Tamasya ke Pantai Kamboja

Berlari di Jembatan Biru, Pantai Kamboja

Berlari di Jembatan Biru, Pantai Kamboja

Sejak akhir Maret kemarin saya sudah kembali lagi ke Jayapura. Dan kali ini bukan untuk liburan seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan pulang dari rantauan. Hari-hari awal memulai hidup lagi di kampung halaman terasa sedikit janggal; saya merasa asing di kampung halaman sendiri. Saya kangen sekali dengan Bogor dan segala isinya. Apalagi sahabat-sahabat saya di sana. Setelah 4 tahun “berjalan” bersama, akhirnya harus berpisah jua.

Pantai Kamboja dari Ketinggian

Pantai Kamboja dari Ketinggian

Eh tahu-tahunya pada bulan April salah satu sahabatku di Bogor, yang juga blogger, Sarip (GAS) dapat kerjaan dan penempatannya di Jayapura. Rasanya girang sekali saya mendengar berita itu. Saya dulu ingin  sekali memperlihatkan keindahan Jayapura pada sahabat-sahabatku di Bogor, dan kedatangannya sedikit mewujudkan keinginan itu.

Hari pertama dia menginjakkan kaki di Jayapura, saya langsung mengajaknya jalan-jalan. Padahal dia baru menjalani 6 jam penerbangan dari Jakarta ke Jayapura. Hehe. Saya benar-benar bersemangat memperlihatkan tanah kelahiranku padanya.

Kayu Pulau

Kayu Pulau

Di hari-hari kemudian, karena dia dan saya sibuk dengan kerjaan masing-masing, kami hanya bisa bertemu pada hari Sabtu dan Minggu. Dan di kedua hari lengang tersebut, sebisa mungkin kami gunakan untuk mengeksplor sudut-sudut Jayapura.

Pantai di Kayu Pulau

Pantai di Kayu Pulau

Sampai di suatu hari yang cerah, kami sedang duduk-duduk santai di pantai Dok 2. Saat itu saya udah bingung mau ngajak dia kemana lagi. Rasanya hampir semua tempat wisata di Jayapura udah kami sambangi. Kami jadi mati gaya sendiri saat duduk melahap buah sambil memandang riak ombak di permukaan lautan. Hingga saat Ashar menjelang, kami pun shalat di Masjid Raya yang sedang direnovasi. Dan saat shalat lah tiba-tiba ide tempat wisata melintas begitu aja.

Sisi Lain Kayu Pulau

Sisi Lain Kayu Pulau

“S’lama ini kan tong cuma jalan-jalan di kawasan moderen saja to. Kali ini sa mo ajak ko ke tempat yang lebih tradisional” kataku dalam logat Jayapura saat mengendarai motor ke rumah (artinya: “selama ini kita cuma jalan-jalan di kawasan modern aja kan. Kali ini saya mau mengajakmu ke tempat yang lebih tradisional”). Saya berupaya membiasakannya dengan logat Jayapura, biar dia cepat beradaptasi dengan bahasa disini. Hehe. Saya pun sengaja parkir motor di rumah dulu karena ga ada tempat parkir di sekitar tempat tujuan. Setelah itu, kami naik angkot.

Kampung Weref

Kampung Weref

Tempat tujuan kami adalah Pantai Kamboja, atau yang juga dikenal dengan nama Jembatan Biru. Nama pantai ini di dapat karena lokasinya dekat dengan pekuburan umum yang dipenuhi pohon kamboja. Letaknya di Weref, dekat dengan pelabuhan Jayapura, juga bersebelahan dengan pulau Kayu Pulau (baca: Pulo). Sebenarnya, ga benar-benar ada pantai di sini, hanya tepi laut yang dibangun jembatan. Waktu SMP, saya sering sekali berenang di sini. Selain nyobain kacamata renang baru, sekalian uji keberanian karena lumayan dalam lautnya. Jembatan ini dibangun untuk menunjang akses penduduk di pulau seberang menuju keramaian kota, walaupun jembatan ini ga benar-benar tersambung dengan pulau melainkan berujung dermaga perahu.

