Jurnal 3: Pelajaran di Antara Anak Tangga

Tepat di tengah jejeran ratusan anak tangga yang cukup terjal, berbagai manusia dari bermacam negara silih berganti melewatiku, menaiki maupun menuruni tiap undakan. Monyet-monyet ekor panjang pun berlarian, memekik, meloncat lincah di antara pepohonan rendah. Saya sendiri berdiri diam, termangu menatap seorang pria berkulit kelam dengan goresan putih melintang di dahinya. Dia berdiri di salah satu anak tangga, matanya terpejam damai, mulutnya bergerak-gerak, melepaskan kata-kata dalam bisikan.

Dia berbeda, tampak tenang di antara arus pengunjung yang mengalir penuh semangat, layaknya kapal yang berarung senyap di tengah derasnya sungai. Saya tak tahu persis kapan dia memulai langkah dari bawah, yang pastinya sejak terakhir memperhatikannya, tiap anak tangga yang dia ambil, sekiranya 20 detik dihabiskan untuk

mengucapkan sesuatu yang mungkin adalah doa, puisi kasih, kidung, apa pun itu yang bisa membuatnya begitu khusyuk. Sesekali matanya terbuka saat menaiki undakan. Sorotan penasaran dari para pelintas, termasuk diriku, tak sedikit pun merusak keintimannya.

Ada sekitar 250 anak tangga becorak merah-putih dari pangkal hingga ujungnya di mulut goa di puncak sana. Jika dia menghabiskan 20 detik untuk tiap anak tangga, yang kurang lebih 1 menit untuk 3 undakan, berarti dia akan menghabiskan lebih dari 1 setengah jam untuk melakukan ritual ini. Satu setengah jam perlahan melangkah, merapalkan doa dengan penuh sabar, untuk mencapai kuil yang menanti di perut goa….Untuk apa? Bukan kah 10 menit tanpa jeda menapaki ratusan anak tangga ini akan lebih efisien, layaknya peziarah lainnya. Dan bukan kah berdoa langsung di kuil lebih besar kemungkinannya untuk terkabul…Gumamku penuh tanya dan pendapat. Pria itu sudah sejajar denganku; Kami hanya terpisah pagar pembatas yang membagi tiga tangga raksasa ini.

Melihat kedua tangannya yang saling menggenggam, pikiranku seketika melayang, kembali di saat kupandang pasrah secarik kertas di selipan jari, tiketku yang hangus begitu saja. Apakah saya sudah benar-benar ikhlas? Saya bahkan tidak berani menjawab. Memikirkannya saat ini saja masih membuat jantungku mencelos. Bukan harga murah tiket itu kubeli, tapi dengan gampangnya ia hilang tertiup angin. Apakah saya ikhlas?? Duit Rp 50.000 yang entah dimana loncat dari kantong saja masih kepikiran bahkan sehari sesudahnya. Apalagi kejadian kemarin, hilang di depan mata! Dan tak ada yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya kembali.

Pekikan monyet yang saling berkejaran membuatku sadar dari lamunan. Sialan! Makiku teredam, mengingat tragedi saya dikejar monyet besar di Monkey Forest, Ubud. Mataku kembali mencari sang peziarah yang ternyata sudah terpaut dua undakan di atas. Apakah dia ikhlas? kembali kuberpikir, ingin rasanya menghampiri dia dan menanyakannya langsung…menaiki tangga satu persatu sambil merapal doa, menghabiskan waktu lebih banyak dibanding peziarah lain yang gesit mencapai puncak, merelakan satu jam lebih di hari ini untuk mencapai tujuannya di atas sana…melepaskan sesuatu yang tidak akan bisa dia raih lagi?

Seketika saya tertunduk, menyadari sesuatu, inilah jawabannya. Saya pandang lagi pria itu, yang makin menjauh, dia ikhlas menjalani apa yang sedang ia lakukan. Agama kami berdua memang berbeda, apa yang kami sembah pun berbeda, tapi Allah selalu punya jalan untuk membuat hambaNya mengerti akan ilmu kehidupan. Dan dalam kasusku: mengikhlaskan sebuah kehilangan, ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya.

Secara tidak langsung pria tersebut membuatku mengerti bahwa mengikhlaskan apa yang tak bisa diraih lagi bukan berarti tujuan utamanya pun ikut sirna. Ia tetap di sana, menunggu untuk dicapai, hanya terkadang ada hal-hal tertentu datang untuk menguji kesabaran, dan keikhlasan itu sendiri. Vietnam masih tetap di sana, terbentang luas di garis terluar Asia Tenggara. Saya hanya perlu mengikhlaskan yang terjadi semalam, dan bersabar menunggu waktu untuk mencapainya. Tentu bukan 1 setengah jam layaknya pria turunan India itu, tapi, entah kapan, suatu saat nanti.

Akhirnya, mungkin saya terlalu membesar-besarkan hal ini, tapi bukan kah lebih baik menerapkan ilmu pada hal-hal kecil terlebih dahulu🙂

————————————————–

Ngomong-ngomong, saya sedang berada di Batu Cave, salah satu kuil Hindu paling beken seMalaysia karena letaknya yang eksotik di dalam goa bukit limestone. Di sini terdapat patung dewa Murugan keemasan yang menjulang tinggi, seakan menyambut pengunjung maupun peziarah kuil yang datang. Ada juga patung raksasa Hanoman berwarna hijau di dekat stasiun. Banyak terdapat kuil berbagai bentuk, berhias patung-patung dewa dewi, mulai dari yang tangannya cuma 2 sampai 10. Monyet ekor panjang juga berkeliaran bebas (Saya benci hewan ini!). Mendaki ratusan anak tangga menuju perut gua memang melelahkan, tetapi suasana di dalam gua yang mistis serta lapang membuat napas ngos-ngosan menjadi berarti.

Cara termurah untuk ke Batu Cave adalah menaiki KTM dari terminal KL Sentral. Saat beli tiket di loket, bilang saja tujuan ke Batu Cave, nanti akan diberi tiket menuju Sentul (stasiun paling akhir) seharga 1 Ringgit.

Patung Dewa Murugan

Patung Dewa Murugan

Patung Hanoman

Patung Hanoman

Kuil

Kuil

Kuil

Kuil

Kuil

Kuil

Ornamen Dewa Dewi

Ornamen Dewa Dewi

Menapaki tangga

Menapaki tangga

Di pertengahan jalan

Di pertengahan jalan

Hampir mencapai puncak

Hampir mencapai puncak

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

Bagian dalam goa

10 responses to “Jurnal 3: Pelajaran di Antara Anak Tangga

  1. Salam kenal Fier kamu kok mirip ama citra dari Aceh yang blogger juga. photonya Batu cavesnya juga mirip loh sampai pangling kamu itu Citra alias hananan

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s