Jurnal 1: Vietnam, Tunggu Aku!

Halo sobat blogger sekalian. Apa kabar?
Sesuai janjiku di jurnal sebelumnya, saya akan menceritakan kisah pelanconganku akhir tahun kemarin. hehe. Langsung saja deh:

Cuaca di Jakarta sedang ga begitu bagus. Langit gelap, dicoraki awan hitam yang bergumpal-gumpal. Hujan yang turun pun tampak tiada habisnya.

Saya memandang dari balik jendela, melihat pucuk-pucuk pepohonan yang melambai tertiup angin. Mobil-mobil melaju kencang, menyipratkan air kotor yang tergenang. Mereka tampak tak begitu peduli dengan rentetan air hujan yang menhujam dengan kerasnya. Jarum panjang di jam tanganku sudah hampir menunjuk angka 9—hampir 15 menit menuju pukul 4 sore. Semoga saja penerbangannya ditunda, pikirku penuh harap sambil menengadah ke langit. Rasanya baru kali ini saya berharap penerbangan ditunda, sangat berharap malah. Tunda 2 jam juga tak apa lah, yang penting jangan terbang sesuai jadwal. Soalnya tepat jam 4.35 nanti pesawatku sudah akan lepas landas menuju Ho Chi Min City, Vietnam.

Saya duduk gelisah. Degup jantung makin berirama hebat setiap pandanganku bertemu dengan jam tangan. Lalu lintas dalam tol cukup ramai, tapi tak sampai membuat kemacetan. Mobil-mobil yang melaju kencang di lajur kanan membuatku berkali-kali mengutuk supir bus yang berkendara dengan sangat santai. Kondisi jalan yang licin mungkin yang membuatnya berlaju pelan, tapi sungguh alasan itu terasa sangat menjengkelkan bagiku yang sedang memburu waktu. Saya hanya bisa berharap, semoga doaku tadi dikabulkan, amin.

“Terminal 3. Air Asia internasional. Lion Air internasional” Teriak petugas bus sambil mondar-mandir di koridor antarbangku. Sudah jam 4 tepat saat akhirnya bus memasuki terminal internasional. Kaki kananku tak henti-hentinya bergoyang menunggu bus melewati pintu tol. Dan saat bus berhenti tepat di depan gerbang kedatangan, saya langsung meraih tas dan berlari menuju gerbang. Konter check-in yang berderet panjang dibarisi puluhan penumpang, tak terkecuali konter Air Asia yang terletak di ujung kanan. Rasanya lega sekali melihat masih banyak penumpang yang belum check-in juga.

Saya segera menghampiri seorang petugas di akhir antrian yang langsung menyambut dengan kening berkerut saat melihat tiketku. “Ho Chi Min masih bisa ga?” teriak pria tersebut pada petugas check-in. Dada saya tiba-tiba seperti dipukul palu raksasa saat mendengar kata-kata itu melayang di udara, masih bisa? Dengan wajah cemas saya lihat petugas di balik konter check-in, berharap dia mengatakan hal yang saya harapkan. “Ga bisa. Udah boarding” teriaknya, tanpa sedetik pun memandangku. Sungguh, saya bahkan ga bisa menggambarkan apa yang dirasa saat itu. Kalau pernah melihat video gedung WTC runtuh, gambaran tersebut cukup mendekati apa yang terjadi pada diriku. Rasanya setiap pasang mata dalam ruangan ini seketika tertuju padaku.

Berbagai alasan saya berikan pada petugas check-in, tapi tetap saja saya tidak diperbolehkan naik ke pesawat. “Data seluruh penumpang sudah dikirim ke bagian imigrasi. Sudah tidak bisa mas. Konter check-in sudah ditutup dari 45 menit yang lalu” kata pria tersebut, tangannya sibuk mengurus tiket penumpang. Saya hanya bisa berdiri diam, kehilangan kata-kata. “Coba mas ke mbak di konter sana” sahutnya sambil menunjuk seorang wanita berjilbab yang duduk di balik konter check-in kosong. Saya langsung melangkah menuju konter yang ditunjuknya. Secercah harapan muncul dalam dada. Petugas tersebut meminjam tiket saya dan mengecek di komputer, kemudian dia beranjak ke balik pintu jalur bagasi dan berbicara dengan seseorang.

“Maaf mas, sudah ga bisa. Semua penumpang sudah naik ke pesawat” katanya seraya duduk kembali di kursi. Bayanganku akan Vietnam seketika hancur berkeping-keping. Rasanya amarah memuncak hingga ke ubun-ubun; saya marah pada petugas check-in yang dengan cueknya bilang saya tidak boleh naik ke pesawat; saya marah pada supir bus yang lelet mengendarai kendaraannya; saya marah pada diri sendiri karena telat naik bus dari Bogor. Berbulan-bulan saya menabung untuk hal ini. Bahkan saya masih bisa merasakan pusing akibat jetlag 6 jam penerbangan dari Jayapura ke Jakarta kemarin malam. “Ga bisa ya mbak” kataku pelan, disambut anggukan dan wajah empati wanita itu. Hanya kalimat tersebut yang bisa terucap untuk meluapkan semuanya.

Saya berdiri termangu di depan konter. Kedua tangan memegang tiket pesawat yang tak lagi berguna. Pikiranku sedikit tertarik ke belakang, mengingat saat saya menghabiskan gaji sebulanku untuk membeli tiket Air Asia daring, dan saat betapa senangnya membayangkan diriku jalan-jalan di HCMC dan Pnom Phen. Uuuh! Sungguh saya berharap seseorang akan datang dan berkata “selamat, anda telah dikerjai Super Trap. Lihat, ada kamera di sana!”, lalu semua akan tertawa karena berhasil mengerjaiku, dan petugas wanita ini akan mengantarku langsung ke dalam pesawat. Saya terbang ke Vietnam. Semuanya bahagia. Tamat.

