Tablanusu, Si Idola Baru

 (Cerita ini seharusnya udah saya pos dari bulan Februari kemarin, tapi karena saat itu sibuk mengurusi dokumen-dokumen kelulusan di universitas, jadinya molor sampai detik ini saya dapat kesempatan untuk mengeposnya. Hehe)

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Pemandangan di Pantai Tablanusu

Di hari Minggu yang cerah, tepatnya tanggal 19 Februari lalu, saya dan sahabat-sahabat sedang dalam perjalanan menuju salah satu tempat wisata idola baru Jayapura, yaitu Pantai Tablanusu. Kami menyewa mobil dengan duit hasil patungan bersama (RP 500.000) karena jarak serta kondisi jalan ke sana sungguh tidak memungkinkan untuk pakai motor masing-masing.

Foto Bareng Sahabat

Foto Bareng Sahabat

Tablanusu sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kampung yang terlelak di pesisir pantai.  Desa ini terletak di Distrik Depapre yang masih masuk dalam Kabupaten Jayapura. Nama pantai ini mulai naik daun sejak salah satu putra asli sana berhasil menjadi Bupati Jayapura, ialah Bapak Habel Suwae. Usaha Bapak mantan Bupati tersebut nyatanya berhasil untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kampung halamannya, terbukti dengan banyaknya pelancong yang ingin menikmati keindahan pantai ini.

Desa Tablanusu

Desa Tablanusu

Perjalanan ke sana memakan waktu 2 jam. Melepas hiruk-pikuknya Jayapura, kami melewati perkampungan yang jarak antarrumahnya sangat berjauhan, padang savana yang cokelat, serta beberapa sungai yang jernih sekali. Kondisi jalan, seperti yang sudah saya bilang, bisa dibilang kurang memadai. Ada yang mulus, ada yang berlubang. Terkadang juga sempit dan berkelok-kelok. Mana rumputnya pada tinggi semua. Jadinya supir harus ekstra hati-hati karena bisa aja ada mobil yang melaju kencang dari belokan depan.

Berpose Dulu Brooo

Berpose Dulu Brooo

Setelah memasuki Distrik Depapre dan berhadapan dengan jalan cabang, kami langsung belok ke arah kanan karena ke arah kiri menuju pantai lainnya yang juga ga kalah terkenal (Pantai Amai). Kami melewati kawasan yang sedang dikembangkan menjadi pelabuhan kedua Jayapura. Jalan makin lama makin menanjak. Kawasan jalan aspal mulus ini ternyata adalah hasil perataan sebagian bukit. Dan saat mencapai puncaknya, kami berhenti sebentar dan menikmati pemandangan yang sangat indah; perairan samudera pasifik yang biru dan beriak tampak luas tak berujung; sinar mentari yang cerah menebarkan Kristal-kristal berkilau di permukaan laut; deru ombak yang membahana terdengar sangat jelas dari atas sini. Kami harus ekstra hati-hati saat berfoto ria karena di belakang kami adalah jurang yang sangat dalam. Dan walaupun di bawah sana laut, tetap aja terasa mengerikan.

Nelayan Berperahu

Nelayan Berperahu

Puas pasang aksi, kami pun kembali ke mobil dan supir langsung tancap gas menuruni jalan landai. Setelah melewati tempat parkir yang sepertinya baru direnovasi, mobil kami meluncur mulus melewati jalan yang bersisian dengan semacam empang yang airnya berwarna hijau tua; penduduk lokal memanfaatkan empang tersebut untuk berternak ikan. Seorang nelayan tampak sedang mengayuh perahu tradisionalnya, menciptakan riak yang melebar membentuk segitiga di belakangnya.

Gazebo Sederhana

Gazebo Sederhana

Setelah memarkir mobil, kami pun beramai-ramai berjalan menuju pantai melewati beberapa rumah penduduk. Di dekat pesisir, ada tanah lapang berkarpet kerikil yang banyak dibangun gazebo-gazebo untuk beristirahat dan menaruh barang. Kami memilih gazebo yang paling dekat dengan pantai. Selain kami, ada pengunjung lain yang sedang menggelar acara. Musik pun membahana dari pengeras suara mereka yang berukuran jumbo.

Menikmati Indahnya Pantai

Menikmati Indahnya Pantai

Satu hal yang membuat pantai ini terkenal adalah karena keunikannya. Bila pantai identik dengan pasir (entah hitam, putih, cokelat, abu-abu, ataupun merah muda), Pantai Tablanusu justru terkenal dengan kerikil-kerikil kecilnya. Yap, keberadaan pasir di pantai ini sulit sekali ditemukan, kalau pun ada, sepertinya jumlahnya kalah dengan jutaan kerikil yang berserakan. Saat berenang aja, saya harus mengenakan sendal karena kalau ga, pasti kaki pada luka.

Siap-siap Main Perahu Pisang

Siap-siap Main Perahu Pisang

Puas berenang, kami pun patungan lagi untuk naik perahu pisang. Harganya dihitung per orang: RP 30ribu. Dan walaupun kapasitas perahu pisang hanya muat 5 orang, kami membuatnya menjadi 6 orang. Hehe. Setelah mengenakan jaket pelampung, kami pun naik satu per satu ke perahu karet kuning itu. Saya deg-degan juga, soalnya ini akan menjadi pengalaman pertama.

