. “Ya habis ini kita ke Kampung Vietnam too. Ke rumahnya Bapak P untuk sewa perahunya lagi” balasnya ringan. Ya iya lah! Dia ga bantu angkat-angkat tadi. Badanku yang pegal ini rasanya belum bisa diajak kompromi untuk liburan besok. Saya ingin langsung bilang tidak, atau seenggaknya minggu depan rasanya lebih baik, tapi hanya satu kata yang keluar, “serius?”. Dia tersenyum, tampak menyebalkan, lalu berkata “tentukan saja”. Oouh! Saya benci senyuman itu.

*****************************************************************************************

SAMSUNG CAMERA PICTURESEntah hanya kebetulan atau memang sebuah keajaiban, cuaca selalu memperlihatkan wajah terbaiknya saat kami liburan. Saya dan Mba Filipin selalu berpendapat “dunia mencintai kami”, buktinya langit dan laut selalu biru saat kami berlayar. Tapi rasanya kami salah, karena hari ini dunia terlalu mencintai kami sampai-sampai membuatku menyesal tidak pakai jaket, atau setidaknya baju lengan panjang, untuk menangkis sinar matahari yang menggila di pagi ini. Ceritanya mau pamer badan hasil angkat beban semalam, tapi berakhir dengan kulit perih bahkan sebelum terjemur matahari saat berenang. Saya cuma bisa berdoa, semoga pelembab kulit di rumah masih banyak.

SAMSUNG CAMERA PICTURESBadanku terguncang seraya ombak menghantam badan perahu. Duduk disampingku Mba Filipin dan Mas AG—pria berkacamata ini tampak lebih hitam sejak terakhir kali menampakkan diri beberapa minggu lalu. Bon-bon, seperti biasa, duduk di haluan. Sedang bangku belakang ditempati Nyonya K, Wee, Tante H serta Suami, dan tentunya Bapak P sang pengendali perahu. Personel kami bertambah kali ini, makanya kemarin saya minta bangku tambahan agar tidak banyak yang lesehan. Ngomong-ngomong perutku yang kosong jadi agak mual, dan saya jadi setengah melamun. Tiba-tiba pandanganku tertumpu pada seekor kupu-kupu cokelat yang terbang ke tengah laut. Ya Tuhan! Ini bukan badan lagi yang terguncang, tapi otak juga. Masa iya ada hewan itu di tempat seperti ini. “Wah lihat ada kupu-kupu terbang ke laut. Mau apa coba dia?” Protes Mba Filipin, yang seketika membuatku mendesah lega karena makhluk itu bukan jadi-jadian. Lagipula, masa bodoh ah mau bikin apa serangga itu di Samudera sana, yang penting otakku baik-baik saja. Saya pun mengambil tiga potong roti isi hasil olahan Wee dari kotak makan, lalu melahapnya.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKali ini kami menuju sebuah pantai yang lumayan jauh dari kota. Sekitar 50 menit dari dermaga kecil DOK 2 tempat kami bertolak. Namanya pantai Maramai—pantai yang sama sekali baru bagi kami dan orang Jayapura lainnya. Saya sebenarnya menunjukkan pantai lain di peta Google pada Bapak P kemarin, yang ada mercusuarnya. Tapi katanya kombinasi ombak, karang, serta arus menuju pantai tersebut agak mustahil untuk dilalui. Jadi lah beliau mengarahkan kami ke pantai tetangganya yang sedang kami tuju ini. Alasannya “pante Maramai tuh bagus. Da pu karang tra terlalu banyak jadi tong pu perahu nanti bisa masuk”1. Saya cuma bisa mendesah kecewa, secara pantai yang katanya susah dimasuki perahu itu berpasir putih dan tampak keren sekali, bahkan dari citra satelit sekalipun. Tapi, ya, dari pada perahu karam dan bernasib seperti penumpang Titanic, saya mengiyakan saran Bapak P.