Buukkkk!!! bunyi debum koper salah seorang penumpang yang terjatuh mengagetkanku dari lamunan. Saya ga tahu kenapa masih berdiri di sini, bukannya berjalan keluar, naik bus kembali ke Bogor, dan berpura-pura insiden ini tidak pernah terjadi. Barisan penumpang di konter sebelah makin membuatku mati langkah, memandang mereka yang begitu wellprepared; datang ke bandara lebih awal hingga tidak akan bernasib sial sepertiku. Saya benar-benar tidak mempersiapkan semuanya dengan matang. Waktu tersedia berbulan-bulan, tapi jarang sekali kugunakan untuk membaca artikel tentang melancong ke HCMC dan Phom Phen. Saya bahkan baru membeli buku melancong hemat ke Vietnam dan Kamboja 15 menit sebelum naik bus di Bogor tadi. Saya sudah merasa terlalu sombong dengan pengalamanku melancong ke tiga negara dua tahun lalu, jadinya tidak butuh banyak persiapan karena merasa sudah pernah melakukannya dan sudah tahu apa yang harus dilakukan nanti.

Mungkin Allah memang tidak mengizinkanku untuk melancong ke Vietnam saat ini. Bisa saja terjadi sesuatu padaku di sana. Bukannya berburuk sangka, tetapi Allah selalu punya rencana untuk hambaNya. Pikirku sejenak dengan  mata terpejam. Luapan amarah yang masih membara berangsur-angsur mereda, menguap dari ubun-ubun. “Mbak, tolong carikan tiket paling murah untuk penerbangan malam ini. Kemana saja ga masalah, yang penting saya berangkat” sahutku mengagetkan si petugas yang sedang sibuk menulis. “Oke. Tunggu ya” balasnya, langsung berhadapan dengan komputer. “Singapura sudah penuh. Yang ada cuma ke Kuala Lumpur” infonya, kemudian menyebut harga tiket PPnya. Kuala Lumpur? tanyaku pada diri sendiri. Dua tahun lalu sudah ke sana, masa’ mau ke sana lagi, pikirku menimbang-nimbang. Ya, gimana entar lah. Yang penting berangkat dulu. “Saya ambil yang ke Kuala Lumpur. Tanggal pulangnya disamakan saja dengan tiket yang batal” kataku yakin, kemudian mendebet pembayaran. “Saya sudah check-in-kan penerbangan malam ini dan yang di Kuala Lumpur. Pastikan saja ga telat berangkat lagi nanti” jelas si petugas sambil tersenyum. Saya pun membalas senyumannya, lalu membuang langkah menuju bagian imigrasi.

Tak apa lah. Belum rejekiku ke Vietnam dan Kamboja. Isnya Allah suatu hari nanti pasti kesampaian. Amin.

Vietnam, Tunggu Aku!

(bersambung…..)

67 responses to “Jurnal 1: Vietnam, Tunggu Aku!

  1. pengalaman dibandara yg meruntuhkan semangat, klo saya nangis itu hehe. Bisa jadi mungkin ama yg diatas (Tuhan red) belom boleh diizinkan berangkat kesana, mungkin lain waktu kyknya bang😀

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Fir…

    Harus banyak bersabar. Itukan salah sendiri kerana telat naik bas. Semua itu bisa jadi pengajaran. Allah mahu Fir menghargai masa. Jangan fikir kapal terbang menunggu kita lho.

    Ternyata Allah mahu Fir ke Kuala Lumpur walau sudah ke sana. Pasti ada cerita menarik di Kuala Lumpur hingga Fir terdampar ke sana, bukan ke Vietnam. atau doanya Fir di makbulkan Allah agar tidak ke Vietnam.

    Ditunggu kisah dari Vietnamnya.
    Salam ceria selalu.😀

    • Wlsm. Wr. Wb. Mba Siti,

      Iya, harus banyak bersabar dan ikhlas. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa ini🙂 , salah satunya harus selalu menghargai waktu.

      Sungguh sebuah pengalaman yang menarik bisa sekali lagi melancong ke Malaysia, dan saya sangat menikmatinya.
      Mungkin memang beluk rejekiku untuk ke Vietnam—Allah lah yang selalu menentukan, saya hanya bisa berencana.

      Terima kasih sudah berkunjung
      Salam hangat🙂

  3. to be continue…..

    Oh my GOD, How is your life now? Sangat mengaharu biru, mendebarkan. Semua pasti berkat usaha dan DOA. by the way, apa yang anda harpakan dari pernalanan lintas negara? jujur ya, makasi

    Salam kenal

    • My life’s good, thanks for asking.
      What I always expect from my journey is to see different culture—-I do love it. To see how people live; to feel different things; that’s what I’m always looking for in my journey🙂

      So glad to have you here🙂

  4. ya ampun,,,
    sabar ya mas, cobaan banget kalau jadi traveler ketinggalan pesawat. Tapi bukan traveler sejati kala ngga bisa sabar, ya ngga mas?🙂

  5. hahaha,,,good story and true story tuh bro hahahha…sorry mayori dah bro gak jdi ke vietnam hehe,,,,selamat datang di blog yah bro hehe…eh kbalik yah seharusnya anda yg ucapkan itu buat saya hehe😉

  6. Pingback: CT156. MERAIKAN AWARD | LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

  7. Pingback: CT156. MERAIKAN AWARD | LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s