Jembatan Biru

Jembatan Biru

Setelah membayar ongkos, kami pun menyeberang jalan dan langsung berjalan melewati kampung Weref yang padat. Jalan kecil itu meliuk-liuk, hingga berujung pada semacam dermaga kecil lainnya untuk angkutan perahu. Kami pun melangkah menelusuri jembatan yang berwarna biru cerah. Rumah-rumah penduduk di sini ga lagi berdiri di atas tanah, melainkan rumah panggung di atas tepi laut. Menarik sekali. Beberapa bagian jembatan sedikit reyot, tapi masih bisa menopang bobot. Terus kami berjalan hingga melewati rumah paling ujung, dan sampai lah kami di Pantai Kamboja.

Horeeeee!!

Horeeeee!!

Jembatan yang bercabang-cabang terlihat bagus sekali. Bongkahan bebatuan yang  membatasi laut dan daratan pun tampak indah digelayuti daun-daun pepohonan. Terumbu karang yang sehat terlihat sangat jelas dari jembatan. Bintang laut warna-warni tampak kontras dilatari rumput laut kehijauan.  Sinar mentari sore pun menciptakan kilau-kilau keperakan di permukaan laut.

Tepi Laut Pantai Kamboja

Tepi Laut Pantai Kamboja

Ternyata sudah ada beberapa rumah yang dibangun di sekitaran jembatan, padahal seingat saya dulu ga ada rumah sama sekali. Beberapa penduduk lokal yang sedang duduk-duduk santai di depan rumah mereka menyapa kami. Sebentuk karakter masyarakat Papua yang ramah. Pulau di seberang laut tampak makin besar saat kami melangkah mendekati dermaga. Seorang wanita dan beberapa anak kecil sedang mengayuh perahu, membuat angkutan kecil itu terlihat sangat penuh dan sempit.

Berperahu di Sore Hari

Berperahu di Sore Hari

Sore yang Menentramkan di Pantai Kamboja

Sore yang Menentramkan di Pantai Kamboja

Istirahat Dulu broooo

Istirahat Dulu broooo

Melihat kehidupan di Kayu Pulau yang sederhana dibandingkan dengan ingar-bingarnya Jayapura, saya jadi mempertimbangkan definisi “hidup bahagia”. Rumah-rumah penduduk lokal yang sangat sederhana, sesederhana kehidupan mereka, menciptakan konsep hidup yang simpel dan bahagia, tanpa neko-neko, serta jauh dari rasa haus akan kepuasan. Seakan-akan hidup seperti ini sudah cukup bagi mereka. Dan mereka bahagia akan hal itu.

Rumah Panggung (Tampak Pekuburan di Belakang yang Menjadi Asal-usul Nama Pantai Ini)

Rumah Panggung (Tampak Pekuburan di Belakang yang Menjadi Asal-usul Nama Pantai Ini)

Menikmati Angin yang Lembut

Menikmati Angin yang Lembut

Setelah puas foto-foto dan menikmati kuningnya sinar mentari yang mulai terbenam. Kami pun berjalan kembali menjejaki jalur awal. Beberapa anak kecil mencegat kami untuk difoto. Haha. Mereka pikir kami adalah wartawan dari salah satu koran lokal. Sungguh sore yang menyenangkan dan penuh kejutan.

(foto yang ada di pos kali ini hanya gambar diriku saja, soalnya Sarip ga meninggalkan satu pun fotonya di laptopku untuk nantinya dipos di blogku)

Mari Lestarikan Terumbu Karang

Mari Lestarikan Terumbu Karang

Senja yang Indah

Senja yang Indah

Mantap!

Mantap!

