Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

Bukisi2Hari sudah mulai gelap saat saya terbangun. Tampak langit membiru tua dari balik jendela, perlahan-lahan berganti warna lembayung. Saya bangkit lalu duduk dengan kaki menggantung di sisi tempat tidur. Kepala agak pening, kulit pun serasa panas dan lengket karena belum dibilas air tawar. Saat kembali ke penginapan tadi, saya langsung terlelap akibat kelelahan berenang serta kurangnya tidur semalam. Segera saya ambil hamduk dan sabun di tas, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di bawah. Terdapat dua bilik, tapi hanya satu yang bisa dipakai. Walaupun semua ala kadarnya, air bersih di Bukisi sangat lancar dan melimpah. Mengalir tanpa henti dan terasa segar di kulit. Tak tahu dari mana air ini berasal, yang pastinya seakan takkan pernah habis. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan rumahku di kota yang hanya dialiri air dua kali seminggu. Itu pun terkadang seminggu penuh tidak ada air sama sekali hingga harus beli air tangki sekian liter.

P1100418Yang tidak “lancar” di kampung ini adalah listrik. Setahu saya mereka punya alat pembangkit, tapi katanya sedang dalam perbaikan. Jadi lah satu kampung gelap remang-remang, hanya diterangi pancaran lampu pelita. Jujur saja, untuk situasi seperti ini, saya lebih suka. Tak ada sinyal, tak ada lampu. Hanya kami dan kesederhanaan hidup. Walaupun kemana-mana harus bawa senter, tapi sensasi ini entah mengapa membuat kami nyaman. Mungkin karena muncul perasaan dimana kami terputus dengan dunia luar, dengan pekerjaan dan hingar-bingar suasana kota. Tak ada gangguan suara TV dan bising kendaraan. Hanya deburan ombak, desisan buih dan daun kelapa yang tertiup angin, serta aroma khas kayu bakar di tungku pembakaran.P1100415

Kami menaruh dua pelita di atas pagar di depan tiap kamar ujung. Cahayanya yang kekuningan berbayang-bayang di antara kegelapan. Angin yang bertiup menggerakkan apinya yang kecil, membuat bayangan kami tampak ganjil di dinding kayu. Tak lama Karel muncul dari balik kegelapan sambil menenteng dua ekor ikan merah besar—dia tak memakai apapun untuk menerangi jalannya, mungkin matanya sudah terbiasa dengan keadaan ini. Selepas berenang di Senukisi siang tadi dia mengajakku mancing, tapi karena terlalu lelah, saya tidak mengiyakan. Lagipula saya tidak suka proses menunggu dalam memancing. Tapi saya sama sekali tidak menyangka Karel akan mendapat dua ekor ikan besar ini. Kan untung-untungan kalau mancing. Seakan-akan ada tombol di gagang pancingnya dengan pilihan berbagai macam ikan yang diinginkan. Tinggal pencet dan kail akan mencari ikan tersebut. Saya jadi tak bisa memastikan siapa yang benar-benar beruntung: kami atau Karel😀 .P1100439

Nyonya K dan mba Filipina mulai menyiapkan bumbu dan sambal colo-colo. Kami tak berencana untuk membumbui lengkap ikan yang akan dibakar, hanya dibalur garam serta sensasi rasa asam dari jeruk. Lagipula, tak ada yang bisa mengalahkan rasa daging ikan yang baru saja dipancing. Karel dan Bon-bon menyiapkan tempurung yang ditaruh di atas selembar seng besar, lalu membakarnya agar menjadi bara untuk memanggang ikan nanti. Api besar yang tercipta menerangi sisi depan penginapan, serta memberi rasa hangat di sekelilingnya. Berhubung hanya ada satu kompor minyak yang tersedia, secara bergantian kami panaskan semua makanan sisa siang tadi. Juga menanak nasi tambahan karena akan mengundang beberapa kawan Karel untuk makan malam bersama. Saya sendiri melakukan keakhlianku; memasak sepuluh bungkus mie instan😀 . Kami benar-benar menikmati momen ini. Bagaikan keluarga yang hidup dengan kekurangan, tapi merasa cukup. Tak berlebih, tapi bahagia. Bercanda, tertawa, saling menggoda—jalinan komunikasi tatap muka yang sesungguhnya. Seakan-akan kodrat kami sebagai manusia seutuhnya telah kembali lagi, berupa rasa hikmat saat menikmati ekspresi wajah lawan bicara, TANPA perantara hape maupun media sosial.P1100446

Setelah seluruh sajian terhidang, kami pun mulai menyantap bersama. Ikan bakar dengan bumbu sederhana itu rasanya nikmat sekali. Kebersamaan pun menambah asyik suasana. Sampai-sampai saya dan mba Filipina rebutan daging ikan yang tersisa. Maklum, sama-sama penggila makanan laut. Selesai makan, kami lalu mengantar makanan ke rumah Karel agar tidak mubazir. Setelah itu saya dan Bon-bon membawa piring kotor untuk dicuci di bak umum jauh di belakang kampung dekat muara. Beuh, mencuci piring di tengah kegelapan dengan hanya bermodal senter tuh rasanya sesuatu sekali. Suara derap langkah hewan yang berkeliaran di sekeliling kami makin membuat suasana mencekam. Bon-bon segera membersihkan semua peralatan, lalu dengan langkah cepat, kami kembali ke penginapan.P1100448P1100449SAMSUNG CAMERA PICTURESP1100466

………………………………………………………….

Saya pribadi belum pernah menyaksikan samudera di atas awan ditambah suguhan matahari terbit langsung dari puncak gunung, karena memang saya malas mendaki. Tapi bagiku, sampai saat ini, tak ada yang bisa mengalahkan pemandangan kala mentari muncul dari peraduannya di garis horizon lautan. Semburat warnanya sangat mempesona; jingga, kuning, ungu, merah jambu, putih, abu-abu, semua berpadu. Aroma asin angin laut serta desisan buih dari pecahan ombak makin melengkapi suasana. Saya hanya bisa terperangah, berdiri di pesisir pantai sambil merasakan air laut di kaki.image

Semakin tinggi mentari, semakin bergegas pula kami merapikan barang bawaan. Kami sudah harus segera meninggalkan kampung sebelum penduduk pulang dari gereja. Kami pun berpamitan pada tetua adat setempat, lalu menenteng barang menuju perahu. Kabut tipis tampak melayang-layang di udara saat kami bertolak dari dermaga—ucapan sampai jumpa lagi yang lembut. Saya senang sekaligus sedih karena tidak tahu kapan lagi bisa mengunjungi Bukisi dengan segala pesonanya. Dan, jujur saja, ada sedikit rasa ironi lainnya. Saya tak tahu seperti apa definisi kebahagiaan bagi masyarakat setempat, apakah itu hidup sesederhana ini atau mungkin meginginkan yang lebih baik. Tapi sebisa mungkin semuanya tetap seperti ini, tak ada yang berubah, karena orang dengan hidup seperti kami masih membutuhkan tempat layaknya Bukisi untuk sejenak lari dari kesibukan. Atau, hanya untuk sekedar menikmati hidup sebagai manusia seutuhnya.???????????????????????????????

 

8 responses to “Berlayar ke Kampung Bukisi (Bagian 3)

  1. These are the moments to remember forever. Thank you for writing about Bukisi, it brings back such wonderful memories. Bukisi tiene la belleza natural.El sitio perfecto para alojarse. <3<3<3

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s