Jayapura sang Mutiara Hitam

     Kota Jayapura dan Kabupaten Merauke merupakan daerah administrasi Indonesia yang letaknya paling ujung timur negara kita ini. Karena letaknya yang jauh , kedua daerah ini masih minim dikunjungi turis lokal; problemnya apalagi kalo bukan masalah biaya . Yap, kalo ini sih saya ga bisa ngomong apa-apa. Soalnya saya saja pulang balik Jakarta-Jayapura-Jakarta habisin duit hingga 5 juta.
Well, terkadang saya ingin sekali mengajak teman-teman saya di Bogor untuk meliat keindahan Papua . Tapi apa daya, mereka sudah tercekik duluan dengan uang tiketnya yang terlalu mahal . Saya pun hanya bisa bercerita mengenai tempat-tempat wisata disana, keadaan ekonomi, struktur kota, serta budayanya. Well, saya akan menceritakan banyak mengenai Ibukota Papua ini sebagai bentuk promosi saya terhadap Papua  .

Di Jayapura, atau Papua secara keseluruhan, ada 2 istilah terkenal yaitu “Pendatang” dan “Orang Sini” . “Pendatang” mengacu pada orang-kelahiran-Papua namun aslinya berasal dari Jawa, Ambon, Makassar, dll., sedangkan “Orang Sini” mengacu pada orang-kelahiran-Papua yang memang penduduk asli . Nah, banyak teman saya di Bogor mikir kalo di Jayapura itu lebih banyak orang Papua asli,
tapi kenyataannya justru imbang antara pendatang dan penduduk setempat . Bahkan bisa dikatakan Jayapura adalah ‘Little Indonesia’ saking banyaknya suku yang bernaung disana. Dari daerah mana saja ada — dari Sabang sampai Ambon —, kalo yang paling jarang tuh Kalimantan dan Aceh . Ga ada yang namanya diskriminasi disana. Bahkan gank saya yang berjumlah 12 orang yang berasal dari 12 daerah berbeda — Ambon, Kep. Aru, Manado-Kei, Maros, Enrekang, Bulukumba, Jogja, Toraja, Batak, Jayapura-peranakan, Serui, Bugis — ga pernah merasa berbeda satu sama lain.
Ke masalah ekonomi, di Jayapura itu harga barangnya benar-benar menguras emosi . Tapi ka
rena kami disana sudah terbiasa dengan harga yang selangit itu, jadinya ga ada masalah . Yang lucunya, selama kuliah di Bogor, saya sering nge-print tugas di warnet dengan harga perlembar 500 rupiah, nah, pas liburan di Jayapura, saya disuruh Mama print filenya di warnet karena printer dirumah rusak, dan saya harus bayar 5 ribu untuk 2 lembar!  Mampus ga tuh! Karena sudah terbiasa dengan yang murah di Bogor, saya jadi gigit jari kalo harus bayar segitu. Saking tingginya harga-harga disana, karakter manusianya pun ikut-ikutan ‘tinggi’, dalam artian kami memiliki gengsi yang sangat besar terhadap properti . Waktu saya SMA, ga ada yang berani bawa hape layar monokrom ke sekolah. Hp yang (kata orang Jayapura) bunyinya kayak nyamuk itu disebut sebagai hape kayu. Haha.  Bahkan waktu teman saya liburan ke Jakarta 2 tahun kemarin, dia sampai ketawa ga percaya meliat cewek di bus lagi mainin hape Nokia jadul.
Untuk masalah bahasa, Jay
apura menggunakan Bahasa Indonesia Kreol (peranakan). Hal ini sangat menguntungkan saya bila sedang ngomong dengan sahabat-sahabat saya di Jayapura melalui hape , soalnya teman-teman di Bogor ga ada yang mengerti (Jadi ingat waktu nonton film Denias, saya mesti menerjemahkan dialog dalam film tersebut kepada teman-teman ). Bahasa Indonesia kami pun lebih singkat dibanding yang dipake di Jawa; Sebagian contohnya: Saya = Sa, Kamu = Ko, Kalian = Kam, Mereka = Dong, Kita/Kami = Tong, Pergi = Pi, Sudah = Su, Tidak = Tra, Punya = Pu. Jadi kalo ada yang bilang “bah, Sa kira Ko su kas tau Dong kalo Tong mo pi ke ana-ana Dong pu tampa?” bisa diartikan menjadi “Loh, Saya pikir kamu udah ngasih tau mereka kalau kita mau pergi kesana?”. Kami disana pun cenderung menggunakan idiom, seperti “Datang tra stom, pulang juga tra klakson” = “Datang kok ga bilang-bilang, pergi juga ga ngasih tau”, “Tong turun ayo!” = “Jalan-jalan yuk ke kota”, “Kapan Kam naik?” = “Kapan kalian manggung (nge-band saat fesitval)?”, “Tra ada obat!” = “Hebat!”, “pant*t bensin” = “hobi dibonceng (motor)”, “Sa mo paku tidur” = “Saya sangat ingin tidur”, “Jalan kayak kapal kayu” = “Kalo lewat tuh negur-negur”, “Poro limpa!” = “tukang makan”, dan sebagainya. Ada berbagai istilah juga, seperti: Paitua = Suami, Maitua = Istri, Mace = Mama, Pace = Bapak (Penggunaan Mace & Pace sama seperti Nyokap & Bokap). Saking singkatnya bahasa Kami, bahkan kalo sms “lg?” = “Kamu lagi ngapain?”, “di?” = “Kamu lagi dimana?”.
Untuk soal Budaya, di Jayapura menurut saya ga terlalu mencolok . Ini dikarenakan budayanya sudah bercampur dengan budaya para pendatang; tapi tetap dijaga keasliannya untuk beberapa hal , misal: ukiran-ukiran (paling banyak berasal dari daerah Sentani), tarian daerah (Yosim Pancar & Wayase), bahasa (tiap kampu
ng bahasanya beda lho!), makanan khas (papeda + ikan kuah kuning + kangkung… Yummy!), dan marga (Layaknya Ambon, marga diturunkan dari orang tua laki-laki).
Stereotip Papua selain “daerah tertinggal” adalah “Kasar”, “Hitam-keriting”, dan “Koteka”. Pertama “kasar”; mungkin karena perawakan mereka (penduduk asli) yang tinggi besar, dan juga pemberitaan di TV yang selalu mengenai demo dan perang suku . Padahal orang papua adalah orang
yang ramah, bahkan sampai menular pada para pendatang . Kami di Jayapura selalu saling tegur sapa “Selamat pagi/siang/sore/malam” bahkan untuk orang yang ga kenal sekali pun. Mereka sangat ramah pada pendatang, sangat-sangat ramah . Kedua “Hitam-keriting”; well, bila saya ngaku saya berasal dari Papua, orang-orang selalu bertanya heran “Kok ga hitam?”. Haha. Jelas saja saya ga hitam, orang saya kan pendatang dari Ambon . Orang Papua asli memang rata-rata hitam dan keriting. Tapi yang berasal dari Kab. Serui dan kab. Biak banyak yang berkulit putih lho, membuat mereka lebih mirip bule ketimbang negro . Ketiga “Koteka”; ini yang buat saya ga abis pikir. Teman-teman, bahkan dosen saya (dosen bo!), masih mengira kalo di Jayapura itu ada orang yang pakai koteka! Haha . Sungguh saya merasa kasihan terhadap orang-orang yang berpikir seperti itu, mereka bagai katak dalam tempurung . Padahal adat memakai koteka itu adanya di Wamena, yang jaraknya beratus kilo meter dari Jayapura, itu pun disana sudah jarang ada yang pakai. Mereka juga sering bertanya “Di Jayapura orang-orangnya udah pake baju belum?”, “Di Jayapura atap rumahnya masih pakai daun rumbia ya?”. Huahahahahahaha. Saya hanya bisa tertawa miris mendengar pertanyaan konyol seperti itu . Ahh, betapa senangnya saya menjadi warga Jayapura, kami diajarkan semua situasi kondisi di luar pulau kami, tapi orang-orang luar tidak tau mengenai daerah kami.

