Berenang Ria di Laguna

(Sebenarnya saya lagi mempersiapkan prekuel jurnal saya, tapi karena sibuk nyusun skripsi dan ga ada waktu untuk ngedit, saya pos artikel ini dulu lah. Oke! ^_^)
        Bila dibandingkan dengan pulau lainnya, Papua mungkin adalah pulau yang paling jarang dijadikan tempat wisata oleh para turis lokal. Ga tau apa mereka pikir pulau cenderawasih ini minim tempat pariwisata atau karena terlalu melekatnya stereotip “daerah tertinggal”. Uuhh, saya sebel banget waktu teman saya bilang “Emang di Papua udah ada lampu?” *Gubrak!. Padahal apa coba yang kurang dari tempat ini; pantai-pantainya indah, danaunya cantik, taman nasional, hiburan modern, diving spot, kulinernya ma’nyus, budayanya eksotik, bahkan ada mumi, dan yang terpenting yang TIDAK TERDAPAT di belahan Indonesia manapun adalah puncak bersalju di salah satu puncak Pegunungan Jayawijaya. Bisa dikatakan Papua adalah tempat paling lengkap pilihan pariwisatanya. Namun, kenapa masih minim turis lokal? Well, bisa saja karena kurangnya promosi. Dan, melalui tulisan saya kali ini, selain menceritakan pengalaman saya, saya juga sekalian promosi. Haha

