Pantai Harlem (tanpa ‘shake’) :D 

Mulai dari pos ini, dan untuk setiap artikel mengenai Jayapura, saya akan menyertakan logo "Kunjungi Jayapura 2015" sebagai bentuk kampanye pariwisata saya terhadap Jayapura. Perlu diketahui, saya sendiri yang merancang dan membuat logo tersebut, dan saya tidak mengadakan kerja sama dengan pihak manapun dalam upaya ini. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Jayapura. Mohon dukungannya ;)

Mulai dari pos ini, dan untuk setiap artikel mengenai Jayapura, saya akan menyertakan logo “Kunjungi Jayapura 2015” sebagai bentuk kampanye pariwisata saya terhadap Jayapura. Perlu diketahui, saya sendiri yang merancang dan membuat logo tersebut, dan saya tidak mengadakan kerja sama dengan pihak manapun dalam upaya ini. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Jayapura. Mohon dukungannya😉

Halo semua, apa kabar? Saya kabur dari dunia perblogan karena, ditarik 3 bulan ke belakang, saya dipadati oleh jadwal berlibur ke pantai😀 . Kedengarannya songong, tapi memang begitu lah kenyatannya🙂. Saya tunda dulu jurnal perjalanan saya sebelumnya yang sudah sampai jurnal 4, karena mau fokus menceritakan pantai-pantai yang saya kunjungi belakangan ini.

IMG_9773Tengok lah sekali lagi judul pos ini. Dari namanya saja sudah tidak asing, Harlem, karena sempat tenar dengan video-video yang bejibun di YouTube. Tentu saja yang disebutkan itu adalah Harlem Shake yang sempat meledak kemarin-kemarin. Namun, kita tidak akan membicarakan lebih jauh mengenai dahsyatnya Harlem Shake, melainkan Harlem lainnya. Harlem yang akan saya ceritakan di pos  kali ini adalah pantai yang sekarang sedang menikmati masa jayanya sebagai idola pariwisata baru Jayapura.DSC_0384

Ketenaran Pantai Harlem dimulai sejak tahun 2010 saat pencinta pantai sudah mulai “puas” dengan keindahan Tablanusu. Mereka mencari alternatif lain untuk menikmati asinnya air laut. Dan tak lama kemudian muncul lah pantai ini, dengan cita rasa yang jauh berbeda: pasir putih, air yang jernih, terumbu karang yang sehat dan eksotis, serta belum begitu komersial. Bagaimanapun, dari waktu ke waktu, hingga pos ini dibuat di penghujung tahun 2014, Harlem telah dikomersialkan sedemikian rupa hingga tak pernah sepi pengunjung di hampir tiap akhir pekan.

Saya sendiri baru sempat mencicipi keindahannya di awal tahun ini. Dan sudah terhitung dua kali saya ke sana. Pertama bersama sahabat, yang kedua bersama teman kantor. Perjalanan menuju Harlem pun cukup jauh (untuk ukuran orang Jayapura); kurang lebih 2 jam perjalanan darat melewati perkampungan transmigran yang jalannya aduhai sarat lubang, lalu setelah sampai di dermaga, lanjut lagi menyeberangi laut meIMG_0003nggunakan perahu cepat selama ± 20 menit.

Berikut akan saya ceritakan kali pertama menyambangi Harlem; sebuah pengalaman yang sungguh ruar biasa.

Kami memulai perjalan darat dari kota agak kesiangan, dan tiba di dermaga Depapre sekitar jam 12. Saya, yang ketua rombongan, pun mulai tawar-menawar harga sewa perahu. Setelah perang harga, akhirnya kami sepakat PP di nilai Rp 350.000 (harga normal). Kami pun bersiap menaiki perahu sambil angkat-angkat bekal makanan dan minuman. Terhitung ada 8 orang, termasuk pak supir perahu tentunya. Semua duduk berjejeran mengahadap haluan. Sejauh mata memandang laut tenang-tenang saja, walau langit agak sedikit mendung. Saya pun sempat bertanya pada pak supir tentang gelombang laut (mengingat sebenarnya bulan Februari masih musim ombak). Tapi katanya “Ah, santai saja”, respon yang, jujur saja, sama sekali tidak menurunkan rasa was-was.IMG_9765

Setelah perahu lepas dari dermaga, kami pun mulai bersorak sorai gembira. Tak lupa ceklak-ceklik foto dengan ekspresi “liburaaaaaannnnnnn”. Makin ke tengah laut kok perahu semakin naik turun. Saya pikir, normal lah ada gelombang, namanya juga laut. Tapi ini makin menggila! Suasana tiba-tiba berubah; langit makin gelap, angin makin kencang, dan gelombang setinggi 3-4 meter menerjang kami tak ada habisnya. Rasanya seperti ada dalam adegan bertahan hidup ala film Hollywood. Suara gelak tawa dan cekikikan seketika berubah menjadi pekikan. Barang-barang kami berserakan. Mana supirnya ini sepertinya habis minum bir, dia melakukan manuver-manuver gila untuk menghindari ombak. Perahu serasa dibontang-banting, layaknya bisa patah jadi dua ala kapal Titanik.IMG_9829 - Copy

