Sensasi Diskriminasi di Negara Orang

     “Whenever you have arrived at the harbor, just look for a guy holding a paper with “Son Tour” written on it” kata si agen travel saat saya beli tiket gabungan dua hari yang lalu . Well, selagi berjalan keluar dari ruang kedatangan, mata saya pun mencari-cari pria dengan kertas bertulis “Son Tour” itu. Ada beberapa pria disana yang memegang kertas juga, tapi akhirnya saya ketemu juga dengan yang dicari.
“Wait here” kata pria berkumis tipis situ. Saya pun berdiri disampingnya, menunggu penumpang lain yang akan semobil dengan saya. Tak berapa lama, datanglah dua orang bule cowok jangkung serta bule cewek yang tak kalah jangkungnya . Sumpah! Baru kali ini saya merasa diri “pendek”; berdiri diantara tiga manusia jangkung yang kurang lebih tingginya 2 meter lebih, 20 senti diatas saya . Hahaha..jadi ingat dulu waktu sekolah, setiap upacara bendera, saya selalu dijadikan “payung”─ teman-teman berlindung dari panasnya matahari dibelakang saya karena saya lebih tinggi dari mereka.
Setelah semuanya datang, kami pun digiring menuju parkiran. Well, pernahkah kalian merasa didiskriminasi ? Diperlakukan ga adil? Padahal kalian sudah bersikap sewajarnya pada orang lain. Oke, saya mengalaminya . Saat saya menaruh tas saya diruang belakang mobil, si supir malah mengangkatnya lagi, membuangnya begitu saja ke tanah, lalu menaruh tas-tas para bule sambil bercanda dengan mereka . Saya, ga tau kenapa, cuma bisa diam. Setelah memastikan tas saya sudah dimasukkan, saya pun masuk ke mobil.
Setelah mobil keluar dari halaman dermaga, kami berhenti di samping sebuah kafe.  “Who goes to Kuala Lumpur?” tanya si supir. Saat saya menjawab, ternyata si bule cewek jangkung juga menjawab. “You come with me” kata si supir itu pada si cewek . Lho? Kok ngomongnya cuma ke si bule doank, saya kan pergi ke KL juga. “I’m going to Kuala Lumpur too!” sahut saya saat si supir sedang mengambil tas si bule. Dia menjawab, tapi sambil lalu. Shit! Saya benar-benar dicuekin. “Yeah, this car is going to Kuala Lumpur!” katanya setelah saya bertanya lagi. Uuuhh! Rasanya saya pengen tonjok mukanya supir sialan itu!
Tiba-tiba ada tiga orang bertampang melayu mendekati si supir dan ngomong sama ia. Ternyata mereka juga penumpang. Ngeliat si supir ngomong sambil senyam-senyum sama mereka, hati saya makin panas saja . Kenapa sih ia ramah dengan penumpang lain, tapi tidak pada saya? Rasanya saya ga pake parfum yang bisa ngundang orang untuk mendiskriminasikan saya! Setelah mereka masuk, yang cowok dan cewek duduk disamping saya di bangku belakang, sedangkan yang cowok satu lagi duduk depan saya.
Si supir ini memang ahli bikin orang jengkel─karena ruang belakang mobil sudah penuh, ia merelakan tas saya untuk ditaruh dibawah bangku . Ya Allah, kalau memang ini adalah balasan untuk saya karena saya sudah berbuat diskriminasi pada orang lain, saya terima dengan ikhlas. Tapi kalau memang supir itu berlaku tidak adil pada saya karena memang ia tidak suka sama saya, tolong balas berkali-kali lipat, amin.
Saat mobil kembali berjalan, saya curi-curi dengar pembicaraan dua orang disamping saya itu . Mereka ngomong Melayu kok, kata saya heran dalam hati. Well, semula saya pikir mereka orang Thailand, tapi dari bahasa mereka, saya yakin dari Malaysia. Ah, lega perasaan saya, walaupun beda negara, tapi saya merasa mereka bagaikan saudara . Saya pun menegur duluan “Permisi, dari Malaysia ya?” kata saya ramah. “Bukan, saya dari Indonesia” balas si cowok. AAAaaaaaaah! Rasanya saya ingin teriak kegirangan dalam mobil sekencang-kencangnya. Mereka bukan “bagaikan” saudara, tapi memang saudara senegara . “Oo, saya pikir dari Malaysia, soalnya logatnya melayu. Saya juga dari Indo” sahut saya girang. Rasanya menyenangkan sekali bisa ketemu sesama orang Indo di luar negeri, apalagi saat baru saja mengalami diskriminasi. “Saya sudah duga kamu dari Indo juga, saya tau dari tas kamu” katanya sambil melirik tas samping saya yang bermerek Eiger. Wah, ternyata Eiger bisa menjadi identitas orang Indo di luar negeri (ini bukan iklan lho!). “Saya Fier, dari Bogor” kata saya. “Saya Edi, ini Dinda, yang itu sepupu saya” katanya sambil menunjuk cowok yang duduk didepan saya “kami dari Medan”. Mmm, pantes logatnya Melayu.