 Kami lewati lagi jalur yang sama seperti minggu kemarin. Pantai Base-G, Pasir 2, dan pantai-pantai lainnya. Ajaibnya setelah melewati teluk Pantai Pasir 6, dengan jelas bisa kami lihat air terjun yang dibilang Bapak P. Letaknya memang agak jauh ke atas dan dirimbuni pepohonan. Terus melaju ke Barat, perbukitan yang memagari sisi paling luar pegunungan Cycloops semakin indah. Hijaunya populasi pohon tampak bagai karpet yang melingkupi bukit-bukit tersebut. Terkadang kami melewati tebing karang yang longsor; berpapasan dengan pantai penuh batu karang putih, serta yang berpasir abu-abu; bahkan ada sekumpulan rumput hijau terang layaknya padang golf di salah satu sisi bukit. Saya lumayan sering melewati jalur ini menggunakan kapal roro, tapi tidak pernah berkesempatan menikmati pemandangan unik ini karena kapal selalu berlayar di malam hari.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSaya terus melacak keberadaan kami di GPS hape. Posisi kami sudah semakin mendekati tujuan. Dan saat menengok ke haluan, sebuah tanjung besar menghalang di kejauhan. Tak lama tampak lah goresan lebar pasir putih antara air laut dan daratan. Di ujung terluar tanjung berdiri kokoh sebuah mercusuar. Aah, pantai idamanku yang terhalang rintangan. Semakin dekat, semakin jelas pula pecahan ombak di pesisirnya. Harus saya akui kebenaran kata-kata Bapak P. Tampak mengerikan sekali pecahan ombak di atas dinding karang yang mencuat. kelihatannya memang mustahil kami bisa ke sana. Rasa kecewa makin memuncak saat perahu berbelok kiri, menuju pantai mini berhias rayuan daun kelapa. “Bapak, betul kah perahu tra bisa masuk ke sana?”2 teriakku pada Bapak P. Suara mesin serta deru angin menyulitkannya menangkap kata-kataku. “Iyo, da pu karang terlalu tajam. Baru arus kuat lagi. Makanya tong ke pantai yang di depan tuh saja”3 balasnya, tangan kirinya menunjuk pantai di depan kami. Mba Filipin melihatku, tepatnya rasa kecewa yang jelas tampak sekali di wajahku. “Tidak ada siapa pun yang bisa bawa kamu ke sana” katanya. Kenyataan yang menyakitkan memang. Tapi, mau bagaimana lagi.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESPerahu dengan mudahnya masuk ke pesisir pantai, seperti ada jalur kecil yang memang sengaja dibuat. Uniknya, jalur tersebut terus berlanjut ke daratan hingga tersambung dengan aliran kali. Setelah perahu berlabuh, kami pun menurunkan seluruh barang menuju lahan terbuka di depan sebuah rumah reyot. “Rumah siapa itu?” tanya Mas AG penasaran pada Bapak P yang sibuk menarik-narik perahu. “Itu bapak Camat pu rumah. Da pu kantor ada di balik bukit sana”4 jelasnya, sambil menunjuk dimana kantor itu semestinya berada. Kantor distrik? di tempat terpencil seperti ini? Memangnya ada akses darat? saya jadi dibuat heran. Jadinya kalau mau buat KTP harus berperahu ke sini? Kok terdengar aneh ya. Mungkin Bapak P sedang mengigau. Beliau kan doyan minum bir. “Trapapa, mandi saja di sini. Bapak kenal bapak camat. Mungkin pace ada pi keluar kah.”5 tambahnya lagi. “Oh iyo sudah, bapak”6 seruku, lalu mengikuti yang lain merapikan bekal makanan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAM_2069Sebelum menikmati asinnya air laut, kami memutuskan untuk melihat aliran kali di ujung pantai. WOW! Jayapura seakan tak ada hentinya memberikan kami kejutan dengan keindahan alamnya. Kalinya tidak deras, hanya aliran kecil yang membentuk kolam. Airnya jernih sekali. Saat saya menjejak di dalamnya, ada sensasi eksotis—bagian tumit ke atas terasa dingin, sedang telapak kaki yang menjejak di atas pasir terasa hangat—pengaruh sinar matahari yang terserap pasir sepertinya. Pepohonan di sekitarnya pun mengeluarkan akar-akar yang menancap ke dalam kolam, memberikan tempat sembunyi pada ikan-ikan kecil bercorak strip kuning-hitam. Saya dan Bon-bon mengeksplorasi lebih ke dalam hutan. Kami mendapati badan kali meluas ke arah bukit, dengan ribuan batu kali bertebaran, tapi tak tampak air yang mengalir. Mungkin air akan melimpah saat musim penghujan. Beberapa pohon hias pucuk merah yang diperjualbelikan tumbuh liar di sini. Kalau ada orang jahat, pasti langsung dicabut dan ditanam di depan rumahnya. Dan bagusnya, kami tak termasuk golongan orang-orang itu😀 .

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURESPuas main di kali, separuh dari kami pun berenang di pantai, atau istilah lokal kami mandi pante. Penggunaan istilah yang bagi orang Indonesia Barat terdengar janggal. Mandi kok di pantai! Berenang lah! Istilah ini muncul karena berenang di pantai sudah menjadi budaya orang Jayapura. Kegiatan di pantai bagi kami bukan macamnya wisata serius seperti warga Jakarta dan kota-kota satelitnya yang berbondong-bondong menggunakan bus besar, jauh-jauh ke Ancol, lalu bergembira ria duduk di atas pasir sambil menikmati makan siang, sedangkan anak-anak mereka berenang bersama ratusan pengunjung lainnya. Pantai bagi kami adalah tempat nongkrong, kencan, berbagi waktu bersama keluarga, sekedar duduk-duduk di sore hari, dan sebagainya yang berhubungan dengan keseharian hidup, bukan waktu yang dikhususkan untuk wisata.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSaya dan Mba Filipin mengenakan baju pelampung dan berenang di area yang agak dalam. Tak ada yang bisa dinikmati di lantai lautnya, mungkin karena pengaruh air tawar yang mengalir langsung ke pantai sehingga kadar garam menurun, dan terumbu karang pun susah bertahan hidup. Hanya tampak belasan ikan sebesar telapak tangan  berlalu-lalang di antara kaki kami. Di pesisir yang berpasir abu-abu, tampak hampir semua teman yang lain leyeh-leyeh menikmati angin laut. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala; jauh-jauh ke pantai kok malah tiduran. Apa ga cukup istirahat semalam. Atau mungkin akibat rayuan pantai kelapa. Entah lah. Yang pastinya saya dan Mba Filipin sangat menikmati pemandangan sekitar; mulai dari airnya yang jernih dan biru, jejeran batu kali di wilayah dangkal; hingga seekor burung elang yang melayang mengincar mangsa.