Saya, jujur diakui, deg-degan juga. Walaupun jago renang, dalam kondisi seperti ini saya ga yakin bisa selamat. Mana ada dua teman yang ga tahu berenang, dan parahnya kami tidak bawa baju pelampung!! Untuk menghilangkan rasa takut, saya teriak-teriak saja, layaknya naik roller coster. Pas tengok ke belakang, beberapa sahabat saya sudah pucat pasi sampai pengen nangis. Konyolnya, saya malah ketawa lihat ekspresi mereka. Yang tadinya berselfie ria, sekarang diam bak patung pucat.

IMG_9791Setelah 20 menit penuh adrenalin dan goncangan mental, akhirnya kami tiba di Harlem. Dada yang sejak tadi digebuk jantung langsung plong melihat pesisir pantai ini. Sungguh mempesona. Bagaimana tidak, airnya jernih sekali. Berwarna biru laguna dan cyan. Pasirnya putih bersih berpagar pepohonan rindang. Tidak ada gangguan tukang jualan jagung rebus dan pelampung beraneka rupa. Yang ada hanya kami dan alam. Apalagi ada laguna air tawar yang berwarna hijau zamrud, yang mengukir aliran kecil langsung ke laut. Seakan-akan kata indah pun tidak cukup untuk menggambarkan pantai ini.

IMG_9824Kami janjian dengan pak supir untuk dijemput jam 4 sore karena dia harus balik lagi ke dermaga. Setelah menaruh barang-barang di pondok, kami langsung ganti baju dan terjun ke laguna. Airnya segar, walaupun ada sedikit sensasi licin di kulit. Puas dengan air tawar, kami langsung menuju pantai yang berair hangat. Kerennya, hanya berjarak 20 meter dari pesisir, kami sudah bisa menikmati keindahan taman bawah air. Terumbu karangnya sehat dan berwarna-warni. Ikannya pun bermacam rupa. Rasanya terbayar sudah perjalanan mengerikan tadi.IMG_9844

Makin sore, makin banyak pula yang datang. Waktu pun serasa diterjang angin; tau-tau sudah mendekati waktu pulang. Pak supir akhirnya menjemput kami setengah jam lebih telat dari yang dijanjikan. Dan please, jangan lah ditanya bagaimana perjalanan pulangnya, karena kadar mengerikannya tidak berkurang sedikitpun. Ya, laut memang tak pernah bisa ditebak.🙂IMG_0001

 

Tips:
1. Berhubung jarak yang cukup jauh, sebaiknya bertolak dari kota sepagi mungkin agar bisa menikmati Harlem lebih lama.

2. Penyewaan mobil banyak di Jayapura. Kebanyakan tarif pakai sehari (beserta supir) Rp 500.000. Kalau sewa punya hotel bisa lebih mahal.

3. Rutenya: Jayapura-Sentani-Depapre (jalur darat), Pelabuhan Depapre-Harlem (jalur laut). Bisa parkir mobil di dermaga.

4. Transportasi umum menuju Depapre masih minim. Sebisa mungkin pakai mobil sewaan (Avanza paling murah).

5. Rp 350.000 adalah harga standar untuk sewa perahu cepat, tapi kalau harga BBM naik, harga sewa pun mengikuti.

6. Sebisa mungkin bawa bekal sendiri karena tidak ada warung makan. Hanya ada jajanan ciki-ciki dan popmie.

7. Fasilitas yang tersedia di pantai ini hanya toilet dan kamar ganti. Penginapan belum tersedia. Tapi kalau mau berkemah bisa, asal bawa peralatan sendiri. Dan jangan lupa izin dulu sama tetua kampung setempat.

8. Bawa tabir surya, baju pelampung, serta kacamata snorkeling.

9. Untuk hiburan, sekarang sudah ada perahu pisang (banana boat). Harga sewa Rp 30.000/orang.

10. Harga sewa gazebo Rp 150.000, sudah termasuk tungku pembakaran dan tempurung kelapa.

11. Dilarang buang sampah sembarangan! Pantai Harlem sangat bersih.

12. Jaga kelestarian terumbu karang! Jangan sembarang sepak kiri-kanan pas berenang maupun snorkeling!

27 responses to “Pantai Harlem (tanpa ‘shake’) :D 

  1. Pingback: Berlayar ke Kampung Bukisi (bagian 1) | Eat, Pray, Travel!

  2. Pingback: Ber-5 ke Pantai Pasir 6 | Eat, Pray, Travel!

  3. Pingback: Talassa: Pantai Tak Terencana | Eat, Pray, Travel!

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s