44 responses to “Jayapura sang Mutiara Hitam

  1. Horee dapet hadiah piring pecah..😛

    saya bisa menyimpulkan bahwa orang papua/jayapura adlh orang2 yg kreatif dan komunikatif..😀

    Ada berapa kampung tuh emangnya?? (Buanyak pastinya yaa..🙂 )

  2. ft copy 2 lbr “goceng”…..#garuk2 kepala…..ahh gag jadi dech jalan2 ke Papua-nya (…ngeles..pdhal mah emang bokek)…
    di P jawa (khusus ane di bogor) goceng udah dpat semangkok baso yg rasanya lumayan ajib……hehehe..
    nice post ….!

  3. weh lengkap sekali dari panorama, sampai aspek sosialnya. Mungkin saya yang termasuk katak dalam tempurung nih, sebab aspek kekurangnnya. Perang, dan segala bentuk ketidak senangan lain. Nyatanya dari penjelasan sampean, papua diluar pemikiran saya. LUAR BIASA

    ah berarti selama ini saya pake HP kayu dong hhh

  4. yassalam bahasnaya kenap jadi disingkat2 gitu
    hahaha
    kalo ngomong susah ngartiinnya pasti tuh
    apalagi buat orang awam

    btw, print di jakarta perlembar 3000 perak
    lebih murah 500 perak dibanding di jayapura

  5. hmmm..,setelah membaca tulisan ini..
    aku berkesimpulan bahwa di papua :
    – pepatah bilang : pengeluaran dan pendapatan = besar , gaji besar dan biaya hidup juga besar
    – hmmm… kalau dipikir2 mah dr kemarin aku manggil si ” pelancong nekad ” ini dengan sebutan KAKAK.. tapiiiiiii setelah baca tulisan ini aku menyadari bahwa sepertinya kita satu angkataaan,, jiiaaaah.. hahhahhaha

    haddeeeh…haha

    oh ya mana promosi ttg kota bogor ? hihi

  6. masih muda ya ? kirain udah om2.. hahhaa
    siip di tunggu ttg bogornya,,
    siapa tau klo bogor, gw bisa ngunjungin tempatnya,,haha

  7. Pingback: Pemandangan Jayapura oleh Fier..hehehe | Eat, Pray, Travel!

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s