Dari sini pula saya masih bisa melihat, entah apa nama pantai itu, di kejauhan. Mendengus kesal, iya. Secara saya mungkin bisa menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di pantai itu. Dan mungkin juga bisa memberikan nama. Hehe. “Tra ada jalur darat ke sana. Terlalu jauh, ade. Barang semuanya hutan jadi”7 kata Bapak P yang tiba-tiba terngiang. Saya tadi sempat menanyakan perihal jalur darat untuk mencapai pantai itu. Tapi, ya, itu lah jawabannya. Terus, bagaimana mercusuar itu bisa dibangun? pikirku, kesal sekaligus kecewa. Pekikan burung gagak seketika mengagetkanku dari lamunan. Rasanya aneh tiba-tiba terjebak dalam pikiran saat dibuai riak ombak. Saya melirik Mba Filipin yang asyik sendiri terombang-ambing. Ya, impian pasti akan terkabulkan, kalau memang yakin dan diperjuangkan, kembali kuberbicara pada diri sendiri, seperti pantai Skouw bukan? Butuh enam tahun bagi wanita bermata sipit itu untuk mewujudkannya, untuk berada di sana serta mensyukuri apa yang baru saja didapatkannya. Dan ini baru sehari kamu bermimpi untuk bisa mencapai pantai itu, tapi sudah kecewa berat gundah gulana. Masa kamu kalah dengan si Filipin itu. Ombak lumayan besar tiba-tiba menyapu wajahku. Saya terbatuk-batuk karena air masuk lewat hidung. Mba Filipin juga gelagapan karena tak siap mendapat serangan ombak tadi. Senyumku mengembang mengejeknya, kemudian memalingkan pandangan dan menatap pantai yang berbaring pulas di ujung tanjung. Ya, kita lihat saja nanti. Saya yang menyerah bermimpi, atau kamu yang tetap tak tersentuh.

****************************************************************************************

Saat berendam di kali untuk menghilangkan sensasi lengket di kulit, saya lihat Mas AG, suami tante H, Bon-bon serta Bapak P bersama-sama mendorong perahu menuju lautan. Wah, ternyata air meti (dialek lokal: surut). Saya segera berlari menuju pantai lalu ikut mendorong sebelum perahu terjebak lebih lama. Bisa bahaya kalau kami terjebak di sini semalaman.😀SAMSUNG CAMERA PICTURES

Terjemahan dialog logat Melayu Papua:

1: “Pantai Maramai bagus kok. Karangnya tidak terlalu banyak, jadi perahu bisa berlabuh di pesisir dengan mudah”

2: “Pak, beneran nih ga bisa ke sana?”

3: “Iya. Karangnya terlalu tajam, dan arusnya terlampau kuat. Karena itu kita ke pantai yang di depan sana saja”

4: ”Itu rumahnya pak Camat. Kantornya ada dibalik bukit sana”

5: “Tidak apa-apa, berenang saja di sini. Saya kenal kok dengan pak Camatnya. Mungkin beliau sedang keluar”

6: “Ya sudah pak kalau begitu”

7: “Tidak ada jalur darat ke sana. Terlalu jauh, dik. Soalnya hutan semua wilayah ini”

61 responses to “Yoo Ramai-ramai ke Pantai Maramai

  1. Another unique beauty of nature…. Very rocky beach.
    Learn to say NO if you say YES mean it.🙂
    To that dream beach of yours, if not reachable by boat then helicopter is the best option.❤❤❤ 😀

    • Iya nih alhamdulillah Allah masih memberi kesehatan dan rezeki biar bisa terus mengeksplorasi pantai di Jayapura🙂 . Ayo donk ke Jayapura biar diajak berenang di pantai🙂

    • hehehehhee, ya begitu lah mang, kalau ada kesempatan dan kesehatan masih diberikan Allah, ya pergunakan sebaik2nya untuk menjelajahi bumiNya😀

  2. Keren semua pantai di blog ini. Keindahan tanah Papua sangat khas dari laut sampai gunung. Bisa gak saya disambungkan dengan temannya di entry Pantai Skouw?Trims.

      • Email/nomor hp temanmu yang mau ke Pantai Skouw dari dulu. Sa penasaran aja kok bisa bisa dia tahu pantai skouw sementara sa ini baru tahu ada pantai2 indah itu dari blogmu.Trims.

    • Yoha, karena keren itu lah saya jadikan jurnal di blog. Biar orang2 sadar betapa indahnya negeri ini.
      Saya bantu aminkan deh bisa sampai ke Jayapura, amiin😉

  3. Pingback: Talassa: Pantai Tak Terencana | Eat, Pray, Travel!

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s