Ayo Cebur

Ayo Cebur

Bocah-bocah Penduduk Lokal

Bocah-bocah Penduduk Lokal

124 responses to “Tamasya ke Pantai Kamboja

  1. fir seneng deh bisa lihat anak2 yang sedang bermain, tersenyum kalo di poto,, terus nyebuur lagi,,
    memang kehidupan di kayu pulau jauh dari hingar bingar seperti di ibu kota,, tapi mereka tetep merasa senang dan puas,, dan intinya mereka mereka bersyukur,,
    baguus fir,, ajak gw jalan yee ntar🙂

    • Iya, air lautnya masih biru dan meneduhkan. Mata pencaharian penduduk tradisional di sini memang memancing. Tapi sayangnya mereka memulai kegiatan itu sejak subuh, jadinya blom ada kesempatan untuk mengbadikannya.

  2. cakep abis Pantainya! Aku baru liat blognya selewat banyak banget tulisan ttg Jayapura.. maka gak agak kulewatkan satupun postingannya.. Yaahhh belum bisa kesana, baca-baca dulu siapa tau bisa jadi bekal kl kelak kesampean kesana .. *ikiopoooooo X)

    • Makasih nih dah melancong di blog saya. Hehe
      Iya, sebagai seorang asli Jayapura, wajib rasanya untuk mengenalkan tanah kelahiranku ini pada khalayak, supaya stereotip “daerah tertinggal” dapat ditanggalkan.

      Saya bantu aminkan deh bisa melancong ke Jayapura suatu saat nanti, amin.

  3. Kereeeen… Eh ada kepulauan yg buat pariwisata yg muahal, dan direkomendasikeun sama temen2 teteh, duuuh lupa namanya.
    Tp betul2 asyik nyeritainnya, berasa teteh yg jalan2😀
    Disini mah paling deket ke gunung, sungai sama liat kota tua, khas Eropa.

      • Suka-suka banget jalan-jalan mah.. tapi ngga suka kalau jalan dan jalaaaaaaaaaaan….maksudnya cape jalan melulu😀
        sampe duduk di trotoar waktu jalan sendiri di Paris.

        Suka banget jalan-jalan ke gunung atau ke tempat yg pemandangannya indah, maklum teteh jauh dr laut.

      • Wah, kalau saya suka jalan-jalan, baik secara idiomatik maupun harfiah.
        Kalau udah melancong, rasanya ga ada lelah sedikit pun.
        Wah, teteh udah ke Paris ya. Bagaimana teteh beradaptasi dengan musim di sana yang nampaknya ekstrim sekali?

      • Aahhh Paris mah bagusnya daerah wisatanya doang, ngga suka sebetulnya teteh sama si Paris ini, dulu pernah sekali bareng anak-anak..trs kemarin ditawari sobat, jalan bareng yuuk khusus emak doang hehehe, dapat lampu hijau dari kang mas tercintah..tjeaah..hehehe, ya sudah pergilah tanpa buntut dan gandengan. Terlalu hiruk pikuk, agak kotor pula, stasiun kereta bawah tanahnya meliuk2, boro2 lift tangga berjalan saja jaraaaang. Terbiasa dimanja fasilitas di Nürnberg hehehe
        Trs ya begitu2 saja sih kota di Eropa mah, ini pergi krn pengen ngerasain gimana sih kalau emak jalan sendiri😀 ada ko bbrp fotonya pakai HP jepretnya.