Well, saat itu saya masih duduk dibangku kelas 3 SMA, ketika untuk pertama kalinya saya liburan ke rumah saudara di Sorong (Papua Barat) tanpa ditemani orang tua. Daerah yang letaknya di monyong burung cenderawasih (kami sering mendeskripsikan pulau dengan bentuk burung Cenderawasih) ini ternyata panasnya lebih gila daripada Jayapura. Orang-orang disini percaya kalo kilang minyaklah yang menyebabkan semuanya. Konon air yang dipakai untuk mandi mengandung minyak yang kasat mata *halaahh. Hingga bisa dibayangkan kamu abis mandi trus jalan-jalan dibawah sengatnya sinar matahari Sorong, dapat dipastikan kulitmu langsung berfungsi seperti wajan penggorengan.
So, apa sih yang unik-unik dari tempat ini? Terus terang saya ga begitu terkesima dengan kota Sorong, karena menurut saya Jayapura jauh berkali lipat indahnya dari tempat ini. Paling tempat tongkrongannya yang lumayan asik di Tembok (talut yang dibangun sepanjang garis pantai, dimana terdapat banyak tempat makan dan merupakan pusat gaul sejuta umat Sorong), tapi tetap masih kalah dengan Kupang Dok II di Jayapura. Jadi, setelah beberapa hari liburan di Sorong, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah kampung bernama Ayamaru, tempat keluarga Om saya dan masyarakat disana membangun peradaban.
Saya yakin kalian pasti bertanya-tanya “Apa tuh Ayamaru?”, “Restoran cepat saji baru ya?”. Well, sebenarnya saya juga ga tau dimana tepatnya kampung itu berada. Yang saya ketahui hanyalah namanya Kampung Ayamaru, Om saya tinggal disana, dan bejarak ratusan kilometer dari Sorong. Pikir saya, kapan lagi bisa jalan-jalan ke pedalaman Papua kalo ga saat itu juga. Dan, setelah seminggu tinggal di Sorong, saya pun memutuskan untuk mengemas pakaian dan let’s go!
Ada dua pilihan transportasi rute Sorong – Ayamaru. Bisa menggunakan pesawat baling-baling, serta mobil. Saya sih lebih pilih naik mobil ketimbang naik pesawat (soalnya menurut pengalaman Kakak saya, dia sedikit trauma mendengar baling-baling yang berputar kencang di sisi jendela *glek). Saya pun diantar Om saya ke terminal karena angkutannya nongkrong disana. Saya pikir bakal naik mobil Carry (angkot di Papua), ternyata angkutan yang dimaksud adalah L200, Inova, dan Avanza. Bussett! Tarifnya pun lumayan, sekitar 150 ribu. Dan perjalanan memakan waktu 6 jam! Mampus ga tuh.
Dikisahkan oleh Kakak saya, selama perjalanan menuju Ayamaru, saya akan meliat sebuah keajaiban alam yang bernama Kali Taputar (baca: terputar). Yap, setelah (kalo ga salah) 4 jam perjalanan, atas permintaan saya mobil kami berhenti disamping sebuah tebing maha luas yang mengelilingi air kali yang kecokelatan. Gosh! Pemandangan ini sungguh indah sekaligus mengerikan. Air kali yang keruh mengalir ke sekeliling tebing yang dalamnya bisa mencapai puluhan meter. Dan, kenapa saya bilang tempat ini sebagai keajaiban alam adalah karena air yang mengalir semuanya terbendung disekiling tebing itu; ga ada lagi ‘jalan keluar’. Jadi airnya berpusar disitu saja. Dan pastinya dapat diasumsikan kalau ada lubang besar dibawah tebing yang membawa limpahan air itu menuju sungai bawah tanah. Wah! Ga kebayang kalau ada yang jatuh kesitu. Meliat airnya berputar-putar bikin saya jadi merinding. Saya pun cepat-cepat mengambil gambar, merekam video, dan kembali ke mobil.
Sisa perjalanan dua jam benar-benar melelahkan. Saya pun lebih banyak diam sambil memandang pemandangan hutan diluar. Walaupun jalanannya 20 meter-di aspal-40 meter-tidak dan terus berulang-ulang, banyak tanaman menarik yang tumbuh disisi jalan, salah satunya adalah apa yang saya sebut Anggrek Tanah; bunganya mirip Anggrek berwarna ungu dan tumbuh liar menghiasi sisi jalanan. Dan, akhirnya, saya tiba di rumah Om saya dengan kelelahan yang amat sangat.
Kondisi pedalaman yang saya bayangkan ternyata jauh berbeda setelah sampai disini. Yang saya liat daerah ini ga beda jauh dengan kampung-kampung lainnya yang sudah modern. Hanya bedanya ga ada supermarket besar dan bioskop *gubrak. Rencananya saya hanya 4 hari disini, soalnya memang di kampung ini ga ada apa-apa selain meliat danau Ayamaru yang indah. Bahkan dikampung yang minim penduduk ini listriknya hanya menyala dari jam 6 magrib hingga jam 12 malam, selepas dari itu listrik padam total. Dan kabar buruk lainnya ga ada sinyal. Haha. Selamat tinggal dunia luar!
Dua hari kemudian dua sepupu saya, Julia dan Andi, beserta satu teman mereka yang asli orang Ayamaru, mengajak saya ke sebuah kali yang bernama Kali Framu (kalo ga salah artinya ‘air diatas batu’). Well, promosi dari mereka sangat bombastis, mengatakan kalo tempat itu sangat indah. Saya sih setuju saja, daripada duduk dirumah bantuin Tante saya jaga warung. Haha.
Perjalanan ketempat ini lumayan menguras tenaga karena kendaraan kami adalah kaki; berjalan melewati jalanan aspal, kemudian memasuki jalanan kerikil, mulai memasuki kawasan hutan, menanjak di hutan yang rapat, sedikit turunan dimana pepohonan sudah jarang, dan disanalah keindahan itu berada.
Saya sampai ga bisa berkata apa-apa meliat apa yang mereka sebut Kali Framu. Well, sebenarnya ini bukanlah kali, melainkan sebuah laguna kecil yang masih merupakan bagian dari danau Ayamaru. Dikeliling oleh dinding karang, telaga ini membentang dengan warna airnya yang biru laguna. Warna laguna ini disebabkan oleh lumpur putih yang mengendap di dasar telaga. Bongkahan batu-batu besarnya terlihat jelas didasar, dan ribuan ikan berenang kesana-kemari (yang bahkan hampir bisa ditangkap hanya dengan tangan kosong saking banyaknya).
Ga pengen buang-buang waktu, saya langsung nyebur bersama yang lainnya. Wuih! Airnya dingin. Sungguh segar mengingat perjalanan kesini sangat menguras tenaga dan mesti berpanas ria. Setelah puas nyebur-nyebur dan ambil foto, kami pun berjalan melewati rumput-rumput yang menjulang tinggi ke arah Danau Ayamaru. Lagi asik-asiknya liat pemandangan, tiba-tiba ada suara teriakan “He!” yang membahana. Gosh! Jangan bilang ada suku-suku tertentu yang belum tersentuh modernisasi di Ayamaru! Kami semua jadi panik dan mencoba menyembunyikan diri dengan merunduk diantara  semak yang tinggi. Bunyi kresek-kresek dikejauhan makin membuat kami semua deg-degan. Dan, akhirnya saat Om dan Tante saya muncul di samping telaga, kami semua jadi merasa tolol sendiri. Shit! Padahal saya sudah gemeteran membayangkan hal-hal yang mengerikan, ternyata kami cuma dikerjai oleh Om saya. haha.

60 responses to “Berenang Ria di Laguna

      • perlu mbangun infrastruktur, pake cara alternatip. swadaya or swasta, klo libatkan pemerintah saat ini tau sendiri deh. rawan proyek berkasus dan lelet birokrasi. btw,saya setuju bahwa irian or papua adalah sangat indah dan kaya, meskipun saya lum pernah kesana😀. moga suatu saat bisa kesana

  1. *bismillaah* Penjabarannya udah cukup bisa utk membuat saya berimajinasi tentang keindahan alam papua.. Btw, sodara jauh = tetangga dekat saya punya menantu orang papua, namanya edo, ya.. mirip dg nama saya.. *bedaio* Dan insya allah, kalo Allah ngasih ijin, ntar kapan2 kalo si edo mudik kekampung halamannya, saya berniat ingin ikut.. Dan kalo Allah ngijinin juga, semoga saya bsa mampir ketempatnya sobat fier..😀. *maukomentarsusahBGT*.

