Malam yang Panjang: Thai to Malay

     Bus yang membawa saya dari Hatyai ke Kuala Lumpur memang sangat memenuhi syarat akan kendaraan yang bakal menempuh perjalanan hingga 9 setengah jam kedepan ; bangkunya formasi 2:1, berpenyejuk udara, ruang kaki yang luas, dikasih minum, dapat pinjaman selimut, serta sandaran yang bisa dimiringkan hingga posisi yang pas untuk tidur. Duduknya pun ga bisa sembarang, karena harus sesuai dengan angka yang tertera di tiket.
Saya dan Steph duduk bersama dideretan bangku belakang, dimana jejeran bangku didepan ditempati satu keluarga besar dari Indo, disamping saya duduk seorang pria Malaysia seumuran ayah saya, dan yang paling belakang ada bule Inggris dan Filipina . Perjalanan kami dihiasi dengan cahaya kelap-kelip dari lampu yang berasal dari gedung-gedung diluar yang bergerak seiring jalannya bus. Kami melewati deretan toko dengan lampu warna-warni yang ngejreng, patung besar, serta pasar malam yang rame banget.
Menyadari tampang saya Melayu, si pria Malaysia pun menegur saya. Cara bicaranya pelan, agak terbata-bata, dengan pandangan yang tidak fokus. Well, saat itu juga saya tau kalau ia sedang dibawah pengaruh alkohol alias mabuk berat . Ia menanyakan asal saya dan berkata kalau Indo dan Malay adalah saudara, dan ia pun mengajak saya untuk menginap saja dirumahnya. Buset! Saya akan sangat senang sekali kalau ia mengatakan semua itu saat ia tidak sedang mabuk . Saya pun hanya membalas dengan tersenyum, lalu berpura-pura sibuk dengan hape (well, sapa coba yang nyaman ngobrol dengan orang mabuk? Kecuali dua-duanya sama-sama teler).
Setelah 2 jam perjalanan dilalui, kami pun tiba di kantor imigrasi Thailand. Kami semua disuruh turun lengkap dengan semua barang bawaan (ransel tetap didalam bagasi bus). Si pria mabuk terliat kebingungan, lalu bertanya pada saya . “kita sudah tiba di kantor, emm, pejabat imigresen Thailand. Semua harus turun untuk melalui bagian pemeriksaan” jelas saya, bingung mencari padanan kata Melayu yang pas.
Proses pemeriksaan berjalan lancar, kami pun kembali menaiki bus yang sudah menunggu diluar. Saat bus kembali berjalan, si pria mabuk bilang pada saya kalau nanti di imigrasi Malaysia ia ga mau turun dan ia hendak menyerahkan paspornya pada saya untuk diberikan nanti ke petugas pemeriksaan . Jiiaahhhhhh, ini mah telernya ga ketulungan. Mana ada acara mewakil-wakilkan kalau berurusan dengan kantor imigrasi. Saya pun menjelaskan kalau hal itu tidak mungkin, dan bahwa ia harus melakukannya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di kantor imigrasi Malaysia. (Saat masih di Hatyai tadi, kami sudah diberi kartu imigrasi Malaysia). Saat semua orang menuruni bus, si pria mabuk ini masih ketiduran . Saya coba bangunin, tapi ga ada reaksi. Saya pun menyerahkan pada petugas bus yang badannya besar dan galak . Saat mengantri di ruang pemeriksaan, si pria mabuk ini tiba-tiba nyelonong aja melewati antrian dan langsung berdiri paling depan (tak tau apakah ia ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan karena ia tak ingin si petugas menyadari ada seorang pemabuk disini?  Apakah karena ia ngantuk berat dan ingin cepat-cepat kembali ke bus dan tertidur pulas? atau karena ia kebelet BAK? Tak tau lah), dan, anehnya, ia keliatan segar, ga ada kesan teler sama sekali, seakan-akan adegan mabuk dalam bus tadi hanya pura-pura. Ckckck, nih orang jago banget aktingnya.
Steph menanyakan arti kalimat Melayu yang tertempel di secarik kertas di dinding kaca, yang saya alihbahasakan ke Bahasa Indo menjadi “Senyuman memperlancar semuanya” .Kata-kata mutiara ini lebih ditujukan pada petugas imigrasi itu sendiri, dengan kata lain mereka melayani dengan senyuman. Tapi saat paspor saya diperiksa, si petugas ga senyum sama sekali . Ya, mungkin dia sudah terlalu lelah untuk tersenyum dan sudah sangat ingin pulang dan tidur dikasur yang empuk, mengingat ini sudah larut malam. Well, saya sama sekali ga meragukan etos kerja si petugas, tapi saya rasa memang beliau sudah capek bekerja seharian.
Setelah lolos imigrasi, saya hendak ke kamar kecil untuk lepas racun. “Permisi, kamar kecilnya dimana ya?” tanya saya pada beberapa petugas yang memandang saya tak mengerti . “Eh, maksud saya…bilik?” saat mengucapkan kata terakhir, rasanya saya lebih bertanya pada diri sendiri karena tidak yakin dengan padanan kata yang saya pilih. “Oo, ada diluar, disamping kanan gedung” kata salah seorang dari mereka.