      • Wah, ga nyangka teh. Ternyata di negara maju sana ada yang kotor2 juga.
        Sepertinya asyik sekali cerita jalan-jalannya.
        Boleh tak saya lihat foto2nya? siapa tahu saya, entah bagaimana, bisa ke sana juga? (amin)

      • mangga..sok aja liat-liat…tapi jepretannya ngga sebagus punya Fier, trs uraian ttg cerita juga ngga detail, bentrok soalnya..bentrokk sama hoream ngetik hehehe

  4. bahasa jayapura itu cepat sekali ya mas aksennya, benar ngga sih?
    saya dulu pernah punya teman dari jayapura yang sekarang tinggal di jogja, kalau bicara “saya” disingkat jadi “sa”.. pelafalannya cepat..

    fotonya, saya suka sekali..
    terutama anak yang melayang mau mencebur ke laut itu..
    kapan-kapan harus invite saya buat jalan-jalan di sana🙂
    salam kenal mas,🙂

  5. Alhamdulillah, pemandangan pantai dan perkampungan yang sangat menarik di Jayapura. Sangka awal saya, Fier melancung ke Kamboja (Kambodia (Burma). Rupanya hanya sebuah pantai yang mengambil nama pokok Kamboja (ejaan Melayu: Kemboja).

    Dalam negeri sahaja tempat wisatanya sangat banyak sekali.
    Indonesia beruntung negeranya luas untuk dijelajahi rakyatnya dan orang luar.
    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wah, kamu orang kesekian yang mengira artikel ini mengenai pantai di Kamboja.
      Iya, Indonesia sangat luas. Saya bahkan belum pernah ke Kalimantan dan Sumatera.
      Rasanya butuh berbulan-bulan untuk bisa mengelilingi se-Indonesia. ;D

      • Tidak mengapa. Masa dan bukan penghalang kepada cita-cita. Semoga nanti ada luang masa untuk menghabisi negara sendiri dengan nekad yang memberi keberanian untuk mendapat pengalaman. Asal berani bermimpi segalanya mungkin.

        Salut buat usaha menjelajah bumi Allah ini.
        Salut buat anda.😀

      • Wah terima kasih sekali atas pujiannya.
        Saya memang memiliki impian tersendiri untuk menjelajahi negaraku.

        Boleh saya bertanya perihal bahasa di Serawak? Apakah di sana kalian berbicara bahasa Melayu yang dicampur dengan bahasa Inggris? Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur?

      • Iya begitulah penggunaan bahasa di Malaysia seluruhnya.
        Tetapi tidak semua begitu. Kebetulan orang yang ditemui oleh Fier berbahasa demikian. tetapi masih banyak yang menggunakan bahasa Melayu sepenuhnya.

        Mudahan selama di Malaysia, Fier tidak bermasalah dengan bahasa Melayu kerana bahasa Indonesia difahami juga di sini.

        Salam sejahtera.😀

      • Sewaktu saya di sana, saya berusaha untuk bericara Bahasa Indonesia. Tapi kebanyakan tidak mengerti. Ya, namanya saja perbedaan dialek. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris supaya lebih “nyambung”.😉

    • hehehe… ternyata Fier tersalah jumpa orang. kalau jumpa saya, pasti saya bisa memahami apa yang dimaksudkan.😀

      Tidak mengapa, itukan bagus untuk membaiki bahasa Inggerisnya.

      Banyak berjalan banyak juga pengalamannya

      • Betul sekali, perjalanan memberi berjuta pengalaman.
        Padahal saya senang sekali kalau bisa berbahasa Indonesia dengan mereka. Selain menambah ikatan persaudaraan antarbangsa, juga untuk memelihara kekhasan bahasa Melayu.
        Ngomong-ngomong, bagaimana saya semestinya memanggil (maaf) kamu? Saya bingung. Maaf sekali. Ibu? Mama? Tante? atau?

      • Nah, kalau di Indonesia lumrah memanggil seorang wanita dengan kata Mba. Dari tadi tangan saya udah gatal menulis kata “Mba” untuk memanggil Mba Siti, tapi saya pikir mungkin di Serawak punya panggilan khusus bagi wanita. Makanya saya bertanya dulu😉

  6. Baca judulnya saya kira tadi di negara Kamboja.😀

    perjalananya kok malah lebih lama dari Jkt ke Macau, Jkt ke Hongkong. ya.

    dulu kuliahnya di Bogor ya mas? sekarang sdh lulus?

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s