Jurnal 4: Korban Promosi

Penginapanku terletak di antara jejeran ruko, bahkan tampilan luarnya hanya pintu masuk dengan kunci otomatis dan papan nama. Di balik pintu menjulang tangga menuju lantai dua dan tiga. Suasananya agak temaram, dipucati lagi oleh warna dinding yang kehijauan. Suara obrolan menyelinap dari ambang bawah pintu ruang resepsionis, berbisik di dinding dan menjalari udara hingga sampai di  gendang telingaku. Saya sendiri sedang melangkah perlahan menaiki anak tangga, namun ke dua mataku tertuju pada gambar-gambar di salah satu dinding; bukan foto pemilik penginapan maupun displai isi kamar, melainkan hal kecil yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata negeri ini—Malaysia.

Lebih dari lima gambar terpampang, menampilkan destinasi pariwisata andalan di beberapa negara bagian: Penang, JB, Kelantan, Melaka, Sabah, dll. Rata-rata menampilkan empat tempat menarik untuk disantroni. Beberapa telah saya kunjungi. Yang lainnya baru pertama kali saya lihat. Semua dikemas secara sederhana, tapi tetap menarik perhatian.

Seketika muncul beberapa pertanyaan di benak seraya langkah terus menjejak menuju kamar, “Kenapa harus repot-repot promosikan negara bagian lain? Toh ini kan di KL”. Dengan segala modernitas yang ada, gedung kembar tertinggi di dunia, transportasi berbagai rupa, surga belanja, hingga kuil Hindu yang baru saya kunjungi siang tadi, bukan kah lebih baik memasang gambar yang mempromosikan KL saja, biar wisatawan makin tumpah ruah, sampai-sampai mau jalan saja harus saling senggol. Makin untung, kan?

Pertanyaan ke dua “Kenapa harus repot-repot promosikan negara bagian lain? Toh penginapan ini ga punya banyak cabang di tempat-tempat itu”. Setahu saya, selain di KL dan Melaka, penginapan ini adanya di negeri tetangga—Singapura. Jadi, daripada turis pada kabur ke JB dan Penang, mending tetap di KL saja. Kalau bisa nginapnya dua sampai tiga bulan. Semakin untung, kan?

Pertanyaan terakhir “Kenapa harus repot-repot promosikan negara bagian lain? Di dinding samping tangga lagi”. Setahuku Malaysia tidak masuk daftar negara-negara miskin. Petronas saja sukses dibuat, belum lagi pelaksanaan MotoGP di Sepang yang superduper mahal itu, masa iya promosinya di tempat seperti ini. Kayak yang ga modal banget. Ya, minimal baliho lah, bro.

Sambil merebahkan kepala di bantal, saya singkirkan segala pikiran egois atas tiap pertanyaan yang muncul, mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda. Agak konyol memang tampaknya. Hal ga penting seperti ini bisa jadi beban pikiran. Tapi bukan kah pelajaran tidak hanya didapatkan dari kata-kata orang besar sekelas Malcolm X., tapi bisa juga dari hal-hal yang selalu dianggap ga penting untuk direnungkan. Contohnya, ya, seperti yang sedang saya pikirkan ini, tentang betapa jitunya strategi promosi pelancongan Malaysia sampai-sampai penjualan nilai wisata dimulai dari hal-hal kecil, sekecil iklan persegi panjang di dinding samping tangga yang temaram di salah satu titik terkecil di peta Kuala Lumpur. Sungguh tempat ini sangat lah strategis. Bayangkan bila ada 100 orang yang menginap di sini, dan tiap hari ada 100 pasang mata melihat iklan-iklan tersebut saat melintasi anak tangga. Belum lagi minimal tiap tiga hingga empat hari terjadi pergantian penginap, keluar-masuk, dan itu berarti ada tambahan puluhan pasang mata lainnya untuk digaet. Promosi sukses besar tanpa harus buang-buang duit berlebih ngiklan di baliho!

Atau seperti adanya kesadaran tiap insan negeri ini untuk mendukung majunya bisnis pariwisata. Semua bahu-membahu ikut mempromosikan apa yang layak dipromosi. Tak apa lah para turis tersebut pergi ke Penang dan menikmati layanan di hotel berbeda sambil minum jus jeruk, toh masih banyak turis lain yang keliaran mencari tempat berteduh. Lagipula, semakin terjelajahi seluruh Malaysia, semakin terkenal lah negeri ini. Dan itu berarti makin banyak turis yang datang berkunjung. Promosi sukses besar, tanpa harus mengorbankan salah satu pihak!

Atau seperti betapa merata dan adilnya promosi Menteri Pelancongan terhadap seluruh potensi wisata yang ada di Malaysia. Negara bagian yang punya jualan, entah itu wisata pantai, selam, gunung, rumah ibadah, museum, sampai gedung tua pun pasti dibantukenalkan oleh pemerintah. Tak ada yang namanya monopoli turis. Bandingkan saja video promosi wisata Malaysia dan Indonesia (rasa-rasanya cuma Bali doang yang muncul). Pariwisata sukses besar. Rakyat untung. Bangsa untung!

Hoahhhh……saya menguap lebar, menangkap udara untuk disetor ke paru-paru. Mata pun sudah sayu. Kelelahan menaiki ratusan anak tangga Batu Cave membuatku ingin mengakhiri hari ini lebih cepat. Lagipula, saya sudah dapat tujuan untuk dikunjungi esok hari: Melaka. Sudah terbayang berjalan-jalan di antara bangunan merah bekas masa kolonial serta pasar malam di pecinan. Padahal saya baru tahu lho tentang negara bagian ini. Dan, please, jangan bertanya-tanya saya tahu dari mana karena saya yakin kalian pasti tahu.🙂

12 responses to “Jurnal 4: Korban Promosi

  1. haiiii..udah lama ya aku gak baca blog kamuuuu! pasti kamu udah lupa sama aku. aku juga lupa sama nama asli kamu. hihihi…udah sampe mana aja melanglang buana??? aku march kemarin k KL lhooo..tp bukannya wisata, aku malah ke kantor2 gara2 passport ilang. Hihihi..baca deh postingan aku ^_^

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s