“Melancong kemana di Thailand?” tanya Bang Edi. “Saya ke pulau Phi Phi” balas saya. Eh , tiba-tiba Bang Edi memandang heran pada saya, lalu bertukar pandang sama Kak Dinda. “Beneran dari pulau Phi Phi?” tanyanya lagi. “Iya bener” gantian saya yang heran  “kenapa memangnya Bang?” tanya saya. “Kami juga rencananya mau liburan kesana, ga nginap, hanya tur sehari saja. Tapi ga ada travel yang mau, katanya cuacanya lagi buruk”  jelas Bang Edi, Kak Dinda pun mengamini. Jiaaahhh, PEMIRSA…ternyata akses menuju pulau Phi Phi ditutup selama sehari, tepatnya kemarin, karena kondisi cuacanya yang sedang buruk . Lah, trus kalo memang buruk, kenapa kemarin bisa tur keliling pulau? Ckckck, ternyata travel lokal kemarin benar-benar nekad. Pantesan saja gelombangnya pada raksasa. Saya pun menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan cuaca buruk ini; adegan nyaris tenggelam di bamboo island, serta lautan dan ombaknya yang menggila sepanjang perjalanan menuju dermaga Krabi . Hadeeuhhh, saya ga tau apakah saya beruntung atau sebaliknya. “Kami pun memilih pergi ke James Bond Island, soalnya travelnya berani kesitu saja, pulaunya lebih deket ke daratan” kata Bang Edi lagi.
Lama kami mengobrol, hingga akhirnya kami tidur-tidur ayam . Duuhh, perut saya keroncongan berat; karena kondisi keuangan, pagi tadi saya hanya mampu beli  4 kue ketan imut-imut plus teh tarik , dan 3 bungkus beng-beng untuk bekal perjalanan Thailand – Malaysia, dan sekarang uang Bhat saya hanya tersisa 70 Bhat yang kalau dikonversikan ke Rupiah hanya Rp 21.000 (gubrak!).
Akhirnya mobil pun berhenti disebuah gedung berisi resto dan tempat belanjaan oleh-oleh. Hadeuuhh, udah lapar gila , mana uang sisa seiprit lagi, gimana ya? Setelah menimbang-nimbang sejenak, saya pun  memutuskan …”Bang Edi, saya bisa minta tolong tak? Uang Bhat saya sudah tinggal sedikit, entar Bang Edi bayarin makanan saya, nanti saya ganti pakai duit rupiah, kebetulan ada uang Rp 100.000 di dompet” kata saya . Sebenarnya saya malu, maluuuuuuuu sekali! Masalahnya Bang Edi ini baru saya kenal, eh saya udah berani minta di bayarin. Tapi kan nanti kamu ganti pakai duit rupiah…iya sih, tapi bagaimana pun juga, tetap aja malu . “Ya udah, ga apa-apa. Nanti saya bayarin, ga usah ganti” sahutnya. “Ga kok Bang, nanti saya ganti. Makasih ya Bang” balas saya lega. Kami pun saling tolak-menolak “ganti” dan “ga usah diganti” . Jujur nih ya, ada perasaan senang juga kalau saya dibayarin, tapi saya benar-benar segan. Padahal saya yakin, Bang Edi pasti ikhlas. Kami berempat pun meluncur ke resto halal di bagian dalam.
Saat meliat-liat makanan, kami sempat khawatir juga kalau makanan disini bakalan mahal. Kalau setau saya sih harganya rada murah, soalnya waktu perjalanan Penang – Pulau Phi Phi dua hari yang lalu saya mampir juga kesini, tapi masalahnya sekarang, saya lupa waktu itu bayar berapa . Hehehe. Saya mau nanya pake Bahasa Inggris juga takut ga ngerti si pramusajinya. Eh, tau-taunya dia nyahutin pake bahasa Melayu. Jiaaahhhhhh, saya lupa kalau orang Thai Selatan juga bisa bahasa Melayu. Ternyata makanannya hanya 40 Bhat saja. Alhamdulillah, saya bisa bayar sendiri.
Kami pun balap makan karena waktu yang dikasih hanya 30 menit . Mobil pun meluncur lagi setelah kami kembali. Sejak berangkat dari Krabi, kami yang duduk dibelakang menderita sekali karena ruang kaki kami sangat sempit . Kalau saya sih masih mending, tapi Bang Edi, apalagi Kak Dinda, terliat sengsara sekali karena bule didepannya nurunin sandaran bangkunya ga kira-kira . “Mau gimana lagi, kakinya bule-bule itu juga panjang, kasihan juga mereka” kata Bang Edi. Well, ketahuan banget Bang Edi ini orang yang baik, tapi terlalu baik hatinya sampai-sampai ngorbanin diri sendiri . Kalau saya sih ogah. Saya pun negur si bule “Excuse me, can you lift up your seat a little bit? It’s very narrow here. My sister needs some space for her legs”. “Sure” sahut si bule.
Ternyata kedua bule itu mau ke Penang (satu fakta tentang mereka adalah: kedua bule ini menguarkan aroma keju yang memenuhi seisi mobil). Saya pun menyarankan mereka, seperti yang saya sarankan pada Bang Edi dan Kak Dinda, untuk menginap di Hutton Lodge. Well, saya tau tempat itu bagus dan nyaman, makanya saya berani saranin.
(Bersambung…)