Mencoba Foto Levitasi

Mencoba Foto Levitasi

Saat udah mencapai tengah laut, perahu tiba-tiba melakukan manuver, membuat pegangan saya goyah dan terjatuh. Saat itu saya pikir saya sendiri yang terpelanting, eh ternyata kami semua. Tak jauh dari tempat kami terombang-ambing, ada pulau karang kecil yang ditumbuhi beberapa tanaman. Dan di sekitar pulau karang itu ada sebentuk segitiga yang mencuat dari dalam air, sirip hiu? Duh! rasanya saat itu jantung saya mencelos dengan hebatnya. Saya terus memperhatikannya. Tapi benda itu ga bergerak sama sekali, ga mungkin hiu ah. Mana ada hiu diam-diam perhatikan mangsa , emangnya singa. Dan ternyata setelah diperhatikan lebih seksama, benda itu ternyata adalah karang yang mencuat. Fiuuhhhh..

Kampung Tablanusu Dari Ketinggian

Kampung Tablanusu Dari Ketinggian

Setelah puas teriak-teriak dan jatuh koprol ke dalam air, permainan pun berakhir. Saya masih belum bisa menahan tawa atas kelakuan salah satu sahabat. Saat tadi terjatuh di laut, teman saya teriak-teriak ga bisa bernapas, padahal mulutnya aja ga terendam air. Terus pas ditolong naik ke perahu, dia kepayahan karena badannya keberatan. Hahaha (maaf ya sob ditertawai..😀 )

Karena masih terhitung baru, fasilitas kamar mandi terhitung masih terawat bersih. Ya, semoga aja terus kayak gini. Jangan sampai nasibnya seperti Pantai Base-G; paling terkenal dan termahal se-Jayapura, tapi ga ada kamar mandi sama sekali. Setelah mengganti baju, kami langsung menuju mobil di parkiran. Sekali lagi kami berhenti di puncak jalan untuk berfoto ria. Kali ini kami harus berjalan mendaki karang luamayan terjal untuk mendapat pemandangan Kampung Tablanusu. Sungguh, kampung ini terlihat lebih indah dari ketinggian.

98 responses to “Tablanusu, Si Idola Baru

  1. Tublanusu nama yg aneh bagi yang terbiasa berpikir dengan bahasa Indonesia. Tapi kecantikannya otentik, gak neko-neko..Waduh setelah tadi berkunjung ke blog Mb Prih melihat pantai canti..sekarang disuguhi Tublanusi yang airnya bak permata…Semakin bangga jadi penduduk Indonesia🙂

    • Benar juga. Bagi non-Papua yang mendengar nama ini pasti terasa asing. Kalau kami di sini udah biasa dengan nama-nama seperti ini😉
      Iya, saya juga terpesona dengan pantainya.

      Makasih dah berkunjung😀

  2. Dooh… daerahmu kok ya bikin iri aja ya… Banyak pantainya, bagus2 pula! Sementara di kotaku gak ada pantai. Kalo mau ke pantai mesti berkendara dulu sekitar 2 jam😦

    • Hehehehe..ya, tiap daerah memiliki kekurangan dan kelebihannya masing2
      Kalau di sini sih ga perlu berkendara dua jam, berjalan 10 menit juga udah ada pantai pasir putih di belakang rumah😀

    • Ga bisa digeneralisasikan juga kalau nasib penduduk di sini ga “seindah” yang kamu bayangkan. Kami di Jayapura hidupnya indah, seindah alam yang kami miliki. Banyak kota/kabupaten/desa di Papua, dan ga setiap daerah di Papua seberuntung hidup kami di ibukota.😉

  3. Jayapura menyimpan pesona yang luar biasa ya. Andai Jayapura itu dekat dari sini..*ngintip isi dompet*….tiket kesananya mehoong alias mahal langsung menguras isi dompet hiiks:mrgreen:

  4. Pingback: Pantai Harlem (tanpa ‘shake’) :D | Eat, Pray, Travel!

  5. Pingback: Berlayar ke Kampung Bukisi (bagian 1) | Eat, Pray, Travel!

  6. Pingback: Ber-5 ke Pantai Pasir 6 | Eat, Pray, Travel!

  7. Pingback: Beach Skouw: A Place for a Special Dreamer | Eat, Pray, Travel!

  8. pace pu blog saja. mantap…
    sa jg punya cerita tersendiri di tablanusu aleee. waktu itu september 2009. sa bawa kerikil ke kos, pas pulang sa menderita malaria tresiana n tropika plus empat (karena cape berenang toooo). sampe di sa pu bapa ade pu rumah di entrop, de bilang karna sa bawa kerikil2 dong ke kos. ahahahha,,, gimana hubungannya, coba. pdhal krn capek maen2 dg kerikil n aerrr laut.
    tapi keren dah, tablanusu, pantai tanpa pasir, tapi kerikil halus.

    • Ya tong mengerti saja kalo orang di sini bilang begitu. Waktu sa ke Tablanusu juga begitu. Pas tong ada ambil batu kerikil, ada anak kecil datang trus bilang kalo batu tuh nanti da jalan kembali ke pante ini (tra pake sakit eee😀 ) hahahaha, sampe skarang batunya masih ada di sa pu akuarium🙂

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s