Masa-masa SD

Apa kabar semuanya? Wah, rasanya udah bertahun-tahun saya ga ngeblog…hehehe..maaf ya untuk sohib-sohib yang komennya belum saya balas dan ga melancong ke blog kalian. Bukan apa-apa, hanya saja 2 minggu kemarin saya fokus menyelesaikan skripsi saya untuk ngejar sidang tahap 2. Sebenarnya saya sempet-sempetin liat perkembangan di blog saya, hanya aja otak saya udah mumet banget nyari kata-kata untuk skripsi, ngejar-ngejar pembimbing untuk dapat tanda tangan ACC, sampai mengesahkan semua pembayaran sebagai syarat daftar sidang.

Sebagai orang baru di Wipie (panggilan sayang saya pada WordPress), baru kali ini saya nemu tugas berantai yang disebut PR SD. Semula Ed ninggalin jejak di laman saya dengan mengatakan “sedang dipalak preman Kalibata”, pas saya datang kesana, eh ternyata malah dapat bingkisan PR SD ini. Beberapa hari kemudian, Ayah Nieda pun ngasih tugas yang sama. Begitu pun Bang Nando. Hadeeuhh, rasanya udah ga bisa menghindar lagi. Oke lah, saya akan menceritakan masa-masa SD saya beserta SD saya sendiri.

Seperti yang saya tulis di halaman “tentang saya”, saya lahir dan besar di Jayapura, Papua. SD saya bernama SD Negeri Inpres Tasangka Pura—dari dulu saya suka dengar nama sekolah ini, karena menurut saya keren. Saya disekolahkan disini karena sudah turun-temurun keluarga besar saya mencicipi pendidikan disini. Dengan kata lain, semua sodara saya bersekolah disini, mulai dari Om saya berpuluh-puluh tahun lalu hingga yang terakhir adalah adik sepupu saya. Jadi selama kurun waktu itu siswa dengan marga Tuharea (marga ibu saya) selalu muncul disekolah itu. Setiap hari saya diantar oleh ayah dengan motor Honda Win kesayangannya ke sekolah dan saat pulang dijemput oleh Om, namun saat kelas 3 SD hingga lulus, saya ga dijemput lagi. Jadinya saya dan Ina (kakakku), serta sepupuku yang lain, harus berjalan kaki sepanjang 2 kilo untuk pulang ke rumah.

SD tercinta ini letaknya diatas bukit, jauh dari riuh decitan ban serta klakson mobil.  Sekolah ini pun jauh dari kesan sekolah bonafit, bangunannnya sederhana, tapi memiliki kelebihan yang ga dimiliki sekolah lain, salah satunya adalah pemandangannya. Jalan menanjak menuju sekolah ada di sisi bukit bagian barat, dan letak sekolahnya sendiri berada di sisi timur tepat dipetengahan badan bukit, dan dari sisi ini lah kami bisa melihat lautan yang membentang luas, garis pantai yang panjang, bukit-bukit batas Indonesia dan Papua New Guinea, atap-atap perumahan yang seperti jamur, serta mobil-mobil yang terliat kecil dari ketinggian. Jadinya, sambil belajar, kami pun bisa menikmati pemandangan, dibelai semilir angin, serta mendengar kicauan burung.

Kelebihan lain yang dimiliki adalah lingkungannya. Sekolah ini dikelilingi oleh hutan yang lebat serta dinding tebing. Jangan bayangkan hutan dengan pepohonan menjulang tinggi serta berbatang super besar, yang ada hanya lah pepohonan setinggi 3-5 meter yang lebat. Tiap jam istirahat, kami langsung berlari kehutan ini, dan bermain hingga lonceng masuk kembali bergema. Jujur, sampai sekarang, saya masih penasaran dengan hutan itu. Hutannya tuh seperti labirin yang diatur sedemikian rupa; jalur-jalur yang ada didalamnya sangat rapi bagai telah ditata oleh tukang hutan (plesetan tukang kebun), padahal sekolah ga pernah menyewa penata hutan (kalau profesi itu memang ada) sekali pun. Tak tau apakah mungkin jalur-jalur itu dibuat oleh kakak-kakak kelas saya dari tahun jebot, yang pastinya hutan itu sangat menarik. Saking seringnya kami main disana, kami udah tau mana jalan masuk dan keluarnya, dan walaupun ada banyak persimpangan didalamnya, kami ga pernah tersesat.