    • saya bantu aminin bang..
      tapi Papuanya sodara-jauh=tetangga-dekatnya abang yang mana?
      soalnya daerah di Papua kan banyak; Fak-fak, Soronk, Manokwari, Timika, Merauke, Nabire, Biak, Serui
      kalo saya sendiri dari Jayapura.😉
      Tapi tetep bakal saya temenin kalo jadi main kesana *amin*😀

    • Yoha Sop, di Jayapura aja banyak hutan yang masih asri
      bahkan ditengah kota.
      tapi untuk masalah bersih: alamnya iya, kotanya ga😀
      hehehe

      justru kalo malaria tuh penyakit biasa buat orang Papua
      saya udah kena 2 kali, biasa aja..wkwkwkkwk

      kalo Asop melancong ke Papua, PASTI kena malaria
      mo minum obat seembur untuk pencegahan pun ga bakal mempan, soalnya Asop bukan orang asli sana😉

  2. Mank gambaran Tuhan ga bisa ada yang kalahin..meski ditandingin ma theme park dan wisata hiburan yang serba modern,, tapi wisata alam stil number 1…

    (jadi iri neh mas, liat foto-fotonya..^_^)

  3. Memang harusnya salah satu tujuan blogger adalah mempromosikan daerahnya yaa sob, biar makin terkenal dan tentunya makin menambah pengetahuan tentang wisata2 di Indonesia.. sayang banget kalo wisata2 indah itu gk dilestarikan.. salam untuk burung cendrawasih yaa😀

  4. papua sih keren, apalagi buat adventurer, tapi buat saya, biaya ke sana super duper mahal, apalagi berangkatnya dari yogya🙂

    thanks yah udah bikin saya menelan ludah dengan postingan ini😀

  5. ahahaha… tantenya keren ngerjainnya, jadi bikin ngakak😀

    oalaaah… seindah ini kah irian jaya itu??? subhanallah… pengeeeen kesanaaaa. asli sana tah mas?

    salam kenal balik ya🙂

  6. Mungkin ga banyak turis lokal wisata ke Papua, karena biayanya yang mahal. Ongkos wisata ke luar negeri seperti ke SIngapur atau Malaysia itu jauh lebih murah lho daripada ke Sulawesi atau Papua.
    Saya sendiri pingin banget ke Raja Ampat, doain ya biar kesampean😉.

  7. akhirnya sempat melancong ke blog ini, hehe.

    Waaaa keren banget mas. Saya aja yang notabene termasuk orang rumahan penasaran banget sama Papua. Cuma ya ituuuu…. seperti yang kata orang2 bilang, tiketnya ampuuunnn…. dan aksesnya wooohhh…

    kalo punya heli pribadi boleh deh kesana (HAHAHA). Lagunanya kayaknya indah banget ya, apalagi banyak ikannya…. jadi pengen (ke danaunya lho, bukan nangkepin ikannya! hahaha)

    • makasih dah sempat melancong ke blog ini😉
      makasih, makasih..
      Ember sis, tiket kesana superduper muahal
      makanya banyak yang milih ke Sing, ato Malay

      Kalo dah punya Heli pribadi, ajak2 yee😀

  8. Hmm Papua alamnya indah, yang menjadi masalah bagi turis lokal, karena jaraknya jauh sehingga selain waktu, biaya menjadi lebih mahal. Juga mungkin masih perlu dipromosikan….

    Yang perlu, dalam tulisan (terutama jika yang menulis orang asli Papua dan masih tinggal atau sering pulang ke sana), termasuk bagaimana cara sampai ke daerah tersebut, apakah bisa menyewa mobil, perkiraan biaya berapa.

    Saya beberapa kali ke Jayapura dan berusaha menuliskannya, sayang yang membaca sering tak memperhatikan, bahwa saya ke sana dalam rangka tugas dan menyisihkan waktu untuk wisata, sehingga ada kendaraan yang siap menemani. Pertanyaan yang sering terungkap adalah pertanyaan tentang biaya yang harus disiapkan, serta menyiasati apakah mudah sewa mobil, karena ini yang penting.

    • Wah, Mbak Rat udah ke Jayapura ya *jadi terharu*
      walopun hanya rangka bisnis, tetapi setidaknya udah ikut mempromosikannya lewatu tulisan😉
      oke lah Mbak, pendapat Mbak mantap juga

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s