25 responses to “Sensasi Diskriminasi di Negara Orang

  1. Ya Allah, kalau memang ini adalah balasan untuk saya karena saya sudah berbuat diskriminasi pada orang lain, saya terima dengan ikhlas. Tapi kalau memang supir itu berlaku tidak adil pada saya karena memang ia tidak suka sama saya, tolong balas berkali-kali lipat, amin.

    Saya ikut mengamini.😎

    Itu Eiger emang merek lokal lho, 100% buatan lokal.😀 Hebat, ‘kan? Saya aja baru tahu setahun yang lalu, selama ini saya pikir Eiger itu merek luar.:mrgreen:

    Aroma keju? Kayak apa sih…?😆 Bau badan asem gitu ya?😀

    • iya bro, makin bangga juga saya pake Eiger,..
      barang2nya berkualitas bagus..
      saya pake dompet, sendal, sama tasnya sekaligus *gubrak*

      Aroma kejunya? ke Pizza Hoot aja bro, terus pesan yang pinggirannya chezzy bites..
      kayak gitu lah aromanya..hehe

  2. Aroma keju hehehe..
    Kemaren kita jadi nginep di Hutton Lodge, thanks berat buat infonya fier. Penginapannya murah, bersih, yang pasti dekat dengan tempat makan..
    Phi-phi?? huaaaaaaaaaa…..

    • Asyik, akhirnya si Abang nongol juga di blog ku..
      sama-sama Bang, saya suka tempatnya juga sih, makanya saya ngasih info..
      Saya doain lah Bang, biar kesampaian ke pulau Phi Phi nya, amin

  3. A- aroma keju…? *nyoba bayangin* *ga bisa*
    Eeh… Alhamdulillah saya nggak pernah ngerasain didiskriminasi karena nasionalitas saya… Atau mungkin belum. (#eh #nggakmau) Semoga jadi pelajaran ya Bang, buat saya juga.🙂

    • hahahaha..mau tau kayak gimana?
      silahkan ke Pizza Hoot, pesan pizza tipe apa aja, dengan pinggiran cheesy bites
      gitulah baunya..hehe
      iya nih, pelajaran. jadi semakin kebal kalo ada yang niat diskriminasi lagi (amit2 dah!)😉

  4. wah merk Eiger!🙂 aku inget pernah beli dompetnya, waktu jaman SMA dulu. diantara sekian banyak dompet EIger yang bahannya parasut, aku berhasil nemu 1 yang ebbrahan kulit. meski mungkin cuma sintetis, tapi keren banget dan awet sampe bbrp tahun🙂

    yah ini jadi ngomongin Eiger, hehe… Btw, nyebelin amat sih klo didiskriminasikan scr kasar kyk bgitu? pake banting tas segala, masyaalloh …. gak sopan bgt ama tamu😦

    thanks ya kunjungan baliknya, thanks for your comments at my blog…..🙂

  5. halah jangankan di negara orang, di negara sendiri aja gitu kok. dengar cerita dari teman klo di indonesia timur tuh lebih respect ke turis bule daripada turis lokal -_-

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s