Hutan tempat kami bermain itu miring sekian derajat, jadinya terliat menanjak. Dan dibagian paling atas terdapat tanah lapang luas yang ditumbuhi semak belukar dan dihuni oleh tawon tanah—serangga hitam besar itu membuat sarang ditanah dengan cara membuat lubang. Disisi lain tanah-lapang-tawon-tanah itu, ada sebuah runtuhan bangunan yang kami sebut benteng. Apakah memang itu adalah peninggalan bekas masa kolonial atau hanya reruntuhan biasa, kami tak pernah tau, yang pasti kami sering ketempat itu karena pemandangan dari situ juga sangat keren. Nah, tentunya, untuk mencapai benteng, kami  harus melewati tanah-lapang-tawon-tanah. Dan inilah bagian paling seru dan menyenangkan. Kami berdiri berjajar, pasang ancang-ancang, hitung sampai 3, lalu berlari melewati dataran itu sambil teriak-teriak kegirangan. Haha. Sama sekali ga menakutkan, justru ada sensasi tersendiri saat meliat serangga hitam besar itu terbang berhamburan dan mendengar dengung sayap mereka.

Sebagian sisi sekolah dipagari secara alami oleh tebing tinggi, dan dibawahnya kami jadikan lapangan kasti. Yap, olah raga ini menjadi kegiatan paling popular. Jangan bayangkan kami bermain dilapangan berumput dengan tongkat pemukul. Lapangan kami adalah lahan sempit beralas batu kerikil, palnya adalah batu-batu besar, dan kami memukul bola dengan kepalan tangan, bukan pemukul; caranya, tangan kiri pegang bola, jemari tangan kanan dikepalkan, lalu bola dilayangkan sedikit, dipukul sekuat mungkin, lalu berlari ke pal 1. Disekolah ini pun ada beberapa goa dangkal, saya sendiri udah masuk ke 4 goa berbeda. Ada yang dibalik tebing, dibawah tebing, diatas tebing, bahkan ada yang dibawah kelas. Nah yang terakhir disebut itu dihuni oleh ratusan katak. Jadinya, suatu hari kami iseng bakar sampah dalam goa itu, biar asapnya ngebul, dan puluhan katak berloncat-loncat melarikan diri. Haha.

Ada satu hal yang ga pernah saya lupakan sampai sekarang. Seperti yang saya bilang diatas, sekolah kami letaknya tepat disisi bukit menghadap timur dengan pemandangan garis pantai. Nah, kami itu kadang pengen mandi di pantai, namun bila kami harus mengambil arah mengikuti jalan utama disisi barat, kami harus memutar jauh. Jadinya kami sering mengambil jalan pintas dengan menuruni jurang sedalam ratusan meter untuk mencapai dataran di kaki bukit. Jurangnya tuh terliat serperti lorong, dengan ranting-ranting pohon yang menjadi dindingnya. Cara menuruninya pun ga pake tali atau pun jalan pelan-pelan (karena kemiringannya masih menginzinkan untuk berjalan kaki) melainkan berlari kencang tanpa henti dari awal hingga akhir, jadi lincah-lincahnya kami saja menghindar dari ranting pohon. Mau jatuh, mau luka, bodo amat. Yang penting bisa seru-seruan dan mandi di pantai.

Guru Favorit
Jujur aja, saya sepertinya ga punya guru favorit, karena rata-rata guru dari kelas 1 sampe 5 pada tegas-tegas semua. Hanya guru di kelas 6 lah yang saya senangi. Namanya Bu Rose, seorang wanita tua baik hati yang perilakunya sesuai dengan arti namanya yang indah, bunga mawar. Walau usianya udah uzur dan badannya kecil (baca: kurus/ orang Jayapura menggunakan istilah ini untuk mengacu pada kurus, bukan pendek), tapi semangat beliau dalam mengajar ga pernah padam. Satu hal yang saya sulit lupakan dari beliau adalah saat saya dan beberapa teman lain disuruh maju kedepan karena ga buat PR, beliau pun berkomentar “Nama-nama kalian itu berhubungan dengan agama, Firman (saya), Musa, Julius, tapi kenapa kalian malas begini?!” well, saya ga tau ada hubungan apa antara nama yang berbau agama dengan ga membuat PR, namun mungkin maksud beliau adalah jangan jadi seorang pemalas!