Setelah BAK, kami pun berdiri berbarengan menunggu bus ditrotoar. Si bule Inggris mengeluarkan sebatang rokok dan meminjam pemantik pada Steph. Well, saya agak sedikit kesal ia mencoba mendekati Steph *gubrak, pacar aja bukan*, padahal ia dan saya sama-sama tau kalau bus akan segera datang, dan waktu  singkat itu bukanlah saat yang tepat untuk merokok, apalagi sangatlah tidak mungkin untuk lanjut morokok dalam bus yang berpenyejuk udara! Usaha yang bagus bung, tapi kelewat jaman!
Sekitar setengah jam perjalanan kemudian, kami berhenti untuk makan di sebuah restoran India (oh tidak!) . Bau kare yang menusuk hidung membuat saya muak. Tapi mau gimana lagi, saya lapar. Kami pun (saya, Steph, bule Inggris, & Filipina) duduk dan makan bersama disatu meja. Ternyata mereka berdua mau pergi ke Penang, dan si pria Filipina itu sedang mengurus ijin untuk ngajar di Malaysia. Saat hendak membayar, ketiga bule ini salah paham akan harga makanan . Di kertas pembayaran tertulis RM 7.5 (7 Ringgit 5 sen), namun mereka malah mengira RM 75 (75 Ringgit).Saat saya jelaskan, mereka pun mendesah lega. Hahahaha..kalau harganya memang segitu, saya juga nyesel kalee makan disini.
Selama perjalanan panjang menuju KL, kami semua tertidur nyenyak. Si bule Inggris dan Filipina mengucapkan selamat jalan pada kami berdua sebelum turun di Penang. Dan saat waktu sudah menunjukkan pukul 4:23, kami sudah tiba didepan terminal Puduraya, KL . Supir-supir taksi mengurungi kami menawarkan jasa, namun karena kata Steph―dia sudah pesan hotel duluan melalui inet― penginapannya dekat, kami tolak. Kami pun berjalan kearah Bukit Bintang.
Karena belum dapat penginapan, saya memutuskan untuk nginap saja di hotel yang akan diinapi Steph, siapa tau mereka masih punya tempat tidur nganggur .“The hotel’s name is Fern Loft” kata Steph. Saya pun mencari di GPS…dan ternyata, penginapan itu terletak di jalan Petaling. Sial! Kami sudah salah arah . Kami pun mencegat taksi, lalu patungan untuk membayar karena berlaku tarif khusus malam hari. Setelah tiba, kami pun check in. Saya ambil yang dormitori, biar murah. Kami pisah kamar; saya di dormitori-campur, sedang Steph di dormitori-khusus-cewek. Kami pun menuju ruang masing masing dilantai atas setelah diberikan kunci serta sprei tempat tidur dan bantal.
Saat memasuki kamar dan menutup pintu dibelakang, saya ga bisa liat apa-apa karena lampu dimatikan dan gelap total . Sumpah! Saya langsung merasa menjadi seorang penyihir di dunianya Harry Potter; berjalan sendirian dikoridor gelap Hogwarts yang dingin dan lembab (saya melangkah perlahan diantara jejeran tempat tidur tingkat yang diselimuti kegelapan serta udara dingin dari penyejuk udara), mengeluarkan tongkat sihir dan mengucap mantra Lumos agar tongkat bersinar (saya mengeluarkan hape untuk menyorot jalan didepan saya agar tidak terantuk apapun), mendengar dengkuran serta dengusan kesal lukisan-lukisan di dinding yang sedang terlelap maupun terganggu tidurnya karena cahaya tongkat sihir yang silau (suaradesisan napas pelancong lain yang tertidur pulas mengiringi langkah saya, bahkan ada yang mendengkur keras), hingga akhirnya saya menemukan kamar-kebutuhan untuk menyimpan barang berhargaku (tempat tidur saya paling ujung, dan fasilitas loker saya jadi ga berguna karena saya ga bawa gembok).
Saya pun menyenderkan ransel saya didinding dekat tirai jendela imitasi,  mengeluarkan semua barang berharga dan menaruhnya di tas pinggang untuk membawanya tidur bersama, menaiki tangga menuju tempat tidur atas, lalu, tanpa memasang sprei lagi, saya langsung tertidur pulas.
(Bersambung …)

23 responses to “Malam yang Panjang: Thai to Malay

      • Oow oow.. Kalo begitu, nanti kalo saya ada kempatan kesana, saya usahakan tdk keluyuran dimalam hari😀 ..patan kesana, saya usahakan tdk keluyuran dimalam hari😀 ..

      • wah, malah sayang tuh ga kelayapan dimalam hari ditengah gemerlapnya KL
        tarifnya tuh naik dari jam 12 ke atas gan..
        waktu saya dari Bukit Bintang – Menara Petronas jam 11 malam RM 4.
        yang bayar RM 15 tuh saya pake taksinya jam stengah 5 pagi.😉

  1. Waduh, maaf beribu maaf sob.. Komentar saya kok jadi dobel2 kayak gitu ya?? *keheranan* (Jangan2 ini nanti juga dobel?! Hiks) .. nan* (Jangan2 ini nanti juga dobel?! Hiks) ..

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s