Guru Killer
Guru-guru saya dari kelas 1 sampe 5 semuanya sangat tegas, kalau memang ga bisa dibilang galak. Ya, mungkin mereka punya alasan tersendiri untuk menjadi seperti itu, entah untuk menghadapi murid nakal, pemalas, ataupun yang ga bisa diam. Tapi momen yang sangat membekas adalah waktu saya kelas 1. Ga tau apa mungkin saat itu saya belum bisa menulis dan membaca dengan baik dan lancar, guru saya membentak saya didepan kelas, lalu menyuruh saya duduk. Saya pun dengan ketakutan duduk dibangku, lalu kembali belajar membaca sambil mengangkat buku tepat dihadapan wajah agar tampang guru saya ga keliatan. Eh, saya malah kembali dibentak, dibilangan ga boleh baca buku seperti itu. Duuhhh, rasanya hari itu saya ingin berlari pulang dan memeluk ibu saya. Uniknya, 14 tahun kemudian, tepatnya 2 tahun lalu, saat saya liburan ke Jayapura, saya sempatkan ke SD saya. Saat itu saya hanya duduk-duduk diatas motor diluar pagar sambil memandang sekolah. Eh tiba-tiba guru yang dulu membentak saya itu lewat, lalu menegur saya. WOW, 14 tahun ga berjumpa ga sedikit pun membuatnya lupa sama saya.

Teman Bolos
Wah, saya pertama kali bolos itu waktu SMP, bukan di SD.

Teman Berantem
Saya adalah murid pemalas yang baik waktu SD, jadi ga suka berantem. Walaupun begitu, saya masuk komplotan anak penganggu yang sukanya menganggu temen cewek sekelas sampe dia nangis. Hehe

Sepatu dan Tas Favorit
Rasanya saya ga punya sepatu dan tas favorit. Kalo untuk tas, saya sukanya yang bentuk ransel. Kalo untuk sepatu, yang penting warnanya hitam (yaiyalah, secara emang udah perturan).

Pelajaran Favorit
Tentunya olah raga donk! Saya paling suka mata pelajaran ini karena ga perlu berurusan dengan catat-mencatat serta angka-menghitung sialan. Pokoknya yang penting beraktivitas diluar ruangan.

Ahh, akhirnya selesai juga jurnal ini. Karena PR berantai ini berguna untuk mempererat tali silaturahmi, jadinya saya lanjutkan kepada saudara Goresan Anak Selanegara dan Djakarta182. Semoga ditengah kesibukan, mereka masih menyempatkan waktu untuk menunaikan tugas ini, haha.

Ngomong2, saya ingin mengucapkan terima kasih pada sahabat2 smoa yang udah memberikan doa agar skripsi saya cepat kelar. Dan akhirnya, skripsi saya memang sudah kelar, dan saya udah lolos sidang hari rabu kemarin dengan hasil yang sangat memuaskan sesuai target saya. Hehe, once again thanks a lot.

97 responses to “Masa-masa SD

  1. akhirnya nongol juga sohib satu ini,,
    klo cerita guru killer saat SD saya jg ada tuh, namanya Pak Marbun orangnya galak.. tp kadang lucu jg tuh guru.. haha😀

    thnx sob..😀😉

  2. Terkadang kita selalu mengenang dimana dulu kita pernah makan bangkui sekolah (Xixixixi……)

    Semua yang kita lalui dalam suka maupun duka merupakan proses kita mengenal dalam kehidupan dalam dunia pendidikan. Dengan siapa kita didik dan dibina hinga kita dapat berdiri seperti sekarang ini.

    Tidak akan pernah ada angka 10 tanpa kita mengenal terlebih dahulu angka 1. Ternyata mereka itulah orang-orang yang tidak pernah mengenal lelah dalam hidup selalu memberikan ilmu bagi siapa saja yang membutuhkan.

    Semoga hal ini semua dapat mengajarkan diri kita untuk selau dapat mengenang dan menghargai semua jerih payah beliau-beliau.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  3. Pingback: Masa Sekolah Dasar (MSD) « Goresan Anak Selanegara (GAS)

  4. [bu] Rose??! Hmmm jadi inget sama mantan majikan😛

    Emm tapi karena beliau namanya sama, jadi saya mau membela argumentasi atau hipotesis dari beliau.😛
    Nama, Agama dan Males itu ada korelasinya banget lhoo Fier😀 [tapi ini khusus agama islam], kan bedanya kafir sama muslim itu kan diliat dari sholatnya. trus kalo misalnya ada orang yg namanya Ahmad dan do’i ngaku sbg muslim tapi do’i males [tdk mendirikan] sholat, berarti do’i tuh cuma name N katepe-nye aje yang islam.😀 dan sbg muslim, kita tuh musti rajin N gak boleh males buat mendirikan sholat😉

    waduh maap nih, jadinya malah ceramah deh saia.. ;-P

    eniwei, selamat yaa buat skripsinya..🙂 selamat 39 kali ;-D

  5. ah, jadi keinget saat-saat masih SD dulu. penuh dengan canda tawa dan perkelahian-perkelahian kecil. he..he..selamat ya telah menyelesaikan PR serta skripsinya. semoga sukses kedepannya. salam semangat kawan!!!

  6. waahh..jadi ingat waktu SD,,

    jdi ingat waktu sering berantem,sering nangis,dan inget juga waktu sering ingusan😀..

    bagaimana jadi nya ia jika kita balik lagi pake baju Putih merah…

    hahahaaa,,,pasti sangat konyol

  7. Semoga skripsinya lolos… Amin
    Aku jadi inget waktu dulu ngerjakan skripsi rasane minta ampun deh dan berharap sekali aja ngerjakan itu skripsi tapi ternyata… aku sekarang malah kerja di dunia penelitian yang nota bene setiap hari seperti ngerjakan skripsi… cari referensi mlulu tapi referensi penelitian dari luar negri…🙄 itulah hidup… semua pasti ada hikmahnya… seperti hikmah dari cerita SD hehehehe😆

  8. nggak bisa ngebayangin betapa indahnya lokasi SD Tasangka Pura….
    lautan membentang, nun dsana PNG (Papua NewGuinea), ada “dinding” hutan….sebuah view yg cukup eksotis ya ….😀

  9. wah sudah tua banget itu sekolah ya
    ngomong2,, nama guru killernya disensoor nih ? nggak asiik,, hahaha

    wah ternyata dulu suka bikin nangis cewek ya,, hmm

  10. Wiiih, SD nya seru banget, deket hutan dan banyak pemandangan indah… Itu pasti sekolah impian anak-anak sekolah yg tinggal di kota, hehe….Semoga cepet beres ya urusan skripsinya😀

  11. keren cerita masa SD-nya, dengan tutur kata yang mengalir alami mudah difahami serasa ikut terhanyut dan enggan berhenti membaca sampai selesai. hahaha kayak pengamat aja nih ane. Tapi serius gan agan keren ….. 2 thumb up deh asyik bacanya

  12. Maaf bang, lama gak maen kesini, ternyata udah buat PR juga.
    gak suka berantem tapi suka gangguin temen cewe ya mas?
    kalo saya emang gak suka berantem, sampe sekarang. he.he . . .🙂
    Peace mas bro!!!

  13. wah., suka gangguin temen2 cewek..
    jadi ingat.. dulu waktu SD, pernah pasang cermin bulat (yg dari peraut pensil) di sepatu.. trus jalan-jalan di dekat temen-temen cewek buat ngintip warna celana dalemnya dan dijadiin permainan.. siapa yg bisa nebak celana dalam yg benar dan terbukti, di traktir deh.. hahaha.. (sekalian maw minta maaf buat temen2 SDku yg pernah di jailin.. kena tabok juga pernah gara2 ini.. heheh😛 )

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s